Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Setia Nih????


__ADS_3

Pukul dua dini hari.


Di saat semua teman-temannya tengah terlelap dalam buaian mimpi. Garda tampak masih terjaga sendiri. Duduk termenung di teras depan basecamp-nya sambil menikmati angin malam yang seakan menusuk tulang. Cowok ganteng itu tengah asyik mengisap sebatang rokok filter favoritnya yang sudah tersisa hampir setengah.


Ryan terbangun dari mimpinya. Lalu membuka matanya lebar-lebar seraya meregangkan kedua tangan dan kakinya secara bersamaan yang terasa kaku. Tanpa sengaja netranya mengabsen satu per satu temannya yang masih tidur tapi terlihat seperti tidak bernyawa. Lantaran mereka tidak menyadari bagaimana posisi tidur masing-masing saat ini.


Di basecamp ini memang tidak ada tempat tidur khusus yang nyaman layaknya di rumah. Mereka hanya bisa menggunakan sofa panjang dan sofa tunggal. Atau menggunakan matras yang tidak terlalu tebal.


Mendadak Ryan tidak mendapati Garda di sana. Tempat tidurnya kosong tanpa penghuni. Entah kemana gerangan dia perginya. Kemudian cowok itu tidak sengaja melihat pintu utama basecamp agak sedikit terbuka. Dan dia bisa menebak keberadaan sang ketua geng, yang kerap dipanggilnya 'Bos Bro'.


"Kenapa lo, Bos Bro?" tegur Ryan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur. Bergerak maju lalu duduk di sisi Garda. "gak ngantuk apa?"


Garda hanya menoleh sekilas lalu menghisap batang rokoknya kembali. Tatapan matanya hampa terarah ke jalan raya yang sudah lengang tanpa adanya aktifitas lagi.


"Gak bisa tidur," sahutnya singkat.


"Lagi mikirin apa sih, lo sampe suntuk kaya gini? Masalah Nyonya Bos lagi?" terka Ryan seakan bisa membaca pikiran Garda.


Cowok itu hanya tersenyum miring menanggapi tebakan Ryan. Dia tidak membenarkan juga tidak menyangkalnya.


"Ada masalah apalagi sih? Perasaan sebelum gue pulang kampung hubungan elo sama dia baik-baik aja," telisik Ryan. Dia tidak menyangka jika hubungan ketua gengnya dengan Qameella masih belum stabil. "Nyonya bos cemburu lagi? Minta putus lagi?"


"Tebakan elo emang benar. Tapi... untuk masalah saat ini lebih serius," jawab Garda pada akhirnya.


"Serius?" ujar Ryan mengulangi. "seserius apa?"


"Kemarin Bini, maksud gue Meella lihat gue jalan bareng sama Mitha," kata Garda mulai bercerita.


"Sumpah demi apa lo?" pekik Ryan terkejut. "elo selingkuhin Nyonya Bos? Wah, benar-benar tega lo. Anjir, bangsat juga lo!"


"Ya nggak lah... ngapain gue selingkuh sama orang yang sama. Mending gue cari cewek lain aja sekalian," kilahnya.


"Nah, terus ngapain elo jalan sama si Mitha? Udah gitu di depan mata bini lo lagi."


"Itulah gobloknya gue," rutuknya pada diri sendiri seraya merubah posisi duduknya. "ternyata gue masih belum bisa bedain mana bini gue sama si Mitha. Dan brengseknya lagi, gue gak tahu kalo bini gue lihat tanpa sepengetahuan gue. Gue jadi inget waktu pertama kali bini gue minta putus sampai balikin kalung maskawin dari gue."


"Masa sih, kapan?" tanya Ryan antusias.


"Elo ingat gak waktu kejadian di lapangan futsal?" Ryan mengangguk cepat setelah sekian detik mengingat momen itu. "waktu itu gue abis diputusin sama dia."


