Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Belajarlah Untuk Mencintai


__ADS_3

Hai readers... thanks a lot for everyone, yang selalu setia membaca karya author hingga sampai detik ini. Atas atensi para readers karya author bisa naik level, dan berhasil mendapatkan kontrak oleh platform mangatoon.


Gimana pun author selalu ingatkan pada para readers untuk tetap memberikan karya ini like, juga vote yang bisa diklik bagian depan karya dibawah cover judul ya. Vote sebanyak-banyaknya. Thank you very much.


Happy reading...


*************************************


Hari sudah beranjak senja saat motor yang dikendarai Garda melesat pergi, membelah jalan raya yang mulai padat merayap karena macet. Biasanya pada jam-jam pulang kantor seperti ini kondisi jalan raya menjadi sangat sibuk.


Di jok belakang sepeda motor Garda yang membuat orang harus duduk nungging lantaran design body motornya mengharuskan seperti itu. Qameella tengah duduk manis sambil memeluk pinggang Garda. Sebenarnya bukan keinginan Qameella sendiri sih.


Tapi emang dasar cowok mesum, gak ada akhlak yang sedari tadi memaksanya. Setiap kali Qameella tidak mau berpegangan pada pinggang Garda, maka setiap itu pula Garda menariknya paksa. Selain agar tetap berada dalam kondisi dekat sampai mepet. Juga demi keselamatan bersama.


Garda tahu istrinya masih marah lantaran kelakuan mesumnya, yang sudah lancang mencium bibir Qameella dengan kasar dan rakus. Hanya karena cemburu yang tidak jelas ujung pangkalnya. Dan dia pun bisa menebak sumber kekesalan Qameella, hal itu karena dirinya yang telah lancang dan tidak meminta izin terlebih dahulu. Yang lebih parahnya lagi dia melakukannya dalam lingkungan sekolah.


Tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Garda, gimana kalau ada teman-teman sekolah Qameella, guru, atau yang paling gawat kepala sekolah melihat kelakuan buruk mereka? Bisa-bisa Qameella dikeluarkan dari sekolah. Wadidau... bisa kiamat dunia!


Sepasang muda-mudi itu kini bergelut dengan pikiran masing-masing. Tidak ada pembicaraan yang berarti karena keduanya lebih banyak diam. Qameella diam karena rasa dongkolnya atas perbuatan Garda.


Sementara Garda diam lantaran sedang berpikir keras untuk membujuk Qameella dan memaafkan perbuatannya. Walaupun sudah meminta maaf tetap saja, rasa bersalah itu masih ada bersarang di dalam hatinya. Bu


Lampu merah merambat menyala, memaksa para pengendara untuk menghentikan kendaraannya agar tidak terjadi kecelakaan lalulintas, tentu saja tidak pernah diinginkan oleh siapa pun.


Garda melepas tangannya pada pegangan stang sebelah kirinya dengan tangan kanan tetap pada posisinya. Dari balik helm full face yang dipakainya, dia menunduk sambil menggerakkan tangan kirinya menyentuh tangan Qameella yang masih melingkar di pinggangnya. Kemudian membelainya lembut. Segaris senyum lebar terbit dari bibir Garda.


Qameella yang mendapat sentuhan pada kulit tangannya langsung tersadar dari lamunan. Ingin hati menepis saat jemari tangan Garda merayap lalu menyusup masuk di sela jari-jarinya. Namun gerak tubuhnya mengkhianatinya, disertai desiran halus yang mengusik relung hatinya, dia merespon baik dengan membalas genggaman itu menjadi saling berkaitan satu sama lain.


Tidak lama kemudian, kewarasan Qameella menguasai diri dan otaknya. Gadis itu melepaskan kaitan jarinya, juga memberi jarak pada tubuh Garda. Hatinya berbisik lirih, memintanya tidak terlena dengan belaian Garda nyaris membuatnya mabuk kepayang.


Kendati usia Qameella terbilang masih bau kencur, tapi sedikit banyak paham hubungan suami-istri. Dia juga tahu kewajiban seorang istri terhadap suami. Entah dia harus bersyukur atau apa, karena selama ini Garda tidak pernah menuntut haknya sebagai seorang suami.


Tetapi perlu dipahami tentang konteks pernikahan yang Qameella dan Garda jalani berbeda dari pasangan suami-istri pada umumnya. Selain pernikahan ini bukan hal yang diinginkan. Status masih sebagai pelajar, tentu saja pihak sekolah tidak membolehkan muridnya menikah. Maka jalan satu-satunya untuk menyelesaikan masalah ini adalah mengakhiri hubungan pernikahan mereka.


Qameella tidak ingin pendidikannya hancur berantakan. Walau Garda tidak pernah memikirkan urusan sekolahnya. Qameella bertekad harus menyelesaikan sekolahnya lalu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi hingga mendapatkan predikat sarjana, atau diatasnya. Demi kedua orang tuanya, dan masa depannya. Oleh sebab itu, dia akan berupaya menutupi pernikahan tidak terduganya pada siapa pun. Untuk masalah Garda yang selalu memanggilnya 'Bini', mungkin bisa dikomunikasikan lagi.


