
Happy reading...
********************************
Mobil yang dibawa Dandi berhenti tepat di depan pintu masuk sebuah butik bridal.
Tanpa sepatah kata Garda langsung turun, masuk ke dalam.
Meella yang mengira akan bertemu dengan Bapak Joseph di restoran barat, seperti apa yang tertera pada agenda kegiatan bosnya. Tampak kebingungan.
"Apa mungkin Bapak Joseph mau ketemuan di sini?" gumamnya yang bisa didengar oleh Dandi.
Dandi yang selama ini dikenal Meella memiliki sikap yang kaku dan dingin. Sebelas dua belas dengan atasannya, mendadak mengejutkan gadis itu dengan suara kekehan kecil dari lelaki itu.
"Ternyata kau bisa kocak juga, ya?"
"Kocak?" Meella tidak mengerti maksud pemuda itu.
"Habis, kamu lucu. Mana ada pertemuan bisnis di tempat beginian. Ya... walau mungkin bisa saja terjadi. Tapi, sepertinya mustahil buat bos kita. Pebisnis sekaliber Pak Joseph pun belum tentu mau, iya kan?"
Oh! Lalu?
Meella memilih diam mencerna ucapan Dandi barusan.
"Kamu ini gimana sih, jadi sekretaris tapi tidak faham jadwal bosnya?" Dandi mendadak menanyakan kredibilitas Meella sebagai seorang sekretaris.
"Atau?... Jangan-jangan kamu memang gak tahu jadwal bos Pandega? Atau..."
"Ah, bukan seperti itu. Saya hanya..."
"Gak usah banyak mikir. Lebih baik segera kita masuk ke dalam, sebelum si bos marah. Dan perlu kamu ingat, bos paling gak suka menunggu. Apalagi punya bawahan yang lemot, dan telat mikir seperti kamu," terlalu berterus-terang ucapan Dandi yang berhasil menohok hati Meella. Kemudian Dandi berjalan mendahului membiarkan gadis itu mengekori di belakangnya.
"Aneh, bisa-bisanya si bos memperkerjakan sekretaris blo'on seperti dia," gerutu Dandi dengan suara pelan. Dapat dipastikan Meella tidak bisa mendengar umpatannya. "Huft... menyebalkan!"
Meella melebarkan matanya menatap deretan gaun pengantin yang didominasi berwarna putih. Hampir memenuhi ruangan yang terbilang tidak kecil itu.
Tiba-tiba Meella bergerak impulsif mendekati salah satu gaun pengantin ala Eropa, terletak tidak jauh dari tempatnya masuk. Tertegun, terdiam mematung. Satu tangannya terangkat menyentuh permukaan kain putih berbahan sutra berlapis tile, dipenuhi manik-manik berkilau.
Indah! Sangat indah!
Tanpa permisi ingatan Meella menuntun pada kenangannya saat fitting baju pengantin bersama Mirza waktu lalu.
"Kamu sangat cantik memakai gaun itu, Meel," puji Mirza dengan senyum mengembang.
Meella hanya senyum tersipu. Tidak membalas memuji Mirza. Padahal saat itu Mirza juga sedang memakai baju pengantin. Sudah tentu sangat mengharapkan pujian dari calon istrinya.
Setelah menyadari ekspresi wajah Mirza penuh harap. Akhirnya Meella memberikan pujian juga.
"Kamu juga tampan dengan baju itu," ujarnya malu-malu.
Namun khayalan indah Meella hancur seketika, saat bayangan laknat itu muncul tiba-tiba. Dadanya terasa sesak disertai nyeri dan sangat sakit.
Lagi, kebahagiaan yang akan diraihnya raib tak bersisa. Seakan Meella tidak layak bahagia. Begitu kejamnya kehidupan ini. Hingga tidak ada satu pun kebahagiaan yang diizinkan untuk berlama-lama dalam dirinya.
Hanya kesedihan yang terus berlama-lama bertahan menyertai jalan hidupnya. Sungguh tidak adil!
"Apa kau menyukai gaun itu?" suara bariton itu mengenyakkan Meella dari lamunannya. Memaksanya menolehkan kepala melalui bahunya.
