Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#89


__ADS_3

Happy reading


Meella menangis tersedu-sedu di depan makam yang entah kini milik siapa. Namun dia yakin di tanah ini jasad Garda pernah terkubur. Dalam hati ia berjanji akan memarahi habis-habisan Garda, yang dianggap pria lain bernama Pandega. Pasalnya, informasi yang didapat dari petugas penjaga makam. Orang yang melakukan pembongkaran adalah orang suruhan Garda.


Hampir pukul sembilan malam, Garda baru kembali ke apartemen yang ditinggali Meella. Setelah seharian berkutat dengan aktivitas kantornya. Dan hampir menyedot seluruh energinya. Dia butuh merecharge energi saat ini dengan memeluk tubuh istrinya itu.


Tetapi Garda tidak menemukan perempuan hamil itu di kamarnya atau dalam kamar mandi, yang masih terdapat dalam kamar tidurnya. Sambil mengendurkan ikatan dasinya yang seakan mencekik leher, Garda tetap mencari. Jasnya ditanggalkan di sandaran sofa ruang tamu. Menggulung lengan kemeja sampai ke siku. Dia menyusuri setiap sudut apartemennya. Dapur, ruang tengah dan kamar pribadi Garda pun tidak ada.


''Kemana dia?'' tanya Garda pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba Garda mendengar suara tangis seseorang. Tidak terlalu jauh namun samar. Mungkin orang itu menangis dengan suara pelan.


Buru-buru Garda mencari sumber suara. Dalam dua menit dia menemukannya. Tepatnya di balkon depan kamarnya. Dia menemukannya. Pelakunya adalah Meella. Entah apa yang terjadi padanya, Garda tidak tahu. Dia hanya tahu gadis itu berantakan sekali. Matanya sembab disertai pipinya yang basah oleh tetesan air mata mengalir di pipinya.


''Meella, kamu ngapain di sini?'' tanya Garda bernada khawatir. Dia berusaha mendekati. Namun melarangnya dan menjaga jarak. Bila tidak, perempuan hamil itu mengancam akan melompat ke bawah.


Oh, my God! Jangan sampai deh terjadi.


"Kenapa Meella? Kenapa kamu kaya gini? Kamu marah karena saya selalu datang ke sini atau apa? Ngomong dong... jangan bikin aku panik gini. Dengan ancaman mau melompat, apa sebenarnya tujuan kamu, hah?" berondong Garda dengan sejumlah pertanyaan dan posisi tetap menjaga jarak.


Meella yang sudah berada di ujung pagar pembatas balkon masih terisak pilu. Tatapan matanya hampa penuh kesedihan.


"Kamu yang apa?" bentak Meella marah balik bertanya.


"Apa salah saya? Apa maksud kamu melenyapkan semuanya, hah? Apa?!" lanjutnya berang.


"Apa sih yang apa? Ngomong yang jelas. Saya gak tahu maksud kamu apa?"


Keduanya saling melontarkan tanya tanpa mengerti maksud masing-masing.


"Heh, aneh!" cibir Meella.


"Kamu yang udah ngancurin semua. Masih mau tanya apa?" Meella benar-benar marah kali ini.


Garda mengusap kasar wajahnya. Tidak mengerti maksud perempuan itu. Lalu terdiam sejenak. Pelan-pelan dia bergerak maju hendak meraih Meella.


"Tetap di situ, jangan mendekat!" pekik Meella menahan langkah Garda.


"Oke. Aku tetap di sini. Tapi kalo seperti ini kita gak bisa ngomong dengan baik," bujuk Garda. "makanya kita sebaiknya masuk ke dalam. Kita bicarakan apa keinginan kamu baik-baik dengan kepala dingin. Ayok!"


"Gak. Gak ada yang dibicarain. Kamu jahat!" pekik Meella diujung kalimatnya. Lalu menangis pilu.


Garda mendengus lelah. Memijat kepalanya yang tiba-tiba berdenyut. Ini pertama kalinya Meella marah padanya. Namun tidak jelas asal muasal masalahnya.


"Meel...," panggil Garda panik saat melihat Meella membalikkan badannya. Membelakangi Garda. Lalu menaikkan sebelah kakinya pada celah pagar pembatas yang terbuat dari teralis besi.


"Jangan bertindak bodoh!"


"Jangan mendekat!" sergahnya berteriak penuh emosi.


"Dulu, saya sangat mencintai dia. Dan dia berjanji pada saya, akan selalu hidup bersama dan bahagia pun bersama. Apa pun yang terjadi. Tapi Papanya mati-matian melarang hubungan kami. Padahal kami sudah menikah," tutur Meella mulai berkisah.


"Susah payah agar kami bisa hidup bersama. Tapi kenyataannya maut memisahkan kami. Saya gak rela ditinggalkan sendiri di dunia ini. Berulang kali saya coba bunuh diri. Selalu saja gagal. Sekarang, saat saya udah mau menerima kenyataan hidup ini. Kenapa kamu musnahkan?" lanjutnya menceritakan sekelumit perjalanan hidupnya yang tidak mudah.