Di sudut lain masih di jalan raya yang sedang lampu merah. Ada seseorang yang sedang menatap tajam ke arah Qameella dan Garda, dari balik jendela pintu mobil yang ditumpanginya. Sepasang manik mata gelap gadis itu memancarkan kilatan amarah yang siap meledak, bagai bom waktu yang bisa meledak kapan saja.


Besar keinginannya untuk turun dari tempatnya berada. Kemudian beranjak pergi menghampiri sepanjang muda-mudi yang dia ketahui sebagai sepasang kekasih. Gara-gara Garda pernah menciumnya di lapangan futsal tempo hari. Menjambak rambut gadis yang duduk di belakang Garda dengan kasar dan ganas. Setelah itu menghentikan tempat duduknya di belakang Garda. Seringai jahat tersungging di bibirnya.


Tiba-tiba terdengar suara klakson kendaraan yang saling sahut bersahutan, seakan meminta kendaraan yang berada di depan agar segera bergerak maju karena lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau. Mobil yang membawa gadis itu pun perlahan bergerak maju. Menyadarkannya dari lamunan. Bersamaan dengan itu dia baru menyadari jika sepeda motor Garda telah pergi bersama kendaraan yang lainnya.


*


Malam harinya Qameella hanya duduk di atas tempat tidurnya sambil membuka-buka majalah remaja favoritnya. Dia sengaja menon- aktifkan ponselnya untuk menghindari Garda yang selalu menghubungi pada jam-jam seperti ini.


Amarahnya masih belum reda lantaran masalah ciuman Garda di sekolah tadi siang. Dia belum bisa berdamai dengan Garda. Walaupun cowok ngeselin itu sudah berkali-kali meminta maaf padanya, tetap saja tidak mengurangi rasa marahnya.


Tiba-tiba Qameella teringat Rega. Ekspresi terkejut yang dipancarkan di wajah cowok kalem itu membuatnya merasa bersalah. Karena dari awal dia menyukai Rega. Tetapi gara-gara insiden pada hari itu, dia terpaksa mau dinikahi Garda, saudara kembarnya.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar Qameella ada yang mengetuk.


"La..." Qarmitha langsung masuk tanpa menunggu dipersilahkan masuk.

__ADS_1


Qameella mendongakkan wajahnya melihat Qarmitha yang muncul dari balik pintu, kemudian duduk di atas kasur berhadapan dengannya.


"Gimana kaki lo? Udah baikan?" tanya Qameella memulai percakapan.


"Lumayan. Udah bisa jalan walau pun suka ngilu kalo terlalu lama diajak jalan." Qameella hanya manggut-manggut.


"La, makasih ya, elo udah mau bantuin gue. Sorry gue udah ngerepotin dan melibatin elo dalam urusan gue."


Qameella menarik bibirnya membentuk segaris senyum kecil.


"Elo kan emang seperti itu kan?" cibirnya dingin.


"Iya, iya, gue emang seperti itu, gue ngaku."


"La...," Qarmitha menatap Qameella serius. "elo pernah marah gak sama gue?" tanya gadis itu tiba-tiba.


Qameella mengerutkan keningnya merasa heran dengan pertanyaan yang diajukan Qarmitha.


"Ini tentang masalah gue dan Garda," Qarmitha berusaha menjelaskan namun tiba-tiba hatinya menciut saat mengucapkan nama Garda, hingga suaranya terdengar pelan tapi masih bisa didengar jelas oleh Qameella.


Qameella hanya menunjukkan ekspresi datarnya. Seolah tidak merasa terganggu sedikit pun.


"Kenapa?"


"Gue... gue... mau bilang sorry."


"Sorry?"


"Iya. Gue minta maaf tentang masalah waktu itu. Gue gak bermaksud buat ngerebut Garda dari elo. Gue cuma mau ngetes doang kok."


"Hm!" Qarmitha mengangguk cepat. "gue penasaran sama si Garda. Gue mau lihat dia benar-benar suka sama elo atau gak. Karena gue takut dia cuma mau mainin elo doang."


"O-ya?"


"Iya lah La... Elo kan polos banget. Gue takut elo patah hati, frustasi, putus asa..."


"Terus?"


"Yah, setelah gue selidikin ternyata dia tulus sama elo. Walaupun gue gak tahu tulusnya, tulus aja apa banget."


"Abis itu?"


"Elo ngeselin. Dari tadi nanya mulu bikin gue kesel aja," rajuk Qarmitha.


Qameella hanya tersenyum kecil.


"Tha, boleh gak gue tanya tentang perasaan lo?" tanyanya terdengar hati-hati.


"Kenapa lo jadi mendadak peduli sama perasaan gue?" Qarmitha balik bertanya.


