
Hai... readers... doain author ya semoga cepat sehat, karena author baru aja dapet musibah jatuh dari motor. Walaupun gak parah tapi tetap sakit ya...
Jangan lupa untuk tetap menjaga kesehatan, jaga jarak, pakai masker, dan cuci tangan menggunakan sabun serta air mengalir ya...
Like n komentar positif buat author juga author tunggu untuk menaikkan level 🤭🤭🤭
******************************************
"Bi, plis..." Garda memohon dengan raut sendu.
"Maaf, kamu salah orang. Saya bukan..."
"Cukup Bini!" bentak Garda dengan suara meninggi memotong ucapan Qameella.
"Bini?" kontan mereka semua terkejut. Yang buat lebih terkejut lagi adalah sebutan 'Bini' yang hanya ditujukan untuk Qameella seorang. Bahkan mantan-mantan pacar Garda pun tidak pernah ada yang diberi panggilan khusus seperti Qameella.
"Plis, jangan menghindar lagi. Jangan pergi lagi dari gue, plis..."
Qameella menelan salivahnya dengan susah payah, lantaran tenggorokannya mendadak mengering. Dia tidak bisa berkutik berada dalam cengkeraman Garda. Kebingungan pun melanda hatinya. Apa yang harus dilakukannya agar terbebas. Dia pun tidak ingin Qarmitha malu di depan semua orang yang sedang menjenguknya.
"Bro, santai dikit ngapah," tiba-tiba Tikeng menginterupsi sambil menepuk pelan bahu Garda. Namun Garda tidak menggubrisnya. Tatapan matanya dan tangannya masih tidak lepas pada wajah serta pergelangan tangan gadisnya, yang tanpa sadar telah membuat pergelangan tangan itu memerah karena terlalu kuat menggenggam.
"Emangnya elo gak kasian sama cewek lo tuh di atas kasur, lagi sakit gitu kakinya. Sekarang lo sakitin hatinya gandeng sodara kembarnya di depan matanya."
"Gar..." panggil Qarmitha pelan. "Garda." gadis itu berharap cowok yang dipanggilnya mau menoleh padanya. Sayang, terlalu mahal bagi Garda melepas pandangannya dari sang istri.
Tanpa menyahut Garda langsung membawa Qameella pergi meninggalkan ruangan. Serta menulikan rungunya atas pertanyaan teman-temannya.
"Jangan paksa gue buat cium bibir lo yang kedua kalinya," ancam Garda yang sukses membuat Qameella menciut dan tutup mulut.
"Tha, gimana ini?" tanya Yasmin berbisik di depan wajah Qarmitha tampak khawatir.
Qarmitha hanya mengedikkan bahu. Ya, karena memang tidak ada yang bisa dilakukannya. Apalagi dalam kondisi seperti ini. Hanya pasrah.
Tikeng, Rombeng, Sonik dan Iwan masih terheran-heran melihat sikap Garda, ketua geng motor mereka.
Ryan bangkit berdiri dari kursinya. Dengan gaya santainya menepuk bahu Tikeng yang masih tertegun melihat ke arah pintu.
"Udah, elo semua gak usah pada bingung. Cewek tadi emang bini-nya kok."
"Sotoy lu!" Tikeng tidak percaya.
"Oh iya, tadi si Garda panggil cewek tadi bini, emangnya ada hubungan apa di antara mereka berdua?" telisik Rombeng penasaran.
"Oh, itu karena si Meella bini-nya."
"Bini... apa nih? Setahu gue bini artinya istri. Ah, jangan bilang kalo mereka berdua mau rencana nikah dini."
"Emangnya elo pada belum tahu, Garda sama Meella emang udah nikah. Katanya sih, tapi untuk benar apa nggaknya gue gak tahu juga. Soalnya waktu itu gue gak lihat mereka nikah secara langsung."
