Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#3


__ADS_3

Hai… para readers… gimana testimony Kesengsem Cinta Kembar Season 2 (KCK_S2). 2 episode perdanA kemarin? Seneng gak dengan alur ceritanya? Kasih komentar ya di bawah.


Oke, ikan hiu ikan cucut. Yuk, lanjut…


Happy reading…


******************************


Air mata Maryam tumpah sejadi-jadinya saat mengetahui Qameella jatuh koma. Wanita cantik yang nyaris tidak pernah menunjukkan emosinya dalam kondisi apa pun. Dia selalu tampak tegar dengan menelan semua kepahitan hidupnya sendiri, agar tidak menjadi beban bagi siapa pun, terutama Gusti, suaminya.


Namun tidak kali ini. Maryam menunjukkan sisi rapuhnya pada siapa pun yang melihatnya. Dia meraung pilu. Rasa tidak berdaya dan sedihnya berbaur memenuhi hati dan otaknya.


Maryam sangat marah pada dirinya sendiri, yang tidak becus menjaga salah satu putri kembarnya. Apalagi membuatnya bahagia dalam dekapannya.


Bayangan masa lalu mendadak terlintas di benak Maryam. Masih segar dalam ingatannya, bagaimana Meella kecil yang lucu harus terenggut dari gendongannya. Dia menangis pilu tapi tidak berani meraung di depan siapa pun. Dia selalu berusaha tegar, berharap dengan pulihnya ekonomi rumah tangganya, mereka segera berkumpul kembali menjadi keluarga yang utuh.


Tanpa terduga kini sejarah kembali terulang. Bedanya, jika dulu Maryam pernah dipisahkan oleh keputusan bodoh suaminya. Tidak ada pikiran negatif apa pun. Tapi sekarang? Jarak yang memisahkan bukan kota dan kampung lagi. Jarak yang dapat dikikis bila saling merindukan. Melainkan hidup dan mati. Dua alam yang berbeda. Alam yang memisahkan segala bentuk hubungan tanpa terkecuali. Dan tidak ada satu manusia pun yang bisa menembus alam itu seperti dalam permainan sulap.


Karena hal itulah ia tidak ingin dipisahkan kembali. Jika perlu saat ini takdir Tuhan harus mengalah padanya, agar diberi kesempatan bisa mendekap putrinya kembali dalam keadaan hidup seperti sedia kala.


“Semua ini terjadi gara-gara kamu, Mas,” geram Maryam berani menyalahkan Gusti, orang yang selama ini sangat dihormati dan dipatuhinya segala keputusannya dalam setiap hal.


Tetapi, untuk kali ini wanita itu tidak bisa  menahan diri, meluapkan kekecewaan dan amarahnya hingga mengikis rasa hormat dan taatnya pada sang suami.


Gusti terkesiap melihat luapan emosi wanita yang sudah belasan tahun mendampingi hidupnya. Sebelumnya Maryam tidak pernah sekali pun berani membantahnya. Apalagi berani kurang ajar padanya walau pun sekecewa apa pun keputusan yang diambil Gusti. Pria itu tertegun masih syok dengan perubahan sikap istrinya itu.


“Seandainya kamu mau berbaik hati merestui hubungan mereka, maka semua ini tidak akan pernah terjadi,” lanjutnya penuh sesal. Sekuat tenaga menahan air mata yang sudah mendesak keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


“Dulu kamu pernah membuangnya sekali. Memisahkan aku dengannya. Sekarang kamu mau mengulanginya? Apakah mata dan hatimu sudah mampu untuk melihat dengan baik, Mas?” Mariam sengaja memberondong Gusti dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. “sampai kamu tidak melihat betapa besar kesedihan dan penderitaan anak kita yang satu itu? Sungguhkah kamu memang tega dengannya hingga kamu seakan enggan memberi belas kasihan Mas padanya?” ibu dua orang putri kembar itu menjeda kalimatnya, meloloskan isaknya yang sudah tidak mampu ditahannya, akibat sesak di dadanya yang teramat besar.


