Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#19


__ADS_3

Hai readers... author coming... with new episode now.


Happy reading...


********************************


Qameella sudah bersiap meninggalkan tempat duduknya. Karena sudah yakin orang yang ditunggunya tidak akan datang. Namun ketika tali tasnya sudah tersampir di atas bahunya, dan bokongnya sudah terangkat meninggalkan kursi. Tiba-tiba seorang pria tampan dengan stelan semi formal mendatangi mejanya.


"Hai, Meella," ujar pria tidak dikenal itu menyapa Qameella.


Hah?!


Gadis yang merasa namanya disebut itu pun mendongakkan wajahnya. Tatapan matanya bersirobok dengan sepasang netra gelap pria itu. Tanpa sadar dia menghentikan gerakkannya sejenak. Speechless.


"Kamu sudah mau pergi, ya?" selidik pria bertubuh ramping, tinggi dan kekar itu. Menyadarkan Qameella dari keterbengongan tidak jelasnya.


Qameella segera menegakkan tubuhnya, menyempurnakan posisi berdirinya dengan benar.


"Ya..., maaf, siapa ya?" bukan menjawab Qameella malah memberi pertanyaan balik. Menunjukkan sikap antipati dan waspada seraya meremas erat tali tasnya. Pasalnya dia sama sekali tidak mengenal pria asing itu. Dan dari mana tahu namanya, sampai tampak begitu luwes menyapanya dengan nama panggilan akrab.


"Oh, maaf, kenalkan namaku Mirza," ungkap pria itu tersenyum ramah, sebenarnya tidak enak hati melihat ekspresi keterkejutan Qameella, juga sikap antipatinya yang seakan memberi dinding pembatas di antara mereka. lalu mengulurkan tangan mengajak berkenalan gadis berkacamata di depannya.


Mirza?


Qameella langsung ingat bahwa pria yang akan dijodohkan olehnya bernama Mirza. Tapi... sungguhkah dia orangnya? Mendadak tidak yakin.


"Oh," gumamnya ringan hampir tidak bersuara. Menjabat tangan pria yang terus saja menatapnya serta membuatnya canggung.


"Meella, Qameella," ucapnya langsung menarik tangannya sendiri dari genggaman hangat tangan pria itu. Gadis itu merinding bersentuhan kulit dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya.


Pria bernama Mirza itu tersenyum kecil melihat sikap kaku dan dingin yang ditunjukkan Qameella.


'Hmm... ternyata kamu masih belum berubah. Masih kaku dan dingin seperti dulu,' batin Mirza memberi komentar.


Diam-diam Mirza sudah banyak mencari tahu informasi tentang Qameella. Sebenarnya bukan karena faktor perjodohan ini. Melainkan sudah kepincut dengan gadis pendiam ini sejak dulu. Tanpa Qameella sadari, Mirza adalah kakak seniornya di kampusnya dulu. Berhubung ketika itu Mirza berada di tingkat akhir, sementara Qameella juniornya yang baru masuk semester satu.


Tetapi lantaran sikap Qameella yang selalu menutup diri dari lingkungan sekitar, serta tidak pernah membuka hati untuk cowok mana pun saat di kampus. Mirza pun tidak berani memaksakan diri untuk mendekati cewek yang mendapat julukan 'THE FROZEN GIRL' di kampus. Selain itu dia tidak mau menjadi cowok patah hati seperti beberapa mahasiswa lain, yang berusaha meluluhkan hati Qameella yang seakan mirip makanan beku.

__ADS_1


Qameella menundukkan wajahnya melihat ke atas meja. Segelas jus yang terlihat masih penuh, karena baru sedikit disesapnya. Sementara kudapan berupa brownis, masih utuh memang belum disentuh sama sekali.


"Kamu gak menyuruh aku buat duduk?" suara Mirza sukses membuyarkan Qameella dari lamunannya. Terkesiap mengangkat pandangannya melihat pria yang tampak bersikap akrab dengannya.


Kontan Qameella mengangkat pandangannya. Bersamaan saat Mirza menarik satu kursi tepat di depan kursi Qameella. Lalu duduk tanpa menunggu izin dari gadis itu.


"Oh, ya. Maaf," Qameella tergagap. Tidak tahu harus berbuat apa bila sudah seperti ini. Alhasil Qameella terpaksa duduk kembali di kursi yang hampir ditinggalinya tadi.


