
Hai readers... maaf ya, author telat update, karena ketiduran yang seharusnya semalam udah up malah baru sekarang.
Jangan lupa untuk vote, like n komentar positif kalian yang buat author selalu semangat berkarya.
Happy reading...
**********************************
Jam 7.30 malam, setelah selesai makan malam dan mencuci piring serta perlengkapan lainnya, Qameella datang ke rumah Tari yang berjarak beberapa rumah saja dari tempat tinggalnya. Tentu saja setelah mendapat lampu hijau dari Maryam dan Gusti terutama.
Pasalnya dia tidak akan berani melangkahkan kaki keluar rumah sebelum mendapat izin dari kedua orang tuanya. Dan inilah perbedaan yang mencolok antara Qameella dan Qarmitha. Karena Qarmitha tidak akan mau bersabar hati menunggu izinnya di ACC oleh Gusti atau pun Maryam. Gadis tomboy itu biasanya hanya pamit begitu saja. Setelahnya langsung cus... cabut dari rumah, tanpa menunggu kedua orang tuanya mengatakan 'ya' atau 'tidak'.
Tok! Tok! Tok!
Qameella mengetuk pintu rumah Tari. Setelah bunyi ketukan ketiga, barulah pintu kayu bermotif di hadapannya terbuka.
Seorang bocah lelaki tanggung berusia 14 tahun muncul dari balik pintu. Dia adalah Raffi, adik lelaki Tari satu-satunya.
"Eh, Mbak Meella," sapanya ramah dengan cengirannya yang khas.
"Hei, Fi... Tari-nya ada?" sahut Qameella langsung menanyakan yang dimaksudnya.
"Ada, Mbak di kamarnya. Ayo masuk!" Raffi membuka lebar pintu rumahnya mempersilahkan Qameella masuk, menunjukkan kamar Tari yang terletak di sebelah kiri ruang keluarga.
Tok! Tok! Tok!
Raffi mengetuk pintu kamar Tari.
"Mbak, ada temannya nih!" pekik bocah itu dari balik pintu kamar Tari yang masih tertutup rapat.
"Siapa?" tanya Tari dari dalam kamarnya dengan suara tidak kalah nyaring.
Qameella yang berdiri di samping agak menjorok ke belakang Raffi, mengernyitkan dahinya menyaksikan interaksi adik-kakak dengan suara yang cukup buat gendang telinga panas.
"Mbak Meella, Mbak," jawabannya masih dengan nada suara yang sama.
Ceklek! Pintu kamar Tari terbuka. Lalu muncul sosok Tari yang lemas dengan wajah pucatnya. Raffi langsung pamit dan beranjak masuk ke dalam kamarnya yang terletak di sebelah kamar Tari.
Qameella menyempatkan mengucapkan kata terima kasih sebelum Raffi benar-benar pergi, yang hanya dibalas dengan anggukan kepala dan senyum ramahnya.
"Eh, Meel. Ayo masuk!" seru Tari dengan suara parau. Qameella mengangguk setuju, masuk ke dalam kamar Tari yang tidak terlalu besar.
Ada satu set meja belajar dan kursi di sudut kamar. Tempat tidur single yang diberi seprai pink motif bunga, dengan satu bantal dan guling. Tidak ketinggalan selimut bulu berwarna senada dengan gambar hello Kitty. Juga ada beberapa bingkai foto Tari dengan berbagai pose dan latar belakang ditempel di dinding berwarna putih polos.
"Rumah lo agak sepi, nyokap bokap lo pada kemana?" tanya Qameella memulai percakapan. Menarik kursi belajar milik Tari, kemudian duduk.
"Bonyok gue lagi pergi kondangan di rumah sodara," sahut Tari jujur.
"Oh, pantesan yang tadi bukain pintu si Raffi."
Tari tidak menjawab, hanya sedikit menundukkan wajah dengan wajah sendunya. Ada raut kegelisahan dan kebingungan yang tersirat dari sorot mata Tari yang sedari tadi berusaha disembunyikan.
__ADS_1
"Elo sakit apa? Kok elo gak ngomong sama gue?" selidik Qameella penasaran. Tari mengangkat wajahnya dengan ekspresi keterkejutan.
"Ehhm... gu-gue..." tiba-tiba Tari terbata dan ragu untuk menjawab.
Qameella mengernyit heran. Tidak pernah Tari seperti ini sebelumnya. Seakan-akan sahabatnya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Namun Qameella tidak mau mendesak. Dia akan menunggu dengan sabar sampai Tari bercerita dengan sendirinya.
Tari menundukkan wajahnya kembali. Menyembunyikan kesedihan dan air matanya. Dia tidak tahu harus berkata jujur atau memendamnya sendiri dengan sejuta kepahitan. Kedua tangannya bergerak gelisah memilin ujung sweater rajut berwarna putih tulang yang sedang dipakainya. Ujung hidungnya memerah saat suara isakan lirih berhasil lolos dari bibirnya.
