Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Nggak Jujur Bukan Bohong


__ADS_3

🙋 Hai readers... author update lagi nih... diri rada lama karena masalah jaringan.


Happy reading ya... 🤗🤗✌️✌️


 


Malam harinya di meja makan, sudah berkumpul semua anggota keluarga yang terdiri atas Gusti, Maryam, Mitha, dan tidak ketinggalan Meella. Sore tadi gadis itu pulang diantar oleh Garda. Namun dia bilangnya naik ojol. Mereka menempati kursi masing-masing. Seperti biasa suasana makan malam di keluarga kecil itu, sesekali diselingi oleh obrolan kecil seputar kegiatan mereka selama seharian ini.


Tetapi yang lebih sering terlibat bicara hanya Gusti dan Maryam. Sedangkan Meella berbicara hanya seperlunya saja. Maklumlah gadis satu itu memang kurang banyak bicara, alias pendiam gitu. Berbeda dengan Mitha yang lebih bawel.


Namun saat ini Mitha mendadak jadi pendiam. Gadis keras kepala itu sepertinya sedang mogok bicara. Lantaran Gusti, ayah yang dicapnya ayah pelit tidak jua menuruti permintaannya. Apalagi kalo bukan minta dibelikan sepeda motor baru.


Boro-boro minta dibeliin mobil, minta dibeliin motor butut aja gak diladenin. Pikir Mitha geram.


“La, tadi sore kamu kemana aja? Kok bisa pulang terlambat?” tegur Gusti dengan tatapan penuh selidik.


Rona wajah mendadak Qameella memucat. Gusti mengernyit memperhatikan mimik wajah salah satu putri kembarnya yang tidak biasa. Lelaki yang masih terlihat tampan diusianya yang sudah tidak muda lagi, menangkap ada gelagat yang tidak biasa. Sampai dia berpikir, mungkinkah Meella sudah terkontaminasi oleh Mitha?


“Tadi sore mama juga udah telepon tapi gak kamu. Apa segitu sibuknya sampai kamu gak bisa angkat telepon mama?” lanjut Gusti seakan sedang mengintrogasi seorang kriminal.


“Bu-bukan begitu, yah… tadi itu Lala…” kilah Qameella tergugu. Namun belum sempat menyelesaikan ucapannya Qarmitha keburu memotongnya,


“Sampai kapan sih ayah mau ngekang Lala? Apa-apa harus ikut omongan ayah sama mama. Lala harus nurutlah, berbaktilah, laporanlah setiap ngelakuin apa aja diluar rumah, udah mirip tamu yang datang harus laporan ke pak rt 1 X 24 jam… emang sih itu udah kewajiban anak. Tapi… apa harus segitunya? Kasihan lho yah, masa remaja kita Cuma ada sekali seumur hidup. Kalo bukan sekarang kita nikmati, mau kapan lagi? Mau tunggu kita udah jompo, gitu?”


Qameella terkejut mendengar penuturan Qarmitha yang terkesan sangat membelanya. Dia akui hubungannya dengan saudari kembarnya terbilang baik juga bisa dikatakan tidak. Karena aktifitas Mitha yang super sibuk membuat keduanya tidak begitu akrab. Namun siapa sangka gadis energik itu malah mau membelanya di depan ayahnya yang selama ini sudah mengekang hidupnya. Apa yang dia lakukan hari ini adalah hasil diktean ayahnya. Terutama saat memutuskan masuk jurusan IPA, sebelumnya tidak pernah masuk dalam pikirannya. Untunglah dijurusan itu ada Rega, menjadi boom buster tersendiri untuknya.


“Tha, kamu jangan keterlaluan ya…” Gusti tampak geram melihat sikap Qarmitha yang sudah tidak sopan terhadapnya.


“Keterlaluan di mananya sih, yah? Toh, yang Thatha omongin benar adanya.” Bantah Qarmitha.


Entah mengapa suasana makan malam saat ini mendadak menegang. Tidak ada yang menyangka jika pertanyaan Gusti bisa menyulut emosi Qarmitha, entah mungkin dia masih terbawa emosi tadi sore atau


apa. Hanya dia dan Tuhan yang tahu. Meskipun bocah itu sering berdebat dengan Gusti, tapi ucapan Qarmitha kali ini mengungkap fakta yang selama ini tidak pernah diungkapkan oleh Qameella sehingga membuatnya melongo tidak percaya.


“Tha… Tha… udah…” bisik Qameella namun masih bisa didengar oleh Qarmitha. Dia mencoba menenangkan sambil menyentuh punggung tangan saudari kembarnya di atas meja. “gak baik ngomong begitu sama orang tua, dosa Tha…”


“Elo kenapa sih, La? Gue ngomong begini kan demi elo. Gue gak mau elo bersikap seperti boneka hidup di depan ayah sama mama. Elo harus ngerasain betapa indahnya dunia remaja yang selama ini elo simpan di dalam lipatan buku diary lo?”

__ADS_1


“Tha…” suara Qameella terdengar berbisik.