“Atau kamu lupa, bahwa anak kita ada dua? Atau kamu hanya ingat anakmu hanya Thatha saja? Makanya kamu bisa memaklumi setiap kesalahannya. Mengabaikan perasaan putriku yang lainnya. Jika demikian kamu memang jahat Mas,” pungkasnya lirih.


“Apa yang kamu katakana Ma? Mengapa kamu menuduh aku seperti itu?” Gusti tidak ingin disalahkan.


“Kamu pikir, aku tidak sedih dengan apa yang terjadi dengan Lala? Aku ini ayahnya, tentu saja aku sedih.”


“Heh,” Maryam tertawa sumbang meremehkan. “oya?”


“Ma,”


“Aku tahu apa yang sudah aku ucapkan ini melukai hatimu, Mas. Tapi apakah kamu pernah berpikir, bahwa segala keputusan dan perbuatanmu tidak melukai hatiku dan hati Lala? Tidak, kan?”


Gusti tertegun dan kehilangan kata-kata.


Tanpa sepengetahuan mereka, dari balik dinding tidak jauh dari tempat Gusti dan Maryam bertengkar. Seorang gadis remaja berusia tujuh belas tahun, menjelang usia delapan belas tahun beberapa bulan lagi. Dia adalah Qarmitha. Gadis itu mendengar semua isi pertengkaran mereka dari awal hingga akhir. Rencananya ia hendak menghubungi teman-teman satu geng-nya perihal kondisi Qameella. Namun terpaksa diurungkan setelah mendengar suara ribut-ribut.


Awalnya tidak mau mendengar urusan orang lain dan hendak beranjak pergi. Lagi pula untuk apa Qarmitha tahu urusan orang lain. Dia bukan tipikal cewek penggosip yang suka mengumbar masalah orang lain menjadi konsumsi publik. Makanya dia ingin segera beranjak pergi mencari tempat yang lebih hening.


Tetapi suara dua orang berbeda gender itu kian lama kian terdengar familiar. Seumur-umur Qarmitha memang tidak pernah kedua orang tuanya bertengkar. Karena sifat pengalah sang Mama, membiarkan ego sang ayah selalu menang.


Ini bukan ilusi atau delusi. Tapi fakta bukan mimpi semata. Dan terlalu nyata untuk menyangkalnya. Apalagi setelah nama Lala dan Mitha, tentu dia sadar siapa nama-nama itu. Tidak ada alasan untuk beranjak pergi. Sangat disayangkan, dia tidak punya cukup nyali untuk melangkah mendekati mereka. Apalagi melerai pertengkaran mereka. Yang ada Mitha turut bersedih mendengar ucapan Maryam dengan derai air mata disertai isak tangisnya.


Hati Mitha tersayat pilu. Ada sejumput rasa bersalah dari dalam lubuk hatinya. Ketika secara tidak sengaja merebut cowok-cowok yang pernah ditaksir saudari kembarnya, Qameella. Cowok terakhir yang nyaris direbutnya adalah Garda. Tetapi tidak sampai pacaran. Karena Garda tipe cowok yang cerdas, tidak butuh proses yang lama bisa mengenali mana Qameella yang sebenarnya.


Entah setan mana yang merasukinya hingga bisa berbuat sejahat itu pada Meella, saudari kembarnya sendiri. Padahal selama ini Meella tidak pernah mengusik kehidupan asmaranya. Dan rela menjomblo hampir seumur hidup lantaran tidak pernah pacaran. Bila sudah terjadi minta maaf pun terasa percuma. Apalagi Meella sedang koma, entah kapan dia akan bangun dari alam bawah sadarnya.

