
Happy reading
Garda dan Rega masuk hampir bersamaan melewati ruangan demi ruangan. Tentu tidak mudah melewatinya karena harus baku hantam dulu dengan para anak buah si penculik yang menyebar hampir di seluruh ruangan. Dan keduanya harus memenangkan setiap perkelahian itu walau selalu kalah jumlah mereka yang banyak, hobi mereka selalu main keroyokan bisanya.
Demi bisa menyelamatkan entah Meella atau Mitha, mereka belum tahu jelas. Merujuk dari keyakinan masing-masing. Jika Garda berdasarkan surat kaleng dan foto serta video yang didapat dari penculik mengatakan Meella ada di tangan mereka. Berbeda dengan Rega yang mengetahui dari pantauan cctv apartemen tempatnya tinggal. Ditambah selama drama penculikan ini terjadi, Meella dan Mitha tiba-tiba hilang begitu saja bak ditelan bumi.
Baik Rega maupun Garda konsisten dapat mengatasi permainan mereka. Peluh bercucuran yang membasahi kening, tidak dihiraukan oleh Garda dan Rega. Tenaga pun mereka kerahkan tanpa ada yang kurang sedikit pun. Agar misi penyelamatan ini dapat mereka menangkan dengan membawa pulang Meella atau Mitha dalam keadaan selamat, sehat wal Afiat.
''AAAKKHHHRRGGHHHH.''
Terdengar pekikan pilu seseorang begitu jelas di telinga Rega. Begitu pun Garda beserta beberapa orang yang masih belum bisa ditumbangkan oleh Negara bersaudara itu. Mengalihkan atensi mereka semua mencari sumber suara.
Deg
Jantung Rega seakan ingin melompat keluar dari sarangnya. Tanpa pikir panjang dia berlari sekuat tenaga, setelah selesai menumbangkan satu orang terakhir yang menjadi lawannya.
Garda ingin segera menyusul namun harus menyelesaikan tugas terakhirnya terlebih dahulu, sebelum dia bisa menyusul kembarannya.
PRAAAAANNKKKK
Sebuah gelas kotor yang baru saja di letakkan di atas westafel cucian piring, bersama piring dan gelas kotor yang lainnya. Tiba-tiba pecah berhamburan menyentuh lantai keramik di kaki Maryam.
Rencananya wanita paruh baya itu akan mencuci semua piring, dan gelas serta perlengkapan makan kotor lainnya. Setelah sebelumnya menyelesaikan makan siang bersama sang suami di meja makan. Tapi siapa sangka karena insiden kurang kehati-hatiannya yang meletakkan gelas tersebut terlalu ke pinggir. Alhasil menciptakan gelas utuh terburai menjadi pecahan tak beraturan.
Degg
Entah mengapa perasaan Maryam mendadak tidak enak. Seperti sesuatu yang buruk telah terjadi.
''Ada apa, Ma?'' tegur Gusti dengan gurat kepanikan menatap sang istri tengah memunguti serpihan dari gelas kaca yang lebih besar. Sementara serpihan halusnya nanti akan disapu menggunakan sapu ijuk dan pengki.
Dengan wajah sendu Maryam mendongakkan wajahnya, menatap wajah suaminya yang juga sedang menatapnya cemas.
''Maaf ,Yah, Mama gak sengaja,'' sesalnya kembali menundukkan wajahnya dengan tangan masih memunguti serpihan tersebut.
''AKHH!" tiba-tiba Maryam memekik kesakitan saat ujung jari telunjuk kanannya tidak sengaja tertusuk pecahan gelas yang runcing dan tajam.
"Hati-hati, Ma," seru Gusti khawatir.
Pria itu ikut berjongkok di samping sang istri seraya meraih jarinya yang berdarah. Lalu menghisap jari itu sampai tak mengeluarkan darah lagi.
"Sudah. Sebaiknya Mama tutup dulu lukanya pakai plester. Biar ini Ayah yang membersihkan," titahnya penuh perhatian.
Tanpa diminta dua kali Maryam pun melakukannya. Bangkit berdiri kemudian berjalan mencari kotak p3k di sudut dapur. Setelahnya dia melakukan apa yang diminta Gusti, setelah sebelumnya sedikit meneteskan obat merah di lukanya.
__ADS_1
BRAKK
CRANGGG
PRAKK
Gusti telah selesai membersihkan kekacauan yang ada. Membuang beling ke tong sampah yang ada di pojok dekat pintu dapur. Lalu meletakkan sapu dan pengki di tempat biasa istrinya menyimpan.
Maryam tersenyum saat melirik suaminya yang tampak luwes mengerjakan pekerjaan yang terbilang tidak rumit juga tidak mudah seperti itu. Karena butuh ketelitian dan kesabaran untuk menyapu semua beling dan serpihannya agar tidak melukai kaki.
''Ayah, biarkan saja piringnya biar Mama yang cuci,'' sergah Maryam saat mendapati sang suami malah menyabuni piring kotor dan kawan-kawan satu persatu dengan spons basah oleh sabun pencuci piring.
''Gak papa, Ma. Jari Mama kan terluka, nanti pedih lho kalo terkena sabun begini. Sudah, biar Ayah saja yang mencucinya. Mama duduk manis saja di sana, lihatin Ayah mencuci sampai selesai,'' sanggah Gusti dan menunjuk tempat duduk dengan mengayunkan dagu pada istrinya.
''Tapi, Yah... ini cuma luka kecil. Gak sampai buat Mama menderita banget,'' sahut Maryam tidak ingin menurut perintah sang suami.
Gusti mendelik kesal menghadapi istrinya yang mulai mode keras kepalanya. Namun tetap melanjutkan pekerjaan itu hingga selesai.
