Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Jangan Marah Ya, Bi...


__ADS_3

Rega dan Renita tengah menikmati menu favorit masing-masing. Keduanya sangat menikmati kebersamaan yang terbilang sangat jarang sekali mereka lakukan. Sesekali tampak tersenyum dan tertawa kecil disela obrolan mereka. Usia pacaran  mereka baru seumur jagung. Frekwensi pertemuan pun terhitung jarang. Hanya di sekolah saja keduanya bisa meluangkan waktu bersama. Karena diluar sekolah mereka berdua sulit bertemu. Lantaran kesibukan yang begitu banyak menyita waktu mereka. Terutama Renita yang notabene anak tunggal seorang pengusaha kaya. Hari-harinya selalu disibukkan dengan les-les private. Mulai les bahasa, balet, piano dan masih ada beberapa les lainnya. Selain itu, di rumahnya dia sangat terikat oleh aturan yang sudah ditetapkan oleh orang tuanya. Jadi, kecil kemungkinan baginya bisa keluyuran bebas sebagaimana anak remaja seusianya pada umumnya.


Di sudut lain restoran yang sama dikunjungi Rega dan Renita. Qarmitha sedang menggeser-geser slide ponsel pintarnya sambil dikerumuni oleh ketiga sahabatnya. Mereka berempat tengah fokus memperhatikan slide demi slide foto kebersamaan Rega bersama Renita. Tentu saja diambil dengan secara diam-diam. Mereka berempat tidak ada yang tahu jika foto itu milik Rega. Mereka hanya tahu jika cowok itu adalah Garda yang sedang selingkuh dengan cewek lain di belakang Qameella. Maklumlah mereka juga tidak tahu jika Rega dan Garda adalah saudara kembar.


"Elo yakin kalo itu si Garda?" tanya Amelia ragu. Netranya menangkap ada sedikit kejanggalan pada foto itu. Entah dibagian mana, dia tidak tahu pasti.


"Yakinlah. Kan elo bisa lihat sendiri mukanya jelas kaya gini," sahut Qarmitha rada sewot.


"Bukan gitu juga kali... coba aja elo perhaiin mukanya sama gini," sanggah Amelia setelah sebelumnya berpikir dalam.


"Maksud lo apa sih, Mel? Gak jelas banget, tahu gak sih lo?" sambung Laras yang tidak sepaham dengan pendapat Amelia.


"Gue gak nyangka kalo cowok bucin kaya si Garda, ternyata bisa selingkuh juga, ya?" ujar Yasmin yang langsung diangguki oleh Sarah dan Qarmitha. "gue pikir dia tipe cowok yang setia. Eh... gak tahunya buaya juga," lanjutnya datar namun penuh penekanan.


Sarah mendengus pelan seraya mencebikkan bibir.


"Mungkin si Meella nya aja kali yang kurang gimana.... gitu. Yah... kita-kita tahu ya... gimana si Meella. Pendiam, kuper, dingin sama cowok. Siapa tahu si Garda bosen dengan sikapnya yang begitu. Jadi ya... si Garda cari cewek lain yang lebih perhatian sama dia," ucapan sarah membuat Qarmitha berdehem sambil melemparkan tatapan angkernya.


"Ehm! Ada gue nih..."


Wajah Sarah langsung pias. Khawatir Qarmitha akan marah karena tidak terima dengan pendapatnya.


"Gue bukan bermaksud gitu, Tha..."


Sebenarnya, Qarmitha tidak menyangkal apa yang diucapkan sarah mengenai sifat saudari kembarnya. Qameella adalah fakta yang sebenarnya. Walau tidak 100% tapi tetap saja dia tidak ingin mendengar komentar-komentar tidak jelas tentang Qameella masuk ke dalam telinganya.


"Terus, rencana lo apa setelah ini?" pertanyaan Sarah mengalihkan pandangannya pada cowok yang masih terlihat asyik berbincang dengan cewek yang tidak jelas juntrungannya.


"Yang jelas buat saat ini gue gak mau ngapa-ngapain dulu. Gue mau lihat sepak terjang dia sampai mana dulu," sahut Qarmitha seraya menunjuk dengan mengayunkan dagunya. "abis itu, baru gue berih dia," lanjutnya penuh penekanan. Sebelah tangannya mengepal di atas meja dengan tatapan membunuh.


