Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#103


__ADS_3

Happy reading


Garda duduk di ujung ranjangnya seraya menatap sendu wajah wanita yang kini tengah terlelap dalam buaian mimpi. Setelah menghabiskan beberapa jam dalam diam yang diakhiri air mata kesedihan. Walau bibir wanitanya tidak berbicara sepatah kata pun, dia dapat memahami betapa sedih dan terpukulnya ia atas apa yang sudah menimpa Mitha.


Setelah pulang dari rumah sakit Meella tidak bicara sepatah kata pun. Hanya diam tanpa suara dengan tatapan kosong bagai patung bernyawa. Mungkin rasa penyesalan atau entah rasa sedih seperti apa, Garda tidak tahu. Wanita itu tidak mau berbagi rasa dukanya barang sedikit pun pada Garda. Padahal Garda sudah susah payah membujuk untuk berbagi. Namun dia tetap keukeuh dengan mode silent nya.


Inikah sifat Meella yang sebenarnya? Memilih kebungkaman dan menyimpan rasa sedih juga sakitnya. Tanpa mau berbagi pada siapa pun. Meski Garda sekali pun. Entah akibat rasa tidak percaya diri, rasa asing karena baru dipertemukan lagi, atau rasa enggan? Garda benar-benar tidak tahu jawabannya. Juga tidak bisa menebak jalan pikiran Meella saat ini.


Sepertinya banyak hal yang Garda tidak tahu tentang Meella. Termasuk sebanyak apa beban penderitaan dan luka hatinya yang ditanggungnya sendiri selama ini?


'Bi, kenapa kamu gak berbagi sedikit aja rasa sakit dan sedih kamu sama saya? Walau bagaimanapun kita masih punya ikatan. Bi, saya ingin kita bisa seperti dulu lagi,' bisik batin Garda lirih penuh harap.


Kemudian Garda melirik perut Meella yang mulai membulat. Tanpa ragu tangannya terulur mengelus perut Meella dengan gerakan selembut mungkin agar tidak menggangu tidurnya.


'Nak, jadilah pelindung Mama. Papa juga akan memberikan perlindungan buat kalian. Percayalah Papa sangat menyayangi kalian, terutama Mama yang sudah banyak menderita karena Papa. Tapi Papa janji, kali ini Papa akan melindungi Mama. Gak akan Papa biarkan Mama menderita lagi.'


Garda menghapus jejak air matanya yang sempat mengalir barusan.


Sementara Mitha baru saja membuka mata lagi. Beberapa kali melakukan gerakan melek dan merem secara bergantian guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netranya. Dia sempat tertidur lama sehabis mendapat obat yang langsung disalurkan ke dalam cairan infus, yang melekat pada lengan kirinya.


''Si-siapa? Siapa?'' sepasang mata Mitha segera membelalak kaget melihat sosok pria tua mendadak ada dalam kamar rawatnya. Dia sama sekali tidak mengenal siapa pria asing itu.


Bayangan orang-orang bertubuh tinggi, besar juga kekar tiba-tiba menghantui Mitha. Mengundang ketakutan yang teramat besar. Dia takut peristiwa penculikan dirinya saat itu kembali terulang. Seakan peristiwa kemarin menciptakan trauma padanya. Buru-buru dia menunjukkan sikap waspada dan siaga. Khawatir orang tua itu menyerangnya tanpa diduga.


Saking takutnya Mitha refleks beringsut duduk. Namun dia lupa jika luka di perutnya masih basah. Dan tidak boleh banyak bergerak apalagi sampai berlebihan serta mendadak seperti itu.


"Ahhh... aww...," sontak Mitha menyentuh perutnya sembari meringis, saat merasakan sakit disertai nyeri di perutnya.


"Hati-hati!" pekik pria tua itu berusaha mendekati Mitha.


"Luka kamu masih basah. Jangan banyak bergerak jika tidak lukamu akan terbuka," lanjutnya memperingati.


"Jangan mendekat! Diam di tempat! Awas sampai bergerak!" teriak Mitha memberi titah.


Pria itu pun seketika menghentikan gerak tubuhnya. Membeku sesuai permintaan Mitha.


Pandangan mata Mitha menyisir setiap sudut ruangan, mencari keluar atau orang-orang yang dianggapnya tidak membahayakan keselamatannya.