Ya Allah, semoga gak terjadi apa-apa pada keluarga kami. Berilah keselamatan untuk kedua putri kami yang kini jauh dari jangkauan kami. Batin Maryam memanjatkan sebaris doa untuk kebaikan keluarganya.
*
Andika terpekur sendiri di dalam ruang kerjanya. Dia masih merenungi semua ucapan Rega. Tak menyangka ucapan salah satu putra kembarnya sangat membekas di sanubari hatinya yang tidak tersentuh.
''Ingat, Pa. Dendam tidak bisa buat orang bahagia. Tapi merusak badan juga akal pikiran. Apakah Papa tidak ingin menikmati masa tua bahagia, bersama anak, mantu dan cucu-cucu Papa? Juga istri?'' Rega sengaja melemahkan kata 'istri' di ujung pernyataannya.
Hati kecil Andika tersentuh, dan ingin mengikuti saran Rega. Namun egonya melarangnya. Perang batin pun terjadi dalam dirinya.
''Lepaskanlah gadis itu. Tolonglah Papa. Siapa tahu dia istriku, menantu Papa. Atau bisa jadi dia Meella. Gadis yang selalu Papa tolak keberadaannya. Karena mereka berdua juga kembar identik sama seperti aku dan Garda.''
Perasaan Andika kian bergejolak dengan pernyataan mengiba Rega. Membuat hatinya bimbang dan meragukan atas apa yang sudah dilakukannya hingga titik ini.
''Satu lagi, Papa harus tahu saat ini Meella sedang mengandung pewaris garis keturunan Negara. Yaitu cucu Papa,'' raut sedih nan melankolis ditunjukkan Rega untuk mempengaruhi hati sang Papa yang keras bak batu cadas.
''Sedari kecil aku tidak pernah meminta apa pun pada Papa. Maka dari itu, tolonglah Papa. Bantu kami. Terutama aku. Aku sangat khawatir dengan keadaan istriku. Untuk kali ini, kabulkan permohonanku ini,'' Rega begitu mengiba hingga rela turun dari duduknya, berlutut di depan Andika.
Lagi, hati Andika kembali goyah.
Andika bangkit dari singgasana nyamannya. Beranjak keluar meninggalkan ruang kerjanya. Sambil berjalan menuju pintu keluar dia mengeluarkan benda pipih yang bersemayam di dalam saku celana kainnya. Mendeal satu nomor.
''Cepat antar aku ke tempat itu,'' titahnya yang tidak bisa dibantah siapa pun. Dan tanpa menunggu jawaban dari seberang, dia langsung mengakhiri panggilannya secara sepihak.
Di depan rumah, sebuah mobil mewah sudah menantinya. Si sopir segera membukakan pintu saat sang majikan berjalan menuruni undakan anak tangga. Kemudian menutupnya setelah si tuan besar sudah duduk manis di dalamnya.
__ADS_1
Buru-buru si sopir yang sudah bekerja puluhan tahun dengan Andika, setengah berlari mengitari depan mobil, lalu masuk dan duduk di kursi kemudi. Menyalakan mesin mobil dan bergerak keluar meninggalkan pelataran luas mension mewah Andika.
*
BRAKK
''Mitha!'' tiba-tiba Rega mendobrak pintu dari luar. Hingga pintu itu nyaris terlepas dari engselnya, karena terlalu kuat tendangan yang diberikan. Kasian pintunya tidak salah apa-apa tapi kena amukan ganas si dokter tampan bagai singa lapar.
Sontak semua orang yang ada di dalam situ menoleh ke sumber suara. Satu detik mereka hanya saling beradu pandang. Tapi detik berikutnya mereka tersadar, bahwa kedatangan Rega adalah ancaman. Mereka pun langsung menyerang.
Rega yang kalap tidak mudah ditaklukkan. Dengan tenaga yang masih full dia menghajar mereka tiada ampun.
''Hahahaha...'' tiba-tiba terdengar suara tertawa puas seorang wanita. Entah berada di mana tepatnya. Yang jelas sangat dekat di rungunya.
''AAAKKHHHRRGGHHHH,'' disusul suara pekikan pilu kesakitan terdengar menyayat hati.
Kontan sepasang mata coklat Rega memindai mencari sumber suara. Dan... apa yang telah dilihatnya sungguh memporak porandakan hatinya.
''MITHA....'' pekiknya saat wanita gila di depan istrinya mengangkat pisau berlumuran darah ke udara. Seketika tubuh Rega membeku. Dia pun sampai lupa bernapas karena terlalu syok melihat wanita kesayangannya dilukai hingga berlumuran darah.
Si wanita gila pun menolehkan wajahnya ke belakang, seraya memutar sedikit badannya dengan seringai iblisnya. Dia begitu puas telah menusuk perut Mitha hingga darahnya terburai, bukan hanya menyiprat di tangan melainkan sampai menodai wajah cantiknya.
Tetapi senyum itu hilang seketika berubah kaku melihat seorang pria yang begitu mirip dengan Garda.
''Eh..., Sayang, ini gak seperti yang kamu lihat. A-aku, aku bisa jelasin kok semuanya,'' ujarnya dengan wajah piasnya.
''AAKKHRRGGHH... BRENGSEK!" pekik Rega frustasi.
"HIAAAAATTTT."
BUUGGHHH
BUUGGHHH
BUUGGHHH
Rega langsung menerjang mereka semua tanpa ampun, lalu jatuh terkapar di lantai. Begitu pula dengan wanita gila yang sudah tega melukai istrinya.
*
Duh tegang nih...
Hai readers... sampai di sini dulu ya episode kali ini. Jangan lupa tinggalkan jejak cantik kalian ya...
__ADS_1
See you next episode 😘🥰❤️❤️🙏