
Hai ....readers... author datang bawa update episode terbaru nih...
Jangan lupa untuk vote, like n komentar kalian semua ya...
Happy reading...
***************************************
"Elo yakin rencana ini bakalan berhasil?" tanya Maya ragu.
"Tapi... gue rasa ide lo terlalu gila." Yasmin tampak khawatir.
"Kalian tenang aja. Kalo elo berdua mau bantuin gue, gue jamin pasti bisa berhasil," tukas Qarmitha percaya diri.
*
Sebelum matahari tenggelam, Qameella sudah diantar pulang oleh Garda. Tetapi tidak langsung ke rumahnya. Melainkan di pinggir jalan sebelum gerbang kompleks. Gadis itu memang sengaja minta di turunkan jauh dari rumahnya. Lantaran masih takut ketahuan kedua orang tuanya. Tidak peduli bujukan Garda agar bisa mengantarkan sampai di depan rumah. Namun tetap tidak diindahkan.
Diam-diam Garda mengikuti istrinya dari belakang dengan sepeda motornya. Hatinya tidak tenang jika membiarkan Qameella pulang begitu saja. Cowok itu ingin melihat gadisnya benar-benar aman tiba di rumahnya.
Segaris senyum di balik helm full face terbit di bibir tipis Garda, setelah menyaksikan pujaan hatinya masuk ke dalam rumahnya. Kemudian dia berbalik arah pergi meninggalkan kompleks perumahan tempat Qameella tinggal.
Kini Qameella sudah berada di dalam kamarnya. Melepaskan sling bag yang sedari menyilang di bahu kirinya. Lalu menggantungnya di gantungan khusus untuk tas-tas koleksinya yang ada beberapa memenuhi tempat itu.
Qameella tidak langsung beranjak mandi. Gadis itu memilih duduk di pinggir tempat tidurnya. Membuka kacamata minus yang membingkai mata beningnya. Meletakkannya di atas nakas di samping tempat tidur. Setelah itu memijat pangkal hidungnya yang terasa lelah menumpu bingkai kacamata minusnya dengan mata terpejam. Kemudian membaringkan tubuhnya begitu saja di atas kasur.
Entah mengapa dadanya terasa sesak saat mengingat ucapan Fiola di dalam kamar mandi di kafe tadi. Walaupun dari luar Qameella terlihat seperti orang yang tenang, dingin, dan nyaris tak memiliki ekspresi. Tapi dalamnya sanubari seseorang tidak ada yang tahu. Sedalam mana dan seterluka apa saat hatinya tersakiti. Hebatnya dia tidak akan pernah mengungkapkan perasaannya pada siapa pun. Dia akan menelannya sendiri, tidak peduli seberapa sakit, perih dan pedihnya luka yang dideritanya.
Jika Qameella tidak bisa menahan kesakitan dalam hatinya, biasanya dia akan menyendiri menumpahkan air matanya dengan menangis sendiri di dalam keheningan dan kegelapan. Agar tidak ada seorang pun yang tahu kelukaan dan kesedihannya.
Tidak terasa air bening lolos dari sudut matanya. Namun dia tidak ingin menangis saat ini. Dia ingin bahagia mengingat betapa manisnya Garda memperlakukannya sebagai gadisnya. Gadis yang begitu spesial di matanya dan teman-temannya. Ingin rasanya waktu berhenti berputar saat Garda ada bersamanya. Menikmati perhatian dan cinta kasih cowok yang selalu memanggilnya 'Bi' atau 'Bini'.
Qameella tersenyum sendiri kala mengingat Garda pernah memanggilnya dengan sebutan 'Bin'. Kemudian dirubah sendiri oleh Garda menjadi 'Bi', lantaran Qameella pernah protes, menganggap panggilan itu aneh. Dan menyamakan dengan sebutan Mr. Bean. Walaupun berbeda tulisan tetapi penyebutannya sama dalam bahasa Indonesia.
"I love you..." bisiknya lalu malu sendiri menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
*
Turnamen pekan olahraga tahunan antar sekolah menengah atas se-kota Bekasi, tidak terasa sudah memasuki babak semifinal. Kini sekolah-sekolah yang menjadi peserta turnamen perlahan tapi pasti mulai menyusut.
Di sudut ruangan basecamp.
Seorang gadis dengan kaki masih dibebat perban, dan jalan pun masih terpincang-pincang karena cedera yang belum sembuh total, sedang terlibat adu argumen dengan seorang pria dewasa.
Berkali-kali pria bertubuh tinggi kekar dengan berpakaian khas seorang pelatih, dan topi yang menutupi rambut hitamnya mengingatkan, kondisi fisik gadis itu yang tidak mengizinkan ikut pertandingan. Hingga pria itu dibuatnya geram, tak juga gadis itu lelah untuk memaksa.
Alhasil pria itu menyerah. Tetapi gadis itu tidak langsung menjadi pemain inti. Dia hanya dijadikan pemain pengganti. Dengan berat hati gadis itu menyetujuinya.
*
Qameella tertunduk diam mendapat teguran keras dari ketua panitia. Jangan ditanya apa salahnya. Karena semua orang tahu apa salahnya. Ya, dia dinyatakan bersalah karena bersikap memihak. Parahnya lagi dia bukan memihak tim sekolah sendiri, malah menjadi suporter tim lawan. Qameella... Qameella... cari penyakit aja sih lo!
