
🙋Hai… para readersku yang baik hati dan budiman…
Terima kasih banyak 🙏🙏🙏 teruntuk para readers… karena jempol cantik 👍 kalian yang udah like dan memfavoritkan karya author satu ini. karya author yang paling susah lulus kontraknya. Maaf nih author jadi curcol di sini🤭🤭🤭.
Masih author tunggu dan nantikan saat para readers memberikan vote, like+rate untuk menaikkan level supaya bisa lulus kontrak. Jangan lupa votenya juga ya… plus komen yang udah kaya suplemen obat kuat author supaya tetap semangat 💪 ’45 update.
Happy reading ya… 😉😘😘
*****************************
Qameella mencuci piring setelah menyelesaikan acara makan malamnya sendiri di rumah. Lalu meletakkan piring, sendok serta gelas yang telah bersih ke rak piring di samping westafel cuci piring.
“Kenapa Ayah sama Mama masih belum pulang ya? Seharusnya kan udah pulang,” gumamnya sendiri. Memang biasanya kedua orang tuanya sudah berada di rumah pada jam-jam segini. Karena rumah makan yang dikelola kedua orang tuanya hanya beroperasi dari pagi hingga sore. Tidak pernah tutup lewat dari jam empat atau lima sore. Makanya sebelum dia pulang sekolah, Ayah dan Mamanya sudah duduk santai di teras atau di ruang tengah sambil menonton reality show kesukaan Ayah. Pasalnya kalau mama tidak akan focus nonton tv sebelum sinetron kesayangannya tayang.
“Thatha juga belum pulang. Masa sih latihan basket sampai tengah malam? Emangnya gak capek apa? Robot aja ada tombol off nya supaya bisa istirahat.” Lanjutnya jadi kesal sendiri dengan anggota keluarganya yang mendadak membuatnya jadi sendirian. Dia beranjak ke kamarnya.
Sambil duduk manis bersandar di kepala tempat tidur, Qameella mengecek pesan atau chat yang masuk dalam ponselnya setelah selesai dicabut dari kabel charger hp. Gadis berambut panjang terurai sampai melewati bahunya itu terjengit kaget setelah melihat belasan panggilan tidak terjawab dari Gusti.
“Ayah teleponin gue segini banyak, ada apa ya?” tanyanya heran pada dirinya sendiri. “jangan-jangan ada masalah besar. Coba deh gue telepon balik.”
Jari lincah Qameella langsung mendeal nomor Gusti. Di dering ketiga baru tersambung. Buru-buru dia mengatakan ‘halo’.
“Kamu dari mana saja sih, La? Ayah hubungi tidak aktif-aktif nomor kamu,” semprot Gusti di ujung telepon. Hati Qameell langsung menciut takut.
“Maaf Yah, tadi hp Lala lowbat, ini baru dicabut dari casan,” sahutnya membela diri.
“Kamu ini, sekarang sudah pandai bantah Ayah, ya?”
“Maaf Yah…” Qameella tertunduk lesu dengan suara lirih. Sedari dulu Gusti memang agak keras mendidik putrinya yang satu ini. Alasannya pria berdarah Minang dan Jawa itu, takut gadis yang akrab disapa Lala memiliki kepribadian yang sama dengan Qarmitha yang susah diatur. Makanya setiap kali Mitha berbuat salah, Meella lah yang menanggung kekesalan Ayahnya, frustasi merasa gagal mendidik salah satu putri kembarnya.
Qameella terdiam, tidak berani bersuara lagi. Dia tidak mau kena semprot lagi. Dalam hatinya sedang menebak-nebak apa yang sudah dilakukan dirinya atau Qarmitha, hingga Gusti semarah ini kepadanya.
"Ya sudah, Ayah hanya mau bilang kamu baik-baik di rumah. Jangan keluyuran kemana-mana," ucap Gusti seakan Qameella sama dengan Qarmitha yang hobi keluyuran malam, atau bahkan tidak pulang karena menginap di rumah temannya.
"Lala gak pernah keluyuran, Ayah..." sahut Qameella dalam hati.
