Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Janji


__ADS_3

Hai readers... author balik lagi bawa episode terbaru. Maaf author lagi gak greget bikin ceritanya ya... semoga para readers bisa menikmati.


Happy reading...


...****************...


Malam semakin larut. Namun tidak jua mampu menenggelamkan Qameella dalam buaian mimpi. Rasa kantuknya hilang begitu saja bersama hembusan angin malam yang dingin. Tubuhnya bergerak gelisah ke kiri lalu ke kanan. Bolak balik merubah posisi tidurnya mencari posisi nyaman. Dia mengambil posisi telentang dengan wajah menengadah menatap plafon kamarnya yang berwarna putih cerah. Setelahnya mendengus berat.


Suasana kamar Qameella temaram. Hanya mengandalkan lampu duduk di atas nakas samping tempat tidurnya.  Dalam pencahayaan yang minim, sepasang mata indahnya yang tidak berbingkai kacamata terasa nyalang. Pikirannya terus melayang, terbang jauh ke alam sana.


“Bi. Kita gak bisa terus-terusan tinggal berjauhan kaya gini. Ingat lho, kewajiban kamu sebagai istri. Kamu…”


“Stop!” Qameella mengangkat telapak tangannya di udara menginterupsi. Dia sengaja melakukannya, khawatir Qarmitha mendengar pembicaraan mereka yang sudah menjurus serius.


Ya ampun Garda… plis… jangan bahas masalah ini di sini…


“Tapi Bi…”


“Lupain. Di antara kita gak ada hubungan apa-apa. Gue bukan istri lo, titik!” Garda sangat terkejut. Hatinya kecewa dan terluka mendapat penolakan lagi. Qameella membalikkan tubuhnya memunggungi Garda.


Maafin gue, Gar...


“Bi!” belum sempat Garda membuka mulutnya lebih lebar lagi, tiba-tiba Qarmitha masuk tanpa permisi.


“Woy! Ngapain elo berdua masih betah di sini?" kontan sepasang suami-istri ABG itu mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara.


Qameella buru-buru menjauhkan diri dari Garda. Walau pun Qarmitha sudah tahu hubungannya dengan cowok itu. Namun saudari kembarnya tidak tahu jika hubungan yang terjalin antara Qameella dan Garda bukanlah hubungan pacaran biasa. Jadi, dia tidak ingin mengekspos terlalu mencolok.


"Terus, kenapa muka elo berdua kelihatan pada tegang kaya gitu, ada yang serius? Atau... gue datang di waktu yang gak tepat. Jadi, ganggu romantisme elo berdua?” sungguh wajah yang tidak berdosa sekali yang ditunjukkan Qarmitha. Entah dia tadi sudah mendengar semua pembicaraan mereka atau tidak. Yang jelas ekspresi wajahnya terlihat sangat natural seperti tidak tahu apa-apa. Tetapi siapa yang tahu dalam hatinya Qarmitha. Diam-diam merasa iri dengan hubungan sepasang insan yang menurutnya berstatus pacaran.


Dalam hati Qameella mendadak gelisah.


Garda ingin sekali mengungkapkan hubungannya dengan Qameella lebih detil lagi pada Qarmitha, sang adik ipar. Agar dia bisa selalu bersama Qameella. Namun belum sempat dia bersuara sudah diinterupsi.


“Gak… gak ada papa. Iya kan, Gar?” elak Qameella berusaha bersikap tenang. Kemudian menatap Garda seakan meminta persetujuan. Tapi hanya ditanggapi dingin oleh sang suami.


“Oh…” Qarmitha tidak ingin bertanya lebih dalam lagi. “eh, Gar. Elo ditungguin anak-anak di depan, tuh. Katanya mereka mau balik ke basecamp.”


Ryan duduk di kursi kemudi. Rombeng memilih duduk di kursi penumpang, di sebelah kursi sopir. Sementara Tikeng memposisikan diri di kursi belakang yang nantinya ditempati Garda.


Garda berjalan pelan dan sengaja dibuat tertatih dengan menyandang tongkat keluar dari pintu rumah Qameella.


Qarmitha langsung masuk ke dalam kamarnya setelah mengucapkan salam perpisahan pada garda. Dia pun sempat meminta maaf tidak mengantar sampai depan.


