
Hai... para readers setiaku... mohon maaf, author lagi galau buat menulis cerita ini. Karena lagi buntu juga lagi banyak yang dikerjain di dunia nyata. Jadi, harap dimaklum aja ya...
Happy reading...
********************************
Qameella merasa sangat tersanjung sekaligus canggung, dengan perlakuan manis Mirza dalam menyambut kedatangannya bagai tamu kehormatan. Begitu pula dengan kedua orang tuanya yang kebetulan sedang berada di rumah. Membuat gadis itu seperti berada di rumah sendiri bersama keluarga. Qameella sangat terharu atasnya. Pasalnya hal itu tidak pernah ia dapatkan walau pun di rumahnya sendiri. Dan ayah kandungnya sendiri, Gusti, hampir tidak pernah menunjukkan sikap hangatnya yang sudah lama Qameella dambakan.
Dulu, hanya Garda yang selalu menyayangi dan mencintainya. Memperlakukannya sangat baik serta penuh perhatian. Kendati Andika tidak pernah menganggapnya ada. Malah menganggapnya musuh yang harus dimusnahkan dari muka bumi. Hingga Qameella pernah berpikir, setelah Garda tiada maka tidak ada lagi orang yang memperlakukannya dengan penuh kasih kasang. Tetapi setelah mengalami hal ini, pemikirannya terpatahkan. Ternyata stok orang baik di muka bumi ini belum habis.
Ketika Qameella sedang ngobrol-ngobrol santai dengan Mirza juga kedua orang tuanya. Walau faktanya Qameella banyak diamnya. Jikalau pun menjawab pertanyaan yang sesekali dilontarkan oleh Mama atau Papa Mirza, hanya dengan, 'Ya', 'nggak', gelengan atau anggukkan kepala. Ya... namanya juga si irit bicara.
"Jadi, kamu sudah dua tahun bekerja di perusahan sebesar Negara's Group?" Malik, Papa-nya Mirza tampak terkejut dan takjub dengan pencapaian Qameella.
"Ya, Om," sahut Qameella singkat seraya menganggukkan kepala.
"Wah, hebat kamu ya," puji pria sebaya dengan Gusti itu.
"Makasih, Om."
Ratih, Mama-nya Mirza tersenyum senang seraya menoleh pada putra sulungnya. Lalu menepuk pelan setelahnya mengelus sayang bahu Mirza.
Mirza yang mengerti bahasa kalbu wanita yang telah melahirkannya ke dunia, mengangguk dan ikut tersenyum bahagia.
Setelah melihat lebih dekat dan berusaha menyelami sanubari tanpa dasar seorang Qameella. Kini Mirza menilai gadis pendiam itu, merupakan gadis yang unik dan menarik untuk diulik. Entah sampai kapan dia akan mempertahankan kekalemannya itu. Mirza sudah tidak sabar untuk bisa masuk dalam hidup Qameella.
“Hh, dasar cowok kalo udah ada yang baru, yang lama pasti dilupain. Ternyata gak dimana-mana cowok tuh sama. Buaya!” hardik seorang gadis saat menuruni anak tangga, tiba-tiba muncul dari lantai atas.
Sontak Malik, Ratih, Mirza juga Qameella menoleh ke sumber suara.
Malik menggelengkan kepala melihat tingkah putri bungsunya yang selalu tampak kekanak-kanakan.
Ratih mendengus pelan. Lalu memberi kode pada Mirza agar menangani adik perempuan satu-satunya.
“Hus! Kamu ngomong apaan sih, Dek? Kedengerannya gak bagus banget didengar?” tegur Mirza. Beranjak berdiri menghampiri.
“Itu tuh… biasa, Dicky. Mentang-mentang udah punya gandengan sekarang udah gak mau jalan lagi sama aku Mas,” sungutnya dengan tampang kesal dan manjanya.
“Dicky lagi Dicky lagi. Bosan rasanya Mas dengar nama itu lagi. Udah jangan urusin cowok kaya dia. dunia gak selebar daun kelor Dek.”
“Tapi Mas.”
“Udah, cowok gak satu di dunia ini. Mas bisa cariin kamu cowok yang seribu kali lebih baik dari Dicky, oke?” Mirza sengaja memelankan suranya agar tidak terdengar Qameella.