Sontak mereka semua terkejut. Beragam komentar pun terlontar. Namun bukannya serius malah kocak. Di akhiri dengan senda gurau dan gelak tawa.
"Kalo cewek tadi Meella, nah yang ini siapa?" tanya Sonik bingung.
"Mitha, sodara kembarnya Meella," sahut Tari dengan senyum mengembang di bibirnya. Mereka mengangguk mengerti. Setelah itu mereka berpamitan untuk pulang.
"Tha, Tha, gue gak salah denger kan?" tanya Amelia panik dan bingung.
"Iya, gue juga," sambung Sarah ikutan panik.
"Istri?"
"Gue gak tahu" sahut Qarmitha singkat.
*
"Garda, Gar..." panggil Qameella ingin menghentikan Garda yang sedari tadi menggenggam tangannya posesif.
Qameella sangat risih dengan melihat beberapa pasang mata yang memandangnya dan Garda dengan tatapan beragam. Sejak mengenal lawan jenis diusia yang bukan lagi kanak-kanak, ini adalah pengalaman pertamanya mendapat perlakuan posesif seperti ini dari lawan jenis. Hatinya pun jadi nano-nano.
__ADS_1
"Plis Gar, jangan gini. Malu dilihat banyak orang. Lagian sakit kali tangan gue elo pegang kaya gitu terus." Garda menghentikan langkahnya tiba-tiba. Tanpa persiapan Qameella kontan menambrak punggung Garda.
"Aduh!" pekik Qameella sambil mengelus ujung hidungnya yang menabrak punggung Garda.
"Elo gak papa?" tanya Garda khawatir.
"Gak, gak papa," sahut Qameella.
Garda mengelus puncak kepala Qameella sayang. Setelah itu menurunkan pandangannya pada pergelangan tangan Qameella yang memerah karena ulahnya.
"Maaf," cicit Garda sambil mengelusnya tidak kalah sayang. Lalu menyusupkan jari-jari tangannya masuk ke dalam celah jari-jari tangan Qameella. Dengan lembut dia mengaitkannya agar tidak menyakiti Qameella lagi.
Qameella mengerutkan keningnya heran. Pasalnya dia sempat berpikir Garda akan melepaskan tangannya begitu saja setelah keluhan yang diucapkan. Eh, ternyata tidak. Malah lebih posesif lagi dengan menggandeng tangannya seperti itu.
"Gue lapar, kita makan dulu di sini ya," ujar Garda terus terang. Tanpa menunggu respon Qameella, dia langsung menggiring istrinya ke salah satu stand penjual makanan kaki lima, terletak di trotoar depan rumah sakit.
Garda sengaja memposisikan Qameella di kursi paling pojok, mentok dengan tembok. Tujuannya hanya satu, mengurangi ruang gerak Qameella agar tidak kabur.
"Elo... eh kamu mau makan apa?" tanya Garda memperbaiki ucapannya menjadi lebih sopan.
"Kamu?" Qameella mengulangi.
"Iya. Sebaiknya mulai sekarang kita ngomongnya lebih sopan aja. Dari pada ngomong elo-gue, nanti dicontoh anak-anak gak baik."
Ya ampun, ini bocah kesambet setan dimana? Kok jadi lempeng gini. Ck, pake ngomongin anak segala lagi, gue kaya ngerasa punya suami beneran lagi program hamil aja. Batin Qameella.
"Elo masih sehat kan Gar?" Qameella menyentuh dahi Garda dengan satu tangan lainnya yang bebas. Lantaran tangannya masih yang satu masih terkait erat di tangan Garda.
"Apaan sih?" Garda menyentak tangan Qameella yang menyentuh dahinya.
"Ya kali lagi demam, atau kesambet."
"Ck, diseriusin malah becanda."
Cup
Satu ciuman hangat mendarat di kening Qameella. Ya, cowok itu kembali mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sepertinya urat malu Garda sudah putus. Di tempat umum seramai ini dia berani mencium Qameella. Atau... memang sudah terbiasa dengan cewek-ceweknya terdahulu. Mantan terindah mungkin?
