
🙋 Hai readers... up... up...
Jangan lupa kasih vote, like n komen ya... buat vitamin author. Biar tambah semangat update episode terbaru.
Luv you all 💕💕💕
Happy reading... 😁😁😁👍👍👍
*******************************************
Sebotol minuman dingin terulur di depan Qameella. Menyentakkannya dari lamunannya. Lalu memaksanya menoleh pada orang yang telah menyodorkan minuman tersebut.
"Nih, minum!" serunya ramah.
Ragu-ragu Qameella menerima minuman tersebut dari tangan cowok itu.
"Pasti haus lama-lama ada di sini. Mbak duduk di sana aja biar gak garing duduk di atas motor terus." sarannya menunjuk ke arah bangku kayu di depan basecamp.
"Gak usah. Makasih. Biar saya di sini aja. Mungkin bentar lagi Tari keluar." sahut Qameella tersenyum canggung.
"Oh, ya udah. Saya tinggal ke dalam dulu ya, Mbak." pamit cowok itu sambil menenteng sekeresek berlogokan mini market sejuta umat, berisi makanan dan minuman ringan.
Qameella hanya mengangguk pelan menyetujui.
Tari masih berbicara dengan Tikeng, Sonic, Buchek, dan Rombeng saat Ryan baru masuk. Sementara Garda hanya diam menyimak obrolan mereka di sofa tunggal dekat jendela.
Ryan mengeluarkan isi keresek yang dibawanya di atas meja. Setelah itu mengambil bagian, duduk di sofa panjang dengan menggeser Buchek dan Rombeng. Kemudian duduk di tengah kedua cowok kurus itu.
"Sompret lo!" hardik Rombeng menyorong tangan kanannya pada bahu kiri Ryan, hingga bocah itu tersorong dan menabrak bahu Buchek.
Buchek yang tidak terima langsung balas balik menyorong. Tubuh gembal Ryan tak ayal terombang ambing di tengah mereka.
"Kampret banget sih, lo. Mau cari anget aja lo duduk di tengah-tengah." timpal Buchek geram.
"Ya elah... kenapa sih... sekali-kali doang juga." sahut Ryan membela diri.
"Sekali-sekali mata lo somplak! Emang badan lo kecil? Badan lo udah kaya gaban juga. Sempit tahu!" ujar Rombeng sarkas.
Garda berdecak kesal melihat polah ketiga anak buahnya yang membuatnya geram.
"Bisa gak sih, elo-elo pada pada diam?" tegur Garda akhirnya.
Sontak Ryan, Buchek dan Rombeng terdiam. Mereka tidak berani berkutik. Tertunduk takut.
"Di sini ada Tari, dia tamu kita. Jadi, gue minta elo-elo semua bisa menghargai tamu. Jaga sikap lo-lo pada. Elo lagi, Keling. Bikin ribut aja." semprot Garda sarkas.
Seketika suasana menjadi tegang dan kaku. Tidak ada yang berani membantai sang ketua geng.
Begitu pula dengan Tari yang ikutan sungkan. Selama ini Tari sudah banyak mendengar tentang Garda. Si pemimpin geng yang baik dan solid kepada semua anggota geng ABABIL. Tetapi jika sudah marah, sama saja seperti membangunkan macan yang sedang tidur.
__ADS_1
Tiba-tiba salah seorang anggota geng ABABIL masuk, memecah suasana kaku yang terjadi di dalam ruangan. Cowok itu tidak tahu jika terjadi ketegangan yang membuat rekan seperjuangannya terdiam seperti patung manekin.
"Tar, ini kunci motor lo." ujarnya langsung menyerahkan kunci motor di tangannya kepada Tari.
"Hah?! Kunci motor gue?" Tari mengerutkan dahinya menerima kunci motornya. "kok bisa ada sama elo?" tanyanya heran.
"Iya. Barusan gue dimintain tolong sama cewek di depan. Katanya teman elo." jawab cowok berkumis tipis itu menjelaskan.
"Emang teman gue. Cuma gue heran aja. Tega banget dia ninggalin gue sendiri di sini." gumamnya lirih.
Cowok yang disapa Akew itu memposisikan dirinya dengan bergabung duduk di samping Sonic.
"Tadi, si Meella sempet ngomong apa sama elo gak? Atau pesan buat gue?" telisik Tari. Khawatir ada sesuatu yang terjadi dengan Qameella.
Dada Garda berdesir mendengar nama Meella disebut. Ekspresi wajahnya berubah dan tidak bisa terbaca. Dahinya berkerut seakan sedang berusaha mengingat sosok cewek yang sedang dibicarakan Tari dan Akew.
Ryan melirik Garda, sedang termenung di tempat duduknya. Sedetik berikutnya dia berpikir, apakah Meella yang dimaksud Tari adalah Qameella, pacarnya Garda.
"Dia cuma bilang, harus buru-buru pulang doang. Kalo gue gak salah dengar... dia disuruh pulang sama bokapnya." jawab Akew jujur.
Tari mendengus kecewa tetapi tidak bisa menyalahkan Qameella sepenuhnya. Karena dia tahu Qameella tidak bisa sebebas Qarmitha.
"Tunggu-tunggu deh!" ujar Ryan mengintrupsi. Sontak semua orang yang ada di dalam ruangan, memusatkan perhatiannya kepada cowok berambut ikal itu. "Tari, sori nih gue potong pembicaraan lo sama si Akew."