Beberapa nama Dicky disebut, Qameella mengernyitkan dahi. Merasa nama itu tidak asing di telinga.
*
Pada waktu yang bersamaan. Qarmitha sedang berada di butik milik Yasmin. Dia sudah mempercayakan sahabatnya itu membuat baju untuk pernikahannya nanti.
__ADS_1
Amel dan Sarah sangat bahagia dengan rencana pernikahan Qarmitha. Saking bahagianya mereka juga ikut datang ke butik Yasmin untuk mensupport sang sahabat.
Qarmitha sangat bahagia dan terharu dengan sikap para sahabatnya. Sahabat yang sudah seperti keluarga sendiri.
“Telepon dari siapa sih?” tegur Qarmitha menghampiri Dicky di teras butik Yasmin. Cowok itu baru saja mengakhiri sambungan teleponnya.
“Oh, dari teman,” sahutnya agak tergugu.
“Dari teman?” Qarmitha mengulangi.
“Iya,” Dicky meyakinkan dengan senyum cerah.
Qarmitha hanya ber’Oh’ saja. Tidak ingin memperpanjang perkara.
“Ya udah. Ayo kita masuk!” ajaknya menggamit lengan Dicky mesra.
“Oke.” Dicky sangat lega melihat Qarmitha langsung percaya begitu saja dengan alasannya. Dan tidak menanyakan apa pun lagi perihal temannya di telepon tadi.
Sepasang kekasih itu pun masuk ke dalam butik berlantai dua.
*
Mirza memperkenalkan adik perempuannya pada Qameella.
“Raisya,” gadis itu menyebutkan namanya saat menjabat tangan Qameella.
“Meella,” balasnya juga menyebutkan nama.
“Ah, Mas jangan suka buka-buka aib aku dong di depan orang lain,” pintanya manja.
Untuk sesaat suasana tampak mencair mendengar celotehan Mirza dan Raisya.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Malik dan Ratih pun mengundang Qameella untuk makan siang bersama di rumah mereka.
Qameella si manusia kaku dan tidak pandai bergaul, tampak ragu dengan undangan mereka. Ingin sekali menolaknya. Tetapi dia sungkan tidak tahu cara menolak dengan halus, agar kedua pasangan suami istri itu tidak tersinggung atas penolakannya.
"Ayolah, Meel… sekali sekali kamu makan siang bersama kami. Kapan lagi kamu bisa main ke sini,” Mirza setengah memohon membujuk gadis yang masih terdiam terpaku tanpa sepatah kata pun.
“Eh…, Mirza, kamu kok ngomong seperti itu sih?” tegur Ratih seperti sedang memarahi putranya yang tidak pandai merayu seorang gadis.
“Meella pasti sering kemari, karena Meella sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga ini,” tukas Ratih to the points. Merapatkan tubuhnya pada gadis berkacamata minus itu. Lalu menyenggol tubuh Mirza seakan sedang memberi kode.
Mirza tampak salah tingkah, mengusap-usap tengkukknya canggung seraya tersenyum kecil.
Whats? Apa maksudnya ini? Qameella mengangkat sebelah alisnya namun masih dengan ekspresi datarnya.
Malik hanya senyum-senyum kecil melihat interaksi istri dan anaknya yang sedang membujuk Qameella. Karena tidak mau ikut campur urusan mereka, pria yang sudah tidak muda lagi namun masih terlihat gagah itu, langsung bergerak menuju ruang makan.
Raisya pun tampak seperti itu. Tidak mau ikut terlibat dengan drama yang tidak penting sekali.
__ADS_1
Tanpa meminta persetujuan Qameella, Ratih langsung menarik lengan gadis itu menuju ruang makan.
Qameella menoleh sekilas pada Mirza. Tatapan matanya seakan meminta tolong. Tapi pria itu tidak meresponnya hanya sengaja mengangkat bahu dengan memiringkan kepalanya ke kiri.
Seorang wanita yang merupakan asisten rumah tangga di rumah keluarga Mirza, tampak baru saja selesai meletakkan semua menu makanan untuk makan siang di atas meja makan. Semuanya tampak sangat nikmat, menggiurkan dan menggugah selera.
