Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Kamuflase


__ADS_3

🙋Hai readers... sekarang ceritanya mengandung bawang sedikit ya...


Happy reading...


Jangan lupa kasih vote, like n komen ya... buat vitamin guys! 🥰🥰🥰


*********************************************


Kejora kafe memang sedang viral di sosial media. Tidak heran jika tempat ini sangat ramai pengunjung. Kebanyakan yang datang adalah anak-anak muda seusia sekolah SMP sampai mahasiswa. Sehingga tidak aneh jika tempat itu dijadikan tempat nongkrong anak muda.


Berbagai macam menu makanan dan minuman yang Indonesia banget, jadi menu andalan mereka. Terutama menu jajanan ala Bandung. Seperti siomay rebus, dan siomay goreng. Sementara minuman ter-hits adalah bajigur dan bandrek.


Di Kejora kafe, ada tempat favorit yang sering dipadati pengunjung. Yaitu bagian roof top. Karena tempatnya yang terbuka, memanjakan mata untuk menikmati keindahan pemandangan kota Bekasi dari atas sambil menikmati sajian menu-menu yang menggoyang lidah.


Mobil yang dikendarai sendiri oleh Danu telah terparkir sempurna di area parkir kafe. Rega segera beranjak turun dari kursi penumpang samping kemudi. Begitu pula dengan Asti, ikut bersiap hendak turun.


Tapi belum sebelum beranjak gadis itu sempat menoleh pada Qameella, duduk bersisian dengannya. Gadis berkacamata minus dengan frem bulat itu, masih bergeming dan asyik dalam dunianya.


"Udah, ngelamunnya nanti disambung lagi. Sekarang cepat turun, gak enak udah ditunggu Danu juga Rega di luar."


Qameella tersentak kaget seraya menoleh pada Asti, yang lebih dulu menepuk pundaknya pelan. Serta membuyarkan semua lamunan yang tidak ada dasarnya. Dengan kaku dia terpaksa tersenyum dan mengangguk patuh.


Danu dan Rega berjalan memimpin di depan. Disusul oleh Asti lalu Qameella berada jauh di belakang.


Tadi Qameella sempat terhenti, karena melihat sebuah sepeda motor yang terasa familiar, berada di antara deretan sepeda motor lain di area parkir khusus sepeda motor.


Qameella tidak mau berspekulasi tentang kepemilikan kendaraan tersebut. Toh, sepeda motor seperti itu se-Indonesia bukan hanya satu. Pasti ada banyak kan?


Buru-buru Qameella mengejar Asti yang sudah jauh dari pandangannya, nyaris kehilangan jejaknya. Lagi-lagi langkahnya terhambat. Gadis berkuncir kuda itu tiba-tiba menabrak seseorang.


"Aww!" pekiknya meringis kesakitan sambil mengelus jidatnya. Tanpa sengaja telah membentur dada bidang seorang cowok juga berseragam SMA.


Sedangkan si cowok itu hanya mendesis pelan, menyentuh dadanya yang ditabrak Qameella.


"Maaf, maaf, maaf!" cicit Qameella panik, mengangkat wajahnya. Satu jari telunjuknya mendorong kacamata minusnya yang melorot.


Sepasang matanya terbelalak kaget melihat sosok yang sedang berdiri menjulang di depan batang hidungnya.


Garda?!


Qameella terdiam mematung melihat sosok yang bisa dibilang cukup dirindukannya.


"Makanya kalo jalan pake mata dong!" ucap Garda sarkas.


Qameella tersentak kaget mendengar ucapan Garda yang terasa mengintimidasi.

__ADS_1


"Maaf, gak sengaja." sahutnya lirih.


Garda menatap wajah cewek berkacamata di depan matanya. Dia merasa tidak pernah bertemu dengan gadis ini. Tapi terasa familiar di hatinya.


Siapa dia? Kenapa gue ngerasa akrab?


"Sekali lagi, maaf ya..." cicit Qameella canggung.


Garda terkejut mendengar suaranya. Serta ekspresi bersalah yang ditunjukkan, menginginkannya pada Qameella. Tetapi cewek yang kerap dipanggilnya Bini, tidak memakai kacamata seperti itu.


Selain itu, Garda mengakui penampilannya tidak jauh beda dengan Qameella. Sederhana dan apa adanya.


Kok gue ngerasa akrab ya sama nih cewek? Gue jadi ngerasa kaya lagi berdiri di depan si Meella. Pikir Garda bingung.


Ah, masa sih, nih cewek Bini gue? Kayanya dia gak pernah pake kacamata tebal gini deh.


"Garda!" pekik seseorang dari kejauhan. Memaksa setiap orang yang mendengar suara lengkingan itu menoleh.


"Ayo, sini gabung!" terdengar suara seorang cewek berseru kepada Garda.


Garda tersenyum lebar melihat orang yang selalu ingin ditemuinya di mana pun berada. Lalu beranjak pergi menghampiri cewek itu, tengah bersama teman-temannya.


Dia gak ngenalin gue? tanya batin Qameella sedih.


Qameella sangat mengenali siapa si empunya suara yang mirip dengannya. Siapa lagi kalau bukan Qarmitha. Qameella menoleh sekilas. Tidak ingin saudari kembarnya menyadari kehadirannya.