Sarah dan Yasmin mengangguk mengerti. Sementara Amelia tampak sedang berpikir entah apa yang ada di dalam otaknya. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.


*


Qameella segera mengompres pipi Garda yang terkena pukul tadi dengan es batu. Tapi masalahnya gadis itu tidak memiliki sapu tangan untuk membungkus es batu agar tidak menempel langsung di pipi mulus cowok itu. Kasihan kan... nanti dia kedinginan. Mau gimana lagi? Qameella memang tidak punya. Di dalam sling bag-nya hanya ada ponsel, dompet kecil dan sebungkus tisu. Yo wis lah. Tidak ada rotan akar pun jadi. Tidak ada sapu tangan tisu pun jadi.


Garda duduk di kursi taman seorang diri tiba-tiba dikejutkan, dan memaksanya menoleh saat benda yang terasa dingin menempel di pipinya. Matanya membola lalu berubah sendu dalam sekejap. Kala menyadari orang yang dilihatnya adalah orang yang sangat dirindukannya. Dalam hati berharap dapat memeluk dan menciumnya untuk melepaskan rindu yang terasa sudah di ubun-ubun.


Pandangan mata sepasang muda mudi itu saling mengunci untuk beberapa detik.


"Maaf," cicit Qameella pelan. Memutus kontak matanya. "maaf udah bikin kamu kaya gini," ucapnya penuh penyesalan.


Garda hanya diam dengan tatapan tidak lepas dari Qameella, masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Akh!" pekiknya pelan seraya memejamkan mata, saat rasa dinginnya terasa menggigit memar pada pipinya.


"Ah, maaf, maaf, maaf," Qameella langsung menjauhkan es batu yang ditempelkannya di pipi Garda. Dia jadi salah tingkah juga tidak enak hati. Entah hendak berbuat apa jadi bingung sendiri.

__ADS_1


Telapak tangan Qameella pun sudah hampir membeku memegang es batu. Tapi dia ragu membuangnya, khawatir masih dipergunakan. Kemudian dia beranjak berdiri hendak pergi. Dan sepertinya memang dia harus cepat pergi saja dari sini meninggalkan Garda. Karena langit sore yang akan berganti gelap. Apalagi ingatan kejadian dua jam yang lalu. Sungguh bikin hati sakit dan ill feel.


"Bi, mau kemana?" Garda segera menarik lengan Qameella yang hendak bergegas pergi meninggalkannya. Sontak menjatuhkan es batu di tangan gadis itu ke tanah. Lalu tubuh Qameella seakan melayang dan jatuh di atas pangkuan Garda dengan posisi menyamping.


Garda tersenyum, Qameella tertegun. Inilah momen yang selalu ditunggu Garda. Tanpa membuang waktu sebelah tangannya memeluk pinggang Qameella. Sementara sebelah tangan lainnya meraih tengkuk istrinya. Aroma parfum yang dipakai Qameella menguar masuk ke dalam rongga hidungnya. Sungguh aroma yang sangat dirindukannya. Wangi yang pernah dihirupnya hingga masuk ke dalam otaknya ketika peristiwa mereka dikejar oleh anggota geng Endoy. Tentu saja sangat berbeda dengan parfum yang dipakai Qarmitha.


Inilah istri saya. Bisiknya dalam hati seraya memejamkan mata menikmati wangi yang memanjakan indera penciumannya.


"Jangan mesum di sini!" Qameella tiba-tiba memperingati, menginterupsi hasrat Garda yang ingin mencumbunya.


Garda langsung membuka matanya. Kecewa? Pasti! Karena dia gagal menyalurkan rasa rindunya. Matanya langsung menyisir lingkungan sekitar yang masih tampak ramai oleh para pengunjung taman.


Qameella bangun dan langsung berdiri dari pangkuan Garda. Sedikit kikuk juga rada oleng lantaran kelakuan mesum bocah sedeng itu.


"Hah?! Mesum?" Garda tidak mengerti dan meminta penjelasan. Bangkit berdiri mengikis jarak.


