
🙋 Hai readers... mumpung author lagi semangat update episode terbaru nih.
Jangan lupa kasih vote, like n komen ya... kalo bisa boom like atau rate 5 nya...
Happy reading...🤗😁✌️
Meella terkejut saat membaca chat dari Mitha. Dia tidak menyangka jika saudari kembarnya akan tahu secepat ini.
Dari mana si Thatha tahu? pikirnya tidak percaya.
"Lo ngomong yang jujur sama gue, siapa dia?" tulis Mitha dalam chat-nya. "elo tenang aja... gue gak bakalan ngadu ke bokap sama nyokap." lanjutnya.
Meella masih belum menjawab. Dia ragu untuk mengakui yang sebenarnya.
"Dia pacar lo, kan?" selidik Mitha.
Drzz... drzz... ponsel Mitha tiba-tiba bergetar. Dilihatnya nama yang tertera di layar "LALA MEELLA". Tanpa menunggu lama, dia langsung menggeser ikon tombol berwarna hijau.
"Tha..." suara Meella terdengar lembut.
"Hmmm..." jawab Mitha dengan bergumam.
"Cowok itu..." Meella menggantung kalimatnya.
"Pacar lo?" sambung Mitha tidak sabaran sambil merubah posisi duduknya.
"Bukan."
"Kalo bukan, ngapain dia nganterin elo pulang?" desak Mitha. "La, gue tahu gimana elo. Elo gak bakal mau naik motor bareng cowok asing, selain sopir ojol. Tapi... dari penampilannya cowok yang tadi sore, gue rasa bukan sopir ojol deh. Dia itu terlalu keren juga modis."
Meella terdiam.
"La... elo gak lagi bohongin gue, kan?" Mitha berusaha mengorek informasi tentang cowok yang tidak bisa dilihatnya dengan jelas. Pasalnya cowok itu memakai helm full face. Walau pun tubuhnya berbalut jaket. Tapi gadis cantik berambut panjang hitam legam itu, masih bisa menebak bahwa cowok asing yang entah siapa adalah anak SMA atau sederajat, berdasarkan dari celana seragam yang dikenakan cowok tersebut.
"La... kita punya ikatan batin yang kuat. Gue bisa ngerasain apa yang elo rasain. Walau pun sekarang gue lagi gak ngerasain ada kebahagiaan, tapi gue ngerasa ada kekhawatiran. Sebenarnya ada apa sama elo?"
"Gue gak papa kali, Tha... cuma gue lagi bingung aja."
"Bingung? Bingung kenapa?" tanya Mitha khawatir.
"Sebenarnya cowok itu... su..."
"Su...?! Su apa?" sela Mitha tidak sabaran.
"Nanti aja deh baru gue cerita. Sekarang gue lagi gak mood buat ngomong banyak." pungkas Meella langsung memutuskan sambungan teleponnya.
Mitha mengerutkan keningnya, geram dengan sikap tertutup saudari kembarnya. Dia benar-benar dibuat penasaran oleh Meella. Ingin rasanya dia datang ke kamar Meella, lalu mendobrak pintunya, serta memaksanya untuk menceritakan semua yang telah terjadi pada gadis yang memiliki rupa nyaris sama dengan dirinya.
Dasar! Kebiasaan banget deh, suka putusin telepon. Padahal dia sendiri yang telepon. Tapi dia juga yang matiin. Gak danta banget sih?! rutuknya dalam hati.
Tiba-tiba Mitha teringat jika dirinya saat ini sedang marah. Walau pun bukan marah pada Meella, dia tetap menjaga image kemarahannya kepada orang tuanya, terutama pada Gusti. Akhirnya dia pun mengurungkan niatnya itu. Dia memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur sambil membuat status di medsos.
@Qarmitha23
❤️ 8756
351
"Sumvah... bete setengah idup... lelah hayati luar dalem 😡😡😠"
Tag: @Yasmine_Putri @Larasatie56 @Amelia_Aze
__ADS_1
Comment:
@Larasatie56 kenapa say... kayanya galau bingtz...
@Yasmine_Putri iya bebz... kongkow-kongkow donk sama kita...
@Amelia_Aze apa kabar duniaku??? Pr lom kelar nihhhh
@Bayu06 ada apa nih emak-emak arisan?? Kayanya ada yang galau-galau manza nihhh
@Yasmine_Putri apaan sih Lo @Bayu06 kuya Lo 😡
@Bayu06 wow... takuttt 😱 ada yang marah ✌️🤗
Mitha hanya membaca komentar-komentar yang masuk, tanpa ada niatan untuk membalas komentar mereka. Secepat kilat postingannya dibanjiri banyak komentar yang ogah dibaca satu per satu. Kemudian dia meletakkan begitu saja ponselnya di atas kasur.
*
Di ruang tamu, Maryam meletakkan secangkir teh hangat di atas meja.
"Yah, diminum tehnya." seru Maryam kepada Gusti yang sedang terdiam merenung. Kemudian duduk di sisi suaminya.
"Makasih, ma..." sahutnya pelan. Meraih cangkir berisi cairan berwarna coklat kemerahan. Lalu menyeruputnya sedikit, dan diletakkan kembali di atas meja.
"Ada apa? Masih kepikiran ucapan Mitha, atau mikirin Meella?"
"Apa selama ini ayah terlalu diktator kepada mereka, ma?" tanya Gusti galau.
"Kok ayah ngomong kaya gitu?" kata Maryam balik tanya.
