Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#35


__ADS_3

Hai readers... terimakasih atas doa-doa baiknya untuk kesembuhan author. Alhamdulillah, saat ini kondisi author udah jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekarang author datang menyapa para readers semua dengan episode baru nich...


Happy reading...


*********************************************


Meella menatap nanar wajah-wajah pria asing yang tadi mendatanginya di depan pintu gerbang rumah kontrakan. Setelah kain penutup berwarna hitam yang dipakaikan pada kepalanya dibuka oleh salah seorang di antara mereka. Kemudian mendorongnya masuk ke dalam sebuah ruangan gelap.


"Masuk!" bentak orang yang mendorong tubuh Meella hingga oleng nyaris terjatuh terjerembab di atas lantai. Pintu langsung ditutup dan dikunci dari luar sebelum Meella sempat bergerak menolehkan kepala. Kacamatanya melorot nyaris jatuh bila tidak buru-buru ditahan dan memperbaiki posisinya dengan cepat.


Gadis berkacamata minus itu tersentak kaget kala mendengar suara pintu ditutup kasar sampai menimbulkan suara berdebum. Sontak dia menoleh ke arah pintu yang sudah tertutup rapat. Kepanikan langsung membangunkan jiwanya yang tenang. Rasa takut pun menyergap menimbulkan kekalutan di dalam hatinya.


"Hei, buka!" teriak Meella sekuat tenaga sambil menggedor pintu beberapa kali.


"Tolong!... Tolong!... Tolong lepasin saya!" seru mengiba masih sambil menggedor pintu. Tetapi sepertinya tidak ada respon apa pun dari luar. Hanya keheningan terasa mencekam. Membuat dirinya kian takut dan khawatir.


"Tolong!... Tolong saya... Tolong keluarin saya dari sini..." perlahan suaranya terdengar lirih diiringi tangisnya yang pecah.


Meella benar-benar tidak mengerti, mengapa mereka tiba-tiba datang menemuinya. Tanpa bertanya langsung membawanya pergi, tanpa sempat melawan dan berteriak minta tolong lantaran mereka sudah lebih dulu membekap mulutnya. Dengan cepat mereka membawanya pergi dengan sebuah mobil mewah hitam serta memakaikan penutup kepala hingga menutup seluruh kepala serta wajah. Kini dirinya sudah berada di tempat berbeda, bukan dititik semula dirinya berada, namun entah dimana dia tidak tahu pasti.


Meella melunglai lalu membalikkan tubuh membelakangi pintu. Menyandarkan tubuhnya yang mulai kehilangan tenaga, kemudian merosot ke bawah. Duduk di atas lantai seraya memeluk tubuhnya sendiri dengan butiran air mata yang mengalir dari sudut matanya.


Dalam rasa takutnya yang teramat besar, berbagai pikiran buruk tentang penyekapannya ini terus saja terlintas dalam benaknya. Sungguh Meella yang malang. Hanya bisa menangis dan meratapi keadaannya yang sangat memprihatinkan. Kehilangan suami diusia yang sangat muda, hingga terasa jiwanya hanya hidup separuh. Kini, di saat ingin bangkit menata hidup kembali, gerbang pernikahan sudah di depan mata karena satu bulan lagi dirinya resmi dipersunting Mirza sebagai istri. Siapa sangka lagi dan lagi kehilangan merundung Meella. Tapi kali ini bukan nyawa atau barang. Melainkan keperawanan.


Hancur sudah pasti. Kecewa pun jelas. Sedih dan takut tidak dapat dielakkan lagi. Sampai detik ini Meella masih belum bisa memikirkan kata apa yang akan dirangkaikan, sebagai deret kalimat penjelasan yang disampaikan pada Mirza nanti, sehubungan dengan apa yang baru saja dialaminya. Entah bagaimana reaksi Mirza nanti setelah mengetahui kondisinya yang tidak utuh lagi. Malu rasanya bila pria itu tahu. Dan Meella akan menerima apa pun keputusan Mirza bila tidak ingin melanjutkan hubungan ini.


Mengapa semua ini harus terjadi pada hamba, ya Tuhan...


Salah apa diri ini Tuhan... hingga Engkau memberi hamba cobaan seperti ini?


*


Garda masih belum bisa mendapatkan rekaman cctv bukti keterlibatan Meella dalam penjebakan malam itu.


Dia berasumsi sendiri bahwa Meella merupakan umpan yang dikirim dari lawan bisnisnya untuk menjatuhkan reputasinya. Maka dari itu, dia tengah berusaha membereskan kekacauan ini sesegera mungkin.


