
🙋 Hai readers... author datang lagi membawa update-an episode baru nih.
Ingat ya, vote, like n komen kalian masih author tunggu...
Happy reading... 🤗😁✌️
*****************************************
Mulai lagi deh!
Meella memutar bola matanya malas. Bete rasanya mendengar Garda memanggilnya dengan sebutan itu.
Ingin kabur rasanya jika mengingat insiden yang membuatnya dan Garda jadi pasangan suami istri.
Bodohnya gue, kenapa gak kabur aja waktu itu. Kalo gue kabur kan gak mungkin sekarang jadi begini.
"Bini..." cicit Garda menyadarkan Meella dari alam khayalnya.
"Apa sih... jangan panggil gue gitu... gue belum ganti nama kali..." Meella sudah tampak bete.
Garda mendengus. Kemudian berjalan mendekati Meella yang disambut panik oleh gadis berparas ayu itu. Debaran jantungnya sangat kacau. Gugup dan grogi menyatu jadi satu kesatuan yang utuh. Udah kaya NKRI aja ya 🤭🤭🤭.
"Eh, jangan macem-macem ya... ini di muka umum. Gue bisa teriak..." ancam Meella tergugu disertai kepanikan sambil berjalan mundur ke belakang.
"Bisa gak sih elo bersikap biasa aja?" tanya Garda menghentikan langkahnya.
"Sori, gue gak bisa." sahut Meella ketus.
"Kenapa gak bisa?" tanya cowok itu heran.
"Ya... karena gue gak pernah sedekat ini sama cowok. Jadi, mending elo aja yang jaga jarak."
"Emangnya elo gak pernah pacaran sama cowok lain sebelumnya?" Garda terkekeh pelan. Dalam hati dia mensyukuri keberuntungannya mendapatkan gadis lugu yang semoga saja masih ori.
Meella memilih diam membisu. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Garda yang tidak bermutu itu.
"Cepetan balikin hp gue. Gue harus cepat pulang. Soalnya gue gak mau bokap nyokap gue sampai khawatir, karena gak pulang tepat waktu." ujar Meella memohon, mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya udah, ayo gue anterin elo pulang." Garda menarik tangan Meella, memintanya naik ke atas sepeda motornya.
"Gak usah repot-repot, makasih banyak." sahut Meella canggung. "biar gue naik umum aja."
Raut kekecewaan terlihat jelas di wajah tampan Garda. Begitu banyak pertanyaan yang mendadak muncul di benaknya. Pasalnya dia benar-benar tidak mengerti dengan gadis yang ada di depannya ini.
Entah mengapa disaat banyaknya teman cewek yang dimilikinya, berebut mencari perhatiannya, dan tidak sedikit di antara mereka yang ingin duduk di atas motornya sambil memeluk pinggangnya.
__ADS_1
Tetapi tidak untuk gadis bernama lengkap, Qameella Rahmah Aulia. Cewek ajaib ini susah payah menolak ajakan Garda. Padahal cowok itu sudah bela-belain datang ke sekolah Meella yang jaraknya cukup jauh dari sekolah Garda.
"Oke. Kalo elo mau pulang sendiri, silahkan!" sinis Garda nangkring di atas jok motornya.
"Tapi..." Meella menggantung kalimatnya sambil menundukkan wajahnya, namun matanya sesekali mencuri pandang ke arah Garda.
"Tapi? Tapi apa?" Garda mengerutkan dahinya. Tatapannya dipertajam agar gadis di hadapannya luluh. Walau pun bukan trik jitu, tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.
"Hp... Hp gue kan masih ada sama elo." ucap Meella terbata.
"Hp?!" Garda menunjukkan ponsel milik Meella.
Dengan cepat Meella meraihnya. Namun belum sempat tangannya menggapai, secepat kilat Garda langsung memasukkan ke dalam saku celana seragamnya bagian depan.
"Kalo elo mau hp Lo balik, ambil aja sendiri." Garda menepuk saku celananya.
Meella mendengus berat. Rasanya gondok banget menghadapi cowok satu ini. Suka memaksa yang menunjukkan sikap otoriternya.
Nyebelin banget nih cowok! Mana mungkin gue berani menyentuhnya? rutuknya dalam hati.
"Emangnya gak ada pilihan lain apa?" tanya Meella yang terdengar seperti gumaman.
"Ada." jawab Garda cepat.
Mata Meella berbinar cerah. Senyum samar tersungging di bibirnya yang ranum.
Garda menepuk jok belakang motornya sebagai jawaban yang diberikan.
"Maksudnya?" Meella meminta penjelasan.
"Naik! Gitu aja masa gak ngerti?"
Meella menghela napas panjang. Kini gadis itu menyerah. Tidak ada pilihan lain yang bisa dipilihnya lagi. Semoga saja dia tidak salah memilih.