Netra gelap Meella menangkap sosok Garda --justru hanya tahu pria yang dianggap asing itu bernama Pandega-- memantul pada lensa kacamata minusnya, tampil sempurna dan gagah dengan stelan tuxido putih.
__ADS_1
Sungguh tampan! Benar-benar mempesona setiap mata yang melihatnya!
Dalam waktu persekian detik Meella sempat membayangkan sosok itu adalah suaminya. Walau pada kenyataannya iya. Tapi yang Meella tahu orang tersebut telah tiada lagi di dunia.
"Bi..." ucapnya lembut dengan tatapan penuh rindu. Senyum khasnya lengkap dengan lesung pipi terukir jelas di wajah Garda.
"Jika kau mau, ambil saja!" seru Garda benar-benar mengembalikan kewarasan Meella yang sempat melayang pergi.
"Aku dengar, kamu juga akan menikah. Maka anggap saja sebagai hadiah dariku," lanjutnya seperti sedang mengejek. Ya, karena tanpa diberi tahu Garda sudah tahu tentang kegagalan pernikahan Meella.
Hati Meella mencelos. Ingin rasanya menangis sambil memukul kepala pria yang menjadi atasannya itu saat ini juga. Jika bukan karena dia yang telah menidurinya malam itu. Mana mungkin semua kepahitan ini menimpa dirinya.
Sementara bosnya yang tampan rupawan terlihat begitu pongah menunjukkan kebahagiaannya pada dunia. Seakan kejadian waktu itu benar-benar tidak berpengaruh sama sekali hubungan pertunangannya tampak baik-baik saja. Buktinya Garda melakukan fitting baju pengantin saat ini.
Hah?!
Bukankah hubungan Pandega dengan tunangannya baik-baik saja? Tidak ada pengaruh apa pun pada mereka, iya kan???
Tapi mengapa justru hanya saya saja sendiri yang hancur? Kenapa? Ada apa? Mengapa menjadi gak adil buat saya? Batin Meella berontak.
Lalu?
Bila tidak terjadi apa-apa pada hubungan Pandega dan Bianca, kenapa di sini hanya saya saja yang menjadi pesakitan? Menderita dan hancur menanggung malu. Sedangkan dia?
Ya Tuhan... tidak layak kah hamba menerima kebahagiaan seperti mereka yang diliputi kebahagiaan? Sampai-sampai Engkau memberi kesedihan sepanjang waktu? Tidak bisa kah hamba bahagia walau hanya sesaat? batin Meella menangis pilu.
"Terima kasih atas kebaikan Bapak. Karena saya gak membutuhkannya. Dan calon suami saya sudah tentu menyiapkan gaun pengantin untuk saya pakai di hari bahagia saya nanti," sahut Meella lancar.
Garda menganggukkan kepalanya seraya mencebikkan bibirnya.
"Sayang...." terdengar suara manja seorang wanita. Sontak memaksa Meella ikut menoleh ke sumber suara. Setelah Garda menoleh lebih dulu.
Garda tersenyum seadanya. Bagi orang yang mengerti, itu adalah senyum keterpaksaan. Tidak ada cinta. Tidak dapat merasakan bahagia dalam artian sesungguhnya. Melainkan kehampaan karena merasakan kehilangan di sudut hati yang terdalam. Tapi, sampai detik ini Garda masih bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Cantik sekali wanita itu!
Seketika Meella membayangkan sosok itu adalah dirinya sendiri. Memakai gaun pengantin yang juga baru keluar dari balik tirai yang sama.
Seandainya saya...
"Bi...," Meella terkesiap mendengar panggilan itu. Panggilan yang hanya Garda menyebutnya seperti itu. Buru-buru dia menolehkan mencari sosok yang tidak mungkin ada lagi di dunia ini.
"Kamu cantik dengan gaun itu, Bi," puji Garda pada tunangannya, Bianca.
Rupanya panggilan itu ditujukan untuk Bianca dari bosnya. Sungguh Meella sudah terlalu berharap banyak. Mana mungkin orang yang sudah mati akan hidup kembali. Namun gadis itu tidak memungkiri jika panggilan itu benar-benar mengganggu rungunya.
