Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Bukan Pacar


__ADS_3

Langit sudah tidak terlihat terang lagi. Nyaris gelap pekat tiada matahari. Begitu pula dengan Qameella dan Garda. Sepasang suami istri belia tengah mengalami masalah pelik yang melibatkan emosi hati. Tidak ada yang dapat mengerti isi kepala masing-masing. Tidak pula ada yang mau mengerti curahan hati keduanya. Namun ada harapan di sudut hati terdalam mereka yang diam-diam masih berharap untuk dapat saling memiliki.


Qameella langsung menerobos masuk rumahnya tanpa mengucapkan terlebih dahulu. Dan membiarkan pintu rumahnya terbuka begitu saja setelah masuk. Sontak mengejutkan Gusti yang tengah beranjak dari ruang tamu.


"Lala?" sepasang mata Gusti membola dari balik kacamatanya. Dia dapat mengenali dengan jelas Qameella walau pun tanpa kacamata minusnya sekali pun.


Kontan gadis itu menghentikkan langkahnya yang sudah setengah jalan menuju kamarnya. Kemudian memutar tubuhnya dengan enggan.


"A... ayah?" wajah piasnya menyiratkan ketakutan dan kekhawatiran yang sangat besar. Menunduk berniat menyembunyikan lara hatinya dari sorot mata elang Gusti.


"Kamu ini masuk rumah seperti kedebong kanyut saja, tidak beri salam atau apa. Langsung masuk tanpa permisi bikin kaget orang saja," semprot Gusti.


"M... maaf Ayah," cicitnya pelan masih menundukkan kepala.


"Bi!" pekik Garda tiba-tiba ikutan menerobos masuk. Tanpa mempertimbangkan konsekwensi setelahnya.


"Ada lagi yang juga ikutan. Seakan-akan rumah ini tidak ada penghuninya," lagi Gusti dibuat kesal. Kini pandangannya hanya tertuju pada pemuda tampan yang memutuskan hanya berdiri diambang pintu.


Garda merutuki kebodohannya sendiri yang dengan mudahnya terbawa suasana dan takut kehilangan istrinya. Seharusnya dia bersikap lebih sopan tadi saat sebelum masuk. Tapi apa boleh buat otaknya terasa tidak berguna pada saat seperti ini. Hanya emosi yang menguasai nafsunya seakan melenyapkan akal sehatnya. Alhasil dia memilih tidak melanjutkan langkahnya menggapai sang pujaan hati. Selain untuk menghargai tuan rumah. Dia pun tidak mengiginkan Qameella terkena imbas akibat sikap buruknya.


"Om," dengan sikap gentleman Garda menyapa seraya mengangguk memberi hormat.


Gusti mengernyitkan dahi hingga kedua alis tebalnya bertaut.


"Kamu... siapa?" tanya pria itu ragu.


"Saya..." belum sempat Garda memberikan klarifikasi kepada Gusti, mendadak Qameella menginterupsi.


"Dia pacarnya Mitha, Yah," selanya lalu beranjak pergi.


Jleb! Garda terperanjat kaget. Tidak menyangka istri tercintanya berkata seperti itu. Apakah ini adalah bentuk kemarahannya? Entahlah, dia tidak tahu.


"Bi!" lirih dia berujar tanpa dipedulikan. Benar kata orang. 'Sakitnya tuh emang di sini'.


Gusti benar-benar dibuat tidak mengerti dengan tingkah sepasang remaja yang belum dia ketahui apa status hubungan mereka. Dia mendengus pelan setelah melihat kepergian sang putri.


"Hei, anak muda!" seru pria bertubuh tinggi besar itu dengan kumis dan berewok tipis menghias wajah tampannya.


Garda langsung memfokuskan pandangannya pada sang bapak mertua. Dia mengangguk pelan sebagai tanda menyahut atas seruan Gusti.


"Barusan kamu panggil anak saya dengan sebutan apa?" memicingkan mata menatap sosok anak muda seumuran dengan kedua putrinya. "Bi?" lanjutnya mengulangi.


