
Happy reading....
*********************************
"Apa tujuan bapak menculik dan menyekap saya di sini?" pertanyaan yang sangat frontal dilemparkan Meella hingga Garda nyaris tidak bisa berkata-kata.
"Apa salah saya? Bahkan saya sudah mengundurkan diri dari kantor. Mau apa lagi bapak melakukan hal kejam ini pada saya? Saya nggak merugikan apa pun pada bapak. Justru saya lah yang rugi karena ... " Meella menjeda ucapannya mencoba untuk kuat padahal hatinya sudah serapuh kertas. "... kesucian saya sudah bapak renggut. Kini saya sudah nggak punya muka lagi pada calon suami saya." lanjutnya lirih. Bola matanya di balik kacamata yang bertengger di batang hidungnya tampak memerah. Tak pelak air matanya meluncur dari sela bingkai kacamatanya.
Hati Garda mencelos mendengar ungkapan hati Meella. Entah mengapa dia dapat merasakan kesedihan dan kehancuran gadis berkacamata itu. Ingin sekali dia memeluk dan memberinya penguatan. Tetapi egonya membutakan netranya, dan menulikan rungunya. Hanya keegoisan dan keras kepalanya yang merajai dirinya.
"Kamu mau tahu kenapa?" Meella tidak menjawab hanya menyeka air matanya dengan punggung tangannya kasar.
Garda menyeringai miring.
"Itu karena kamu belum memberitahu saya, siapa orang yang telah bekerjasama dengan kamu untuk menjatuhkan saya, hm?"
Meella menatap Garda sengit. Kesal lantaran cowok kepala batu itu selalu menuduhnya dengan keji. Padahal dia sendiri adalah korban. Huh, jahat!
"Berapa kali saya bilang, saya gak tahu apa-apa. Saya gak punya hubungan apa pun dengan siapa pun untuk menjahati bapak. Saya hanya korban. Tapi saya gak tahu siapa yang ingin saya celaka," suara Meella terdengar lantang. Sorot matanya menunjukkan luka yang mendalam, serta ketidakberdayaan.
Sungguh, kali ini perasaan Garda tumbang melihat kesedihan Meella. Dia benar-benar tergugah. Hatinya sangat lemah menghadapi gadis itu. Tapi mengapa dia harus begini? Ini bukan dirinya. Mungkinkah ini bentuk ungkapan rasa cinta yang pernah terpendam, saat masa sekolah dulu. Namun keadaan yang membuat lupa cinta dan identitas. Yang tersisa hanyalah gelenyar aneh dari sepasang orang asing yang tidak saling kenal
satu sama lain. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya guna menyadarkannya agar tidak terpengaruh dengan suasana yang mendadak jadi melankolis.
Sayang, sekuat apa pun Garda bertahan dia tidak bisa mengendalikannya. Semua bergerak secara naluriyah. Dan diluar logika. Tiba-tiba Garda meraih tubuh kurus Meella lalu memeluknya, seakan jiwa dan raganya telah melebur menjadi satu dengan Meella.
Sontak Meella membeku dalam keterkejutannya. Tidak menyangka dengan gerak impulsif yang ditunjukkan Garda padanya. Beberapa kali Meella mengerjapkan mata untuk membangunkan dirinya jika benar sedang tertidur atau pingsan. Tapi kenyataannya dia dalam keadaan sadar bukan sedang berhayal.
Ada apa ini? Kenapa cowok berengsek ini mendadak memeluk saya?
"Dasar mesum!" hardiknya setelah menepis pelukan Garda dan mendorongnya kuat.
Garda pun berhasil menjauh. Ternyata hal itu malah membuatnya tersadar dari tingkah konyolnya.
"Siapa yang mesum?" tanya Garda tidak terima dengan tuduhan gadis itu.
"Kalo bukan mesum lalu apa lagi namanya?" kilah Meella.
"Mana ada orang waras yang bisa main peluk-peluk?"
"Uh, hm.. uhuk! Sori," ucap Garda pelan, sadar dengan kesalahannya.
Tiba-tiba suasana berubah canggung. Namun Garda tidak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut. Dia harus menyelesaikannya secepat mungkin bila masalah tidak ingin bertambah rumit.
Garda meminta Meella untuk duduk bareng walau beda sofa dengan jarak tidak berdekatan. Setelah cukup lama
bersitegang. Untunglah tidak sampai meneteskan darah seperti adegan dalam fim action. Kemudian mendorong paper bag yang masih teronggok di atas meja ke arah Meella. Serta merta benda berbahan dasar kertas itu pun bergerak.
"Bukalah!" titahnya.
Tanpa bertanya Meella melakukan apa yang dititahkan Garda. Kendati rasa khawatir dan prasangka buruk pada cowok itu tetap ada. Wajar bila gadis malang itu berpikir demikian. Karena Kesalahan cowok aneh itu, telah menculik dan menyekapnya selama tiga hari di tempat ini. Sungguh edan! Dasar cowok kaya sinting! Muka malaikat tapi kelakuan iblis!