Meella duduk di jok belakang motor Garda dengan catatan, Garda mengembalikan ponselnya setelah itu. Tanpa pikir panjang Garda langsung menyetujuinya.
Garda melajukan seperti motornya dengan kecepatan sedang. Berhubung dia merasakan ada jarak yang memisahkan antara dirinya dan Meella. Padahal sebelumnya dia sudah meminta gadis yang sudah menjadi istrinya itu, untuk pegangan pada pinggangnya tidak digubris.
Maka dia menaikkan kecepatan sepeda motornya. Alhasil sukses membuat gadis itu bereaksi. Meella memeluknya sangat erat, hingga merasakan ada sesuatu yang kenyal menempel pada punggungnya.
Garda sangat menikmati sensasi yang sebenarnya bukan hal yang baru baginya. Tetapi kebersamaannya dengan Meella adalah pencapaian yang luar biasa. Gara-gara Meella, dia bisa merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya untuk pertama kalinya. Semacam getaran dan gelombang yang selalu membuatnya rindu.
*
Mitha sudah memakai seragam basketnya. Berdiri di tengah lapangan bersama teman-teman satu klubnya. Mereka mengikuti sesi latihan bersama coach Indra.
__ADS_1
Priiit! Suara lengkingan pluit terdengar panjang mengakhiri sesi latihan mereka.
Sebelum anak-anak asuhan coach Indra benar-benar bubar. Pria kharismatik itu memberi mereka penguatan sebagai wejangan untuk menghadapi turnamen besok.
Setelah itu mereka langsung beranjak pergi menuju ruang ganti.
"Tha, abis ini kita mampir dulu ke warung Mang Au ya, gue laper soalnya." pinta Yasmin yang langsung diangguki oleh Mitha.
Beberapa menit kemudian. Mitha dan Yasmin sudah duduk di bangku warung Mang Au, tidak jauh dari klub basket mereka.
"Silakan, neng eneng..." seru Mang Au ramah. Meletakkan semangkok bakso untuk Mitha, dan semangkok mie ayam bakso untuk Yasmin di atas meja. Juga dua gelas es teh manis.
"Makasih, Mang." sahut Yasmin ramah.
"Sama-sama neng." Mang Au langsung meninggalkan mereka berdua.
Mitha dan Yasmin langsung menyantap makanan mereka masing-masing, setelah sebelumnya menyesap es teh manis dari gelas masing-masing.
"Gimana kabarnya si Kevin, Tha? Elo masih jalan sama dia kan?" tanya Yasmin disela-sela kesibukannya menyantap mie ayam bakso favoritnya.
"Ya... gitu deh!" sahut Mitha kurang semangat.
Seperti yang sudah diketahui oleh para sahabatnya, Mitha dan Kevin sudah satu tahun berpacaran. Namun sudah satu bulan berlakangan ini, hubungan keduanya terlihat kurang harmonis. Mungkin karena intensitas pertemuan Mitha dan Kevin yang kurang intens.
Bagaimana tidak, Mitha dan Kevin berada di sekolah yang berbeda, sudah pasti keduanya jarang bertemu. Selain itu, Kevin yang kini sudah kelas tiga SMA atau kelas 12. Tentu saja sedang sibuk-sibuknya mengikuti bimbel untuk menghadapi ujian kelulusan. Itulah sebabnya cowok itu sudah jarang beredar di klub, tempat awal mereka bertemu dan kemudian memutuskan untuk jadian.
"Tapi elo sama dia masih telepon-teleponan kan?"
Mitha memajukan bibirnya ke depan. Dia terdiam sejenak memikirkan jawaban yang tepat.
"Jarang."
"Kok jarang sih? Terus..."
"Udah, jangan dibahas dulu soal dia." sergah Mitha memotong kalimat Yasmin.
Yasmin dapat melihat raut wajah Mitha yang menunjukkan badmood-nya. Sahabatnya ini bila sudah berkata seperti itu, berarti dia benar-benar tidak mau membahasnya lagi.
Yasmin sangat menyadari menjadi gadis seperti Mitha tidaklah mudah. Terlahir menjadi anak kembar. Setiap hari selalu dibanding-bandingkan dengan Meella. Menurut kedua orang tuanya dia yang jauh lebih baik darinya. Selalu dituntut agar sama seperti Meella.
Qarmitha Tsani Rahmani yang merasa tidak bisa menjadi orang lain. Dia memilih memberontak untuk menjadi dirinya sendiri. Segudang peraturan tidak tertulis di rumah, membuatnya hampir frustasi.
Selain itu hubungan Mitha dan Kevin yang mendapat tentangan keras dari Gusti. Pria itu khawatir jika anak gadisnya pacaran akan menggangu konsentrasi belajarnya. Tetapi bukan Mitha namanya jika tidak membangkang. Justru hal itu yang mendorong gadis itu berani melakukan backstreet dengan Kevin.
Kasian lo, Tha! bisik Yasmin di dalam hati.
__ADS_1