"Eh... i-iya Om," sahut Garda tiba-tiba menjadi grogi.


"Kenapa kamu memanggil dengan sebutan itu? Kamu tidak sedang menghina anak saya kan, dengan memanggil ekhm," selidik Gusti  diakhir dengan berdehem. Sepertinya tanpa menyebut nama yang dimaksudnya, anak muda di hadapannya tengah berdiri di radius satu setengah meter dari tempatnya berdiri, tampak sudah mengerti.


"Tentu nggak, Om," jawabnya tegas.


Suara adzan maghrib berkumandang indah dari masjid sekitar kompleks rumah Gusti.

__ADS_1


"Ayah, sudah maghrib. Tidak baik membiarkan pintu terbuka," Maryam tiba-tiba menyeruak masuk di antar dua pria berbeda generasi. Setelah selesai menyusun meja makan dengan menu makan malam. "ajaklah masuk tamunya. Masa sih tamunya dibiarkan berdiri di ambang pintu, apalagi sekarang sudah maghrib, tanpa dipersilahkan masuk juga duduk? Apa nanti kata orang? Kita tidak bisa menghargai tamu."


Gusti menyadari kesalahannya yang cukup besar. Dia tidak menghargai tamunya. Sedari tadi dia hanya sibuk menginterogasi sang tamu layaknya seorang kriminal saja.


"Masuklah anak muda!" titahnya yang langsung diangguki setuju oleh Garda. Lalu beranjak pergi. Baru beberapa langkah kakinya bergerak. Gusti membalikkan tubuhnya.


"Anak muda, tolong tutup pintunya sekalian," lanjutnya. "oya, kamu bisa sholat?" pertanyaan yang membuat Garda syok. Tapi dia ingat Qameella pernah mengajarinya tentang tata cara sholat.


"Bisa, Om," jawabnya mantap.


"Bagus, ayo kita sholat berjamaah!" ujar Gusti dingin.


Garda menelan salivahnya dengan susah payah. Cowok jangkung yang selama ini terkenal pemberani. Terkenal dengan kekejamannya. Sangat ditakuti oleh para musuh, dan disegani oleh teman dan sahabatnya. Mendadak nyalinya menciut saat diminta menjadi imam sholat maghrib oleh sang mertua.


"Kenapa? Nggak bisa?" tegur Gusti membuat nyali Garda naik turun. Namun cowok itu tidak mau menunjukkan ketidak mampuannya di depan kedua mertua dan istri belianya yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak terbaca.


"Bi... bisa! Tentu aja saya bisa, Om," jawab Garda penuh keyakinan. Tatapan matanya terarah lurus pada gadis yang telah rapi memakai mukena putih dengan motif bunga dan renda kecil di ujungnya. Senyum samar tersungging di bibir tipisnya. Rasa sejuk hinggap dalam sanubari hatinya.


Qameella hanya membalas dengan memutar bola matanya jengah. Walau pun dalam hati tersenyum serta memuji ketampanan sang suami yang semakin paripurna dengan balutan baju kokoh, sarung dan peci yang dipinjamkan Gusti. Agak kebesaran sih menggunakan baju kokoh ayahnya. Namun tidak membuat luntur pesonanya yang kian menjadi.


"Ayo, segera dimulai saja," titah Gusti langsung mengambil posisi makmum di belakang Garda.


Di dalam musholah, ruangan khusus yang disediakan untuk sholat di rumah Gusti. Garda pun mengambil posisi sebagai imam, berdiri di depan shaf terdepan makmum. Ini adalah pengalaman pertamanya menjalankan ibadah di rumah Qameella yang langsung mengambil posisi imam. Walau pun sebelumnya dia pernah dua atau tiga kali menjadi imam sholat teman-teman gengnya. Tetapi sensasi yang dirasakannya sangat berbeda. Dan atmosfer yang terkandung di dalam sini sungguh luar biasa membuatnya takjub pada dirinya sendiri.