__ADS_1
Meella mengeluarkan benda yang ada dalam paper bag itu satu demi satu. Alangkah terkejutnya dia saat melihat isinya. Rupanya sepasang sepatu dan tas wanita. Dia sangat mengenali kedua jenis benda itu. Ya itu semua adalah barang pinjaman yang dipinjamkan Dita padanya. Tentu dia sangat bersyukur akhirnya dapat memukannya.
"Semua itu kamu tinggalkan dalam kamar hotel," tanpa Meella tanya, Garda langsung memberikan informasi lengkap.
"Terima kasih," ucapnya terharu. Ternyata cowok menyebalkan itu bisa baik juga.
Dengan tidak sabar Meella mengecek sepatu terlebih dahulu. Satu per satu dilihat dengan teliti. Khawatir bila ada yang lecet atau rusak. Untunglah untuk benda yang satu ini aman. Kemudian dia meraih tas tangan berwarna putih. Dari luar tidak ada yang cacat. Setelahnya melihat bagian dalamnya.
Ponsel dan dompet. Hanya dua benda itu yang ada di dalamnya. Walau ponselnya dalam keadaan habis daya, masih tidak masalah, mungkin si cowok berengsek ini hanya mengamankan bukan merawat. Wajar bila kehabisan daya. Lalu apa kabar dengan dompetnya?
Oke, aman! Tapi...
Meella mulai gelisah saat memeriksa satu per satu kantung yang terdapat dalam dompetnya tidak menemukan kalung pemberian Garda. Kalung yang digunakan maskawin saat mereka menikah dulu. Hingga sampai menjungkir balikkan dompetnya. Tidak peduli isi di dalamnya keluar berhamburan.
Gadis berkacamata itu tampak benar-benar panik lantaran apa yang dicarinya tidak ditemukakan. Beberapa kali dia mengangkat ujung bawah bingkai kacamatanya untuk menyeka air mata yang jatuh berurai di pipinya.
Dada Garda mendadak terasa berdenyut sakit melihat air matanya yang tumpah. Hatinya yang keras tiba-tiba terenyuh dan tersentuh. Tidak tega rasanya melihat kesedihannya. Ingin rasanya memeluk dan menghapus air matanya. Lalu mengatakan deretan kalimat yang bisa menguatkan untuknya.
"Kamu cari ini?" tanya Garda tiba-tiba seraya menunjukkan sebuah kalung menjuntai di udara.
Sepasang mata Meella langsung membelalak melihat benda yang sangat dikenalnya. Tanpa ba-bi-bu dia merampasnya dari tangan Garda. Air matanya kembali jatuh menatap benda peninggalan almarhum suaminya yang hampir raib. Dia pun menciuminya berkali-kali seakan menunjukkan betapa berharganya benda tersebut.
Garda speechless. Entah harus berkata apa. Dia hanya memandangi gadis itu dengan perasaan yang sulit dimengerti.
"Apa... kalung itu begitu berharga bagi kamu?" Meella langsung menganggukkan kepalanya beberapa kali antusias, tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari benda di tangannya.
"Sangat," desisnya sungguh-sungguh.
"Maskawin."
"Maskawin?"
"Iya. Almarhum suami saya memberikan kalung ini sebagai maskawin saat pernikahan kami," sahutnya menjelaskan, mengingat peristiwa paling bersejarah dalam hdupnya itu.
"Almarhum? Itu berarti..."
Meella tersenyum getir.
"Dia udah meninggal lima tahun lalu."
Tiba-tiba ada kilatan bayangan dalam memori otaknya. Bayangan sepasang muda-mudi berusia belasan tahun dan beberapa orang dewasa. Tidak jelas bentuk rupanya seperti apa, dia hanya tahu saat itu pemuda tanggung itu menjabat tangan seorang pria dewasa seolah sedang melakukan ritual pernikahan.
Namun siapa mereka? Mengapa muncul dalam benaknya? Apakah dia adalah salah satu dari mereka? Dia benar-benar tidak tahu. Kemudian muncul ingatan lain saat Meella mengatakan, 'suaminya telah meninggal lima tahun lalu'. Berganti tentang bayangan kecelakaan sepeda motor. Lagi, dia tidak tahu siapa orang yang telah mengalaminya. Tapi dia merasa dirinyalah yang mengalami hal itu. Dan hal ini membuatnya sakit kepala.
"Kami saling mencintai. Kami ingin hidup Bersama dan bahagia. Tapi, orang tua gak menginginkan kebersamaan kami. Hingga kecelakaan itu terjadi. Dan... kami dipisahkan oleh maut," tutur Meella mengenang peristiwa itu.
Meella menggenggam erat kalung peninggalan Garda lalu meletakkannya di dada. Memejamkan mata membayangkan Garda ada di dekatnya seakan sedang memeluknya.
*
Pada hari keempat pasca penyekapan, akhirnya Garda bersedia melepaskan Meella. Karena gadis itu memang tidak terlibat. Selain itu dia tidak mau ikut baper melihat kesedihan Meella yang tidak mengenal waktu. Hal ini berkaitan dengan bukti baru yang sudah mengantonginya.