"Gue cuma mau tahu aja. Secara pribadi setelah elo jalan sama Garda selama berpura-pura jadi gue, gimana perkembangan perasaan lo terhadap dia?" pertanyaan Qameella yang sukses membuat Qarmitha speechless.


"Gue gak yakin kalo elo gak punya perasaan apa-apa sama dia. Secara dari wajah aja dia itu ganteng. Tajir juga perhatian."


"Apa lo suka sama dia?"

__ADS_1


Qarmitha tampak gelagapan hendak menjawab apa. Dia tidak pernah berpikir jika Qameella akan se-to the point seperti ini. Merubah posisi duduknya menyamping, menghindari tatapan mata Qameella.


"Kenapa elo nanya seperti itu? Elo nuduh gue mau ngerebut Garda dari lo?" mendadak Qarmitha tersulut emosi.


"Nggak. Gue selalu positif thinking kok sama elo. Gue gak peduli elo mau jalan sama Garda, atau elo mau jadian sekali pun sama dia, gak akan berpengaruh sama gue, Tha," jawab Qameella tidak sepenuhnya bohong sambil mengendalikan hatinya agar tetap tenang.


"What?!"


"Ya. Bahkan gue udah bilang sama Garda, kalo elo itu orang yang paling cocok jadi pasangannya," Qameella mengenang saat dia mengatakan hal yang sama pada Garda di senja itu.


Deg! Dada Qarmitha berdenyut sakit. Membuatnya merasa sangat berdosa pada Qameella.


"My God! Elo udah gila, ya?"


"Gue gak selemah itu, Tha... gue cuma melihat kenyataan. Dan berusaha menerima kenyataan itu dengan lapang." sanggah Qameella masih tetap tenang.


"Tap, tapi..."


"Tadi, siang pun gue lihat gimana Garda deketin elo. Dia sangat posesif dan impulsif," Qameella tersenyum getir. Menundukkan pandangannya menyembunyikan pancaran kesedihan yang bersemayam di dalam hatinya.


"Elo jangan ngarang, La..." kilah Qarmitha cepat. Dia ingat saat di lapangan tadi Garda memang tidak henti-hentinya mendekatinya. Karena cowok itu menganggap dirinya adalah Qameella.


"Si Garda kaya tadi bukan karena suka rela deketin gue. Elo lupa atau nego sih? Hari ini kita kan bertukar peran. Sama kaya waktu pertama kali Garda deketin gue. Dia menganggap gue itu elo, karena muka kita sama. Jadi, hilangin tuh pikiran buruk kaya gitu."


Qameella mendengus pelan.


"Lagian, gue kan udah punya Kevin. Walaupun sekarang hubungan gue lagi gak baik-baik amat sih. Tapi gue jamin, gue gak selingkuh dari dia," jelas Qarmitha lalu menunjukkan senyum canggung yang sedikit kaku.


Qarmitha menatap Qameella yang terasa seperti sedang menatap pantulan bayangan dirinya di depan cermin.


"La, sekarang gue balik pertanyaan yang tadi elo tanyain ke gue. Elo suka gak sama Garda? Secara dia ganteng, tajir..."


"Nggak!" sahut Qameella cepat tidak ingin menunggu Qarmitha menyelesaikan ucapannya.


Qarmitha terkejut. Tidak percaya dengan jawaban yang diberikan saudari kembarnya.


"Yang serius lo, La..."


Qameella menarik sudut bibirnya membentuk senyum kaku yang dipaksakan.


Qarmitha mencoba mencari kejujuran pada mata kembarannya. Tidak ada kebohongan di sana, namun ada luka yang dapat ditangkapnya. Luka yang tidak pernah ditunjukkan oleh sang empunya. Mungkinkah luka itu akibat dari perbuatannya?


"Elo gak boleh ngomong kaya gitu La... Garda itu kayanya cinta banget sama elo. Buktinya, dia selalu datang nemuin elo di mana pun elo berada. Setiap pulang sekolah contohnya. Dia bela-belain nungguin elo di depan sekolah kita, cuma buat jemput elo."


"Iya," Qameella tertunduk dengan suara pelan menjawab, tidak mengingkari apa yang diucapkan Qarmitha.


"Bahkan sewaktu gue pura-pura jadi elo, dia cepat menyadari kalo gue bukan elo," Qameella terjengit kaget seraya mendongakkan wajahnya.


"La, elo gak boleh nyia-nyiain cintanya si Garda. Yah, walau pun dia tipe cowok yang brigajulan, tapi gue yakin cinta yang dikasih ke elo itu tulus."


Qameella speechless.


"Kalo elo sekarang masih belum mencintai dia. Belajarlah untuk mencintai. Gue yakin setelah itu kalian berdua akan bahagia," pungkas Qarmitha tulus.


Dalam hati dia berharap Qameella tidak mengalami galaunya patah hati seperti yang dialaminya. Karena kini kisah cintanya dengan Kevin telah kandas. Setelah mengetahui ternyata selama ini cowok yang sudah dipacarinya itu berselingkuh di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2