Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#16


__ADS_3

Hai readers yang budiman … maaf ya author telat update, karena kondisi body yang gak bisa diajak kompromi. Author sempat tepar beberapa hari dan otak susah diajak mikir buat update episode baru.


Happy reading ya…


*********************


Sebuah Pajero sport hitam berhenti tepat di depan gedung resepsi. Di bagian depan sebelum masuk gedung tersebut, sebuah gapura yang dipenuhi bunga-bunga didominasi warna putih, dan di sisi kirinya ikut terpajang


sebuah foto prewedding sepasang mempelai, kini sedang menjadi sepasang pengantin di pelaminan, terlihat indah menyambut setiap tamu yang datang.


Setelah sopir sekaligus si empunya mobil, Dicky, turun dari kursi kemudi. Seorang pemuda berseragam petugas parkir langsung menghampiri. Dengan sopan membantu membukakan pintu untuk Qarmitha, teman kondangan Dicky malam ini. Setelahnya menerima kunci untuk segera dibawa ke areal parkir yang telah disediakan.


Dekorasi mewah dalam gedung pesta pernikahan tampak megah dan indah. Membuat para tamu undangan terkagum dan senang berada di sana. Tidak sedikit dari mereka mengabadikan momen dengan berswafoto, dengan memilih sudut – sudut yang menurut mereka instragamable.


Qarmitha pun salah satu di antaranya. Bersama Dicky mengabadikan kebersamaannya dan meng-upload ke media sosial miliknya.


“Dicky,” ujar seseorang terdengar merdu di telinga pendengarnya.


Si empunya nama pun langsung menoleh ke sumber suara. Begitu pun Qarmitha merasa tergelitik untuk mengetahui sosok itu.


Senyum cerah berpendar di wajah wanita bergaun panjang menjuntai hingga menyentuh lantai. Namun mengekspos bagian dada dan lengannya yang ramping, putih juga mulus. Karena gaun yang dipakai wanita itu kekurangan bahan pada bagian atas. Hanya seutas tali kecil di kanan kiri bahu yang menghubungkan gaun bagian depan dan belakang.


Qarmitha agak jengah melihat penampilan yang begitu menggoda dari wanita cantik itu. Tubuh yang ramping, kurus tinggi semampai, dengan rambut coklat panjang yang dibuat bergelombang di bagian bawahnya.


Tetapi tidak pada Dicky. Pria itu tampak nyaman melihat pemandangan gratis itu. Membalas senyum yang tak kalah cerah dan terkesan akrab.


“Hai…, Sya…,” wanita itu langsung cipika – cipiki pipi Dicky.


Sepasang netra Qarmitha langsung membola, kaget melihat pemandangan yang menurutnya tidak lazim pada pasangan yang bukan muhrim. Namun gadis itu berusaha bersikap normal.


'Busyet, ini cewek kagak punya mata, apa emang buta? Masa cowok gue main disosor gitu. Ini lagi cowok gue, diladenin aja. Emangnya gak lihat ada gue apa? Jaga sedikit kek, perasaan gue. Ini malah main sosot aja,'


umpat batinnya kesal.


“Yang, nih kenalin teman kantor aku, Raisya,” Dicky langsung memperkenalkan pada Qarmitha.


“Raisya,” ujarnya mengulurkan tangan.


“Mitha,” sahut Qarmitha menjabat tangan lembut wanita itu.


Sungguh berbeda dengan tangannya yang sering pegang bola. Tubuhnya pun kalah jauh. Bila wanita itu tampak lemah gemulai. Maka Qarmitha bertubuh kokoh dan tangguh. Maklumlah guru olahraga, masa lembek?


Menyadari hal ini benar – benar membuat Qarmitha iri. Dan mendadak timbul rasa cemburu juga takut, bila suatu hari Dicky berpindah ke lain hati karena kepincut dengan bentuk fisik wanita lain yang lebih aduhai.


'Aduh, Thatha… elo lagi mikir apa sih? Ingat ya, elo sama Dicky mau nikah. Buang jauh – jauh pikiran gak bener kaya gitu, oke?' batinnya berusaha tetap pada kewarasannya.


Setelah bercengkrama sejenak dengan wanita bernama Raisya itu, Qarmitha memutuskan mendatangi meja prasmanan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Sementara Dicky masih bersama dengan wanita itu, membicarakan hal – hal seputar mereka yang tidak Qarmitha mengerti.


“Mitha? Elo Mitha, kan?” terdengar suara berat seorang pria masuk ke dalam rungu Qarmitha. Refleks menoleh ke arah sumber suara.


Senyum cerah menampilkan deretan gigi seri yang putih dan rapi. Rabut keriting yang dicukur rapi. Dan kulit yang tidak terlalu gelap di balut stelan jas berwarna marun.


