Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Menjemput Kamu Pulang


__ADS_3

🙋 Hai readers... 🙏 maaf author baru update lagi, karena eh karena mood author yang lagi naik turun. 🤭🤭🤭 udah kaya naik turun gunung ya...


Semoga ceritanya menghibur para readers yang lagi duduk santuy...


Jangan lupa kasih vote, like n komen ya... kalo bisa boom like aja 😁😁😁 ngarep DOT kom. Biasalah vitamin supaya author bisa semangat 45 update episode terbaru...


Happy reading... 🥰🥰🥰


`````````````````````````````


Dentang suara bel istirahat terdengar nyaring. Memaksa guru-guru yang sedang mengajar segera menyudahi jam pelajarannya. Menggelitik semua murid segera keluar dari tempat duduk masing-masing. Berhambur keluar kelas mencari tempat jajan, atau mencari tempat lain untuk menghabiskan jam istirahat mereka.


Meella keluar dari kelasnya setelah hampir semua teman sekelasnya pergi mendahuluinya. Dalam hati dia berharap Tari tidak sedang menunggunya di depan kelasnya. Sebenarnya tidak masalah jika gadis jangkung kurus itu menungguinya. Toh, emang sudah sering seperti itu. Apalagi kalau ada sesuatu yang diinginkan dari Meella. Tari akan memohon sampai Meella mau menyetujuinya.


Tapi kali ini kasusnya beda. Sejak tadi pagi sewaktu Meella ketemu Tari di koridor sekolah sebelum masuk ke kelas masing-masing. Pasalnya Tari dan Meella memang beda kelas dan juga jurusan juga. Tari berusaha mengulik masalah kemarin yang tiba-tiba Meella menghilang bak ditelan bumi. Lebay! Juga siapa cowok yang bersamanya. Lantaran doi yang menjawab telepon Tari kemarin.


Huh! Bikin ribet aja tuh cowok. Gimana kalo Tari, Mitha, apalagi orang tuanya tahu siapa dia, dan status


hubungan gue sama dia… wadidau… bisa berabe! Pikir Meella khawatir.


Meella mendengus lega saat tidak menemukan Tari di sekitar kelasnya. Namun tanpa Tari Meella akan sendirian.


Tidak ada yang bisa diajaknya berbicara. Dia yang terkenal pendiam dan penyendiri di sekolah rasanya tidak aneh jika tidak memiliki teman dekat. Apalagi di kelasnya sekarang, tingkat persaingan antar murid sangat ketat. Maklumlah kelasnya berisi orang-orang pintar dan jenius. Mereka seakan berlomba-lomba mendapatkan nilai bagus, dan menjadi murid terbaik seantero sekolah.


Sedangkan Meella hanya murid dengan kemampuan  biasa-biasa saja. Namun punya faktor lucky jadi dia bisa bergabung di kelas yang sebenarnya membuatnya jenuh dan jeleh. Hingga dia pernah ingin pindah di kelas yang muridnya memiliki kemampuan tidak jauh seperti dirinya. Tetapi urung dilakukannya. Atau mungkin tidak pernah akan dilakukannya. Demi kebahagiaan ayahnya yang selalu berharap banyak padanya. Setelah kekecewaan demi kekecewaan yang Gusti dapat dari Mitha.


Meella memang tidak pernah ingin melihat Gusti dan Maryam kecewa padanya. Sebagaimana mereka kecewa kepada saudari kembarnya, Mitha. Dia selalu berjanji dalam hati akan selalu membahagiakan kedua orang tuanya. Walau pun itu harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Selain itu sebagai penebus kekecewaan mereka atas apa yang diperbuat Mitha selama ini.


“La.” Panggil Mitha memaksa Meella menoleh ke sumber suara.

__ADS_1


“Entar elo pulang bareng Tari lagi ya. Soalnya pulang sekolah gue mau langsung ke klub. Latihan basket, bentar


lagi tim basket dari klub gue mau ikut turnamen. Kalo nyokap sama bokap tanya, bilang aja gitu.” Tanpa menunggu jawaban Meella, Mitha langsung beranjak pergi bergabung bersama ketiga sahabatnya, Sarah, Yasmin, dan Amel.


Meella mengangguk pelan mengiyakan pesan Mitha.


Sore hari sepulang sekolah. Setelah bel pulang berdeing nyaring, semua murid berduyun-duyun meninggalkan kelas masing-masing. Satu demi satu semua kendaraan bergantian bergerak meninggalkan areal parkir sekolah. Bagi murid yang tidak membawa kendaraan, mereka akan dijemput oleh salah satu anggota keluarga mereka. Dan bagi yang tidak membawa kendaraan atau dijemput, mereka akan naik kendaraan umum merupakan pilihan terbaik.


Begitu pula dengan Meella yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Betul sekali! Sampai detik ini gusti belum tergugah hatinya untuk membelikan sepeda motor untuk sepasang putri kembarnya. Sepertinya pria itu lebih suka kedua putrinya naik kendaraan umum, atau nebeng bareng teman-teman sekolahnya. Ih! Harus tebal muka setiap hari nih kalo mau nebeng terus. Untungnya teman-teman Meella dan Mitha baik semua tidak ada yang perhitungan.