__ADS_1
Meella kembali ke rumah kontrakannya yang sudah empat hari ditinggalkannya. Menyapa dan disapa tetangga sebelah rumah kontrakan yang mendadak kepo tentang kepergiannya secara tiba-tiba.
Bukan bermaksud menjadi seorang pembohong. Dia hanya tidak bicara jujur yang pada akhirnya membuat heboh. Oleh sebab itu, dia mengatakan baru saja pulang dari keluar kota.
Pada saat nama Mirza disebut oleh salah satu tetangga kontrakannya. Hati Meella mencelos. Nyaris air matanya jatuh mengingat pria itu. Karena menyesal sampai detik ini dia belum membalas semua chat dan puluhan telepon tidak terjawab darinya.
Buru-buru Meella pamit masuk ke dalam rumah. Mengunci pintu dari dalam. Membalikkan tubuhnya membelakangi pintu. Kemudian menyandarkan punggungnya di pintu. Menengadahkan wajahnya seraya menutup mata. Merasakan lelehan liquid bening turun dari sudut matanya.
Meella benar-benar galau berada di antara perasaan sedih, takut, malu dan bersalah menghadapi pria itu. Kini dia telah kehilangan muka bertemu Mirza. Karena keperawanan yang telah dijaganya selama dua puluh empat tahun untuk suaminya kelak, sudah hilang terenggut oleh pria lain yang bukan suaminya.
Bagaimana Meella harus menghadapi kenyataan ini. Kenyataan pahit yang tidak bisa diungkapkan pada sembarang orang. Walau pada Mirza sekali pun.
Sementara acara pernikahannya dan Mitha, yang akan digelar di tempat dan di hari yang sama hanya hitungan Minggu.
Bagaimana dia harus menjelaskan apa yang telah terjadi bukan hanya pada Mirza. Juga pada semua anggota keluarga dari kedua belah pihak. Satu-satunya orang yang paling Meella takuti adalah Gusti. Sungguh, dia sudah tidak ingin membuat pria itu kecewa. Tapi kenyataannya selalu berbeda dengan harapan.
*
Satu minggu sebelum hari 'H' dari pihak keluarga Meella dan Mitha, Mirza dan Dicky bertemu serta duduk satu meja. Mereka semua sepakat bertemu di rumah Gusti. Mengingat kondisi kesehatan Gusti yang tidak sedang baik-baik saja.
Di saat para orang tua berbicara, para calon pengantin yang juga hadir di ruangan yang sama, tapi tidak ikut terlibat dalam pembicaraan tampak menyimak dengan baik. Di tengah pembicaraan tiba-tiba Raisya menerobos masuk begitu saja.
Gadis manja itu menginterupsi para tetua yang sedang berbicara. Mengacaukan suasana dengan menunjukkan beberapa lembar foto. Mereka yang marah hanya bisa menahan emosi masing-masing, memandang keberadaan orang tua Mirza yang juga Raisya.
"Apa-apaan ini maksudnya, Raisya? Bisa tidak sih kamu melihat kondisi? Dasar tidak sopan!" dengan wajah merah ayah Mirza tampak murka dengan kelakuan putri bungsunya yang sudah membuatnya malu di depan calon besannya.
"Maaf Pa, Raisya bukan bermaksud bikin malu Papa. Tapi Raisya hanya mau nunjukin foto-foto gak senonoh ini pada Dicky," sahutnya jujur.
Dicky langsung bergerak mengambil foto-foto itu. Dilihatnya satu persatu dengan ekspresi keterkejutan yang tidak bisa ditutupi. Isinya tentang wajah seorang gadis yang sangat mirip dengan Mitha bersama seorang pria. Tapi bukan dirinya. Melainkan pria asing yang entah siapa.
Mitha dan Mirza ikut melihat foto itu. Ekspresi wajah yang mereka tunjukkan tidak jauh berbeda dengan Dicky.
Sementara Meella yang masih anteng pada tempatnya. Kendati dalam hatinya tidak ada ketenangan sedikit pun. Dia sudah menebak orang dalam foto itu adalah dirinya sendiri bersama Pandega, CEO di kantor pusat.
"****, lihat wanita yang kamu cintai setengah mati, dan sebentar lagi kamu nikahi punya kelakuan bejat seperti itu di luaran sana," kata Raisya memprovokasi.
"Jangan-jangan ada lebih banyak pria yang sudah menidurinya, selain pria yang ada di foto. Bisa aja kan?"
Mitha mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya. Dia sudah geregetan ingin merobek mulut berbisa cewek sundel, kedatangannya seperti jelangkung. Datang gak diundang pulang gak diantar.
Dicky langsung menatap Mitha dengan penuh selidik.
*
Hai readers... maaf ya ceritanya sampai di sini dulu ya...
Maaf jika diantara readers ceritanya dibuat gantung. Karena author sengaja bikin readers selalu penasaran dengan cerita ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak-jejak manjanya ya... author tunggu.
See you next episode ya..
__ADS_1