Debaran yang terasa di dadanya bak permen sejuta rasa yang ramai rasanya. Namun mampu mengendalikan dirinya agar tidak terlalu gugup menunjukkan kemampuan di depan kedua mertua secara langsung. Garda menghadap kiblat. Dengan khusyuk dia mengawali gerakan sholatnya dengan takbirratul ihram, lalu diakhiri dengan salam.


Setelahnya Gusti yang mengambil alih memimpin doa.


Selesai menunaikan sholat maghrib mereka menduduki kursi masing-masing di meja makan. Berhubung jumlah kursi yang biasa keluarga Gusti gunakan hanya empat, sesuai dengan jumlah anggota keluarganya. Maka kursi yang dipakai Garda berbeda. Namun tidak mengurangi keistimewaan yang dirasakannya. Bagaimana tidak? Biasanya dia selalu menikmati makan malamnya dalam kesunyian karena kesendiriannya di rumah besarnya. Atau kebisingan karena makan bersama anggota geng ABABIL yang super berisik, rese dan tidak tahu aturan.


Kini dia dapat merasakan kehangatan berada di tengah keluarga yang harmonis. Perhatian Maryam, sang ibu mertua yang tidak sungkan melayaninya seperti seorang anak kandung. Sosok Ayah yang diwakili Gusti, membuatnya sedikit mengobati rasa rindunya akan kasih sayang Papanya yang entah ada dimana saat ini. Tetapi dia juga kecewa karena sampai detik ini sang istri masih diam membisu. Tidak ada niatan untuk mengajaknya bicara atau bersenda gurau semata.


Sementara Qarmitha yang baru pulang setelah mereka selesai melakukan sholat maghrib, tampak acuh tak acuh melihat kehadiran Garda di tengah keluarganya. Mungkin adik iparnya itu masih marah padanya, lantaran dituruni di tengah jalan.


Diam-diam Garda mencuri pandang pada kedua gadis kembar yang duduk tepat di hadapannya. Keduanya duduk saling berhadapan dengan meja sebagai pembatas mereka. Dia mencoba meneliti apa perbedaan di antara sepasang gadis berwajah serupa. Model rambut yang panjang menjuntai hingga melewati bahu. Baju yang sama persis hanya berbeda warna saja. Dan... akh, sulit sekali membedakan mereka. Jika dia benar-benar tidak bisa mengenali istrinya kali ini, sama saja seperti bunuh diri untuknya.


"Hei anak muda, siapa namamu?" tanya Gusti setelah menyelesaikan makannya.


"G... Garda, Om," sahutnya agak terbata lantaran ketahuan sedang melamun.


"Hmm," Gusti bergumam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mulai menginterogasi pemuda asing yang telah berani menerobos masuk ke dalam rumahnya tanpa izin. Setelah mereka semua menyelesaikan makanan masing-masing. Sambil memakan buah pencuci mulut pria itu pun melancarkan aksinya.


"Sudah berapa lama kamu kenal anak saya, Thatha? Maksud saya... Qarmitha."


Merasa namanya disebut Qarmitha langsung mendongakkan wajahnya. Dengan tatapan kesal dia protes.


"Apaan sih, Yah? Kenapa nama Thatha yang dibawa-bawa?"


"Wajar dong, Ayah menyebut nama kamu. Karena Ayah ingin tahu sudah seberaa jauh hubungan kamu dengan nak Garda ini," sanggah Gusti.

__ADS_1


"Uhuk! Uhuk, uhuk!" tiba-tiba Qameella terbatuk tersedak jeruk yang baru saja dikunyahnya.


Garda menoleh dan memperhatikan ekspresi wajah Qameella dalam diam.


"Pelan-pelan dong, makannya nggak usah buru-buru," ujar Maryam seraya menepuk pelan punggung Qameella. Wanita itu spontan menjeda kegiatannya dari merapikan meja makan.


"Iya, Ma," sahut Qameella menampilkan senyum terbaiknya seraya menengadahkan wajahnya pada sang Mama.


Qarmitha menoleh sekilas pada saudari kembarnya itu.