__ADS_1


Gusti yang ditinggalkan hanya membeku melihat punggung istrinya yang perlahan menjauh dan hilang di ujung koridor rumah sakit. Dan sejak hari itu, nyaris tidak ada komunikasi yang baik antara Gusti dengan Maryam. Wanita itu selalu menghindari Gusti. Memilih terus berada di sisi Qameella yang tengah terbaring tidak sadarkan diri. Bahkan tidak pernah pulang ke rumah demi tetap terus bersama sang putri yang berada antara hidup dan mati. Semua kebutuhannya baik pakaian ganti dan makanan semuanya diantar oleh Gusti dan Qarmitha secara bergantian.


Maryam sangat berharap orang yang pertama kali dilihat putrinya itu adalah dirinya. Lalu langsung mengenali dan memanggilnya ‘Mama’. Sayang, semua harapannya pupus. Karena orang yang pertama kali mengetahui Qameella siuman bukan dirinya, melainkan Tari, sahabat satu-satunya sedari kecil putrinya. Juga, nama yang


pertama kali disebut pun bukan dirinya. Tetapi Garda, cowok yang telah memberi warna pada hidup Qameella. Kendati demikian Maryam tidak kecewa. Melihat putrinya membuka mata dan sadar dari komanya merupakan sebuah anugerah Tuhan yang paling besar untuknya. Telah memberinya kesempatan untuk memperbaiki diri agar bisa mencurahkan kasih sayangnya lebih besar lagi pada sang putri.


*


Qameella mulai membuka matanya perlahan. Entah sudah berapa lama kedua kelopak matanya terpejam dalam tidurnya. Pikirannya kosong. Indra penglihatannya hanya menatap ruangan serba putih yang hening. Aroma khas rumah sakit menguar mengusik indra penciumannya.


Di mana ini? Batin Qameella bertanya.


Sepasang bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Mencari sesuatu yang entah apakah itu, dia belum tahu.


Sedetik kemudian netranya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Orang yang telah memberi warna dalam hidupnya, yang selama ini hanya ada hitam dan putih. Berdiri di samping tempat tidurnya dengan senyum mengembang sempurna. Dia pun membalas ikut tersenyum.


“Garda,” gumamnya dengan suara yang sangat lemah nyaris tidak terdengar. Lalu berusaha untuk bangkit hendak memeluknya. Sayang, tidak ada tenaga yang besar untuk membantunya berdiri.


“Garda,” panggilnya lagi berharap orang yang dipanggilnya mau membantunya bangkit. Namun dalam sekejap sosok itu menghilang entah kemana. Sontak Qameella tersentak kaget. Membeliakan kedua bola matanya indahnya.


“Garda… Garda…” lirihnya berusaha untuk bangkit, mengejar orang yang sangat dicintainya. Apalah daya tubuh lemahnya tidak bisa membuatnya bergerak sedikit pun. Hanya bulir-bulir air bening yang menerobos keluar dari sudut matanya.


Seorang pria berjas putih dengan sebuah stetoskop yang menjuntai di lehernya, menerobos masuk pintu ruang rawat inap yang ditempati Qameella. Di belakangnya ada seorang perempuan menggunakan baju khas perawat, juga ikut masuk. Memperhatikan pria yang berprofesi sebagai dokter itu langsung memeriksa kondisi Qameella, setelah mendapat laporan dari Tari sebelumnya.


Di belakang mereka ternyata ada Gusti, Maryam dan Qarmitha serta Tari. Mereka semua tampak sangat antusias ingin menyambut Qameella bangun dari koma.


Rasa syukur tak henti-hentinya Maryam panjatkan dalam hati kepada Tuhan Yang Maha Esa. Telah memberikan putri kesayangannya kesempatan untuk hidup kembali.

__ADS_1


"Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu. Putriku dapat membuka matanya kembali melewati masa komanya. Semoga Engkau memberi putriku umur yang panjang dan kesehatan," Maryam mengusap wajahnya dengan kedua belah tangannya setelah memanjatkan syukurnya dalam hati.


__ADS_2