"Oh, pantesan elo digaplok sama dia. Tapi... bukannya itu gara-gara elo cium dia paksa?"


"Salah satunya. Intinya dia marah sama gue ternyata gue udah seminggu lebih salah ngajak jalan orang."


"Itu sih emang salah elo, Bos."


"Tapi waktu itu gue gak tahu dia punya kembaran yang juga sekolah di sekolah yang sama, Keling..."


"Alah... buktinya aja sekarang elo masih salah alamat. Padahal elo udah tahu kalo Bini lo punya kembaran kan?"


"Iya sih. Gue emang goblok!" Garda memukul kepalanya sendiri.


Ryan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah polah Garda yang sudah mirip anak SD.


"Terus memar di muka lo?" Ryan memang sedari awal bertemu Garda penasaran dengan lebam di pipinya. Walau tidak terlalu kentara namun terasa janggal di wajah mulusnya. Dan Garda pun selalu menghindar setiap kali ditanya mengenai hal itu.


"Oh, ini dipukul orang tadi sore," sahut Garda jujur seraya menyentuh pipinya yang terkena tamparan.

__ADS_1


"Serius lo? Wah, benar-benar cari mati itu orang. Emangnya itu orang gak tahu siapa elo?"


"Ya nggak lah. Elo pikir gue artis sinetron yang lagi naik daun, apa?"


"Tapi kan elo ketua geng ABABIL yang paling ditakutin. Ya udah, kalo elo gak mau bales itu orang. Biar gue sama anak-anak yang nyerang biar dia kapok sekalian," tutur bocah berkulit sawo matang itu bak pahlawan.


"Udah, gak usah. Kalo pun gue kasih tahu, elo juga gak bakalan mampu melawan itu orang. Lagian ini emang pure kesalahan gue kok," kata Garda menjelaskan.


Sebenarnya Ryan masih geram dengan orang yang berani dengan ketua gengnya. Namun Garda tidak mau masalah kecil ini menjadi melebar. Dia sangat menyadari dengan kesalahannya.


"Terus, elo sekarang yakin masih setia nih?" tanya Ryan iseng.


"Ya iya lah, gue setia. Kalo gak ngapain gue sedih begini," sahut Garda sewot.


"Mantul, mantul Bos Bro," puji Ryan mengacungkan dua ibu jari tangannya.


Entah sampai jam berapa Garda dan Ryan terlibat pembicaraan hangat. Ngalor ngidul tak tentu topik apa yang mereka bicarakan. Menjelang subuh mereka memutuskan masuk ke dalam basecamp. Merebahkan dan meluruskan badan yang terasa kaku setelah semalaman terkena angin malam.


*


Liburan sekolah masih tersisa satu minggu lebih lagi. Sudah tentu masih ada waktu untuk bersantai. Terbebas dari buku-buku pelajaran yang membosankan. Juga tidak perlu kontak langsung dengan orang-orang malas ditemui. Tidak perlu disebutkan satu persatu. Khawatir ada pihak-pihak yang tersakiti nantinya. Cukup Tuhan dan pribadi masing-masing. Betul gak, guys?


Hari ini Gusti memutuskan tidak berangkat ke restoran, karena kondisi Gusti yang masih kurang baik. Kemungkinan hanya Maryam yang pergi ke restoran untuk mengawasi para anak buahnya di sana. Pria itu sengaja tidak keluar kamar. Bahkan sarapan pun dilakukan di atas tempat tidur. Dia tidak mau melihat Qameella. Salah satu anak kembarnya yang diam-diam sudah melukai hatinya.


Qameella sedih tapi mau menunjukkan air matanya di depan anggota keluarga yang lain. Saat melihat kursi makan yang biasa diduduki Gusti kosong. Maryam pun tidak pandai menenangkan hati sang putri. Hanya membiarkan anak gadisnya menangis dalam diam.