"Ayah tahu dari mana kalo Thatha ada hubungan sama si cecunguk itu?" Qarmitha menunjuk dengan ujung bibirnya yang mengerucut pada Garda. Lalu dengan tatapan sinis melirik kembali ke arah Qameella. Yang ditatap hanya diam tidak mau memberikan respon apa pun. Seolah-olah tidak memiliki dosa sama sekali. "amit-amit gue punya pacar kaya dia," gumamnya pelan.


"Gue juga ogah," balas Garda sengit. Dia merutuki kebodohannya yang sudah sering salah mengenali Qameella dan Qarmitha.


"Hisshhh!" desisnya tidak senang dengan memutar bola mata memutar malas. "Pasti ini gara-gara elo, iya kan, La?" katanya mengalihkan pembicaraan.


Garda masih mengamati reaksi Qameella yang terlihat datar dan dingin. Tidak ada bantahan atau pu sanggahan yang meluncur dari bibirnya. Seakan-akan dia pasrah. Oh, tidak! Dia lebih mirip sedang bersembunyi, berkamuflase menjadi orang yang tidak berdosa.


"Maaf ya, gue no komen aja," sahutnya dingin ingsut dari tempat duduknya. Kedua tangannya sudah siap menganggkat tumpukan piring kotor dari atas meja.


"Maaf Om, dan semuanya... sepertinya di sini ada kesalah pahaman," suara Garda terdengar jernih dan jelas menginterupsi.


Maryam yang sedang berdiri di depan bak pencucian piring menoleh dengan reaksi penasarannya. Sementara Qameella yang nyaris menyurutkan langkah tampak acuh tak acuh membawa piring-piring kotor itu ke temat seharusnya. Langkahnya terus menuntun menuju dapur yang tidak ada sekat dengan ruang makan.


"Kesalah pahaman, maksudnya apa?" Gusti meminta penjelasan.


"Bi..." Garda berharap Qameella melunak setelah memanggilnya. Namun pendiriannya terlalu kokoh hingga sulit dirobohkan.


"Garda, sepertinya kamu berhutang penjelasan pada saya," tatapan angker Gusti membuat Garda bergidik ngeri.


"Iya, Om," kali ini Garda benar-benar sudah mantap mengambil keputusan.


"Apa?"


Garda menatap punggung Qameella yang terlihat bergerak. Pasalnya gadis itu sedang sibuk mencuci piring di dapur. Dia tahu gadis itu sedang menyembunyikan kesedihannya. Dan dia juga yakin bahwa Qameella tidak akan mengizinkannya mengatakan yang sesungguhnya kepada siapa pun. Namun dia tidak tahan didiami terus menerus olehnya. Apalagi harus mengakhiri hubungan yang belum bisa dikatakan mulai. Karena hubungan mereka hanya berstatus gantung tidak jelas.


"Om, sebenarnya saya bukan pacar siapa pun," jawabnya tegas. "baik Mitha, maupun Meella. Kami tidak memiliki hubungan pacaran."


Sontak Qameella menghentikan aktifitasnya. Dia terkejut dengan pengakuan cowok itu. Dalam hati dia marah dengan ucapan suaminya. Tapi... dia kembali mengingat tentang dirinya yang meminta putus pada Garda beberapa waktu lalu. Jadi, wajar bila sudah tidak mengakui hubungan mereka lagi.


"Dengar tuh, Yah," celetuk Qarmitha sinis seraya membersihkan jeruk dari serat-serat putih yang menempel.


Qameella melanjutkan aktifitasnya kembali.


Maryam kembali ke tempat duduknya, bergabung di meja makan.


Gusti semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan para anak muda ini.


"Kamu tidak sedang mempermaikan putri-utri saya kan?" telisik Gusti dengan tatapan tajamnya.

__ADS_1


Garda tersenyum ramah penuh percaya diri.


"Tenang aja, Om. Saya nggak sebrengsek itu kok," sahutnya tanpa ada niatan membela diri.


__ADS_2