Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Terdampar di Tempat Asing


__ADS_3

Anggota geng Endoy terus berlari tidak tentu arah mengejar Garda dan Qameella. Mereka sangat kecewa telah


kehilangan jejak Garda. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke tempat semula.


Setelah memastikan kondisi benar-benar aman Garda keluar dari persembunyiannya.


"Udah aman, ayo keluar!" titahnya  setengah berbisik menarik lengan Qameella keluar dari persembunyian. Gadis itu pun keluar dari gang sempit dan gelap dengan hati-hati.


Wajah Qameella tampak sangat pucat dan lelah. Hembusan nafasnya yang memburu perlahan mulai teratur. Hatinya diliputi rasa takut yang mencekam. Walau pun kondisi seperti ini pernah dialami sebelumnya. Namun tetap saja menghadirkan rasa takut yang luar biasa baginya.


Gadis yang tidak suka film action itu, benar-benar dibuat sport jantung bak film mafia yang ada di bioskop atau tv. Dia sangat benci berada dalam posisi seperti ini. Akibatnya kedua lututnya sudah lemas tidak bertenaga, setelah melakukan lari maraton yang entah sudah berapa mil jarak yang ditempuhnya. Semoga saja dia tidak berada dalam kondisi seperti ini kedepannya.


Rasa haus pun terasa mendera. Seakan menagih seteguk air untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Beberapa kali Qameella menelan salivanya susah payah untuk membasahi tenggorokkannya yang kerontang.


Ya Tuhan… mimpi apa semalam? Batin Qameella lirih. Merapikan tali tasnya yang merosot dari pundak sebelah kirinya.


Lelah, letih dan sakit pada sepasang kaki jenjang Qameella. Perlahan dan pelan-pelan dia mulai merasa bergetar. Mungkinkah dia terserang tremor?


Qameella ingin segera pulang, merebahkan diri di atas tempat tidurnya yang empuk. Kalau bisa ada yang mau memijat kakinya yang capek dan kebas.


“Tha, jemput gue…” lirihnya di dalam hati.


By the way. Tiba-tiba terbersit ide di benak Qameella untuk meminta bantuan Qarmitha. Dia yakin saudari kembarnya itu mau menolongnya. Walau pun tidak tahu tentang alamat apalagi letak lokasi keberadaannya kini. Namun dia optimis Qarmitha bisa menemukannya dengan mudah.


"Yah, cukup kirim share loc aja!" cetus batinnya yang langsung dilanjuti membuka tas kecilnya yang talinya masih menjuntai dan tersampir di atas bahunya.


Ups! Dimana ponsel gue? Qameella tidak menemukan ponselnya di dalam tas. Hanya kunci rumah, dompet, dan kacamata minusnya yang tersedia.

__ADS_1


Garda masih bersikap waspada. Cowok itu khawatir kalau mereka akan kembali menyerangnya. Sorot matanya yang tajam bagai Elang sedang membidik mangsa. Pandangannya menyisir ke seluruh penjuru.


"Mampus gue!" decak Qameella panik. Serta merta Garda menoleh ke sumber suara.


"Kenapa lo, kaya orang kebakaran jenggot gitu?" telisik Garda mengakrabkan diri. Tetapi gadis itu mengacuhkannya. Memilih tetap fokus pada isi dalam tasnya.


"Dasar cewek!" Garda tersenyum miring meremehkan. Setelah itu dia memilih diam hanya memperhatikan gadis yang ada di hadapannya sambil duduk di atas teras rumah orang.


Wajah Qameella bertambah pucat dengan kepanikan yang tiba-tiba menyerangnya. Pasalnya dia tidak dapat menemukan ponselnya. Itu artinya tidak bisa menghubungi Qarmitha, apalagi meminta dijemput.


Qameella melirik cowok yang mirip sekali dengan Rega. Cowok yang sudah membuatnya jatuh cinta. Panas dingin seperti air mendidih yang diberi balok es. Pokoknya rasa yang ada di dalam dada gadis itu tidak karuan. Seperti permen yang ramai rasanya.


"Kenapa lo ngelihat gue segitunya? Naksir ya sama gue?" selidik Garda penuh percaya diri saat merasa dirinya sedang diperhatikan.