"Itu tandanya gue sayang banget sama el... eh kamu," katanya mengkonfirmasi. Qameella mengulum senyumnya.
"Terus yang..." Qameella tidak jadi melanjutkan ucapannya. Karena malu mengatakannya.
Garda menarik segaris senyum, mengerti apa yang dimaksud Qameella.
"Bang, somay-nya dua porsi, ya," pekik Garda mengalihkan pembicaraan. Kemudian balik menatap wajah Qameella yang masih bersemu merah. Tetapi wajahnya sengaja dipalingkan ke arah lain.
Sampai pesanan mereka datang Garda tetap menatap wajah Qameella dalam diam. Membiarkan Qameella yang gelisah menatap ke segala arah.
"Ayo, kita makan!" seru Garda langsung meraih sendok yang sudah tersedia di atas piring. Qameella pun mengikuti instruksi Garda. Namun kesulitan saat hendak meraih sendoknya. Tangannya masih terkait dengan tangan Garda.
"Gar, bisa gak tangannya dilepas dulu? Kalo masih kaya gini mana bisa gue makan?" keluh Qameella.
"Kan ada tangan satu lagi," sahut Garda seenaknya.
"Ih, gue bukan kidal. Lagian gue gak pernah diajarin makan pake tangan kiri sama orang tua gue," protes Qameella sewot.
Dasar Garda usil! Bukannya melepaskan tangan Qameella, malah menambah erat menggenggam.
"Buka mulutnya, aaa..." Garda mengarahkan sendoknya sendiri yang telah terisi potongan somay berbalut saus kacang, kecap dan saus botolan ke mulut Qameella.
"Gar, plis..." wajah Qameella mendadak serius. "lagian ngapain sih lo kaya gini? Gue ngerasa kaya tahanan tahu nggak?"
"Bodo amat!" jawaban acuh tak acuh meluncur begitu saja dari mulut Garda. Kemudian mencaplok somay disendoknya ke dalam mulutnya sendiri.
Qameella berdecih sebal melihat tingkah laku Garda yang menyebalkan itu.
Garda melirik wajah kesal istrinya dengan tersenyum. Rasanya gemas melihat ekspresi wajah Qameella yang seperti itu. Ingin rasanya dia mencium kembali salah satu bagian dari wajah Qameella.
Perlahan Garda melepas kaitan tangannya.
__ADS_1
"Maaf, udah bikin kamu gak nyaman. Karena saya takut kamu pergi lagi dari saya," ucapannya tulus.
"Ya udah makan yuk, nanti keburu dingin somay-nya." Qameella menuruti perintah Garda dengan patuh. Garda mengelus rambut hitam berkuncir kuda milik Qameella. "gadis baik."
"Emangnya elo pikir gue gadis jahat, apa?" tanya Qameella sarkas.
"Gak pernah. Tapi kalo kamu mutusin saya lagi, kamu benar-benar jadi gadis yang paling jahat sedunia."
"Ngarang!"
Garda tersenyum kecil. Kemudian dia mulai menceritakan perasaannya setelah berpisah dengan Qameella. Hatinya terasa hancur dan sulit untuk bernapas. Apalagi saat Qameella memintanya pacaran dengan Qarmitha, saudari kembar Qameella yang juga memiliki kesamaan fisik. Walaupun secara jujur dia merasa bersalah, karena telah menyakiti hati Qameella yang sempat mengkhianatinya dengan jalan dengan Qarmitha.
Tetapi dengan jelas Garda mengatakan bahwa semua itu diluar kendalinya. Tentu saja karena dia tidak tahu kalau Qameella ternyata memiliki saudara kembar. Yang parahnya lagi selama jalan dengan Qarmitha, tidak ada yang menginterupsi dan mengkonfirmasi kesalahannya. Hingga kesalahan terus berlanjut sampai Tari mengungkapkan yang sebenarnya.