"Kamu kan bisa lihat sendiri gimana sikap kedua putri kembar kita terhadap terhadap ayah." tuturnya frustasi.
Maryam mengelus punggung suaminya lembut, seakan sedang menenangkan dan memberikan kenyamanan.
"Kedua, Lala yang menurut ayah penurut dan gak banyak tingkah seperti Thatha. Melihatnya seperti itu ayah senang. Karena sikapnya mampu memberikan ketenangan, menghilangkan rasa khawatir ayah terhadapnya. Tetapi, apakah benar sebenarnya Lala gak bahagia ma?"
"Ayah... sebaiknya ayah jangan terlalu banyak mikir. Kedua putri kembar kita sekarang sudah tumbuh dewasa. Mama yakin mereka bisa menjaga diri mereka sendiri. Mungkin pesan inilah yang coba disampaikan Thatha, yah..." sahut Maryam lembut.
"Makanya, Thatha bersikap keras kepala dan suka membantah kita." lanjutnya memberikan penjelasan. "untuk Lala, tadi juga sudah bilang, kalo apa yang dilakukannya selama ini adalah bentuk rasa sayangnya kepada kita."
Gusti terdiam, mencerna kata demi kata yang diucapkan istrinya.
"Sekarang dan selanjutnya adalah mendoakan mereka agar selalu berada di dalam lindungan Allah. Dan selalu menempuh jalan yang ridhoi-Nya."
Gusti merangkul bahu istrinya hangat.
"Terima kasih, ma. Karena mama selalu membuka pikiran ayah."
"Sama-sama, yah..." Maryam mengelus lengan Gusti yang masih bertengger di bahunya. Lalu saling melemparkan senyum.
*
Meella tampak dilanda kegalauan akut. Gara-gara hubungannya dengan Garda yang tanpa disengaja, kini sukses bikin kepalanya tujuh keliling (mirip orang lagi tawaf di depan Ka'bah 🤭). Kalau saja pertemuannya dengan Garda pada malam itu, mungkin kejadiannya tidak serumit ini.
Apalagi tadi sore cowok sok gentle itu tiba-tiba datang menjemputnya di depan sekolah. Entah dari mana dia tahu bahwa Meella bersekolah di situ. Padahal setelah terakhir berpisah baik Garda dan Meella tidak ada pembicaraan yang serius. Jangankan kasih tahu alamat. Kenalkan secara umumnya orang kenalan saja tidak.
Aneh bin ajaib banget tuh cowok bisa tahu!
Tidak lama berselang, ponsel Meella berdering. Terdengar suara merdu Charly Van Houten, vocalis Setia Band.
Mata ini indah melihatmu
Rasa ini rasakan cintamu
Jiwa ini getarkan jiwamu
__ADS_1
Jantung ini detakkan jantungmu
Dan biarkan aku padamu
Menyimpan sejuta harapan aku padamu
Rasa ini terus padamu
Tak 'kan berhenti sampai nanti Kumari
Biarkan aku jatuh cinta
Pesonamu pada pandangan saat kita jumpa
Biarkan aku 'kan mencoba
Tak peduli kau berkata 'tuk mau atau tidak
Lama Meella membiarkan ponselnya berdering sambil menatap nama pada layar. Di situ tertulis nama asing 'SW4MY QW'. Dahinya berkerut mencoba mengingat siapa si empunya nama tersebut. Tetapi dia merasa tidak pernah menamai nomor kontak yang ada dengan nama tersebut.
Akhirnya dia memutuskan menerima panggilan itu dengan ragu-ragu.
"Ha... halo?"
"Hei, bini. Lo dari mana aja sih, lama banget angkat teleponnya?" protes suara dari seberang sana. Terdengar tidak terlalu familiar di telinganya.
"Bini?" ucap Meella menekan suaranya.
"Ck! Elo gimana sih, baru empat jam berpisah udah ngelupain gue. Gimana kalo gak ketemu bertahun-tahun, amnesia kali lo ya?" decaknya orang di seberang terdengar kesal.
Meella terdiam seraya mengingat kembali. Siapa orang yang telah ditemuinya sebelum empat jam yang lalu.
"Heh, heh... kok elo diam aja?" tegurnya menghenyakkan Meella dari lamunan.
"Gue lagi ngomong sama elo ya. Bukan ngomong sama kuburan." hardiknya tidak terima didiamkan.
"Sori, mungkin elo salah sambung." ujar Meella tidak ingin meladeni ocehan orang yang menurutnya tidak penting.
"Wei, tunggu! Tunggu! Tunggu!" sergahnya cepat berhasil menghentikan aksi Meella yang hendak mematikan ponselnya.
"Ini gue, laki lo... masa gitu aja gak konek sih?"
"Laki?"
"Iya. Suami, suami."
"Suami?"
"Iya. Lola banget sih lo?"
Hh?! Jadi dia...
"Gue Garda. Su-ami Lo, bini?!"
Ya ampun, dari mana dia tahu nomor gue? Gue kan gak pernah kasih ke dia?
"Bini... elo masih napas kan?" tanyanya bingung.
Bodoh amat ah, jangan kan nomor gue, sekolah gue aja dia tahu. Tapi, ngapain juga dia panggil gue bini lagi?
"Bini... elo gak papa kan kalo gue panggil begitu? Anggap aja ini panggilan sayang dari gue."
Meella hanya mendengus berat, dan suara hembusan nafasnya dapat didengar oleh orang yang berada di ujung telepon sana.
__ADS_1