Sebagai anggota panitia Qameella seharusnya bersikap netral. Tapi... apa boleh buat, semua itu terjadi kan bukan kehendaknya sendiri. Semua ini terjadi gara-gara Garda si biang keroknya. Ih, nyebelin!
Karena kesalahannya Qameella mendapat hukuman indisipliner. Gadis itu dibebas tugaskan dari keanggotaan panitia. Tanpa berusaha membantah untuk membela diri, dia langsung menerimanya saja. Melepaskan seragam dan atribut kepanitiaan, lalu meletakkannya di atas meja ketua panitia.
Qameella pergi meninggalkan ruangan panitia. Setelah sebelumnya meminta maaf dan berpamitan pada ketua serta rekan panitia.
Wajah Tari terlihat sangat sedih. Tetapi mengingat Garda yang sudah membuat Qameella dihukum, rona wajahnya berubah garang.
"Dasar Garda brengsek! Awas aja kalo ketemu gue, gue bejek-bejek sampai keluar santen," hardiknya dengan gerakan tangan seperti sedang meremas-remas.
"Elo pikir gue buah kelapa yang diremes bisa keluar santen?" tiba-tiba terdengar suara berat itu seorang cowok membuat bulu kuduk Tari meremang.
"Aduh, perasaan gue tiba-tiba jadi gak enak ya?" Tari mengelus tengkuknya. Pelan-pelan dia membalikkan tubuhnya mencari sumber suara.
Tari terkesiap melihat sosok yang sedang menatapnya tajam. Seolah dari tatapannya bisa mengeluarkan puluhan bahkan ratusan senjata tajam yang siap melayang langsung menancap sampai ke ubun-ubun kepala.
Terbit seulas senyum kaku, hingga menciptakan perubahan yang signifikan hanya dalam hitungan detik. Ekspresi wajah Tari pun berubah 180 derajat.
"Siapa yang mau elo bejek-bejek tadi, hehm?" tanya Garda penuh penekanan sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Siapa hehm?" desak cowok itu mengangkat sebelah alisnya.
Tari tersenyum kaku.
"Nggak.... nggak... itu kelapa. Yah, kelapa parut, kalo dibejek, terus diperas bisa keluar santen," sahutnya sekenanya tergugu. Ternyata menghadapi Garda dengan kondisi seperti ini memiliki aura tersendiri. Aura horor bikin bulu kuduk berdiri. Pantesan aja dia ditakutin sama musuh-musuhnya. pikirnya.
"Awas aja kalo elo ngumpat gue lagi. Gue beri lo baru tahu rasa," gertak Garda menakut-nakuti Tari. Dan... wajah cewek itu mendadak pias.
Kok, gue malah diancam balik sih?
Qameella tersenyum kecil melihat interaksi orang-orang terdekatnya untuk saat ini. Sesekali dia tampak merapikan kacamata minus yang membingkai mata beningnya.
"Bi..." sontak Tari membelalakkan matanya mendengar suara Garda yang langsung berubah lembut.
Lah bujug busyet! Kenapa jadi jinak gini? Tadi, sewaktu ngomong sama gue menggelar juga sangar. Huft!
Dari kejauhan dua pasang mata, tetapi dari tempat yang berbeda, menatap tidak suka melihat keakraban Qameella dan Garda.
"Gue gak bakalan biarin si cewek cupu merebut Garda dari gue. Karena Garda cuma buat gue," tukas seorang gadis cantik berkulit bersih bak porselen.
Sementara ditempat yang berbeda, seorang cowok yang sangat mirip dengan Garda dari ujung rambut hingga ujung kaki, tidak berkata apa pun. Dia hanya melihat mereka tanpa ada yang tahu isi hatinya. Kecuali dia dan Tuhan yang Maha Tahu.
*
Pertandingan basket sudah dimulai sejak sepuluh menit yang lalu. Qarmitha tampak gelisah melihat teman-temannya bertanding. Sesekali dia melontarkan kata umpatan saat melihat salah satu dari mereka melakukan kesalahan hingga gagal mendapatkan poin.
"Sebenarnya apa rencana lo, Tha? Kok, elo bisa seyakin ini mau gantiin posisi Ririn atau Desi?" tanya Yasmin penasaran. "emangnya elo gak takut kalo kaki lo bakal tambah parah, jika elo paksain tetap ikut tanding bareng kita?"
"Elo tenang aja. Gue cuma mau ngomporin pak Jajang doang buat ngeluarin Ririn atau Desi di babak kedua."
"Terus..." potong Maya tampak tidak sabaran.
"Setelah salah satu dari mereka berdua keluar, gue akan masuk gantiin. Tapi..." Qarmitha sengaja menggantung kalimatnya, sambil memperhatikan ekspresi dua gadis belia di hadapannya. "saat masuk lapangan, dan bertanding bukan gue."
Yasmin dan Maya terkejut, lalu saling bertukar pandangan.
__ADS_1
"Meella, Meella yang bakal maju buat nerusin impian gue sementara waktu ini," jelasnya yang langsung dimengerti kedua gadis itu. Walaupun dalam hati mereka masih tersembul rasa ragu.
"Dia yang bakalan jadi pemain pengganti. Dia akan menyamar menjadi gue. Sehingga orang-orang akan mengira gue yang lagi bertanding di tengah lapangan."