Sementara Qarmitha tidak sedikit pun menunjukkan sikap simpatiknya pada Qameella. Sesekali dia hanya melontarkan kalimat yang hanya menyudutkan sang saudari kembar. Akhirnya hanya membuat hati Qameella terpuruk. Dan lagi, dia hanya menyimpannya sendiri dalam hati.


Setelah selesai sarapan Qameella ikut Maryam pergi ke restoran untuk bantu-bantu di sana. Sedangkan Qarmitha memilih menyusun rencana hang out dengan teman-temannya.


*


"Kita mau kemana sih sebenarnya? Kaki gue capek nih cuma muter-muter doang gak ada tujuan. Perut gue juga laper lagi," keluh Amelia pada ketiga temannya, Qarmitha, Yasmin dan Sarah. Entah apa yang sedang mereka cari sedari tadi, sepertinya dia tidak tahu.


"Ya ampun Amel... berisik banget sih? Lebay tahu gak si lo?" umpat Sarah ketus. "malu tahu dilihatin orang-orang."


"Ck. Ngapain sih pada berisik aja elo berdua?" decak Yasmin menoleh pada kedua temannya yang tengah berjalan berdampingan.


"Ini nih, Yas. Si Amel rese. Katanya kakinya capek lah, laper lah. Ih, nyebelin!" sahut Sarah sengit.


"Apaan sih lo, Sar. Emangnya elo gak ngerasa capek apa? Emangnya kaki lo kaki robot gitu, yang kuat gak bisa capek?" sanggah Amel tidak kalah sengit.


"Ya udah, udah, ayo kita makan," cetus Yasmin menenangkan mereka.


Qarmitha hanya mengerucutkan bibir dan langsung ikut saja tanpa protes. Sepasang netra gelapnya menyisir ke seluruh penjuru. Gadis itu memang sudah sedari tadi gelisah karena belum menemukan yang dicarinya. Dalam hati dia merasa bersalah dengan teman-temannya, terutama Amelia. Lantaran keegoisannya mereka semua yang jadi korban.


Yasmin dan Amelia sudah memilih menu yang akan mereka pesan. Qarmitha dan Sarah memilih menyamakan pesanan. Memang selera mereka berempat tidak jauh beda.


Tidak lama berselang. Sepasang muda-mudi masuk dan duduk di restoran yang sama dengan Qarmitha and the gengs. Binar bahagia berpendar di mata Qarmitha.


"Pucuk dicinta, ulam pun tiba," bisik Qarmitha dengan suara sangat pelan.


*


Rumah Makan Kesengsem Cinta Kembar


Qameella baru saja selesai mengantarkan pesanan pada pelanggan saat ponselnya tiba-tiba berdering. Setelahnya menggeser ikon tombol warna hijau pada layar ponselnya.

__ADS_1


"Halo?"


"Elo dimana?" tanya suara di seberang to the point.


"Gue lagi di resto," jawabnya jujur.


"Cepetan elo ke sini. Pokoknya dalam waktu sepuluh menit elo harus udah sampai di sini. Buat lokasi entar gue share loc," titah suara di ujung sana tanpa memberi kesempatan Qameella untuk menyela, langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


Beberapa detik kemudian dari nomor yang sama, muncul notifikasi berupa gambar. Oow... gambar yang membuat memecah belah bangsa. Bukan gambar vulgar tapi gamba sepasang muda-mudi yang tengah duduk berdua di sebuah restoran. Wajah sang pemuda terlihat sangat familiar karena mirip sekali dengan wajah Garda. Sementara wajah sang pemudi tidak terlalu jelas.


Kemudian di bawah gambar tertulis, 'cepet elo datang ke sini kalo elo gak mau nyesel dikemudian hari'.


Qameella meragu dengan foto dan pesan yang baru saja dikirimkan oleh Qarmitha. Namun dia harus pergi untuk memastikan agar semuanya menjadi jelas. Akhirnya, dia membulatkan tekad datang ke tempat yang dimaksud Qarmitha. Meninggalkan semua aktifitasnya di restoran dan masih menggunakan seragam pelayan tentunya.