"Iya. Disini tempat umum. Juga ada banyak anak kecil. Makanya pake akhlak jangan cuma pake otak," jawab Qameella sarkas. Lalu mengalihkan pandangannya.


Garda dibuat auto cengo.


"Lagian elo ngapain datang ke sini?" tanyanya ketus. "di sini tuh gak ada orang yang elo cari. Mending elo cepat pergi aja dari sini!" Qameella kali ini benar-benar tidak nyaman lama-lama berada dekat dengan Garda. Kemudian beranjak pergi.


"Kenapa Bi?... Kenapa kamu ngomong kaya gitu? Kamu ada di sini Bi... itu artinya orang yang saya cari juga ada di sini. Karena kamu lah satu-satunya orang yang saya cari," bantah Garda berhasil menyurutkan langkah Qameella.


"Bi..." panggil Garda lembut seraya meraih tangan Qameella. Namun Qameella menyentaknya kasar.


"Sudah gue bilang, Bi, bi elo gak ada. Gue bukan dia," sahut Qameella dengan suara bergetar menahan tangis. Wajahnya sengaja dipalingkan tidak menatap Garda. Agar suaminya tidak tahu air matanya hampir turun.


Garda memutar paksa tubuh Qameella yang sekian lama semakin memunggunginya agar berbalik arah menghadap ke arahnya. Dia terkejut dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata Qameella.


"Bi, kamu gak usah bohongin saya dengan ngomong kamu bukan Bi saya. Kamu Bi saya, Bini saya. Satu-satunya di dunia ini, gak ada yang lain lagi," tukasnya. Memegang kedua bahu Qameella.


"Nggak. Nggak ada di sini!"


Garda tidak mengerti jalan pikiran Qameella. Berulang kali dia mengakui ketidak beradaannya sendiri. Padahal dia sangat jelas nyata dan ada.


"Bi, kamu kenapa sih sedari tadi ngomong kamu gak ada? Emangnya kamu mau pergi ke mana? Biar saya antar ya..." bujuknya.


"Nggak usah, makasih," ujar Qameella dingin. Menepis tangan Garda dari kedua bahunya dan beranjak pergi.


"Bi..." Garda menarik lengan Qameella masih berusaha untuk menahan kepergiannya.


"Udah deh, Garda. Buat apa sih elo masih ngejar-ngejar gue? Gue gak bisa basa-basi lagi sama elo. Cewek yang elo cari bukan gue."


"Bi! Cukup!" Garda sedikit meninggikan suaranya. Untungnya pengunjung yang sedari tadi mendiami taman sudah berangsur pergi karena hampir malam. Hanya mereka berdua yang tampak belum bergeming. Hingga tidak mengundang perhatian orang lain. "saya tahu ini kamu. Itu sebabnya kamu langsung membela saya dengan mengatakan saya pacar kamu saat saya mau dihajar orang lagi tadi. Kamu gak usah berpura-pura lagi. Dan ngomong pake elo gue segala."

__ADS_1


"Kamu marah sama saya? Tapi marah kenapa? Ngomong dong yang jelas, biar saya paham. Saya bukan dukun orang yang pintar menebak isi hati dan pikiran orang lain. Saya cuma cowok biasa yang cuma tahu cara berkelahi dan menguasai jalanan."


Qameella hanya diam membisu. Air matanya mengalir begitu saja membasahi pipi. Garda menangkup wajah Qameella dengan kedua tangannya. Mengusap air mata istrinya dengan kedua ibu jarinya yang berada di kanan dan kiri pipi Qameella.


"Bi... tolong jangan siksa saya dengan kemarahan kamu. Udah cukup saya menderita menahan rindu saya sama kamu selama satu minggu lebih. Saya rindu kamu, Bi..." ucap Garda lembut sambil membelai lembut pipi Qameella. Lalu mengecup keningnya cukup lama.


Qameella memejamkan mata menerima kecupan itu. Terkesan menikmati. Tiba-tiba bayangan Garda saat membukakan pintu mobilnya dengan sangat penuh perhatian pada Qarmitha, amarahnya seakan ingin segera meledak. Tanpa ba-bi-bu dia mendorong keras dada Garda. Memberi jarak yang cukup renggang di antara mereka.