Ah... ya Tuhan... percaya diri sekali saya ini... Meella mendengus di dalam hati.
Ada satu hal yang Meella tidak bisa pungkiri dan diakui secara jujur dalam hati, yaitu rasa cemburu saat melihat kebersamaan Pandega dan Bianca. Pasangan yang serasi juga sempurna.
Iri? Tentu saja jelas. Karena beberapa hari lagi hari yang seharusnya menjadi hari terindah tiba. Dimana Mirza mengucapkan sumpah dan janjinya di depan penghulu untuk melegalkannya dalam ikatan bernama pernikahan.
Namun sayang, semua mimpi-mimpi itu kini sudah hilang menjauh. Entah apakah Meella masih bisa meraih mimpi yang hilang itu atau tidak? Gadis berkacamata minus itu hanya berharap pada satu saat nanti dapat meraih kembali mimpi indahnya itu.
"Terima kasih, sayang..." Bianca menghambur memeluk Garda dengan mengangkat gaunnya.
"Aku senang deh, bisa pakai gaun pengantin seindah ini. Pasti harganya tidak murah kan, Yang...." gadis itu berucap manja seraya melirik ke arah Meella.
'Siapa gadis itu? Kenapa terlihat sangat culun dengan penampilan yang sangat gak menarik?' tanya batin Bianca. 'Malah terkesan kampungan. Masa sih dia sekretaris Pandega yang baru? Tapi, ada bagusnya juga. Dengan begitu Pandega gak akan melirik gadis jelek itu.'
__ADS_1
Bianca memang sudah dengar bila Gina sudah berhenti menjadi sekretaris Pandega alias Garda dari Dandi. Dan dengan cepat sudah memiliki sekretaris baru. Awalnya dia berpikir sekretaris barunya Pandega lebih cantik dan seksi dari Gina. Tidak perlu ditanyakan betapa khawatirnya Bianca saat itu. Dia takut bila Garda berpaling pada perempuan lain. Lalu membuang dirinya. Tidak terbayang bagaimana nasib dirinya saat jauh dari barang tambang berjalannya. Selain itu akan mempengaruhi ekonomi keluarganya yang sangat bergantung suntikan dana dari Negara's Group.
Oh, amit-amit jabang bayi deh!
"Tidak perlu sungkan, Bi... uang buat aku bukan masalah. Aku bahkan bisa membeli gaun sepuluh kali lebih mahal dari ini. Juga menciptakan pesta pernikahan yang super mewah," sahut Garda menunjukkan kepongahannya entah pada siapa. Mungkin saja pada Meella. Namun bila benar, gadis itu tampak tidak peduli dengan memilih mematrikan diri pada gaun yang sangat disukai. Tentu hanya suka saja tanpa ada niatan untuk membeli.
Tiba-tiba Meella terbeliak kaget mendengar ucapan Garda. Entah mengapa membuatnya menjadi teringat ucapan Garda, suaminya saat sebelum terjadi kecelakaan yang merenggut nyawanya.
"Bi, maaf ya, saya belum bisa ngebahagia'in kamu. Saya udah banyak bikin kamu nyaman. Tapi saya janji, suatu saat nanti jika saya udah sukses dan kaya. Saya akan belikan kamu gaun pengantin yang indah. Saya juga bakalan buat pesta pernikahan kita yang megah. Supaya kamu merasa seperti seorang ratu walau cuma satu hari, hehehe..."
"Gak usah gitu juga kali. Dengan adanya kamu di dekat saya, dan selalu setia sama saya itu udah cukup kok. Saya gak mau kamu jadi banyak mikir yang bikin mumet kepala."
"Emangnya kamu gak mau kaya orang-orang apa? Dilamar dengan suasana romantis dan cincin berlian. Pas nikahannya..."
"Nggak perlu! Asalkan kita bisa menua bersama itu udah cukup kok buat saya."
Matanya memanas merah akibat air mata yang mendesak ingin keluar dari peraduannya. Kacamata minusnya pun mengembun. Tanpa permisi air matanya pun menitik jatuh di pipinya.