Qameella berjalan di sisi Garda sembari memperhatikan dan menjaganya agar jangan sampai terjatuh. Diam-diam dia sangat perhatian pada lelaki yang sering diabaikannya. Mungkin karena saat ini cowok itu sedang dalam kondisi sakit, jadi secara otomatis harus peduli.

__ADS_1


"Bi..." cicit Garda setelah keluar dari pintu utama hendak menuju pintu gerbang yang hanya setinggi satu setengah meter sudah terbuka lebar.


"Hmm..."


Garda menghentikan langkahnya. Kemudian membalikkan tubuh, memposisikannya agar saling berhadapan dengan istrinya, Qameella.


Sang gadis mendorong kacamatanya yang dirasa sedikit melorot.


"Sampai kapan pun kamu adalah istri saya. Dan saya janji sama kamu, satu saat nanti kita akan tinggal bersama. Berbagi napas dan tidur di ranjang yang sama. Menciptakan rumah yang damai bersama anak-anak kita," ujar cowok itu penuh harap.hendak. Seulas senyum kecil terlukis jelas di bibir Garda yang merah alami.


"Ah, bullshit!"


Garda terkesiap, senyum pun lenyap.


"Kencing aja belum lurus. Udah ngomongin rumah tangga segala," Qameella tersenyum meremehkan. "mending kamu sekolah dan belajar yang benar aja dulu. Jangan sering ikut balapan liar, apalagi tawuran. Lulus sekolah dulu. Kuliah, cari kerja, kalo bisa sih punya kerjaan yang tetap dan mapan. Abis itu baru deh boleh ngomongin masalah pernikahan, anak dan ***** bengek lainnya. Bukan sekarang... usia aja baru belasan tahun. Naik kelas aja belum ketahuan. Lulus juga belum tentu. Udah mikirin masalah rumah tangga segala."


Garda tersenyum canggung mendengar ucapan Qameella yang syarat nasihat.


"Iya, gue tahu status gue apa. Dan gue udah komitmen sama bokap dan diri gue sendiri, kalo gue gak bakalan pacaran serius sampai gue lulus SMA. Jadi, gue gak bakalan ngeduain elo. Dan elo bisa pegang kata-kata gue."


Senyum semringah langsung tercetak jelas di bibir Garda memancarkan binar bahagia di wajahnya. Bocah tengil itu tidak sabar ingin mendaratkan kecupannya di bibir ranum Qameella.


"Tapi..." Qameella menahan bibir Garda dengan satu telunjuknya. Lalu mendorongnya menjauh.


"Harus ada tapinya."


"Apa?"


"Kalo elo suka sama cewek lain. Yah, anggap aja contohnya Fiola," Garda mengernyit dengan senyum kecil menyelidik. "gue anggap hubungan kita..."


"Bi, plis! Jangan ngomongin tentang itu lagi, plis," mohon Garda. "saya janji hubungan kita akan baik-baik aja. Jika kamu gak suka saya dekat sama Fiola atau cewek lain. Saya akan usahakan sebisa mungkin agar bisa menjauhi mereka. Jadiin kamu cewek satu-satunya di hati saya. Istri saya yang sekarang sampai nanti."


Blush! Rona merah tercetak jelas mewarnai pipi Qameella yang mulus. Kata-kata manis Garda seakan membuatnya melayang. Bahagia yang tidak bisa diungkapkan hanya sekedar kata-kata. Ditatapnya wajah Garda mencari kebenaran di sana. Tidak ada kebohongan yang tersirat dari sorot mata lelaki muda di depannya. Wajahnya tertunduk menyembunyikan senyum tersipunya.


Garda melangkah maju ke depan mengikis jarak dengan Qameella. Dan hampir tidak berjarak.


“Bi…” lirihnya seraya mengangkat dagu Qameella agar menatapnya.


Deg!


Degup jantung Qameella berdebar kencang. Terlihat jelas kegugupan di wajahnya. Siapa yang tidak lemah iman bila bertatapan langsung dengan cowok seganteng Garda. Ditambah jarak antara mereka sangat dekat dan semakin dekat. Bikin orang bengek juga sesak napas mendadak.