"Bi," spontan Garda protes. Qameella membuang muka. "tolong jangan begini. Saya sayang banget sama kamu. Saya cinta sama kamu. Kalo kamu ada yang gak senang sama saya omongin aja yang jelas. Plis, Bi.."


"Tadi saya datang ke rumah kamu buat jemput kamu. Tapi kamu-nya gak ada," ujarnya mengingat sebelum kedatangannya ke taman.


"Elo salah. Gue ada di rumah," sanggah Qameella kasar. Garda tidak bisa berkata apa-apa. Hanya membiarkan istri kecilnya meluapkan emosinya.


"Bi... kamu yakin ada di rumah?" Garda memastikan.


"Kenapa harus yakin? Gue gak lagi pindah agama. Tapi gue cuma ngomong real. Gue ada di rumah. Bahkan gue lihat gimana bahagianya elo nyambut kedatangan Mitha. Bukain pintu buat dia terus pergi deh..."


"Bi, maafin kebodohan saya. Saya gak nyadar kalo Mitha itu bukan kamu. Soalnya wajah kalian berdua sangat-sangat mirip. Apalagi tadi penampilan Mitha mirip banget sama kamu, Jadi...." Garda benar-benar merutuki kebodohannya sendiri.


"Maaf Gar. Hubungan kita bukan baru sehari dua hari. Dan ini bukan kesahalan yang pertama tapi entah udah yang ke berapa kali?" mata Qameella berkabut karena air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.


Garda tertunduk menyadari kesalahannya. Qameella tertawa sumbang.


"Oke, diawal perkenalan kita elo masih gue maklumi atas kekeliruan elo. Karena belum bisa membedakan antara gue dan Mitha. Walau pun gue marah sama elo. Tapi pada akhirnya gue bisa memaafkan elo. Dan, untuk sekarang gue gak tahu, gue bisa atau gak maafin elo. Gue udah terlanjur kecewa banget sama elo," air mata dan isakan kecil berhasil lolos setelah menyelasaikan ucapannya.


"Bi, plis... tolong kasih kesempatan saya lagi ya. Saya janji untuk kali ini saya gak akan keliru lagi. Plis... jangan marah ya, Bi..."


"Gar, jujur harus gue katakan sama elo dari sekarang. Gue penganut sistem monogami. Gue nggak suka dimadu. Gue benci yang namanya pelakor. Walau gue tahu dalam agama Islam membolehkan seorang lelaki memiliki istri empat, tiga atau dua."


Garda mengangkat pandangannya menatap lurus gadis yang ada di depannya. Dengan tatapan yang berubah ubah dan tidak dapat terbaca.


"Jika elo mau punya istri lebih dari satu, silahkan, Gue gak bakal melarang kesenangan lo. Tapi dengan satu syarat. Ceraikan gue titik!"


"Bi, kamu berpikir terlalu banyak dan terlalu jauh."


"Terserah, elo mau bilang gue terlalu banyak mikir kek, mikir terlalu jauh kek, gue gak peduli. Gue hanya berpikir, jika sekarang aja elo salah mengenali istri lo sendiri. Gimana nanti di saat kita benar-benar memiliki rumah tangga yang sesungguhnya. Mungkin aja elo bisa berbuat lebih dari ini," tuturnya putus asa.


"Tapi Bi..." Garda meraih kembali tangan Qameella.


"Sori, Gar. Kali ini keputusan gue udah benar-benar bulat. Kayanya kita emang beneran gak bisa melanjutkan hubungan rumah tangga yang gak jelas ini. Toh, emang dasar hubungan ini gak ada pondasinya. Kita menikah cuma karena terpaksa. Hubungan kita berakhir cukup sampai di sini aja."


Jederrrr!!!


Seakan suara petir menggema di dalam otak Garda. Dia sangat terkejut dengan keputusan sepihak Qameella. Lagi dan lagi istrinya meminta mengakhiri hubungan mereka berdua yang baru akan dimulai lagi.

__ADS_1


__ADS_2