"Jalankan plan B!" titahnya pada Dandi. Kini dia sudah tahu masalah yang sedang dialami si Bos.


Dandi langsung mengambil ponselnya, menghubungi satu nomor.


Di mata Garda sebenarnya prioritas utamanya adalah karier yang cemerlang. Ingin menjadi sosok tangguh


dalam dunia bisnis seperti Andika. Walau pun dia tahu ada sisi gagal yang dialami sang Papa. Yaitu membina rumah tangga yang bahagia bersama Wanita yang dicintainya. Tapi Andika tetap sang idola bagi Garda.

__ADS_1


Karena terlalu serius dengan pikirannya sendiri tanpa sadar Garda mengacuhkan Bianca yang kala itu sedang bersamanya. Kasihan sekali nasib gadis itu yang terlihat nyata namun seakan tidak ada olehnya. Kemudian dia baru benar-benar menyadari keberadaannya, saat tunangannya sudah merajuk. Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk membujuk Bianca. Selain membiarkan gadis itu menguras isi dompetnya. Membeli semua barang yang diinginkannya.


Sebenarnya Garda tidak yakin dengan perasaannya pada Bianca. Namun tidak bisa pula tidak mempercayai ucapan Andika yang begitu meyakinkan. Dia hanya bisa memendam sendiri ketidakyakinannya. Pasalnya sedari awal pertemuan Garda pasca sembuh dari komanya dengan Bianca. Tidak pernah sedikit pun merasakan debaran atau cinta yang katanya pernah ada. Bahkan ingatan masa lalu tentang Bianca tidak ada. Tidak jarang dia bertanya pada diri sendiri, ‘Mungkinkah kami pernah saling mencintai sebelumnya? Tapi mengapa aku selalu merasa asing dengannya? Sungguhkah ini semua atau hanya kamuflase semata?’


Selesai makan malam di restoran Eropa lalu mengantar Bianca pulang ke apartemennya, Garda ditemani Dandi langsung menuju tempat dimana Meella disekap. Ya, orang-orang berpakaian serba hitam itu adalah orang-orang suruhan Garda untuk mengamankan Meella. Walau pada kenyataannya bukan mengamankan, melainkan sebuah tindakan penculikan.


Orang-orang itu bertindak sangat apik dan rapi. Karena tidak terendus manusia maupun kamera cctv. Wajar bila tidak ada yang tahu bila Meella diculik.


Garda masuk ke dalam kamar tempat Meella di sekap. Hatinya tiba-tiba mencelos melihat kondisi gadis yang terbaring tidak berdaya di atas lantai. Tanpa alas dan selimut bisa-bisanya dia tidur dengan nyenyak. Tidakkah menyadari bahwa tempat ini teramat bahaya? Pikir Garda mendadak merasa peduli. Namun tidak berlangsung lama.


"Hei, bangun! Bangun!" titahnya kasar seraya menyenggol kaki Meella yang meringkuk di atas lantai dengan ujung sepatu pantofelnya.


Tidak ada reaksi. Gadis itu bergeming tetap tenang pada posisinya.


Garda tidak patah arang. Meski disertai dengan decak kesalnya dia mengulangi hal yang sama. Dan masih mendapat respon yang sama. Tiba-tiba...


"Garda..." suaranya terdengar lirih.


Si empunya nama awalnya tidak menyadari namanya dipanggil, dan tidak tahu dari mana sumber suara itu. Tapi rungunya mampu menangkap dengan jelas. Kemudian dia mencoba memfokuskan diri seraya mencari sumber suara tadi.


"Garda... hiks, hiks," kali ini disertai suara isakan.


Garda mengernyitkan dahi setelah mengetahui dari mana sumber yang dicarinya. Ternyata gadis itu yang menyebut-nyebut namanya. Pelan-pelan dia mendekati Meella.


Mengapa gadis ini tahu nama kecilku?


Garda tampak sangat heran. Karena selama ini selain orang-orang terdekatnya tidak ada yang tahu nama kecilnya. Termasuk seluruh karyawannya di seluruh perusahaan di bawah naungan Negara's Group. Lalu dari mana karyawan kecil seperti Meella bisa tahu? Apakah ini merupakan bagian dari taktiknya untuk menjerat Garda masuk dalam perangkapnya? Pikirannya mulai bercabang.


*


Mirza masih berusaha menghubungi calon istrinya, Meella, melalui ponsel pintarnya. Namun ponsel yang dihubungi tidak aktif. Datang ke rumah kontrakannya pun sudah dilakukan berkali-kali tapi masih belum ada tanda-tanda kehidupan di sana. Bahkan para penghuni kontrakan lain saat ditanya tentang keberadaannya tidak ada yang tahu.