"Ayah masih di rumah sakit, juga Mama di sini," Gusti memberitahu keberadaannya dengan nada suara yang lebih tenang.
Qameella menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Di rumah sakit? Emangnya Ayah sama Mama kenapa?" tanyanya khawatir.
"Ayah dan Mama tidak apa-apa," jawab Gusti menenangkan. Sejenak Qameella mendengus lega.
"Tapi Thatha. Dia terpaksa di rawat beberapa hari..."
"Emangnya kenapa dengan Thatha, Yah?" sela gadis itu panik.
"Thatha cedera kaki sewaktu latihan basket tadi sore."
"Ya ampun..." Qameella menutup mulutnya sendiri yang terbuka karena terlalu terkejut. Dia turut sedih dengan luka yang dialami oleh saudari kembarnya. "parah banget gak, Yah... cederanya?"
"Belum tahu, karena masih menunggu hasil pemeriksaan dokter." jelas Gusti.
"Lala ke situ ya, Yah. Lala juga mau nemenin Thatha di rumah sakit," tukas Qameella cepat.
"Tidak usah, sudah malam. Kalau kamu mau jenguk Thatha, besok saja juga bisa," sergah pria di seberang sana terdengar tegas. Sontak Qameella terdiam tidak bisa membantah Ayahnya.
"Baik, Yah." sahutnya tidak bersemangat. Dia sedih tidak diperbolehkan melihat kondisi Qarmitha. Meskipun hubungan mereka akhir-akhir ini kurang baik, sebagai saudari tetap saja dia peduli dengan saudarinya itu.
Qameella mendengar suara-suara aktifitas di ujung telepon sana. Menunjukkan suasana sibuk di sana. Sambungan telepon masih terhubung, namun Gusti tidak bicara lagi dengan putrinya. Dia malah terdengar sedang berbicara dengan seseorang di sana.
"Hah! Kebiasaan deh Ayah," sungutnya dalam hati hendak memutus sambungan teleponnya. Tapi, belum sempat jempol cantiknya menyentuh ikon off pada layar, tiba-tiba Gusti bersuara lagi mengurungkan niatnya.
"Ya, Ayah,"
"Sudah ya La... Ayah harus ke apotik mau menebus resep dokter untuk Thatha. Kamu baik-baik di rumah. Kalau takut sendirian minta Tari menginap di rumah kita buat nemenin kamu. Oya, sepeda motor kalian, sudah di bawa pulang kan sama kamu?"
"Sepeda motor?" Qameella mengulangi.
"Sudah kan?"
Qameella mendadak ragu untuk berkata jujur. Bahwa tadi sore sepulang sekolah dia tidak membawa sepeda motornya. Karena dia pulang bersama Rega. Lagi pula Qarmitha pulang lebih telat darinya. Dan biasanya Mitha yang membawanya pulang. Kunci sepeda motor mereka pun masih ada di tangan Mitha. Memang saat berangkat sekolah tadi pagi dia yang mengendarai, sementara Qameella hanya duduk manis di jok belakang.
"Lala... kamu dengar suara Ayah, kan?" tanya Gusti untuk memastikan putrinya masih berada di ujung telepon.
"I-iya, Ayah," sahutnya terbata.
"Ya sudah, Ayah tutup dulu ya." pungkas Gusti mengakhiri pembicaraan tanpa menunggu jawaban dari Qameella.
__ADS_1
Qameella terdiam sambil menatap layar ponselnya yang sudah normal. Lalu menghela napas berat. Angannya seakan mengajaknya terbang mengingat perlakuan Gusti kepadanya dan Qarmitha. Perlakuan yang terasa sangat berbeda dirasakan antara dirinya dan saudari kembarnya. Terkadang lembut tapi kasar pada Qarmitha, hingga batinnya menangis turut sedih dengan dialami Qarmitha. Namun rasa sayang yang ditunjukkan Gusti sering terlihat lebih besar tercurah pada Qarmitha. Sedangkan pada dirinya biasa-biasa saja. Entah karena Gusti yang pilih kasih, atau hanya perasaannya saja.
