
Hai readers... sorry ya kelamaan update-nya. Selain lagi banyak kerjaan dan sempat terganggu kesehatan, author lagi terserang bad mood akut. Jadi, malas update dah.
Oleh karena itu author minta selalu dukung karya author dengan memberi vote, like, hadiah juga komentar guna memberi mood booster.
Happy reading...
************************************************
Gusti menghela napas gelisah setelah mengetahui hubungan Qameella dengan pemuda ingusan itu kian intens. Ingin sekali memisahkan hubungan sepasang sejoli tengah dimabuk cinta itu. Namun batinnya melarang, tidak tega menyakiti perasaan sang putri yang selama ini dikekang nya karena egonya sendiri.
Biarkan Lala menikmati masa remajanya yang indah, Gusti. Bagaimana pun dia juga putrimu juga, seperti Thatha. Biarkanlah Lala harus bahagia sama seperti Thatha juga anak-anak seusianya. Kamu jangan terlalu jahat padanya dengan merebut kebahagiaannya. Batinnya selalu memperingati.
Gusti mendengus kasar seraya melihat keluar jendela. Dari sana dia melihat pemandangan yang begitu jarang sekali dilihat. Ya, untuk pertama kalinya dia melihat senyum bahagia di wajah gadis yang selalu tampak kaku di matanya. Gadis yang selalu berusaha sempurna di matanya untuk mendapatkan pengakuannya. Kendati pada akhirnya tidak pernah sesuai ekspektasi.
Tapi mau bagaimana lagi? Hanya Qameella lah satu-satunya yang bisa dikendalikan untuk mencapai obsesinya. Obsesi yang sepertinya tidak akan pernah terwujud. Dan dia pun tidak bisa memaksakannya pada Qarmitha lantaran sikap pembangkang dan keras kepalanya. Gadis itu selalu mati-matian menolak kehendaknya. Lalu berbalik menunjukkan eksistensinya dengan caranya sendiri.
"Hai, anak muda," seru Gusti tiba-tiba muncul di balik pintu. Dengan sopan Garda menyahut dan menyapanya.
Garda duduk di sofa ruang tamu mengikuti permintaan Gusti. Ada satu hal yang ingin dibicarkannya pada pemuda bau kencur itu.
"Apa benar kalian sudah menikah?" tanya Gusti dingin pada akhirnya, setelah sebelumnya memindai penamilan Garda dari atas ke bawah dan kembali ke atas lagi.
"Iya, Om," jawab Garda mantap tanpa terlihat ada kegugupan sedikit pun. Dia memang sudah menyiapkan mental dari jauh jauh hari. Juga sudah memprediksi akan datangnya hari ini.
"Atas dasar apa kamu menikahi putri saya?..." Gusti menjeda ucapannya seraya menatap tajam raut wajah pemuda di hadapannya. "Cinta? Atau... kamu sudah apa-apakan putri saya..."
"Maaf, Om," Garda menginterupsi menyela ucapan pria dewasa nan berkharisma. Gusti mengernyit sambil mengangkat sebelah alisnya. Kali ini ada rona keraguan terbit di wajah Garda. Otaknya terus berpikir untuk mencari kata yang tepat agar tidak syok lagi seperti waktu itu. Hingga jatuh sakit.
"Ehh... sebenarnya... alasan kami menikah bukan cinta juga sih, Om..." perlahan-lahan Garda menjawab rasa penasaran Bapak mertuanya. "tapi Om gak usah khawatir karena hubungan kami masih normal-normal aja kok."
"Normal? Apa yang kamu maksud, anak muda?" desis Gusti mengerutkan kening tidak mengerti.
Garda mengusap tengkuknya untuk menghikangkan kegugupannya.
Gusti menatap pemuda tanggung itu dengan tatapan tak terbaca.
Di balik dinding pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah, Qameella berdiri mencuri dengar pembicaraan dua pria berbeda generasi itu. Debaran di dadanya bertalu mendengarkan percakapan mereka. Kemudian dia sadar dengan nampan yang sedang digenggamnya erat, di atasnya sudah ada dua cangkir teh yang memang diperuntukkan Gusti dan Garda.
__ADS_1
Kedatangan Qameella di tengah dua pria itu menginterupsi obrolan panas yang sedang terjadi. Dalam hati Garda sangat berterima kasih dengan kehadiran istrinya. Setidaknya memberinya sedikit waktu memutar otak agar bisa bernegosiasi atau berdiplomasi untuk mendapatkan win win solution. Kedengarannya lebay tapi cukup membuat senam jantung.
"Lala, duduklah!" titah Gusti tidak mau dibantah. Dengan patuh gadis yang namanya dipanggil segera duduk, menempati sofa panjang bersisian dengan tempat dimana Garda juga duduk di sofa yang sama.
Raut ketegangan terpancar jelas di wajah cantik Qameella tanpa kacamata minusnya. Hingga kecantikannya terlihat lebih maksimal.
Gusti mengamati pasangan remaja yang katanya sudah menikah. Di sini menggunakan kata 'katanya' karena pria itu belum dapat mempercayai atau menerimanya seratus persen. Bagaimana mungkin dia tidak tahu tentang pernikahan mereka. Dan bagaimana bisa mereka, atau tepatnya putrinya begitu rapi menyimpan kenyataan ini. Seandainya jika hari itu bocah tengik yang kini duduk berdampingan dengan Lala, begitu dia memanggil salah satu putri kembarnya, tidak mengatakan status hubungan mereka. Mungkin hingga saat ini dia tidak akan pernah tahu ada hubungan yang serius di antara mereka.