Tapi... dimana mereka? Kenapa tidak ada siapapun selain dia dan orang tua tidak dikenalnya itu. Sialan! Jangan-jangan si tua bangka itu sudah berbuat jahat semua orang yang disayanginya. Begitu juga pada rega.


"Rega..." teriak Mitha ketakutan. "Ga... Rega..."

__ADS_1


"Jangan takut!" seru pria itu menenangkan Mitha. "Saya bukan orang jahat."


"Bohong!" Mitha tidak percaya sama sekali. Menggelengkan kepalanya. Masih memegangi perutnya, dan menahan rasa sakit serta nyeri ngilu pada lukanya dia kembali memanggil nama Rega.


BRAKK


Pintu ruang perawatan Mitha didorong paksa oleh seseorang dari luar.


Mitha dan pria itu seketika mengalihkan atensi mereka pada pintu yang terbuka. Lalu muncullah sosok Rega dengan wajah paniknya setelah mendengar suara teriakan sang istri. Tadi dia memang sempat keluar untuk membeli makanan di kantin rumah sakit sebentar. Tapi siapa sangka seperginya ia, pria itu datang.


"Mitha." Rega langsung mendekati istrinya.


"Rega..." Mitha segera memeluk tubuh suaminya mencari perlindungan.


"Kamu gak papa?" tanya Rega khawatir.


Mitha menggeleng cepat. Namun wajahnya menampakkan ketakutan. Kemudian mengangkat sebelah tangannya, mengacungkan jari telunjuk lurus ke arah pria itu.


"Di-dia... dia..." suaranya terbata dan terasa tercekat.


Rega mengikuti arah telunjuk Mitha yang mengacung. Kedua matanya terbelalak kaget melihat kehadiran seseorang yang tidak pernah diharapkan hadir dalam hidupnya. Namun pernah sangat dirindukannya.


"Hah, pa-papa?" Mitha menatap Rega bingung.


Rega mengangguk mengiyakan menjawab kebingungan Mitha.


Hah?! Pantas saja wajahnya tampak mirip dengan Rega. Dan sekarang dia tahu wajah tampan suaminya adalah warisan dari sang Papa mertua.


Refleks Mitha menjauhkan tubuhnya dari Rega. Tatapannya nyalang tak dapat dibaca Rega.


"Papa?" Mitha mengulangi dengan tatapan memicing ke arah Rega dan pria yang ternyata bapak mertuanya. Juga pria yang sudah membuat saudara kembarnya menderita selama ini.


Rega hanya mengangguk.


"Tuan Andika pemilik Negara's group yang super kaya itu? Papa kamu juga Garda? Dan orang yang udah bikin Meella menderita sampai saat ini. Bahkan orang yang nusuk aku kemarin, calon menantunya. Hahaha..." serentetan pertanyaan yang diakhiri tawa miris.


Rega mengerutkan keningnya. Lalu melirik pria yang dipanggil Papa, masih berdiri di tempatnya belum bergeming kemana pun. Ada keterkejutan terbit di mata tua itu.


"Ada apa tuan Andika yang terhormat datang ke sini menemuiku? Apakah anda ingin meminta kami agar segera bercerai, karena kami gak sederajat? Atau anda ingin membuat drama romantis atau sedih untuk memisahkan aku dan Rega? Sebagaimana anda memisahkan Meella dan Garda dengan cerita sedih mengharu biru?" sembur Mitha langsung memuntahkan unek-uneknya pada pria yang paling bertanggungjawab atas kesedihan dan penderitaan saudara kembarnya.


"Apa maksudmu, nona?" tanya Andika tidak mengerti. "aku ke sini bahkan belum berbicara apa pun padamu. Tapi mengapa kamu menuduh seakan aku sudah mengatakan hal-hal seperti yang kamu tuduhkan," lanjutnya tidak terima.

__ADS_1


"Maaf jika aku terlalu berterus terang, tuan," sahut Mitha dengan mata yang mulai basah. Ia nyaris tidak dapat mengendalikan emosinya saat mengingat betapa penderitaan itu masih belum beranjak dari hidup Meella.