Sering Qameella iri dengan kebebasan yang didapat Qarmitha. Tanpa beban dan bisa bebas menentukan segala yang diinginkan sendiri. Berbeda dengan dirinya yang harus terima didikte dari A sampai Z. Ingin rasanya dia memberontak seperti Qarmitha. Tapi, nyalinya terlalu kecil untuk melawan Gusti. Dan dia pun tidak ingin menjadi anak yang durhaka seperti cerita dalam legenda 'Malin Kundang'.
*
Garda membaringkan tubuhnya di atas kasur, sambil melipat kedua lengannya sebagai bantal di bawah kepalanya, satu kaki ditekuk dan kaki yang lainnya naik di atasnya, setelah selesai makan malam. Senyum semringah terus saja memaksa bibirnya melebar. Matanya nyalang menatap plafon kamarnya. Ingatan saat mencium Qameella masih nari-nari di dalam memori otaknya. Mengulik rindu di sudut sanubari. Mengusik asa untuk menemui sang belahan jiwa.
Kemudian dia bangkit duduk, menimbang apakah tetap diam di tempat hanya berteman khayalan semu. Atau beranjak pergi menyongsong dan mengukir cinta menjadi nyata.
Tanpa berlama-lama Garda beranjak berdiri. Menghela napas pendek, memantapkan hati. Lalu dia bergerak pergi meninggalkan kamar besarnya seraya meraih jaket yang tergantung di pintu, serta kunci sepeda motor kesayangannya.
Setelah menyalahkan mesin sepeda motornya, dia melesat pergi meninggalkan garasi rumah yang terdapat lima mobil sedan mewah berbeda warna dan model, merk dan tahun pembuatannya. Selain itu ada juga empat koleksi motor miliknya dengan jenis dan tipe yang berbeda.
Qameella menyambar jaket bermotif bunga sakura dari dalam lemari pakainnya. Menyimpan ponselnya di saku jaket dan memasukkan hoodie pada kepalanya. Setelah itu beranjak keluar kamarnya. Dia berniat pergi ke sekolah untuk mengambil sepeda motornya yang mungkin masih terparkir di sana. Karena dia tidak tahu persis dengan pasti.
"Masa sih gue pergi ke sananya sendirian? Nanti kalo ada apa-apa sama gue siapa yang nolongin?" ujarnya ketika kakinya melewati ruang tamu menuju pintu utama. Qameella mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya. Mencari nomor Tari dan langsung mendealnya. Sementara tangannya yang bebas memutar kunci untuk membuka pintu.
Ponsel yang sudah menempel di telinga Qameella langsung tersambung.
"Halo, Tari..." ujarnya sambil membuka pintu.
"Hmm, ya..." sahut suara di seberang.
Qameella terkejut ternyata orang yang sedang bertelepon ria dengannya sudah ada di depan matanya. Dia berdecak kesal.
"Kok elo udah nyampe duluan sih? Kan gue baru telepon elo," keluhnya pada Tari tanpa memutuskan sambungan teleponnya.
"Iya, tadi gue nyokap lo telepon, beliau minta gue nemenin elo di rumah, takut elo kesepian," jawab Tari lugas.
"Oh..." Qameella membulatkan bibirnya sambil menganggukkan kepala.
"Btw, bus way... matiin teleponnya kan gue udah ada di depan mata. Emangnya elo gak takut olok pulsa?" tegur Tari yang langsung direspon Qameella.
"Oiya, gue sampai lupa," ujarnya sambil memutuskan sambungan teleponnya.
"Ya udah, yuk!" seru Qameella setelah mengunci pintu rumahnya. Tari tampak mengernyit bingung.
"Yuk? Mau kemana?" selidik Tari. "pintu elo kunci begitu, gimana gue bisa masuk? Emangnya gue makhluk halus bisa nembus nih pintu,"
__ADS_1
Qameella terkikik geli, menyadari kesalahpahaman yang terjadi. Tari mendengus kesal.