Qameella tersentuh dengan kejujuran Garda.
"Maaf ya atas kekhilafan saya. Saya janji akan berusaha mengenali kamu, dan gak akan keliru lagi. Janji pokoknya deh!"
"Gombal!"
"Huft! Ini cewek, orang udah ngomong serius-serius dibilang gombal."
"Modelan cowok playboy kaya elo emang bisa serius apa?"
"Ya ampun Bi... bisa gak sih gak pake elo? Kamu dong ngomongnya. Nanti anak-anak dengar kan jadi berabe."
"Apa, anak-anak? Anak kucing?" kekeh Qameella tergelitik mendengar ucapan Garda.
Garda pun tersenyum senang melihat sisi cerita Qameella yang nyaris tidak pernah dilihatnya.
"Lala!" suara lelaki dewasa yang sangat familiar di telinga Qameella tiba-tiba mengejutkannya. Spontan gelak tawanya terhenti. Berganti dengan rona takut dan kepala tertunduk. Lalu beranjak berdiri dari duduknya ke arah sumber suara.
Garda yang melihat perubahan mendadak itu tampak terheran-heran. Kemudian mengikuti arah pandang Qameella untuk melihat siapa sosok orang itu.
"A-ayah," suara Qameella tergugu karena takut. Dia takut dimarahi Gusti lantaran sudah memergokinya bersama seorang cowok. Makhluk yang selama ini diharamkan oleh Gusti untuk didekatnya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Gusti sarkas dengan ekspresi kaku khasnya.
"La-lagi makan, Yah," sahut Qameella masih tergugu. Jari-jari tangannya saling mengait.
"Siapa dia?"
"Ehmm..." Qameella berpikir sejenak agar tidak membuat Gusti marah.
"Saya lakinya, Yah," serobot Garda dengan tingkat kepedean tingkat dewa.
Qameella menendang pelan kaki Garda, agar tidak berbicara sembarangan.
"Laki? Apa maksudmu anak muda?" Gusti menajamkan pendengarannya menatap Garda intens.
"Maksudnya teman sekolah Lala, Yah. Dia bilang jenis kelaminnya lelaki gitu, Yah," penjelasan Qameella yang dimaksudkan agar tidak dicurigai, malah membuat ribet.
Ya ampun Bini... orang-orang di planet mars juga bisa lihat kalo gue lelaki, bukan banci. Gerutu batin Garda.
"Ya, ayah tahu kalo teman kamu lelaki. Tapi ada hubungan apa di antara kalian berdua?"
"Teman, Yah. Iya kami cuma temanan aja. Tadi Garda abis jenguk Thatha. Terus katanya lapar, jadi Lala ajak makan disini deh," jelas Qameella dengan setengah kejujuran. Karena kalau jujur seratus persen, bisa runyam akibatnya.
Gusti langsung percaya begitu saja dengan semua penjelasan salah satu putri kembarnya. Karena Qameella nyaris tidak pernah berbohong padanya.
"Ya sudah, habis makan kamu langsung pulang saja," titahnya tanpa mau dibantah.
"Iya, ayah."
Gusti hendak melajukan mobilnya kembali. Namun ditundanya sebentar.
"Hai, anak muda. Kamu cukup panggil saya om saja. Tidak perlu ikut-ikutan panggil saya ayah seperti anak saya.. Karena kamu bukan anak saya." setelah selesai menyampaikan apa yang diucapkan Gusti langsung melakukan mobilnya menuju areal parkir rumah sakit. Melewati pos penjagaan untuk mengambil tiket masuk.
"Iya om."
__ADS_1
Busyet! Galak juga ternyata bapak mertua gue. Pantesan anaknya langsung jiper cuma denger suaranya aja. Batin Garda merasa kalang kabut.