Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Gue Mau Pulang


__ADS_3

🙋 Hai readers... happy reading ya... 🤗😁😁


Jangan lupa kasih vote, like n komen ya. Kalo bisa boom like ya... Trims 🙏🙏


 


Entah bagaimana ekspresi Tari saat ini setelah mendengar suara cowok sotoy itu, Qameella hanya bisa menerka\-nerka. Mungkin Tari terkejut. Dan sangat kecewa mendengar ucapan ngasal cowok yang sudah bikin dia seketika jadi bad mood.


"Issshhh!..." decak Qameella kesal.


Dengan cepat dia berusaha merebut ponselnya dari tangan Garda. Namun semakin keras usahanya, semakin sulit untuk meraihnya. Amarahnya semakin naik ke ubun\-ubun ketika Garda mengangkat ponsel Qameella tinggi\-tinggi sambil berdiri, hingga sulit menjangkaunya. Pasalnya ukuran tubuhnya yang kalah tinggi dengan Garda tentunya.


"Rega!" mendadak nama itu meluncur begitu saja dari bibir Qameella dengan suara lantang.


Sontak para pengunjung yang juga sedang menikmati santapan mereka di kursi pengunjung terkejut, mengalihkan perhatian ke arah Qameella. Tidak terkecuali Garda.


"Siapa lo bilang barusan?" tanya cowok itu penuh penekanan. Tatapan matanya tajam melihat ke arah gadis yang ada di sisinya, memberi kesan menakutkan bagi siapa saja yang mendapatkan tatapan itu.


"Rega?" Garda mengulangi dengan menekan nama itu. Perlahan menurunkan tangannya, menyerahkan ponsel Qameella kembali kepada empunya dengan kesal.


"Ehh.. hmm..." lidah Qameella tiba\-tiba keluh. Sulit mengucapkan kata\-kata. Menundukkan wajah dan pandangannya untuk menghindari kontak mata dengan Garda masih membuatnya takut, yang seakan\-akan ingin menelannya bulat\-bulat.


Tangan Qameella terulur menerima ponselnya kembali.


*


Qameella masih tidak berani bersuara sejak ketegangan tadi di dalam kafe. Padahal saat ini dirinya dan Garda sedang dalam perjalanan pulang. Tetapi dia baru tersadar saat Garda menghentikan laju sepeda motornya. Ternyata cowok menyebalkan itu tidak mengantarnya pulang. Melainkan ke sebuah taman yang indah, ditengahnya terdapat danau buatan yang menyegarkan mata.


Gadis berparas cantik dan berkulit bersih itu terkejut, mengapa tidak diantarkan pulang. Tapi dibawa ke tempat asing. Pikiran\-pikiran negatif mulai bermunculan mengisi kepalanya. Pasalnya baru\-baru ini dia melihat siaran berita di tv, tentang seorang gadis yang dibawa oleh seseorang yang baru dikenalnya di media sosial. Setelah beberapa hari menghilang tanpa kabar. Gadis itu ditemukan sudah tidak bernyawa di semak\-semak. Rupanya sebelum dibunuh gadis itu diperkosa, dan diambil barang\-barang berharganya.


Lantaran pikiran itu dia jadi mengkhawatirkan dirinya sendiri. Takut\-takut cowok yang ada di depannya berbuat hal yang sama dengan yang ada di siaran berita tempo hari. Degup jantungnya berdetak kencang. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Telapak tangannya pun terasa dingin.


"Nga\-ngapain lo bawa gue ke sini?" tanyanya ketakutan. "gue mau pulang."


"Cepat turun!" titah Garda sedikit memiringkan kepalanya. Lalu membuka helmnya setelah mematikan mesin sepeda motornya.


Qameella turun dari jok motor Garda. Segera membuka helm dari kepala dan menyerahkannya.


"Oke. Gue bisa pulang sendiri." tukasnya langsung beranjak pergi. Namun baru beberapa langkah melaju, tiba\-tiba Garda menarik lengannya, memaksanya untuk melanjutkan langkah dan menoleh.


"Elo gak bisa pergi begitu aja."

__ADS_1


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Qameella sarkas.


"Ada yang perlu elo ketahui, dan harus diperjelas." jawabnya tegas. Kemudian menarik lengan Qameella seakan memintanya untuk mengikuti langkahnya, tanpa memberikan kesempatan gadis itu menerima atau pun menolaknya.


Garda duduk di sebuah bangku taman, lalu dia sedikit memaksa Qameella untuk duduk di sebelahnya dengan menarik lengannya. Mau tidak mau Qameella terduduk. Walau \[un jauh di dalam lubuk hatinya sangat gelisah dan takut.


Qameella mendadak bertambah panik saat Garda memutar tubuhnya menghadap ke arahnya. Cowok tampan berkulit bersih, matanya tidak besar, hidungnya mancung, alisnya hitan juga tebal. Sontak gadis itu menggeser duduknya ke belakang.