"Padahal hanya makam yang tidak berarti apa-apa buat kamu. Tapi kamu memusnahkannya. Dan hanya pada makam itu satu-satunya bagi saya tempat saya pulang juga melepas rindu," Meella menghela napas lelah setelah menarik ingus yang memenuhi rongga hidungnya.

__ADS_1


Bagi Meella makam Garda adalah hal yang sangat penting lebih dari apapun. Kini, makam itu sudah tiada. Maka untuk apalagi dia hidup. Dengan berani dia menaikkan sebelah kakinya yang lain pada celah pagar pembatas. Berusaha berdiri tegak, meski badan gemetar. Tidak peduli dengan hembusan angin yang dingin menggigit permukaan kulitnya.


Oh, Tuhan....


Akhirnya Garda paham ke mana arah pembicaraan Meella. Rupanya perempuan itu marah karena pembongkaran makam itu. Namun Meella tidak bisa menyampaikan protesnya dengan baik lantaran terlalu emosi.


"Garda, tunggu saya..." ujar Meella tenang setelah tubuhnya benar-benar berdiri tegak di atas pagar pembatas balkon. Siap meluncur ke bawah.


Astaga! Meella lupa apa bego, sih? Dia bukan tinggal di rumah-rumahan lho. Tapi di apartemen lantai lima belas. Bila dia benar-benar jatuh dari ketinggian yang bukan hanya sejengkal itu. Uh, bisa jadi telur ceplok dia.


Secepat kilat Garda bergerak menghampiri Meella. Menarik tubuh ringkih perempuan itu. Lalu membopongnya masuk ke dalam kamarnya. Setelah meletakkan Meella sedikit kasar di atas kasurnya. Dengan segera dia mengunci pintu geser kaca yang menghubungkan kamarnya dan balkon.


Meella beranjak dari kasur hendak turun. Dia sangat marah aksi nekatnya dihalangi Garda. Padahal sedikit lagi dia bisa bertemu suaminya yang sudah almarhum.


Garda langsung menahan pergerakan Meella. Ternyata dia dibuat kewalahan karena Meella terus-menerus meronta.


"Lepasin! Lepasin saya!" pekik Meella berontak.


"Meella!"


"Jahat! Kamu jahat! Sama saja seperti mereka!"


''Meella, tolong dengarkan saya!"


"Gak! Gak mau! Kamu jahat! Hiks hiks hiks..."


"Gak, kamu salah!"


"Gak! JAHAT!!!"


"Kamu salah, BI!"


"Bi, bini," ulang Garda memperjelas.


Meella menoleh cepat, menatap Garda yang juga sedang menatapnya. Bila Meella memandang dengan tatapan bertanya. Maka Garda sebaliknya.


Terpaksa Garda membongkar identitasnya agar tidak berpisah lagi dengan Meella. Pria itu sangat takut tadi. Saat perempuannya meluncur bebas ke bawah bagai roket air. Sudah cukup dia dan Meella menderita karena drama kematian yang diciptakan Andika. Biarkan saat ini mereka hidup layaknya pasangan normal pada umumnya. Mengesampingkan semua yang tidak penting.


Meella menggelengkan kepala. Menolak kebenaran yang akan diucapkan Garda.


''Saya disini,'' ujar Garda lirih. ''saya masih hidup. Saya belum mati, Bi.''


Seulas seringai sinis terukir diujung bibir Meella. Lalu menggeleng lagi.


''Gak. Kamu bukan dia. Walau pun wajah kalian mirip. Tapi Garda udah meninggal enam tahun lalu. Tolong jangan bohongi saya. Saya gak bodoh. Kamu bukan dia,'' sangkalnya walau dalam hati merasa bimbang.


''Baik. Jika kamu gak percaya. Saya punya bukti, jika makam yang selama ini kamu datangi bukan makam saya," tukas Garda lalu beranjak pergi, mengambil kertas-kertas yang didapat dari hasil otopsi mayat yang selama ini menggunakan identitas dirinya.


''Bacalah baik-baik. Saya harap, setelah ini kamu bisa menerima kebenarannya,'' seru pria itu penuh harap.


Meella menerimanya dengan tangan gemetar dan gugup. Sepasang matanya tanpa kacamata minus membeliak lebar. Dahinya berkerut dalam. Matanya berkabut oleh air mata yang terus mendesak keluar.


''Gak. Ini gak mungkin,'' Meella tidak mau mempercayainya. Kepalanya menggeleng lagi.


''Kenapa?" tanya Garda kecewa. ''padahal di situ udah dijelasin, siapa identitas asli jasad yang selama ini menggunakan nama saya.''

__ADS_1


Air mata Garda jatuh. Dia sedih belahan jiwanya tidak mau menerima kenyataan, dirinya masih hidup.