Kening Qarmitha mengerut seraya berpikir keras, untuk mengenali sosok yang sudah mengenalinya lebih dulu.


“Masih inget gue?” tanyanya menguji ingatan Qarmitha.

__ADS_1


“Ya ampun, Keling? Elo Keling?” Qarmitha menaruh kembali gelas yang baru saja diambilnya ke tempat semula.


“Gak nyangka ya kita bisa ketemu di sini?”


“Iya, gue juga gak nyangka. Udah lama banget ya kita gak ketemu,” sahut Ryan.


“Hm,” Qarmitha menganggukkan kepala. “terakhir kita ketemu kapan ya?”


“Kayanya abis kelulusan, ya?”


“Bukan deh, kayanya di Bandara. Soalnya waktu itu gue ikut anterin elo mau kuliyah di Ausi, iya kan?”


Ryan langsung mengangguk mengiyakan.


Sejenak mereka larut membicarakan masa – masa sekolah dulu. Walau pun tidak terlalu sering bertemu, tetapi mereka cukup akrab.


“Btw, elo sama siapa ke sini?” tanya Qarmitha mengganti topik pembicaraan.


“Gue, sendiri. Maklum gue masih jomblo akut,” sahut Ryan asal – asalan.


Qarmitha menepuk lengan atas Ryan iseng, terkekeh geli mengira sang teman lama sedang bercanda.


“Alah… gue gak percaya elo masih jomblo. Masa iya sih, tampang necis kaya elo gak ada cewek yang suka?”


“Hmm," Ryan bersenandung pelan. "Elo tuh, dibilangin gak percaya. Beneran gue masih jomblo,” lanjutnya mencoba meyakinkan. “gimana kalo elo yang jadi cewek gue?” cetusnya sambil mengerlingkan mata jahil.


“Ah, sialan lo, masa nembak cewek kaya gitu, to the point banget? Mana gue mau…”


“Lebih baik to the point, jadi jelas. Dari pada sok romantis, tapi bertele – tele. Ujung - ujungnya digantungin,” kilah Ryan.


“Bodo amat, yang penting gue dapat kejelasan,” sanggah Ryan cuek.


“Cie... kayanya elo lagi curcol nih sama gue," Qarmitha tanpa canggung meledek Ryan. Dan wajar rasanya bila seperti itu, karena mereka status pertemanan yang lumayan akrab.


Ryan hanya nyengir kuda menerima ledekan Qarmitha.


"Eh, Tha. By the way, gimana kabar Meella? Udah move on dia?" cowok yang kini telah berubah 180 derajat itu mengganti topik pembicaraan.


Raut wajah Qarmitha mendadak muram, lalu menundukkan wajah, menggeleng pelan.


"Belum. Dan kayanya dia emang gak bisa move on buat selamanya," jawabnya lirih.


"My God... sampe segitunya?" Ryan meminta penjelasan.


"Iya. Bahkan sampai detik ini Lala, oh maksud gue Meella," Qarmitha meralat nama panggilan Qameella agar Ryan tidak bingung. "masih rajin jiarah ke makam Garda. Sebelum tidur selalu baca suroh Yasin, mengirim doa buat Garda. Bahkan yang namanya foto si Garda masih disimpan, juga diajak tidur, di taruh di samping dia tidur," tuturnya panjang lebar.


"Anjrit, sampe segitunya? Cinta mati banget tuh bocah," Ryan geleng-geleng kepala seraya mengusap jidatnya.


Qarmitha mendengus lemas.


"Gitu deh, kayanya dunianya Meella cuma ada Garda doang. Gak peduli dia udah mati sekalipun tetap ngejaga kesetiaan sampai akhir hayat," dalam hati Qarmitha sedih dengan nasib yang dialami saudari kembarnya.


"Huhft..." Ryan mendengus panjang. "sejujurnya, gue salut sama cintanya Meella buat almarhum Bro gue, Garda. Gue demen tuh tipe cewek setia kaya si Meella. Gue juga yakin kalo Bro Garda masih hidup, pasti bahagia banget punya istri setia kaya Meella."


"Tapi... gue ngenes juga sama pengorbanan Meella yang ngebiarin hidupnya tenggelam dalam kesepian, demi cintanya supaya gak ternoda. Padahal cintanya gak bakalan bisa balik lagi. Karena emang gak mungkin. Orang yang udah meninggal gak akan hidup kembali. Kecuali... ah ya udah lah."

__ADS_1


Qarmitha dan Ryan terdiam sejenak.


"Nah, terus gimana, elo mau gak jadi cewek gue?" tanya Ryan mencairkan suasana.


"Ih!" Qarmitha menyenggol kasar lengan Ryan. "Ogah banget gue punya cowok tipe kaya elo. Lagian, gue udah punya pacar. Dan bentar lagi kita mau nikah,” jawabnya terlihat bersungguh – sungguh.