"Elo kenapa, Tar?" tanya Qameella impulsif, bergegas mendekati tubuh Tari yang bergetar menahan tangis. Kini mereka berdua duduk bersisian.
"Tar... kenapa?" tanyanya lagi melembutkan suara agar Tari tidak terusik dengan pertanyaan yang mulai menuntut penjelasan.
"Ngomong dong, Tar... kalo elo diam, gue jadi bingung."
Tiba-tiba Tari memeluk tubuh kurus Qameella. Hingga orang yang dipeluknya terkesiap dan nyaris terjengkang ke belakang. Membenamkan wajahnya yang sudah penuh air mata di ceruk leher Qameella.
Di dalam kebingungannya pelan-pelan Qameella menyentuh punggung Tari yang bergetar, lalu mengelusnya lembut.
"Tar... elo kenapa sih? Ngomong aja kali... kita kan sahabatan udah lama, dari kecil malah," suara Qameella terdengar bergetar ikut sedih, walau pun tidak tahu apa yang terjadi pada Tari. Tetapi setelah mendengar isak tangis Tari yang begitu menyayat hati. Setetes butiran bening meluncur bebas dari sudut mata Qameella.
Tari mengangkat wajahnya, melepaskan pelukannya dari tubuh Qameella, meninggalkan cairan bening yang sudah meresap membasahi sekitar leher dan jaket warna peach sebelah kiri Qameella.
Buru-buru Tari mengusap sisa air mata yang masih membasahi pipinya dengan punggung tangannya.
"Sorry Meel, gue udah ngotorin jaket lo dengan air mata gue," dia tersenyum yang terlihat sangat dipaksakan.
"Gak papa lagi... elo udah kaya siapa aja," sahut Qameella mencairkan suasana, namun tetap saja gadis yang tidak humoris seperti dirinya terdengar tidak asyik, hanya meninggalkan kesan garing.
"Gue takut menghadapi kenyataan, Meel... gue takut bapak ibu gue tahu masalah ini. Gue takut mereka marah, terus ngebuang gue. Apalagi jika sampai mereka nekad bakar gue hidup-hidup karena kecewa dengan kelakuan buruk gue," lanjutnya kembali berurai air mata.
Ucapan Tari terdengar ambigu membuat Qameella berusaha keras mencernanya dengan baik.
"Takut?" Qameella ingin mengkonfirmasi kata itu. "maksudnya, apa? Jujur, gue gak paham."
"Meel..." suara isakan lirih kembali lolos dari bibir Tari. "gue... telat, udah dua Minggu..."
"Telat? Telat apa? Yang jelas dong kalo ngomong. Jangan bikin gue bingung deh."
Dengan terbata-bata dan disertai derai air mata Tari menceritakan semua keluh kesahnya pada Qameella, perihal siklus menstruasinya yang hingga saat ini belum juga datang bulan. Gadis itu benar-benar sangat takut jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Belum lagi harus menghadapi kemarahan bapaknya Tari, yang biasa dipanggil Pakde. Kemungkinan besar akan mempengaruhi sekolah dan masa depannya.
Kenyataan yang mencengangkan di dapat Qameella, juga hal yang menjadi alasan ketidakhadiran Tari di sekolah. Yaitu saat Tari menunjukkan perban yang terdapat noda merah melingkar di pergelangan tangan kirinya. Rupanya luka bekas sayatan yang sengaja dilakukan sendiri oleh Tari. Gadis itu nekad melukai diri sendiri dengan benda tajam. Karena terlalu frustasi. Untunglah nyawanya masih bisa tertolong. Jika tidak, humph, sudah Inna lillahi...
Qameella tidak kuasa menahan tangis ikut merasakan kesedihan Tari. Dia jadi berandai-andai jika dirinya sendiri berada pada posisi seperti Tari. Mungkin dia juga akan mengalami hal yang tidak jauh berbeda seperti yang sedang dihadapi Tari. Dan parah lagi Dimas, si cowok brengsek, si bajingan tengik tidak pernah menunjukkan itikad baiknya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.
Dalam hati, Qameella sangat geram ingin mencabik-cabik cowok laknat itu menjadi butiran debu.
Qameella berusaha menguatkan Tari dengan kata-kata sederhana yang dimilikinya.
*
Malam ini semua anggota geng motor ABABIL berkumpul di basecamp. Eh, ralat deh... tidak semua. Karena sejak peristiwa baku hantam dengan Garda, Dimas tidak lagi bergabung dengan geng motor ABABIL. Cowok itu sudah menyatakan perang dengan Garda. Kemudian bergabung dengan geng motor Endoy, yang merupakan rival geng motor ABABIL. Kini mereka adalah musuh.