Mirza tersenyum, menikmati kegugupan Qameella yang terlihat tidak dibuat-buat. Apalagi saat melihat Qameella membenarkan posisi kacamatanya, jelas sekali sedang berusaha menghilangkan kegugupannya dengan satu tangan terangkat ke atas.


Inilah momen yang sangat ditunggu Mirza sejak dulu. Duduk di satu meja yang sama dengan Qameella. Gadis yang masih belum berhasil menghilangkan kegugupannya. Saking gugupnya gadis yang duduk di depannya itu, beberapa kali tertangkap basah berdehem lalu berusaha menghindari tatapan mata Mirza yang begitu intens.


"Eh... kamu baru datang atau sudah lama...," susah payah Qameella berpikir mencari bahan obrolan. Namun saat belum selesai mengakhiri kalimatnya Mirza sudah memotongnya.


"Sudah lama. Aku sudah menunggu kamu di sini. Kira-kira..." Mirza melirik benda penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Seakan sedang menghitung waktu sambil bersenandung. "Hmm... tiga... puluh... lima menitan."


Astaga ...


"Jadi? Kamu lihat saya... dari tadi?"


"Yups! Aku lihat kamu mulai dari turun dari taksi. Masuk ke kafe dan semua yang kamu lakukan di sini."


"Maaf, saya gak tahu kalo kamu sampai menunggu lama. Karena Ayah gak kasih saya penjelasan apa pun tentang kamu. Jadi...," sangat malu sekali Qameella mengutarakan alasannya. Bukan hanya terlalu jujur. Tetapi dia tidak tahu cara berbohong.


Mirza tersenyum lebar.


"Ya... aku mengerti bila kamu gak tahu apa-apa tentang aku. Karena aku ingin tahu, apakah kamu masih mengenali aku atau nggak? Setelah cukup lama kita gak ketemu," tutur Mirza membuat Qameella mengerutkan dahi hingga kedua alisnya nyaris bertaut.


Qameella terheran-heran mendengar semua pernyataan Mirza. Pasalnya dia tidak pernah mengenal pria itu sebelumnya.


Mirza mengangkat kedua tangannya ke udara. Lalu membiarkan jemari kiri dan kanannya saling bertaut. Dengan siku sebagai tumpuan berdiri di atas meja. Senyum yang menawan seakan menggoda Qameella. Disertai tatapan hangat mampu menembus lensa kacamata gadis itu. Kemudian Mirza sengaja meletakkan dagunya di atas tautan jemarinya.


"Aku yakin kamu sekarang masih berpikir keras tentang dimana kita pernah bertemu sebelumnya, kan? ujar Mirza menebak isi pikiran Qameella.


Spontan Qameella mengangguk membenarkan.


"Dulu, kita satu kampus, lho... tapi beda tingkat. Kamu baru semester awal. Aku semester akhir. Walau pun kita beda tingkatan, kita berdua sempat beberapa kali ketemu. Sayang, kamu gak pernah merhatiin aku. Padahal, aku sering merhatiin kamu," Mirza sengaja menjelaskan panjang lebar, agar Qameella dapat mengingat semua momen yang pernah terjadi di kampus dulu.

__ADS_1


Tetapi, setelah melihat ekspresi datar wajah gadis itu, sepertinya usaha Mirza sia-sia. Mungkinkah tidak berbekas sama sekali dalam ingatannya? Astaga... huh!


"Maaf, saya gak tertarik dengan hal-hal yang gak penting. Seingat saya sewaktu kuliah, tugas saya hanya belajar. Jadi, mohon maaf bila mengecewakan."


Mirza dibuat speechless dengan ucapan Qameella yang terlalu to the point. Sampai sempat berpikir,


'Pantas saja teman-teman kampus gue pada keok. Oh, begini toh caranya menolak cowok-cowok yang berusaha dekat sama dia? Benar-benar cerdas!'


Setelah beberapa saat keduanya terdiam. Mirza berinisiatif membuka obrolan kembali. Tentu saja mengganti topik lain. Kemudian mengajak Qameella mampir ke rumah Mirza. Dan pria itu sangat bersyukur tidak ada penolakan dari gadis itu.