Wajah Garda sengaja di dekatkan pada wajah istrinya. Menyisakan satu ruas jari tangan.


Qameella terbelalak kaget. Dia bisa membaca pergerakan suaminya yang hendak mencium bibirnya. Buru-buru menghalanginya dengan telapak tangan.

__ADS_1


Sontak Garda terkejut dan sedikit kecewa. Namun dia tidak ingin memaksakan kehendaknya. Kemudian mengalihkan kecupannya pada kening Qameella yang menjadi sasarannya.


Rombeng, Tikeng dan Ryan berdecak dan tersenyum melihat keromantisan Garda dan Qameella.


Klik!


Qameella beranjak duduk sambil menghidupkan lampu kamarnya menjadi terang benderang. Menyandarkan punggungnya di kepala ranjang sambil menekuk lututnya. Senyum samar disudut bibirnya menyentuh keningnya yang dicium oleh Garda. Dia merasa ada ribuan bunga-bunga tumbuh di rongga dadanya. Sangat senang. Ya, tentu saja sangat senang juga bahagia.


Tiba-tiba senyum gadis itu memudar saat ingatannya memutar kedatangan Gusti bersama Maryam. Keduanya baru saja pulang dari rumah makan, tempat mereka mengais rezeki. Tepat setelah mobil yang membawa keempat cowok itu pergi meninggalkan halaman rumahnya. Kedua orang itu muncul dengan ekspresi wajah yang tidak dapat Qameella baca.


Dalam hati Qameella bertanya-tanya, apakah mereka lihat dirinya dicium Garda? Kalo ya, apa yang akan dilakukannya saat mereka menginterogasinya? Tapi... apa mungkin mereka melihatnya?


Setelah masuk ke dalam rumah. Gusti langsung menginterogasi Qameella perihal kedatangan Garda dan kawan-kawan ke rumah mereka. Dengan jujur gadis itu menjawab seadanya. Namun tetap menyembunyikan status hubungannya dengan Garda tentunya. Karena dia masih belum siap menghadapi kenyataan.


Qameella sangat bersyukur Gusti tidak menanyakan apa yang dilakukan Garda sebelum pergi. Mungkin karena pria itu tidak melihatnya. Pasalnya terhalang mobil yang terparkir sempurna di depan rumahnya.


Baru selesai menghadapi Gusti dengan berbagai pertanyaan yang nyaris menjebaknya. Tiba-tiba Qarmitha menerobos masuk ke dalam kamarnya. Dia yang hendak membaringkan tubuhnya pun urung.


"Elo?"


"Sori..."


Tanpa permisi Qarmitha duduk di pinggir tempat tidur Qameella. Wajahnya terlihat semringah. Dengan senyum terukir di sudut bibirnya.


"Kenapa?"


"Gue seneng kalo lihat elo seneng," ungkap Qarmitha.


"Oya?"


"Iyalah... setelah sekian lama elo ngejomblo, sekarang elo udah ada pacar. Gue harap elo berdua bisa langgeng. Gak kaya gue..." senyum Qarmitha mendadak sirna.


"Maksudnya?" Qameella mengernyit heran.


"Gak papa," Qarmitha kembali tersenyum namun terlihat kaku dan dipaksakan. "gue cuma ingin elo berdua tetap akur itu aja."


Qameella menatap wajah Qarmitha yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.


"BTW. Sekarang gue udah tahu," Qarmitha menatap sambil tersenyum jahil pada saudari kembarnya. Namun membuat Qameella sport jantung.


Apa mungkin Thatha tahu kalo hubungan gue dan Garda...


"Yang bikin mata lo bengkak, gara-gara elo nangisin si Garda kan? Iya, gue juga ngenes ngelihat kondisi dia kalo bentukannya kaya mumi gitu." Qameella dan Qarmitha tertawa bersama. Entah keduanya sedang menertawakan kondisi Garda. Atau malah menertawakan diri sendiri. Hanya mereka yang tahu.


Pikiran Qameella terus saja melayang hingga hampir pagi. Entah sejak kapan dia terserang kantuk. Tanpa sadar sudah terlelap di balik selimut tebalnya.

__ADS_1


__ADS_2