Langkah Mirza tampak lunglai meninggalkan rumah kontrakan Meella. Kemudian masuk ke dalam mobilnya yang terparkir sempurna di ujung jalan. Sebelum masuk dia sempat menoleh sejenak ke pintu rumah kontrakan yang Meella tempati, menghembuskan napas panjang dengan perasaan hampa.


"Kamu sebenarnya ada dimana sih, Meel? Kenapa kamu tiba-tiba menghilang gak ada kabar seperti ini?" ucapnya pelan seraya menjalankan kendaraan beroda empatnya. Namun tiba-tiba menepikannya di pinggir jalan, mematikan mesin mobilnya.


"Sepertinya kita gak bisa menjalani hubungan tanpa perasaan apa pun," tolak Meella kala itu, saat satu hari sebelum hari pertunangan mereka.


"Lagi pula saya gak yakin kamu bisa menerima saya. Karena saya gak punya cinta yang utuh dan sempurna buat kamu."


"Maksud kamu dari cinta yang utuh dan sempurna itu seperti apa?" Mirza tidak mengerti.


"Yah... seperti yang sudah kamu tahu, status saya udah janda. Dan cinta saya hampir gak ada sisa lagi untuk orang lain. Karena udah dibawa pergi sama dia untuk selamanya. Maaf, kalo hal ini terdengar menyakitkan buat kamu. Tapi inilah kenyataannya. Saya gak mau kamu nyesel dikemudian harinya."

__ADS_1


Mirza menghembuskan napas lelah, mengembalikannya pada dunia nyata.


"Apa mungkin sekarang kamu sudah berubah pikiran, Meel? Makanya kamu sering menghindar dari aku, bahkan sampai gak mau nemuin aku seperti saat ini?" pria begitu galau.


Namun dia berusaha mengenyahkan pikiran buruk itu. Mewaraskan pikirannya agar tetap bisa berpikir positif pada Meella.


"Gak, gak, gak mungkin! Meella pasti lagi sibuk. Ya, pasti begitu. Karena Meella tipikal wanita pekerja keras. Ya, ya seperti itu."


Mirza memutar kunci mobil yang masih tergantung pada tempatnya. Dia menyalakan mesin mobilnya kembali. Dia mencoba berspekulasi tentang keberadaan Meella. Walau pun sedikit ragu, tetap berharap apa yang ada dibenaknya benar.


*


Meella terbangun dari tidur nyenyaknya. Membuka kelopak matanya yang terasa berat secara perlahan. Beberapa kali dia mengerjapkan mata, menormalkan penglihatannya yang terasa sedikit kabur. Maklum saja kondisi penglihatan Meella tidak normal seperti orang-orang pada umumnya serta tidak sedang memakai kacamatanya.


"Udah jam berapa ini?" tanyanya pada diri sendiri dengan suara khas orang baru bangun tidur. Meella memang sudah terbiasa seperti ini, bertanya pada diri sendiri tentang waktu saat baru bangun tidur karena sudah terbiasa tinggal sendiri.


Tidak seperti saat malam tadi, terbaring di atas lantai. Saat ini Meella sedang terbaring nyaman di atas kasur empuk lengkap dengan selimut tebalnya. Sejenak dia melupakan peristiwa kemarin.


Tangan Meella terulur ke atas keningnya saat menyadari sesuatu yang bertengger di atasnya. Setelahnya mengangkat ke udara. Rupanya handuk putih kecil yang dilipat menjadi lebih kecil. Mungkinkah semalam tadi dia demam? Tapi mengapa dia tidak ingat apa-apa ya? Lalu handuk bekas mengompres ini, apa mungkin ada orang yang merawatnya, tapi siapa, mengapa dia tidak tahu?


Meella beranjak duduk, menyandarkan tubuhnya yang lemah pada kepala tempat tidur.


Aduh, kepala saya sedikit pusing. Mungkin karena efek demam saya yang belum sembuh. Pikirnya masih berusaha positive thinking sambil memijat pelan pelipisnya.


Eh, tunggu!


Tiba-tiba Meella merasa ada yang salah. Tapi... apa?!


Buru-buru Meella mencari kacamatanya yang entah ada dimana.


Sedikit susah payah Meella baru bisa menemukannya. Setelahnya langsung dipakai.


Eng Ing Eng....


Deg!


Meella baru sadar ternyata dia tidak sedang berada dalam kamarnya.


Oh my God!


*


Sampai di sini dulu ya episode kali ini. See you next episode...

__ADS_1


Bye bye... 😘🥰🙏


__ADS_2