Selama dalam perjalanan hampir tidak ada obrolan yang terjadi di antara Mirza dan Qameella. Suasana dalam mobil Mirza terasa hening dan kaku. Lantaran Qameella yang lebih banyak diam. Mirza selalu menjadi orang yang membuka pembicaraan. Walau pun pada akhirnya menjadi membosankan sendiri bagi Mirza. Karena Qameella selalu menjawab singkat setiap pertanyaan yang Mirza berikan. Jika tidak jawab 'Ya', jawaban selanjutnya 'gak', atau anggukkan dan gelengan kepala. Benar-benar irit kata.


Suatu ketika di tengah perjalanan ke rumah Mirza. Di perempatan lampu merah, mobil Mirza berhenti menunggu lampu hijau. Kebetulan Qameella sedang melihat ke arah luar dari balik kaca jendela mobil di sampingnya. Tiba-tiba netranya tertuju pada sepasang muda-mudi sedang dimabuk cinta. Keduanya berada di atas motor mirip milik Garda dulu. Remaja lelaki duduk di atas jok motornya dengan jaket dan helm full face yang dibuka kacanya. Kedua tangannya erat memegang stang. Dan kedua kakinya menapak di atas aspal menahan beban kendaraan dan penumpang yang dibawanya. Sementara sang gadis duduk di jok belakang. Kedua lengannya melingkar erat pada pinggang sampai perut pacarnya. Gadis itu pun memakai tipe helm sedikit berbeda, tidak full face seperti sang pemuda.


Tidak ada yang spesial dari penampilan keduanya. Namun kebersamaan mereka dalam satu motor yang samalah yang membuat Qameella tertarik. Terus menatap ke luar jendela tanpa berkedip, sepasang muda-mudi itu yang menjadi titik pusatnya. Karena mereka pula telah membangkitkan kembali kenangan lamanya saat bersama Garda. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk segaris senyum kecil. Tiba-tiba matanya terasa pedih dan berair hingga pandangannya terasa berembun.


Ya Tuhan... mengapa menahan rindu bisa seberat ini? Mungkin bila orang yang kita cintai masih ada, rindu ini gak akan terasa menyayat hati. Sayangnya, dia gak ada. Dan gak bisa kembali untuk selamanya. Garda... saya kangen... Tunggulah saya di keabadian, sayang. Batin Qameella merintih pilu. Angannya melayang melanglang buaya ke negri sana. Membayangkan saat-saat masih bersama Garda.


Mirza menoleh ke arah Qameella yang masih bergeming pada posisinya. Lalu mengikuti arah pandangan gadis di sebelahnya. Tetapi Mirza tidak se-frekwensi dengan Qameella. Pria itu tidak mengerti apa yang sedang dilihat gadis itu. Dia hanya mengerutkan dahi untuk mengekspresikannya.


"Kamu lagi lihatin apa? Kok sampai serius gitu sih?" tanya Mirza iseng.


Qameella terhenyak dari lamunannya. Mengedipkan matanya beberapa kali sebelum berbalik melihat ke sumber suara.


"Ah, hmmm... gak... saya cuma lihat kendaraan di luar aja," jawabnya jujur walau hanya setengahnya.


Karena tidak Qameella mengungkapkan sedang memikirkan Garda pada Mirza, orang yang baru satu jam yang lalu dikenalnya. Dan anehnya, dia mau diajak bertandang datang ke rumah orang tersebut. Padahal dia tipe orang yang susah dan tidak bakalan mau jalan bareng dengan orang yang baru dikenalnya. Mungkin karena diawal Mirza mengungkit Gusti, jadi mau tidak mau, suka tidak suka dia mau sajalah dengan terpaksa tentunya.


Mirza hanya ber 'oh' saja. Walau sebenarnya tidak terlalu percaya dengan jawaban Qameella.


Setibanya di rumah, Mirza langsung mengajak masuk Qameella ke dalam. Lalu mempersilahkan duduk di sofa ruang tamunya yang luas dan mewah. Setelahnya meminta suguhan yang spesial untuk calon pasangannya, pada asisten di rumahnya.


Rona bahagia tergambar jelas di wajah tampan Mirza. Walau pun bukan tipe cewek idaman, dia dianggap telah setengah sukses mendekati Qameella. Si gadis 'Frozen'. Gadis yang pernah membuat teman sekampusnya penasaran setengah mati.


*


Sampai di sini dulu ya episode kali ini readers... maaf ya, author masih sibuk jadi update-nya telat-telat banyak. Harap dimaklum ya...

__ADS_1


Oke. See you next episode...


__ADS_2