Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Siapa Sih Dia?


__ADS_3

Qameella baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Setelah cukup lama membaringkan tubuhnya, meluruskan tulang punggungnya agar lebih relaks. Dia akui peristiwa kemarin malam merupakan pengalaman yang sangat menegangkan. Sekaligus memberikan sensasi petualangan di dunia nyata ala-ala film action.


Dimana debaran jantung yang berpacu sangat cepat melebihi derap langkah kaki kuda. Deru nafas yang memburu dan tersengal. Serta langkah kaki yang seakan dipaksa lebih cepat dari langkah kaki maling sedang di kejar polisi. Menjadi satu berkecamuk di dalam diri Qameella.


Entah takdir seperti apa yang sudah direncanakan Sang Khalik pada dirinya. Tidak ada yang tahu. Gadis cantik berambut panjang hitam legam hanya bisa menjalankan skenario indah-Nya.


Perutnya sudah terasa lapar, menuntut minta diisi. Berhubung Mama belum pulang dari rumah nenek, otomatis tidak ada makanan yang tersedia di atas meja makan.


Hafth... Qameella menghela nafas panjang. Tidak ada yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri. Pasalnya yang mau masak ya cuma dia selain Mama. Qarmitha mana mau. Boro-boro masak, cuci piring kotor sisa makanannya sendiri saja jarang. Kecuali bila ada maunya dia akan jadi orang yang paling rajin sedunia. Jika tidak, yah sudah bisa ditebak. Makan, tidur, keluyuran, dan senang-senang dengan teman satu gengnya. Bu Atau menghabiskan waktu berlatih di klub basket.


Klik. Timer magic com telah turun ke bawah, dan berubah warna yang awalnya merah menjadi kuning. Tandanya nasi yang dimasanya sudah matang. Ayam goreng, sambal bawang, dan sayur bening sawi caisim telah tersaji indah di atas meja makan. Qameella memang jago menyoal masak memasak meskipun hanya menu rumahan seperti itu saja.


Waktunya makan....


Qameella mengisi piringnya dengan semua yang ada di atas meja. Sebelum makan tidak lupa dia membaca doa.


Tidak lama berselang terdengar suara deru mesin sepeda motor di depan rumahnya. Sedetik kemudian suara Qarmitha mengucapkan salam perpisahan kepada seorang teman ceweknya. Yasmin rupanya mengantar saudarinya pulang.


Qameella tidak mengindahkan kehadiran saudari kembar identiknya itu. Dia menyibukkan diri memakan hasil karyanya dengan lahap.


"Wah, ada makan enak." imbuh Qarmitha langsung mengulurkan tangan hendak menyomot sepotong daging ayam yang menggugah selera.


Dengan cepat Qameella menampar punggung tangan Qarmitha.


"Cuci tangan dulu. Baru pulang banyak virus yang elo bawa dari luar." sergahnya dingin.


Humph... Qarmitha mendengus kesal. Memonyongkan bibirnya beberapa sentimeter ke depan.


"Iya, nyonya besar..." ketus Qarmitha langsung menuju wastafel untuk mencuci tangan. Setelah itu dia kembali sambil membawa piring kosong untuk digunakannya makan.


Tanpa sungkan Qarmitha menyendok semua yang ada di atas meja. Lalu melahapnya tanpa ampun. Padahal sebelum pulang ke rumah dia sudah mengisi perutnya di resto bersama ketiga sahabatnya, Yasmin, Amel, dan Sarah.


"Baca doa dulu kalo makan." gerutu Qameella dengan wajah lempengnya.


"Hehehe... lupa." sahut Qarmitha sambil cengengesan, bersamaan dengan Qameella yang melakukan gerakan bibir mengejek mengikuti ucapan Qarmitha.


"Huh! Kebiasaan!" decak Qameella sinis.

__ADS_1


"Yah, namanya juga orang lupa. Lupa kan gak ingat." sanggah Qarmitha membela diri. Kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya kasar, hingga terdengar benturan antara sendok dan giginya.


Selesai makan Qameella langsung mencuci piring kotor bekas dirinya makan dan Qarmitha. Sedangkan cewek culas itu kabur ke kamarnya. Dia sudah terbiasa menghadapi saudari kembarnya yang pemalas itu. Dia pun tidak pernah mau ambil pusing apalagi sakit hati dengan sikap Mitha.


Walau pun sikapnya seperti Mitha adalah anak yang baik dan sangat peka terhadap dirinya. Acap kali dia dalam masalah, Mitha adalah orang yang pertama tahu tentang dirinya dan isi pikirannya. Mungkin karena terlahir menjadi anak kembar, Mitha dan Meella seakan memiliki ikatan batin, seperti hubungan telepati yang hanya mereka yang mengerti.