Betapa menyedihkannya kala Meella yang depresi saat baru tahu Garda mati dalam kecelakaan enam tahun lalu. Walau tidak mengalami langsung tapi dia bisa merasakan segala penderitaan yang ditanggung Meella. Parahnya lagi dia tidak bisa berbuat apa-apa kala itu. Hanya bisa menangis diam-diam.


"Tapi jika perpisahan yang tuan harapkan antara aku dan Rega. Tuan gak usah khawatir, setelah ini aku akan melanjutkan proses perceraian yang pernah dibatalkan Rega," putusnya final.


Rega terkejut lalu menoleh kaku ke arah Mitha. Dia tidak terima keputusan sepihak Mitha. Dalam kamus hidupnya tidak ada kata cerai pada rumah tangganya. Baginya pernikahan cukup satu kali seumur hidup, apa pun yang terjadi. Karena dia tahu betapa menderitanya akibat perceraian yang pernah terjadi pada kedua orang tuanya dulu. Dan hal itu tidak ingin dia ulang dalam sejarah hidupnya.


Andika cukup terkejut dengan penurunan sang menantu yang ternyata saudara kembar gadis muda yang pernah ditolak menjadi menantunya. Walau pun pada kenyataannya gadis itu tetap menjadi menantunya karena memang sudah terikat pernikahan secara agama dengan putra kesayangannya, Garda. Dia tertegun menatap gadis yang terbaring di atas brankar. Wajahnya sengaja dipalingkan ke arah lain agar tidak saling berpandangan.


"Tidak! Tidak ada perceraian di antara kita, Mitha. Ingat itu!" tukas Rega menolak keputusan istrinya yang terkesan semena-mena.


"Kita harus cerai Rega," bantah Mitha menatap wajah suaminya tajam. "aku gak mau mengulang drama menyedihkan lagi kaya Meella alami dulu. Udah cukup terluka kaya gini. Aku gak mau lagi ada luka-luka yang lain. Mungkin lebih parah dari ini. Atau aku mati..."


"Cukup!" bentak Andika akhirnya. Dia tidak suka mendengar semua tuduhan itu. Meski pada kenyataannya hampir sebagian besar akibat ulahnya.


"Cukup tuduhanmu itu, Nona. Aku tahu kedatangan ini tidak menyenangkan bagimu. Walau sebenarnya kedatanganku ke sini hanya untuk melihat kondisimu. Karena ulah Bianca kamu sampai seperti ini. Aku minta maaf," ucapannya tulus.


"Heh, mau lihat kondisiku?" Mitha tersenyum miring meremehkan. "hanya itu? Atau mau lihat aku udah mati atau belum, tuan?" sarkasnya.


Rega mengalihkan pandangannya pada Andika dengan tatapan bertanya. Mungkinkah pria berstatus sebagai orang tua kandungnya sekejam itu?


"Dan sepertinya anda kecewa tuan, karena aku masih hidup, iya begitu?"


"Nona, aku tidak sekejam itu," pekik Andika meninggikan suaranya.


"Kalo anda gak kejam, mengapa anda membuat Meella menderita, hah? Sampai sekarang pun anda masih berusaha mencelakainya. Gak cukup kah anda memisahkan dia dari Garda? Apa perlu kami mati dulu baru anda puas?" balas Mitha juga meninggikan suaranya. Tidak ada rasa hormat yang diberikannya pada tuan besar di depannya. Bahkan dia berani melebarkan matanya sebagai bentuk rasa marahnya karena penderitaan yang sudah diberikan pria itu melalui wanita setan yang sudah menusuk perutnya.


Andika mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya. Wajahnya merah padam. Rahangnya pun mengeras meredam emosi yang bisa saja diledakkan saat ini juga. Namun entah mengapa dia tidak bisa memuntahkan lahar kemarahannya pada menantunya itu. Dia lebih memilih diam lalu pergi meninggalkan kamar rawat inap Mitha begitu saja tanpa permisi.


Mitha menghembuskan napas kasar setelah kepergian pria tua itu. Kemudian dia bergerak perlahan memunggungi Rega.


"Sebaiknya kamu segera urus perceraian kita," ujar Mitha tanpa melihat ke arah suaminya.


"Apa?" Rega memasang ekspresi terkejut dan geram secara bersamaan.


*


Hai readers... maaf author lagi sibuk di dunia nyata jadi baru bisa update 🙏


See you next episode ya 😘🥰❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2