Berbicara masalah tebeng-menebeng, tadi siang Mitha sempat berpesan kalau Meella pulang bareng Tari saja. Karena dia tidak langsung pulang ke rumah, ada latihan basket katanya. Sebenarnya, tanpa dikasih tahu pun Meella memang selalu pulang bareng Tari bila ada kesempatan. Toh, latihan mau tidak latihan Mitha dan Meella jarang pulang bareng. Karena dia lebih sering pulang dengan ketiga temannya.


Akhirnya Meella memilih naik kendaraan umum juga. Karena dia tidak bisa pulang bareng dengan menebeng sepeda motor metik milik Tari. Bukan karena takut diintrogasi Tari tentang masalah kemarin. Tapi memang sahabat satu-satunya itu sedang sibuk dengan kegiatan OSIS. Maklumlah Tari adalah salah satu anggota OSIS di sekolahnya.


Meella mengulurkan tangannya ke depan ketika angkot yang ditunggunya sudah terlihat. Tapi per sekian detik kemudian, tangannya ditarik erat oleh seseorang menjauh dari tempatnya semula. Sontak Meella terperanjat kaget, auto panik dan refleks meronta ingin berteriak minta tolong.


"Ih, ngapain sih bikin kaget aja." keluh Meella kesal sambil menepis kasar tangan Garda. "untung jantung gue gak copot." gumamnya pelan yang ternyata masih bisa didengar jelas oleh Garda.


"Gak lah... mana mungkin copot. Emangnya kaca spion yang bisa dibongkar pasang." seloroh Garda yang hanya direspon dingin oleh Meella.


Tiba-tiba mobil angkot yang tadi ingin ditumpangi Meella menghampiri mereka, memberi klakson membuat sepasang muda-mudi itu terkejut serta menoleh hampir bersamaan ke sumber suara, dan langsung menghentikan aktivitasnya.


"Neng, jadi naik gak?" pekik seorang lelaki yang duduk di belakang kemudi dengan tatapan penuh harap. Tentu saja sopir itu sangat berharap Meella naik angkotnya. Dengan begitu pundi uangnya akan terisi untuk membayar storan dan kebutuhan sehari-harinya.


Belum sempat Meella menjawab, Garda sudah lebih dulu buka suara.


"Gak jadi bang." Meella melongo lalu manatap Garda dengan tatapan tidak terbaca.


Dengan kecewa sang sopir langsung melajukan angkotnya meninggalkan mereka, mencari penumpang lain.

__ADS_1


"Kok elo malah bilang gak jadi sih? Angkotnya jadi pergi deh. Kalo gini gimana gue bisa pulang." protes Meella geram. Mendengus kasar.


Garda hanya nyengir penuh kemenangan.


"Terpaksa deh harus naik ojol. Niat mau ngirit, jadi boros kalo gini caranya." bisik Meella dalam hati. Kemudian mengeluarkan ponselnya. Membuka fiitur aplikasi ojol.


"Eh, mau ngapain?" tegur Garda sambil merampas ponsel Meella.


"Hei, hp gue! Balikin!" seru Meella berusaha merebut kembali ponselnya. Garda mengangkat sebelah tangannya tinggi sambil memegang ponsel Meella. Sementara tangannya yang bebas menahan bahu istrinya agar tidak bisa meraihnya.


"Elo ngapain mau pesen ojol segala?" selidik Garda dengan tatapan tajam.


"Isshh! Garda... balikin hp gue... gue mau pulang..." rengeknya manja. Matanya merah hampir menangis.


Garda berdecak kesal mendengar rengekan Meella. Menurunkan tangannya dan melepaskan bahu Meella membiarkannya bebas.


"Kalo mau pulang kan gue udah di sini buat jemput elo. Ngapain juga elo repot-repot pesen ojol." tatapan matanya tidak lepas dari gadis berseragam putih abu-abu di hadapannya. Namun gadis itu tidak balik menatap matanya. Mengalihkan pandangan untuk menghindarinya, karena sangat risih berada sangat dekat dengan lawan jenis yang selama ini tidak pernah dilakukannya.


"Gak mau." sahut Meella cepat menolak niat baik Garda.


"Kenapa?" Garda menuntut penjelasan.


"Karena gak mau." jawabnya asal.


"Bini..." cicit Garda penuh penekanan. Cowok itu sangat geram dengan sikap Meella yang tidak mau menatapnya saat bicara dengannya.


Sementara Meella benar-benar sangat risih berada di muka umum hanya berdua saja dengan seorang cowok. Dia khawatir ada mata-mata yang melaporkan perbuatannya itu kepada orang tuanya. Humph! Tidak bisa dibayangkan bagaimana reaksi mereka. Lantaran Meella sudah kadung janji terutama kepada Gusti, tidak akan pacaran sebelum lulus sekolah. Tapi pada kenyataannya, hubungannya dengan Garda bukan sekedar pacaran. Melainkan status yang sangat serius dan sakral, suami dan istri.


Mulai lagi deh!

__ADS_1


__ADS_2