"Mau kemana lagi sih?" telisik Qameella melihat Qarmitha yang sudah berganti baju. Dia tampak rapi siap beranjak pergi.


"Gue mau pergi ke klub basket mau latihan. Soalnya Minggu depan tim gue mau ikut turnamen." Qarmitha segera ngeloyor keluar pintu sambil menenteng tas jinjing yang berisi perlengkapan basketnya.


Qameella hanya mendengus pelan menatap kepergian saudarinya. Kini dia tinggal sendiri di dalam rumah. Kemudian dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


*


Garda dan Ryan saat ini sudah ada di dalam mobil. Keduanya berencana pergi ke basecamp.


"Keling, bantuin gue selidiki cewek yang tadi." titah Garda seakan tidak ingin dibantah.


"Tapi bro, gue mau cari ke mana? Kenal aja nggak. Sampai namanya juga gue gak tahu." sahut Ryan jujur.


"Kalo udah kenal ngapain gue nyuruh elo buat nyelidikin dia. Langsung aja gue satronin rumahnya sekarang juga." ujar Garda geram.


"Ingat! Masalah kemarin malam gue belum buat perhitungan sama elo." tukas Garda membuat bulu kuduk Ryan berdiri.


Haih! Bisanya ngancem gue mulu. bisik hati Ryan yang tidak pernah diungkapkan.


"Kenapa? Elo gak ikhlas gue mintain tolong?" telisik Garda seakan membaca pikiran Ryan.


Sontak cowok bertubuh padat berisi itu menggelengkan kepalanya. Dia berusaha menyangkal apa yang dituduhkan Garda.


"Gak lah... mana gue berani."


"Oke. Gue tunggu besok siang udah ada hasilnya."


"Siap bro!" jawab Ryan mantap. Padahal dalam hati dia berteriak-teriak minta tolong.


"Anterin gue pulang ke rumah aja." pinta Garda menopang kepalanya dengan tangan yang bersandar pada jendela mobil.

__ADS_1


"Lah, gak jadi ke basecamp?"


"Buat hari ini gue lagi pengen pulang. Ke basecamp-nya besok aja."


"Oke."


Garda kembali teringat pada Qameella. Gadis ajaib yang mampu menggetarkan hati dan pikirannya. Sampai detik ini dia belum mengerti, mengapa dia bisa peduli pada cewek asing itu. Bahkan saat para warga yang menghendakinya menikahi gadis itu, lantaran dituduh berbuat mesum di pos ronda.


Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Garda dan Qameella hanya menumpang istirahat sebentar setelah lelah berlari dan sempat terlibat baku hantam. Namun harapan tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Setelah menyelimuti Qameella dengan jaket miliknya. Tiba-tiba rasa kantuknya menyerang dan tidak dapat ditawar. Dengan cepat dia terlelap di samping gadis itu.


Tetapi entah bagaimana caranya saat terbangun, kepala Garda sudah berada di atas pangkuan Qameella. Mungkin paha gadis itu keram dan mati rasa semalaman dijadikan bantal olehnya.


Dengan bermodalkan kalung emas putih kesayangannya yang harganya cukup fantastis. Kendati harga tidak berarti apa-apa bagi dirinya. Pada liontin terukir indah namanya.


Tidak terasa mobil Ryan sudah tiba di depan gerbang rumah Garda yang tinggi menjulang. Rumah mewah berlantai tiga mirip istana. Rumah yang lebih banyak asisten rumah tangganya ketimbang tuan rumahnya. Ryan sering masuk bahkan pernah menginap di sana.


"Ya udah. Gue turun di sini aja. Thanks ya." Garda langsung beranjak turun dari jok mobil. "ingat perintah gue yang tadi." tukasnya sebelum benar-benar beranjak pergi.


"Iya iya... bos besar." sahut Ryan berusaha bersabar. Setelah itu mobil yang dikendarainya bergerak pergi.


Melihat majikannya bergerak mendekati pintu gerbang. Buru-buru salah seorang berseragam safari membukakan pintu. Kepalanya tertunduk hormat.


"Den..." sapanya sungkan.


Garda menjawab hanya dengan bergumam. Lalu melangkah gontai menuju rumah.


*****


🙋 para reader yang Budiman. Author lagi rajin update nih 🤭🤭🤭 semoga para reader suka dengan ceritanya.


Berhubung author lagi ikut lomba update tim. Author minta kesediaan para reader untuk memberikan vote ya.




Tapi like n komen juga perlu ya karena sebagai motivasi author untuk selalu update. Syukur-syukur update setiap hari 😁😁😁 kalo author punya waktu senggang ya 🤭🤭🤗🤗✌️✌️

__ADS_1


Happy reading! 🤗😁✌️


__ADS_2