Garda mengerutkan dahinya saat melihat wajah gadisnya yang memucat ketakutan.


"Kenapa?" telisiknya penasaran.


"Ja... jangan dekat\-dekat!" serunya seraya memdorong dada Garda. "jaga... jaga jarak. Yah, emang sebaiknya begitu." lanjutnya setengah berbisik diujung kalimatnya, tapi bisa didengar dengan jelas oleh Garda.


Garda menyeringai melihat ekspresi takut Qameella, yang justru terlihat menarik perhatiannya. Dan ingin terus menggodanya.


Polos banget sih, nih cewek. pikir Garda.


"Buat apa jaga jarak?" tanya Garda heran mengangkat sebelah alisnya.


"Ya... biar nyaman aja." sahut Qameella asal.


"Bukan begitu juga." sanggah Qameella membenarkan posisi duduknya.


Garda menatapnya lekat membuat gadis itu risih, lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan.


"Udah sore, dan hampir gelap. Gue harus cepet pulang." Qameella menatap langit yang memang hampir sudah tidak terlihat terang. "gue khawatir keluarga gue panik nyariin gue."


Garda terkekeh tidak menyangka masih ada keluarga kolot yang dimiliki Qameella. Karena selama dia hidup selama hampir delapan belas tahun, kedua orang tuanya tidak pernah mengkhawatirkannya. Bahkan teman\-teman ceweknya pun tidak pernah menyinggung tentang keluarga mereka yang mengkhawatirkan bila mereka pulang terlambat.


"Oke. Berhubung gak ada yang penting, gue pulang sekarang." Qameella beranjak berdiri.


"Tunggu!" Garda meraih tangan Qameella. Menahannya agar tidak beranjak pergi.


"Apalagi?" tanya Qameella malas menoleh ke arah cowok itu.


"Kita belum ngomong apa\-apa."


"Ya... salah lo sendiri. Kenapa sedari tadi elo terus\-terusan ngulur\-ngulur waktu." ujar Qameella ketus.


"Oh, ini jadi salah gue, gitu?"

__ADS_1


"Terus, elo mau salahain siapa lagi? Gue?" Qameella melepaskan pegangan tangan Garda. "sori ya. Dari awal gue gak pernah ngusik elo. Dan gue pun gak minta elo datang nemuin gue. Apalagi ngajakin elo sampai ke sini." jelasnya menyadarkan Garda akan perbuatannya.


"Oke, oke, gue ngaku salah. Gue yang udah datengin elo ke sekolah dan ngajakin elo sampai ke sini." Garda terpaksa mengakuinya. "tapi gue punya alasan kuat yang bikin elo bisa ada bersama gue."


Qameella hanya diam menyimak ucapan cowok yang saat ini sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan yang tidak bisa dia baca.


"Pertama elo adalah bini gue. Gue perlu ketemu elo untuk melihat kondisi elo."


"Oke. Sekarang elo bisa lihat kan kalo gue baik\-baik aja kan? Tapi... gue bisa terima elo sebagai suami gue."


"Alasannya?"


"Alasannya... karena pernikahan kita cuma faktor kesalahpahaman. Jadi, jangan anggap itu serius. Dan lagi, kita berdua belum cukup umur untuk dibilang pasangan suami istri. Lagian kita gak akrab, bukan pasangan kekasih pula. Terus... kita gak saling cinta antara satu sama lain." tutur Qameella diplomatis.


Garda mengangkat sebelah alisnya. Berusaha memahami fakta\-fakta yang barusaja diutarakan oleh Qameella.


"Oke. Gue bisa terima alasan lo. Tapi untuk pernikahan kita, elo gak bisa memungkiri kalo kita memang udah resmi sebagai suami istri menurut hukum agama. Gak masalah dengan ada atau gaknya cinta di antara kita. Gue rasa cinta bakalan tumbuh asalkan kita mau menanam dan memupuknya."


"Kalah pohon." gumam Qameella pelan. Sejenak keduanya terdiam.


"Oya. Tadi elo panggil nama Rega. Kenapa?"


"Apa hubungan lo dengan Rega?" kata Qameella malah balik tanya.


Garda tersenyum miring.


"Gue udah duga dari awal."


"Maksudnya?" Qameella meminta penjelasan.


"Ya. Elo pasti mengira gue pasti Rega kan?"


Qameella hanya diam tidak ingin menjawab.


"Karena muka gue sama persis sama dia. Jadi elo dari awal menganggap gue Rega. Makanya tadi sewaktu di kafe elo refleks meneriaki gue dengan nama itu."


"Iya. Karena emang gue cuma tahu muka kayak elo ini mirip sama Rega. Walau pun terkadang gue ragu, elo dia atau bukan." Qameella merendahkan suaranya diujung kalimatnya.


Garda tersenyumnya miring lagi. Mengalihkan pandangannya sambil berkacak pinggang, serta mengulum bibirnya kecewa.


 

__ADS_1


__ADS_2