Mungkinkah dia benar-benar tidak bisa mengenalinya? Atau memang sengaja berbuat seperti itu, karena bentuk fisik yang nyaris sama sempurna.


"Elo dari mana aja?" tegur Asti.


"Maaf, tadi gue gak sengaja nabrak orang..." belum sempat Qameella menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba Danu menyelanya,


"Seriusan lo, Meel? Elo nabrak orang di mana? Parah gak?" berondong cowok berkulit sawo matang itu.


"Gak separah itu kok. Lagian gue sama dia cuma tabrakan biasa aja di depan lobi tadi." jelas Qameella.


"Oh, kirain. Bikin gue parno aja lo." decak Danu.


"Ya udah. Duduk Meel!" seru Rega mengalihkan pembicaraan.


Qameella langsung duduk di kursi kosong samping kursi Asti.


"Kalian mau pesen apa?" todong Rega. "kalo gue mau nyobain siomay goreng sama... minumnya lemon tea."


"Gue batagor aja, sama seblak deh." sambung Danu. "minumnya sama deh sama elo, Ga. Lemon tea."

__ADS_1


Asti tampak masih memilih menu yang akan dipesannya.


"Elo pesan apa, As?" tegur Danu penasaran.


"Hmm... tahu nih, gue bingung. Kayanya semua makanan enak sih."


"Ah, rempong lo, As. Tinggal milih aja bingung, apalagi kalo suruh traktir kita semua." hardik Danu.


"Rese lo, Nu!" ujar Asti geram.


Qameella masih tidak bersuara. Gadis itu memilih diam seribu bahasa. Kekalutannya mengenai hubungan segi tiga antara dirinya, Garda dan Qarmitha sudah membuatnya terpuruk sendiri.


"Meel, elo gak ikutan pesan?" tanya Rega tiba-tiba.


"Ceilah... Meel, gak usah malu-malu. pesan aja apa yang elo mau. Bebas, suka-suka, kan ada boss besar kita. Jadi, santai aja." tutur Danu membujuk Qameella agar tidak perlu sungkan.


"Gue pesan empek-empek kapal selam aja deh satu porsi, sama es teh manis." akhirnya Asti memutuskan menu yang dipilihnya, setelah terjadi drama keraguan yang cukup panjang.


"Kalo elo, Meel?" Rega mengulangi pertanyaan yang sama.


"Gue siomay biasa aja sama orange juice." sahut Qameella.


Setelah mencatat semua pesanan pada kertas khusus yang tersedia di setiap meja. Rega segera beranjak menuju meja pemesanan khusus.


Selang beberapa menit. Semua pesanan yang mereka sudah pesan datang, dibawakan oleh dua orang berseragam pelayan dengan dua nampan berbeda.


Asti dan Danu saling bertukar makanan. Keduanya tampak kepo dengan rasa makanan yang sudah merasa pesan masing-masing.


Rega si cowok cool yang tidak pernah mati gaya. Lagi makan siomay saja kelihatan keren. Apalagi yang lainnya?


Qameella adalah satu-satunya orang yang paling gabut. Dia masih teringat kejadian tadi yang sukses merusak nafsu makannya.


Dulu, gue selalu mengharapkan duduk bersama dengan Rega. Berbicara, bertukar pikiran, dan bercanda mengenai hal-hal yang lucu, adalah impian gue yang ingin gue wujudkan. Sampai gue berpikir saat hal itu terjadi, gue adalah satu-satunya cewek yang paling beruntung.


Tapi sekarang, gue udah duduk berhadapan dengan dibatasi meja makan seperti ini. Gue merasa gak ada rasa. Rasa yang dulu gue simpan mendadak raib entah kemana. Isi pikiran gue yang ada cuma Garda dan Garda.


Garda memang punya kesamaan fisik dengan Rega. Tidak ubahnya gue dengan Qarmitha. Meskipun kembar, gak ada satu pun di antara kami bisa menjadi pribadi yang sama dengan kembaran kami. Kami tetap menjadi orang yang berbeda. Punya perasaan sendiri, yang hanya bisa dimengerti sendiri.


Gue sadar awal ketemu Garda, karena gue menganggap dia Rega. Gue sangat bahagia bisa bersamanya. Lantaran gue pikir sedang bersama cowok yang gue sukai.


Namun setelah gue tahu dia bukan Rega. Hati gue find-find aja. Malah gue bisa merasakan kebahagiaan yang belum pernah gue dapet sebelumnya. Dan... saat ini gue sedih banget. Sumber kebahagiaan gue udah hilang. Nyeseknya lagi gue gak punya keberanian untuk merebutnya dari Qarmitha.


Qarmitha pintar bergaul. Siapa pun yang berada di sisinya akan merasakan kenyamanan. Gak seperti gue, susah bergaul. Orang bilang gue terlalu kaku buat diajak bercanda. Ya, gue akui itu.


Mungkin itu alasan Garda lebih memilih Qarmitha ketimbang gue.

__ADS_1


Humph! Gue cuma bisa berharap, semoga mereka bahagia!


__ADS_2