''Mengapa.... mengapa harus kaya gini? Jika memang kamu masih hidup, mengapa harus ada makam atas nama kamu. Mengapa kamu pura-pura mati, apa sebenarnya mau kamu, hah?'' Meella menekan setiap ucapannya. Dia melupakan kekecewaannya pada Garda dengan tangis pilunya.


Garda memeluk Meella erat. Matanya basah ikut menangis sambil membisikkan kata maaf berulang-ulang di telinganya.


*


"Ini tidak bisa dibiarkan," gumam Andika geram. Kemudian dia menatap dua anak buahnya berbadan tinggi besar. Keduanya memakai pakaian serba hitam.


"Cepat kalian urus gadis itu! Aku tidak mau gadis itu selalu dekat dengan putraku seperti parasit," titahnya pada orang itu, langsung mengangguk patuh.


Setelah mendapat kode untuk segera bergerak, mereka pun segera beranjak pergi dari hadapan Andika.


"Bagus, Om. Gadis itu memang harus segera dijauhkan dari Pandega, sebelum ingatan Pandega pulih," ujar Bianca menyetujui tindakan jahat calon Papa mertuanya.


"Tentu saja Om tidak sudi punya menantu dari orang yang pernah... ekhm!" Andika tidak jadi melanjutkan ucapannya.


"Hah, orang yang pernah apa, Om?" selidik Bianca penasaran.


"Bukan apa-apa. Sebaiknya kamu urus saja Pandega agar bisa melupakan gadis itu. Jika kamu tidak mau menyesal," sahut Andika memperingati agar tidak turut campur urusannya.


Bianca yang sebenarnya masih penasaran dengan apa yang tadi diucapkan Andika. Berhubung sudah diperingati seperti itu, mau tidak mau dia menurut saja.


"Baik Om. Om gak usah khawatir," jawab Bianca.


*


"Mau sampai kapan kamu selalu meragukan aku?" tanya Rega merasa gerah selalu dicurigai. Padahal dia sudah berulang kali menjelaskan pada Mitha, bahwa orang yang ditemui bukanlah Rega.


"Walau aku pernah meminta kamu untuk lebih lembut, tapi bukan berarti aku bebas mencari perempuan lain di luaran sana. Aku juga gak pernah sekalipun berpikir untuk merusak rumah tangga kita. Apalagi mencari selingkuhan," terang Rega geram.


"Aku juga tahu pernikahan kita bukan pernikahan aku dan kamu impikan. Tapi gak ada salahnya bila aku ingin rumah tangga kita berjalan baik-baik saja. Jika pun belum saling mencintai. Kita bisa saling belajar membuka diri dan berusaha jatuh cinta," pungkasnya.


Mitha hanya diam membisu. Tidak ingin menimpali ucapan suaminya.


Melihat reaksi istrinya yang adem ayem, Rega menghela nafas pelan. Kemudian merebahkan diri di sisi kasur sebelah Mitha. Untuk kali ini dia berbaring memunggungi wanitanya. Tidak bernafas melakukan olahraga malam yang hampir rutin dilakukan menjelang tidur.


Diam-diam air mata Mitha mengalir dari sudut matanya. Untuk pertama kalinya dia menyesali ucapannya tadi. Dia memang selalu meminta mengakhiri pernikahan mereka dengan perceraian. Tapi setelah mendengar semuanya panjang lebar dari mulut Rega. Entah mengapa hatinya terasa tercubit. Juga baru merasakan betapa tidak enaknya tidak bersama tapi hampa karena dicuekin.


Biasanya Rega akan selalu berusaha membujuk Mitha, dalam suatu panas seperti ini. Dan berakhir dengan adegan orang dewasa. Namun malam ini Rega tidak melakukannya. Mitha merasa seperti ada yang hilang dari dalam dirinya.


Tiba-tiba Rega terkejut saat tangan Mitha menyusup di bawah ketiaknya hingga melingkar di pinggang. Buku kuduknya pun merinding kala wajah Mitha sengaja ditempelkan di belakang punggungnya.


"Maaf. Aku hanya impulsif. Dan aku tidak siap jika kamu benar-benar pergi ninggalin aku sendiri. Cukup sekali aku patah hati dan kecewa karena orang yang aku cintai pergi ke lain hati. Aku cuma gak bisa bayangin jika itu terjadi lagi. Aku...." suara Mitha hampir tenggelam karena terlalu mepet di balik punggung Rega. Tanpa sadar piyama yang dipakai Rega basah oleh air matanya.


Rega membalikkan tubuhnya menghadap Mitha.


"Jangan nangis. Aku janji, semua ketakutan kamu gak akan pernah terjadi," ucap Rega penuh keyakinan. Lalu membenamkan kepala Mitha di dadanya.


"Tidurlah," pinta Rega langsung diangguki Mitha.


***


Hai readers... maaf ya episode kali ini telat. Karena author lagi sibuk di dunia nyata. Insyaallah, untuk episode berikutnya lebih cepat.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak cantik kalian...


See you next episode 😘🥰🙏


__ADS_2