Setelah mengintrogasi dengan detil seputar hubungan Qameella dan Garda, akhirnya Gusti putuskan untuk mengadakan pertemuan keluarga. Tidak lupa menitahkan pada Garda untuk menghubungi orang tuanya sesegera mungkin.
*
Restoran mewah bintang lima milik Andika adalah tempat yang sengaja dipilih untuk melakukan pertemuan dua keluarga. Pertemuan yang diharapkan dapat mengikat tali kekeluargaan yang erat dari kedua mempelai. Senyum bahagia terpancar jelas di wajah Qameella saat Garda menyambutnya juga kedua orang tuanya di lobi. Kali ini minus Qarmitha.
Pemuda yang akan menginjak usia delapan belas tahun itu terlihat sangat tampan dengan stelan jas abu-abu, dan dipadukan kaos putih polos sebagai **********. Sepatu kets putih. Serta yang paling menarik perhatian Qameella adalah rambutnya yang disisr rapi dan kelimis. Ini merupakan penampilan perdananya terlihat sangat rapi. Yah... tahu sendiri deh kalo selama ini bocah itu nyaris tidak pernah rapi.
Ingin rasanya kedua sejoli itu menghambur satu sama lain, melarutkan diri dalam dekapan hangat. Namun asa itu terpaksa diredam merasa tidak enak berpelukan di depan orang tua.
Garda langsung membawa mereka ke private room. Mempersilahkan mereka menempati kursi yang tersedia di sana. Sambil menunggu kedatangan orang tua Garda yang masih dalam perjalanan.
Maryam sangat senang bisa menapaki kaki di restoran berkelas seperti ini. Sedari tiba wanita itu tidak henti-hentinya berdecak kagumi keindahan bangunan yang bukan hanya restoran saja. Tetapi juga merangkap sebagai hotel di lantai tiga hingga lantai tujuh.
Biarlah para orang tua sibuk dengan dunianya. Yang terpenting Qameella dan Garda dapat menikamati saat indah ini. Saling menggamit jemari tangan menyalurkan rasa sayang sekaligus cinta. Sedikit berbagi cerita di sela penantian mereka yang entah sampai kapan.
"Hai, anak muda," seruan Gusti menginterupsi kesyahduan sepasang sejoli itu. Dari awal bertemu pria itu memang tidak memanggil nama Garda secara langsung. Entah mengapa dia merasa enggan menyebut nama pemuda itu.
"Iya, Om," sahut Garda cepat.
"Kapan orang tuamu datang? Saya tidak bisa menunggu terus seperti ini. Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini juga," Gusti tampak gusar.
"Mungkin sebentar lagi, Om. Soalnya Papa ketemu klien dulu sebelum ke mari. Dan kalo Mama mungkin lima menit lagi nyampe sini. Karena Mama udah nyampe lobi, Om," terang Garda.
Ceklek! Terdengar suara pintu dibuka.
Sontak mereka semua menoleh ke arah pintu, melihat orang yang muncul dari balik pintu.
"Mama," cicit Garda bahagia. Beranjak berdiri. Menghampiri wanita yang telah melahirkannya ke dunia fana ini.
__ADS_1
"Maaf, Mama telat," ujar Karina menyesal. "tadi, di jalan macet sekali," tambahnya. Lalu pandangan matanya beralih pada Qameella.
"Bi, kenalin ini Mama saya," Garda langsung memperkenalkan Karina pada sang istri.
Dengan sopan Qameella tersenyum, meraih tangan kanan wanita itu, mencium punggung tangannya.
Karina pun memuji kecantikan Qameella sebagai basa basi. Walau pada kenyataannya gadis itu memang cantik alami.
"Ma, ini cewek yang Garda ceritain. Maaf, baru ngenalin ke Mama hari ini," lanjutnya menyesal.
"Tidak apa-apa, sayang... Mama mengerti kok alasan kamu," Karina mengelus puncak kepala sang putra.
Gusti dan Maryam berdiri, memutar tubuh masing-masing ke sumber suara. Hati mereka menghangat melihat interaksi itu. Meski hanya sekilas mereka merasa bahagia dengan sikap kasih Karina terhadap Qameella.
Tetapi air muka Gusti tiba-tiba berubah saat melihat wajah Karina dengan jelas.
"Hah, Karina?" desis batin Gusti. "jadi, Garda adalah anaknya Karina?" mendadak angannya terbang jauh melanglang ke dunia sana.
Begitu pula dengan Karina. Pupil matanya melebar ketika pandangannya bertemu pada sosok pria yang pernah dikenalnya di masa lalu.
"Mas Gusti?" batinnya lirih.
Setelah melakukan ritual perkenalan yang kaku, kini mereka semua duduk satu meja yang sama.
Garda dan Qameella saling bertukar pandang, bingung melihat sikap Gusti dan Karina yang terdiam membisu. Dan ternyata hal ini dirasakan pula oleh Maryam. Namun ikut diam tidak berani bertanya atau melakukan sesuatu.
"Gar," bisik Qameella sedikit memiringkan kepalanya ke arah suaminya. Cowok yang dipanggilnya pun melakukan gerakan yang sama seraya menajamkan rungunya.
"Apa yang terjadi sama para orang tua kita?" tanyanya bingung.
"Entah lah, saya juga gak paham," Garda mengendikkan bahu.
Tidak berselang lama, Andika datang masih mengenakan baju kantornya. Bersama asisten pribadinya dia masuk.
Lagi, suasana kian terlihat tambah kaku. Entah ada apa dengan para orang tua itu. Hanya membingungkan sepasang sejoli yang tidak tahu apa-apa.
Menurut kalian ada apa sih dengan mereka? Coba kalian jawab di kolom komentar.
__ADS_1
Episode berikutnya otw update ya....