__ADS_1
Saat ini mereka semua sedang tidak ada kegiatan balap liar seperti biasa. Lantaran arena balapan yang mereka gunakan dua hari lalu dirazia polisi atas laporan masyarakat yang resah dengan aktivitas ilegal mereka. Alhasil, semua geng motor yang suka melakukan balapan motor liar untuk sementara meliburkan diri hingga suasana sudah kondusif.
Selain anggota geng, ada pula Fiola dan dua orang teman ceweknya. Mereka adalah Nadin dan Mona.
Ketiga cewek cantik yang diketuai oleh Fiola, sengaja datang main ke markas besar geng ABABIL. Bukan tanpa niat. Memang sudah niat banget karena Fiola ingin melakukan pdkt dengan Garda. Cowok yang sudah lama ditaksirnya. Namun tidak pernah mendapat respon.
Sejak tahu Garda sudah jomblo, Fiola tampak gencar melakukan pendekatan dengan cowok ganteng nan urakan itu. Dengan modus iseng dan bosan ingin mencari suasana baru, cewek itu rela menjadi bayangan Garda. Inginnya sih pengen ngintil kemana saja cowok itu pergi.
Tetapi Garda bukan tipikal cowok yang bodoh. Sudah pasti bisa mengendus motif dibalik kehadiran Fiola yang selalu ingin menempel seperti magnet pada dirinya. Begitu pula dengan anggota geng motor ABABIL yang lain. Dengan mudah mereka langsung mengetahui maksud dan tujuan Fiola.
Karena sudah bertekad tidak akan move on dari Qameella, maka dengan segala cara dia akan menjaga jarak darinya. Walaupun sampai detik ini belum menunjukkan hasil yang signifikan.
"Lo ngapain sih Fio, rajin banget datang ke basecamp kita?" selidik Sonik tampak tidak suka dengan kehadiran gadis itu dan kawan-kawannya.
"Emangnya kenapa kalo gue sering ke sini? Suka-suka gue lah," sahut Fiola malah balik tanya.
"Ribet tahu gak sih lo-lo pada?"
"Bodo amat! Emang gue pikirin!" tukas Fiola membuat Sonik tidak bisa berkutik.
Sonik mendengus kasar, lalu memutuskan duduk di teras luar basecamp bersama Iwan yang ternyata sudah ada di sana lebih dulu. Cowok berambut cepak itu sedang menikmati kepulan asap rokok yang baru saja disemburkan dari mulutnya.
"Kenapa lo, jadi sensian begitu? Heh, kaya cewek lagi datang bulan aja lo," seloroh Iwan melirik tampang kacau Sonik.
"Bete gue!"
"Udah... biarin aja kali... si bos Garda aja nyantai, masa elo yang jadi darah tinggi?" Iwan menghisap dalam batang rokok yang tersisa setengah lagi. Setelahnya mengepulkan kembali asap yang memenuhi rongga mulutnya, hingga membentuk lingkaran.
"Atau jangan-jangan elo naksir sama dia? Makanya elo marah-marah karena cemburu," ujar Iwan santai seakan bisa membaca isi hati Sonik.
"Ah, apaan sih lo, ngarang aja. Mana mungkin gue suka sama tipe cewek kaya dia," kilah Sonik menutupi perasaannya.
Iwan tersenyum miring meremehkan.
"Kita lihat aja nanti," pungkasnya tidak lagi mendapat bantahan dari Sonik.
Di dalam basecamp, Garda dan anggota yang lainnya duduk di sofa sambil mengobrol. Mereka tidak kaget dengan kehadiran ketiga cewek itu. Bahkan saat Fiola, Nadin dan Mona menginterupsi, ambil bagian duduk di sofa bersama mereka, seolah-olah tidak ada yang terganggu sama sekali.
"Kalian lagi ngobrolin apa sih, kayanya seru banget?" Fiola mencoba menginterupsi, dan ingin menjadi bagian dari mereka.
"Apaan sih lo, Fio. Ini tuh bukan urusan cewek," bentak Rombeng.
"Gak papa kali, Beng... gue ikutan," sahut Fiola sok lembut di depan Garda. "iya nggak, guys?"
"Yoi..." sahut Nadin dan Mona serentak.
Garda mulai merasa tidak nyaman. Tanpa berkata apapun dia beranjak ke dapur. Di dalam basecamp ini memang sengaja disiapkan dapur untuk sekedar masak air atau menyeduh mi instan.
Fiola mencebikkan bibirnya hingga maju dua senti ke depan, melihat sikap dingin Garda.
Kayanya gue harus banyak sabar buat naklukin hati Garda. Bisik batin Fiola.
__ADS_1