Deg! Degup jantung Qameella berdetak bertambah kencang dan tidak beraturan ketika mendengar ucapan Garda. Buru-buru dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Aneh, kenapa nada bicara Rega jadi agresif juga to the point begini? pikirnya tidak mengerti.


Kenapa gue merasa sedang berhadapan dengan orang yang berbeda? Ah, mungkin cuma perasaan gue doang kali. Tapi... apa iya Rega seperti ini bila diluar sekolah?


Qameella memperhatikan cowok itu lagi dengan seksama. Semua yang dilihatnya dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah Rega. Bedanya penampilannya lebih terlihat urakan dibandingkan dengan Rega yang selalu tampil rapi dan perfek.


Celana jeans belel robek dibagian lutut. Kaos putih polos dipadukan kemeja lengan panjang tanpa dikancing. Juga jaket yang telah ditanggalkan dan ditaruh di atas pahanya sendiri. Rambut pendek dengan bagian depan menutupi kening, jatuh berantakan. Mungkin karena efek habis lari tadi.


Eh, BTW. Kenapa dia dikejar-kejar banyak orang tadi, ya? Mereka semua kelihatannya sangar dan ganas. Apa dia punya perselisihan dengan mereka? Tapi... kenapa gue jadi ikutan kebawa-bawa? Gue kan gak tahu apa-apa. Apa salah gue, coba? batin Qameella terus saja bertanya-tanya tanpa tahu jawabannya.


"Tuh, kan... emang benar elo naksir gue... kalo gak, mana mungkin elo ngelihat gue sampai gak berkedip gitu?"

__ADS_1


Qameella terkesiap dan tersadar dari lamunannya.


"Si-siapa bilang begitu?" kilah Qameella gugup.


"Terus? Elo kenapa ngelihatin gue? Gak mungkin kan elo lihatin gue karena tampang gue aneh. Karena udah banyak cewek yang memuji kegantengan gue."


Ya ampun... Si Rega kesambet setan mana ya? Kok, jadi mendadak narsis gini?


"Hei! Elo pasti capek kan?" tegur Garda peduli. "kita duduk di sana yuk!" dia menunjukkan sebuah pos ronda yang teronggok di pinggir jalan tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Hah?! Sejak kapan Rega panggil gue dengan kata 'hei?'


"Ah, nggak, makasih. Gue mau pulang aja. Lagian gak baik cowok sama cewek berduaan di tempat sepi." sahut Qameella membuat Garda melongo.


Garda terkekeh geli tidak habis pikir, ternyata masih ada cewek di zaman sekarang yang berpikiran kolot seperti Qameella. Selama ini dia terbiasa dikelilingi banyak cewek yang memiliki karakter yang tidak jauh berbeda dengannya. Mereka sangat bebas bahkan tergolong liar.


Tidak pernah terbersit dari dalam otaknya untuk menjalankan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Juga norma agama yang seharusnya menjadi pedoman bagi hidup mereka kini dan masa depan.


"Alah... jangan sok suci deh lo... pakai bilang gak baik cowok sama cewek berduaan di tempat sepi." sanggah Garda menyinyiri ucapan Qameella. "gue sih udah biasa ngadepin cewek-cewek sok jual mahal kaya elo. Tapi ujung-ujungnya diobral kesono-kemari."


Lagi-lagi Qameella terkejut dengan ucapan kasar cowok itu. Padahal setahunya Rega tidak pernah berkata kasar pada siapa pun.


Ya Tuhan... mengapa gue dihadapkan pada situasi kondisi, tempat juga orang yang begitu asing? batin Qameella lirih. Mendengus kasar mengusir keterkejutan yang seakan tidak masuk akal.


*********


🙋 Hai readers... 🙏 maaf ya updatenya kelamaan. Karena memang rencananya cerita ini bakalan author lanjutin lagi setelah kisah Syifa dan Zikra di cerita "Bukan Kisah Siti Nurbaya" selesai. Tetapi pihak Mangatoon udah berkali-kali mengingatkan bahwa cerita "Kesengsem Cinta Kembar" banyak yang nungguin kelanjutan ceritanya.

__ADS_1


Jadi, author memutuskan akan tetap mengupdate cerita ini. Tetapi enggak sesering cerita "Bukan Kisah Siti Nurbaya". Harap bersabar ya... 🤗✌️


Happy reading.... 🥰🥰🥰


__ADS_2