"Sombong lo!" decak Ryan bercanda. "bilang aja elo tensin pacaran sama gue, iya kan?"


"Ck, ngeselin juga lo lama-lama, ya?" tanya Qarmitha serius. Namun Ryan hanya mengedikkan bahu.


"Gue udah punya cowok kali..."


Tanpa pikir lama Qarmitha langsung mengarahkan Ryan untuk melihat ke arah Dicky, yang masih betah ngobrol dengan Raisya. Sebenarnya dalam hati api cemburu sudah berkobar besar dan siap membumi hanguskan semua yang ada di sekitar. Pasalnya sepasang manusia berbeda spesies itu makin anteng saja ngobrol bersama. Seolah dirinya bukan bagian dari mereka. Terutama Dicky yang seakan amnesia, bahwa dirinya seharusnya dicariin gitu atau gimana. Jangan fokus sama argh... bete deh rasanya!


Ryan mengerutkan kening membuat wajahnya tampak serius.


"Dicky?" ucapnya setengah berbisik namun masih bisa di dengar oleh Qarmitha.


"Oh, elo kenal sama cowok gue?" tanya Qarmitha terkejut, lalu tersenyum gembira.


"Bagus deh kalo elo udah kenal sama cowok gue. Jadi, kalo kita nikahan elo kondangan ke gue dobel ya," celotehnya garing.


"Apa? Elo seriusan mau nikah sama dia?" Ryan menunjukkan ekspresi yang tidak dapat terbaca.


"Iya, kenapa emangnya?" Qarmitha tampak kebingungan dengan pertanyaan Ryan.


"Elo yakin mau nikah sama dia? Emangnya udah pikir matang-matang?"


Qarmitha makin bingung dengan todongan pertanyaan dari Ryan yang begitu tiba-tiba. Dan, memang benar dia tidak pernah berpikir matang-matang tentang hubungannya dengan Dicky. Dia hanya berpikir Dicky ingin serius membawa hubungan yang sudah berjalan hampir satu setengah tahun ini.


"Sebaiknya elo pikirin dulu matang-matang deh. Elo harus tau luar dalemnya dia gimana, baru elo putusin mau lanjut apa nggak," kata Ryan bijak.


Qarmitha mengerutkan keningnya heran.


"Hah? Elo ngomong gini gak lagi cemburu kan, Ling?"


"Gak lah, gue kan cuma becandain elo doang tadi," Ryan langsung menjawab tegas dan mematahkan pemikiran Qarmitha yang menganggapnya sedang cemburu.


Kemudian pemuda yang kini sudah pandai merawat diri itu, menjelaskan tentang fakta hubungan sepasang teman yang berlainan jenis dan akrab. Sementara si cowok bersama pacarnya. Tetapi memilih tetap pada temannya itu.


"Coba elo tebak, apakah hubungan mereka sesederhana yang elo lihat. Atau... sesuatu yang spesial tanpa elo tahu di belakang lo," ucapan Ryan benar-benar membuka mata Qarmitha tentang hubungan Dicky dan Raisya, yang kian lama terlihat kian intim saja. Mengabaikan dirinya seakan tidak menganggapnya ada.


"Ah, elo jangan bikin belok-belok hati gue deh, Ling..." wajah Qarmitha tampak pias.


"Siapa juga yang mau belok-belokin hati elo sih, Tha? Gue ngomong apa adanya. Sebagai temen gue gak mau elo suatu saat menyesal dan patah hati, Tha..."


Qarmitha hanya terdiam. Hingga obrolannya dengan Ryan selesai dan berpisah kembali ke posisi masing-masing. Gadis itu masih terdiam membisu. Di benaknya dipenuhi pemikiran-pemikiran yang selama ini tidak pernah terbersit. Apalagi setelah melihat sikap hangat Dicky kepada Raisya, tentu saja sangat jauh berbeda perlakuan serta sikap Dicky dengannya.


'****, sebenarnya kamu serius gak sih sama aku? Kamu cinta gak sama aku? Kalo emang cinta, tapi kenapa aku merasa kamu gak tulus sama aku. Apalagi saat melihat kamu begitu akrab dengan perempuan lain. Walau pun kamu bilang hanya sekedar teman kantor, aku merasa hubungan kalian lebih dari itu," batin Qarmitha benar-benar gundah gulana.


*


Episode kali ini memang sengaja author tulis spesial edisi Qarmitha, untuk melengkapi cerita bertema anak kembar dalam KCK_S1 dan S2. Semoga kalian menikmatinya. Untuk Qameella tentu author akan selalu menceritakannya disetiap episode ya. Baik secara langsung maupun tidak langsung.


Oke, see you next episode...

__ADS_1


__ADS_2