“La, elo bukan anak bayi yang selalu diprotek. Gue tahu apa mau lo, karena gue bisa ngerasain tanpa elo ngomong langsung ke gue. Gue tahu kalo elo gak nyaman setiap hari cuma berkutat dengan buku-buku perpustakaan yang ngebosenin itu buat menjaga nilai-nilai elo tetap stabil. Tapi kenyataannya gak sesuai ekspektasi lo karena murid-murid di kelas elo lebih pintar dari elo. Dan gue tahu alasan elo ngelakuin semua itu sampai mengabaikan kesenangan elo. Cuma mau bahagiain ayah sama mama doang kan? Sekalian buat nebus kesalahan gue yang susah diatur. Iya kan?” tutur Qarmitha sarkas. Gusti mengepal jari-jari tangannya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih.


Qameella menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak terasa kering. Dia terkejut darimana Mitha tahu semua itu. Dan tidak pernah menyangka jika semua itu terungkap malam ini.


Gusti dan Maryam saling bertukar pandang. Keduanya tampak terkejut mendengar semua penuturan itu.


“Apa benar begitu, La?” selidik Maryam. Qameella tidak menjawab. Tapi dia malah mengalihkan menyangkalnya.


“Nggak Tha… gak gitu juga…”


“Cukup! Thatha…” suara Gusti terdengar meninggi.


Qarmitha bangkit berdiri.


“Thatha udah kenyang.” ujarnya beranjak pergi, tanpa mempedulikan Gusti yang sedari tadi memanggil namanya dan memintanya tetap tinggal. Masuk ke dalam kamarnya seraya membanting pintu.


Gusti memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut sakit.


Qameella beranjak berdiri hendak mengejar Qarmitha.


“Lala, duduk!” titah Gusti.


Qameella mengangguk patuh, lalu duduk mengikuti titah Gusti.


“Lala hanya ingin melakukan yang terbaik supaya ayah dan mama gak kecewa. Sebisa mungkin Lala lakuin agar ayah dan mama senang. Lala gak peduli hasilnya gimana, yang penting usaha Lala udah maksimal untuk wujudin apa yang ayah dan mama mau.” Begitu jawaban Qameella saat ditanya oleh Gusti, tentang alasannya tidak menolak apa yang diminta orang tuanya itu.


Setelah membantu Maryam mencuci piring, Qameella masuk ke dalam kamarnya yang terletak di sebelah kamar Qarmitha. Sebelum masuk dia sempat menoleh dan memandang pintu kamar saudari kembarnya yang tertutup rapat. Dia ragu saat akan mengetuk pintu. Kemudian mengurungkan niatnya.


Ketika sudah berada di dalam kamar, Qameella langsung menyambar ponselnya di atas nakas samping tempat tidurnya. Di saat marah seperti ini biasanya Qarmitha akan mengurung diri di dalam kamar. Kebiasaan buruknya setelah itu akan mogok mogok makan di rumah. Soalnya bila di luar rumah, biasanya dia akan meminta Sarah, Amel dan Yasmin untuk mentraktirnya makan. Memuaskan dirinya yang kelaparan karena tidak makan di


rumah. Bahkan tidak jarang dia meminta pada ketiga sahabatnya untuk membelikan makanan untuk disimpannya di dalam kamar. Yang bisa dia makan sewaktu-waktu ketika perutnya lapar. Qarmitha juga akan mogok bicara. Makanya Qameella berinisiatif umtuk bicara dengannya melalui chat.


Meella : “Tha… 🥺”


Mitha   : “Apa?”

__ADS_1


Meella : "Elo udah tidur? 🤗”


Mitha : "Lom."


Meella : “Elo masih marah?🥺”


Mitha   : “Tau!”


Meella : “Sori… 🙏"


Mitha   : “Kenapa?”


Meella : “Gara-gara gue… elo sampe berdepat sama ayah… 😭😭😭"


Mitha   : “🙎"


Meella : “Makasih 🙏 ya… elo udah care sama gue 🥰🥰🥰”


Mitha   : “Kalo bukan gue, siapa lagi yang care sama elo?”


Meella : “Elo emang saudara gue yang paling ngerti gue🤗🤗.”


Mitha   : “Gue bukan saudara lo. Tapi belahan jiwa lo. Karena kita berasal dari inti yang satu kemudia terbelah menjadi dua.


Meella : "Iya elo benar 👍 kita soulmate 😁😁😁"


Mitha tidak menjawab chat Meella lagi. Namun Meella masih berharap Mitha membalasnya.


Walau pun berada di dalam kamar yang berbeda, posisi duduk Meella dan Mitha sama. Keduanya tengah duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil memegang ponsel masing-masing.


"Cowok yang tadi sore nganterin elo pulang siapa?" tanya Mitha setelah beberapa saat saling diam.


Sore tadi Mitha sempat melihat saudari kembarnya yang tidak pernah terlihat jalan bareng dengan cowok maupun, secara mengejutkan turun dari motor ninja, yang katanya sopir ojol oleh Meella. Mungkin Gusti dan Maryam masih bisa dibohongi. Tapi tidak untuk dirinya yang bisa dibilang cukup berpengalaman bila dibandingkan dengan Meella.


Meella terkejut membaca chat dari Mitha. Dia tidak menyangka jika saudari kembarnya tahu secepat ini.


 

__ADS_1


__ADS_2