"Meella... Meella yang lagi elo berdua omongin, Qameella anak kelas 2 IPA bukan?" telisiknya hati-hati.
"Sotoy lo, Keling." celetuk Rombeng sambil mentoyor kepala Ryan. Dengan cepat Ryan membalas menyikut lengan Rombeng.
"Eh...hm... kenal banget sih nggak. Cuma tahu dan pernah ketemu dua atau tiga kali. Tapi... kayanya dari tadi gue gak lihat dia." sahut Ryan, melirik Garda ragu-ragu sekaligus takut. Namun Garda tidak bereaksi apa-apa.
"Tadi kan elo sempat keluar pergi ke mini market. Masa sih, elo gak lihat dia?" kilah Tari tidak percaya.
"Huuuuuuhhhh!" seru Rombeng, Tikeng, Buchek, dan Sonic membuat kegaduhan. Mereka tidak percaya dengan yang diucapkan Ryan.
"Beneran, swear!" Ryan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah kanannya ke udara. Menunjukkan ucapannya sungguh-sungguh.
"Ah, gue gak percaya kalo lo sampai gak lihat si Meella. Kecuali mata lo udah katarak."
"Sompret lo, Tar. Nyumpahin gue katarak." hardik Ryan geram.
"Abis, elo gak bisa lihat teman gue. Elo pikir teman gue UKA-UKA." sungut Tari kesal.
Rombeng, Tikeng, Buchek, dan Sonic merutuki Ryan hampir bersamaan.
"Ya elah... itu lho, cewek yang di depan tadi, yang duduk di motornya Tari." ujar Akew membantu Tari menjawab.
Ryan dan Garda terkesiap, tidak percaya dengan ucapan Akew.
"Ah, ngarang lo. Mana mungkin dia..." belum sempat Ryan melanjutkan kalimatnya, Tari langsung memotongnya.
__ADS_1
"Elo yang ngarang!" tuduh cewek berseragam SMA itu sarkas. Ryan terjengit kaget.
"Mana mungkin cewek modelan si Meella bisa kenal cowok preman tukang bolos kaya elo." lanjutnya ketus.
Hati Garda terasa tersentil mendengar penuturan Tari. Namun dia tidak bisa menyangkal kenyataan yang ada.
"Asal elo tahu aja ya, Meella itu... bisa dibilang kaya putri Rapunzel. Orangnya gak bisa bergaul luas seperti cewek seumurannya. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di rumah. Di sekolah pun dia lebih sering berada di perpus. Jadi, gue gak bisa percaya kalo elo bisa kenal sama si Meella. Kenal di mana?" Tari menekan kalimat terakhirnya.
"Masa sih, apa buktinya elo bisa akrab sama dia?" kilah Garda tiba-tiba mempertanyakan keakraban yang terjalin antara Tari dan Qameella.
Sontak semua orang menatap Garda horor. Mereka semua heran dengan sikap sang pemimpin yang mendadak kepo.
Menyadari tatapan menelisik yang tertuju padanya, Garda berdehem. Agar mereka tidak lagi menatapnya aneh. Buru-buru mereka bersikap normal supaya tidak kena semprot dari ketua geng ABABIL, yang paling disegani.
"Gue kan udah temanan sama dia dari kecil. Lagian rumah gue juga deketan sama dia." ujar Tari menjelaskan.
Mereka semua kompak melafalkan "O..." sambil manggut-manggut.
"Jadi wajar dong, kalo gue gak percaya. Kecuali kalo bilang akrab sama si Mitha."
"Mitha? Siapa?" selidik Ryan penasaran.
"Mitha, saudara kembarnya Meella. Wajah mereka mirip banget. Bisa dibilang, bagai pinang dibelah dua. Kalo orang yang gak kenal, atau baru ketemu mereka sekali, dua kali pasti bakalan keliru buat bedain mana Meella dan Mitha. Tapi, kalo sekarang gampang buat bedain mereka berdua. Karena Qameella biasa pake kacamata minus."
Garda beranjak berdiri, berkacak pinggang dengan ekspresi keterkejutannya. Dia tidak bisa ditutupi kekalutannya lagi. Dia meraup wajahnya kasar, lalu mendengus kesal karena baru menyadari kekeliruannya selama ini.
*
Klub Basket.
Qarmitha dan teman-temannya baru saja beranjak meninggalkan klub basket mereka. Setelah menyelesaikan sesi latihan hendak pulang.
"Mith, ada cowok lo tuh!" seru salah satu teman Qarmitha tersenyum lebar.
Garda tampak sudah menunggu di halaman parkir klub yang tidak terlalu luas.
"Ciieeee. Yang punya cowok..." ledek teman yang lainnya tergelak.
"Cuit! Cuit! Cuit!" pekik Yasmin menimpali.
"Rese elo-elo pada. Dia bukan cowok gue keles..." sahut Qarmitha jujur. Namun tidak membuat semua temannya langsung percaya.
"Bokis aja lo. Kalo dia bukan cowok lo, ngapain dia sering antar jemput lo. Kecuali kalo dia tukang ojek." kilah cewek bernama Nadien.
Qarmitha tergelak tidak menanggapi serius.
"Terserah elo mau percaya atau gak. Dia emang bukan cowok gue. Tapi dia itu kakak ipar gue."
"Sumpah demi apa lo?!" tukas Yasmin.
__ADS_1
Qarmitha hanya tersenyum miring.