Akhirnya Qameella ikut makan siang bersama Mirza dan keluarganya. Setelah selesai makan Mirza mengantar Qameella pulang.
Satu Minggu kemudian. Mirza dan kedua orang tuanya, Malik dan Ratih, datang ke rumah Gusti untuk meminang Qameella.
Tanpa persetujuan Qameella Gusti menerima lamaran yang diajukan Mirza. Serta menggelar pesta pertunangan Qameella dan Mirza di rumah. Karena acaranya dibuat sangat sederhana berdasarkan permintaan Qameella.
Batin Qameella menangis saat acara itu berlangsung. Karena dia tidak memiliki daya dan upaya untuk menolak atau membatalkannya. Lemah? Ya, untuk saat ini Qameella bisa dikatakan sangat lemah. Karena dia harus melemahkan hatinya demi menjaga hubungannya dengan Gusti agar tetap baik-baik saja. Walau pada kenyataannya hatinya luka dan berdarah-darah.
Acara pertunangan sudah selesai. Para tamu yang hanya beberapa orang saja yang mereka undang dari tetangga terdekat. Juga sedikit kerabat dekat menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh Gusti dan keluarga.
Gusti sedang ngobrol santai dengan Malik, calon besannya di kursi tamu. Wajahnya tampak senang setelah menyaksikan pertunagan Qameella dan Mirza berjalan lancar. Hal ini sedikit membuatnya bisa bernapas lega. Sebelumnya dia sempat berpikir Qameella akan menolak semua perencanaannya. Siapa sangka anak itu malah terlihat jinak dan tidak menunjukkan sorot mata permusuhan seperti biasanya.
Maryam dan Ratih tampak kompak duduk di kursi tamu lain tidak jauh dari suami-suami mereka. Seperti wanita yang sudah berkeluarga pada umumnya. Keduanya mengobrolkan masalah rumah dan keluarga masing-masing.
Qarmitha bersama Dicky memilih tempat yang lebih hening. Mereka menepi di ruang makan sambil menikmati makan malam malam bersama.
Sementara Raisya memutuskan langsung pulang karena tidak sanggup menahan rasa cemburunya pada Dicky, sejak awal kedatangannya bersama keluarganya sudah menunjukkan kemesraannya dengan Qarmitha.
Sedangkan Qameella malah melipir ke tempat yang jauh dari keramian. Jikalau bisa tidak bisa dijangkau oleh siapa pun. Sayang, dia tidak bisa pergi kemana-mana selain halaman belakang yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian.
"Aku senang, akhirnya kamu bisa kudapatkan juga," ungkap Mirza bahagia menghampiri calon istrinya.
"Sungguhkah kamu bisa sesenang itu?" tanya Qameella tidak yakin. Tatapannya lurus pada tiang jemuran yang terbuat dari bambu dan tali tambang.
"Tentu aja yakin. Memangnya kenapa?"
Qameella mengalihkan pandangannya pada Mirza. Lalu terdiam menatap kesungguhan yang berpendar di mata pria di sisinya.
"Kenapa Meel... kamu gak yakin sama hubungan kita?" selidik pria itu.
"Entahlah. Saya hanya gak tahu harus berbuat apa. Lagi pula kita baru saling mengenal. Belum tahu isi hati masing-masing."
Kini, gantian Mirza yang terdiam. Tidak lama kemudian dia berujar,
"Ya, kamu benar. Kita memang belum tahu isi hati masing-masing karena baru saling mengenal. Maka dari itu, mari kita belajar untuk saling mengenal dan mengetahui diri masing-masing dengan saling terbuka."
Qameella tidak merespon. Hanya terdiam tanpa tahu apa yang sedang berputar dalam pikirannya. Mirza tidak mampu menyelami dalamnya sanubari hati seorang Qameella.
"Kita berusahan pelan-pelan saling memahami," Mirza berusaha meyakinkan namun tetap saja respon Qameella tidak berubah.
Apakah semudah itu? Semudah itu juga kah saya bisa melupakan kamu Garda? Karena sampai kapan pun kamu akan selalu saya kenang dalam ingatan. Dan nama kamu selalu terpatri dalam sanubari saya.
*
__ADS_1
Cerita sampai di sini dulu ya... next time disambung lagi.
See you...