*


Basecamp geng ABABIL. Jam 11 siang.


Garda masih terlelap di pembaringannya padahal matahari sudah meninggi. Sedangkan Ryan, Tikeng, Buchek dan Akew sudah bangun sejak subuh tadi. Sebenarnya Garda sudah bangun bareng dengan teman-temannya untuk menunaikan sholat subuh berjamaah. Berhubung masih mengantuk jadi dia tidur lagi, melanjutkan mimpinya yang terpotong tadi.


Tiba-tiba tidur Garda terganggu dengan suara dering ponselnya yang terasa memecah gendang telinganya. Seandainya dia tidak melihat nama yang tertera di layar ponselnya, mungkin ponselnya sudah melayang entah kemana. Wajahnya berbinar cerah karena jarang-jarang mendapat telepon dari Qameella.


Buru-buru dia beranjak duduk. Mengusap wajahnya kasar mengusir belek dan iler yang mungkin bertengger di sudut wajah tampannya. Kemudian berdehem agar suaranya tidak terdengar serak. Dengan cepat menerimanya.


"Halo, Bi... sayang..." ujarnya lembut.


"Elo ada dimana sekarang?" tanya dari seberang tidak sabaran.


Saat ini Qameella sudah ada di dalam restoran bersama Qarmitha and the gengs, sambil mengamati sepasang muda-mudi yang diindikasi adalah Garda bersama cewek lain. Dalam hati dia kurang percaya jika cowok itu Garda. Mengingat sang suami punya saudara kembar yang kemiripan mereka bagai pinang dibelah dua. Apalagi penampilannya yang sedikit berbeda dari Garda yang biasanya.


Tetapi saat dia mencoba menelepon Garda. Secara bersamaan ponsel cowok itu berdering dan langsung mengangkat teleponnya. Membuat goyah keyakinannya.


Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Qameella. Sedih, tentu saja. Belum beres masalah kemarin sekarang ditambah masalah baru. Mungkinkah Garda tipe cowok brengsek dan buaya? Dasar buaya darat!


"Ada apa sih Biniku sayang... kangen ya, sama suami kamu yang ganteng ini?" ucapnya narsis sambil terkekeh konyol. Dia sangat lega akhirnya bisa berbaikan dengan Qameella.


"Ih, narsis!" sungut Qameella kesal.


"Bukan narsis sayang... ini kenyataan kok."


"Bodo amat!" bentak Qameella kasar.


"Lho, kamu kok jadi emosi gitu, Bi?" tanya Garda tidak mengerti.


"Elo mau hubungan kita berakhir sampai di sini atau berlanjut?" penawaran yang membingungkan dan membuat suaminya tercengang.


"Lanjutlah Bi... saya gak mau kita pisah."


"Ya udah, kalo masih mau lanjut. Sekarang elo harus cepat datang ke sini. Dalam waktu lima belas menit gak nyampe kita langsung bubar," tukasnya.


"Bi, Bi, plis jangan tega begitu sama saya. Waktunya sesingkat itu mana mungkin kekejar?" Garda mencoba bernegosiasi.


"Maaf, gue gak bisa bermurah hati. Kalo gak sanggup ya terserah, gak papa," suara Qameella terdengar bergetar menahan tangis. " gue gak akan maksa kok."


"Oke, oke, saya ke situ sekarang," sergahnya cepat, beranjak berdiri.


"Oke. Gue share loc tempatnya," ujar Qameella sebelum menutup sambungan teleponnya.

__ADS_1


Garda mendengus resah. Kemudian segera beranjak pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi agar tidak bau jigong. Setelah bergegas pergi membelah jalan raya yang cukup padat tapi tidak terjadi macet. Demi orang yang dicintai dia bela-belain bawa motor sampai ngibrit.


__ADS_2