*
Sebelum jam makan siang. Garda yang ditemani Meella dan Dandi sudah duduk di ruang VIP sebuah restoran barat ternama di Jakarta Pusat. Mereka menunggu kedatangan Bapak Joseph dari Marine Company. Ternyata cukup tepat waktu pada komitmen dalam berbisnis.
Tidak berselang lama pria bertubuh gempal itu datang bersama asistennya. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang bergelombang berwarna dark brown. Memakai blazer yang tidak dikancing, mempertontonkan belahan dada yang terlihat menggoda. Serta roknya sebatas setengah paha. Sudah tentu betapa seksinya tubuh yang tinggi semampai itu.
Berbeda jauh dengan Meella yang memakai blazer berwarna navy, dipadukan dengan celana panjang longgar berwarna sama. Bila wanita yang menemani Bapak Joseph cantik dengan make up yang tebal. Berbanding terbalik dengan Meella yang terlihat pucat. Bukan hanya tanpa make up tapi juga kondisi tubuhnya yang sedang tidak baik-baik saja.
Pembicaraan bisnis antara perusahaan Negara's Group yang diwakili oleh Garda. Dan perusahaan Marine Company yang langsung dihadiri pemiliknya, Pak Joseph. Dilakukan sambil menikmati makan siang di satu meja yang sama. Sedangkan Meella, Dandi dan Angela, asisten pribadi Pak Joseph, duduk di meja yang berbeda namun masih dalam satu ruangan yang sama.
Sejujurnya Meella tidak nyaman dengan pekerjaan barunya ini. Menyinggahi tempat-tempat berbeda. Bertemu banyak orang. Banyak bicara pada orang lain bukan keahliannya. Apalagi setelah mendengar kalimat umpatan tentang dirinya. Sungguh menyebalkan. Juga membuat kepalanya pening.
Oleh sebab itu selama pertemuan bisnis dengan Pak Joseph dan asistennya, Angela. Meella lebih banyak diam. Hanya bila diminta saja gadis itu baru bicara. Itu pun seadanya.
Garda sempat kesal dengan sikap Meella yang irit bicara itu. Untunglah ada Dandi yang bisa membackup kekurangan Meella.
Meella sangat berterima kasih atas bantuan Dandi. Juga telah membantu berhasilnya kerjasama antara perusahaan Negara's Group dan Marine Company.
"Apakah gaji di kantor cabang terlalu kecil, sampai kamu tidak mampu membeli produk kecantikan?" todong Garda terdengar sengit ketika baru masuk ke dalam ruang kantornya setelah kembali dari pertemuan bisnis dengan Pak Joseph.
Meella hanya terdiam mencerna pertanyaan Garda terdengar sedang mengejeknya.
"Maaf, maksud Bapak apa ya?" bukannya menjawab malah balik mengajukan pertanyaan.
Garda memijat pelipisnya yang mulai berdenyut sakit. Ternyata bukan hanya wajahnya saja yang minim make up. Tapi otaknya juga... haih...
"Jika maksud Bapak bermaksud komplen dengan penampilan saya. Mohon maaf ini adalah style saya," jawab Meella tegas.
"Tapi, setidaknya kamu rapikan penampilan pucat kamu yang lebih mirip mayat hidup itu."
"Maaf, Pak. Saya rasa... Bapak menerima saya bekerja di sini karena butuh kerja keras otak, dari pada tampang saya."
Garda mendelik kesal dengan sikap Meella yang tidak peduli dengan penampilan fisiknya.
"Tapi bila Bapak keberatan dengan penampilan saya. Bapak bisa memberhentikan saya menjadi sekretaris anda. Karena jujur saja, saya tidak cocok dengan posisi saya saat ini." terlalu terbuka ucapannya hingga membuat atasannya speechless.
Ingin sekali Garda memecat langsung karyawan yang berdiri di seberang mejanya. Namun untuk saat ini dia masih harus menahannya demi mendapatkan bukti yang diinginkannya.
*
Hai readers... maaf ya author baru update. Untuk episode kali ini lumayan panjang ya durasinya. Semoga terhibur.
__ADS_1
Jangan lupa jejak-jejak cantik dan manjanya author tunggu...
See you next episode ya...