Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Gara-Gara


__ADS_3

Hai readers... jumpa lagi dengan karya author di episode terbaru ini. Semoga kalian selalu suka membacanya.


Jangan lupa dukung karya author ini dengan banyak-banyak memberi hadiah, vote, like, favorit juga komennya ya...


Happy reading...


************************************************


Malam terus merangkak naik mendekati tengah malam. Sepeda motor Garda melaju dengan kecepatan biasa menurutnya. Belum tentu untuk orang lain. Maklumlah namanya juga anak geng motor. Apalagi dengan predikatnya sebagai ketua geng, Bro! Jangan lupakan itu ya... wkwkwk...


Tidak ada tujuan pasti kemana dia harus berlabuh, menepikan kesendiriannya. Dia pun tidak bisa terus berlama-lama di rumah mertuanya. Lantaran kondisi Bapak mertuanya yang masih syok gara-gara dirinya sendiri yang begitu nekad memberi kabar pernikahannya dengan Qameella.


Orang tua mana pun bakalan kaget bukan kepalang, jika tiba-tiba anak perawannya sudah menikah dengan cowok asing yang belum diketahui asal usulnya tanpa sepengetahuan dan izin darinya terlebih dahulu. Apalagi usia Qameella dan Garda dibilang anak bau kencur. So pasti terlalu dini bagi mereka menikah dan menjalani hidup rumah tangga yang penuh liku.


Untungnya sang bapak mertua tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Jadi, tidak sampai anfal. Namun jika menimbulkan efek tidak mengenakkan, tetap saja tidak membawa untung juga kali... hufth!


Dalam kondisi galau seperti ini Garda tidak akan pulang ke rumah. Karena percuma saja dia berada di rumah besar bak istana, kalau kenyataannya bagai kuburan yang angker. Punya orang tua lengkap serasa anak yatim


piatu. Haduh... sedih banget deh nasib Garda.


Biasanya Garda selalu melarikan dirinya yang luka secara fisik maupun batin dengan pergi ke suatu tempat. Dan hanya satu tempat itu yang memberinya rasa hidup sebagai seorang manusia juga memberikan kenyamanan. Dimana lagi kalau bukan basecamp geng ABABIL.


Sejak kecil terlahir kembar. Otomatis memiliki saudara yang hanya satu-satunya. Namun saat usia tujuh tahun Garda kehilangannya. Rasa rindunya akan hangatnya keluarga cuma sekedar asa yang tak sampai. Karena sampai detik ini dia belum benar-benar merasakan indahnya kehangatan keluarga.


Tetapi Tuhan punya rencana lain untuk Garda menikmati kehangatan keluarga. Ada teman-teman satu gengnya yang berisik tapi tidak pernah membuatnya terusik. Mereka sudah berperan penting bagi cowok berzodiak Leo itu. Jatuh bangun dalam hidupnya selalu ditemani mereka yang tanpa pamrih padanya. Namun... untuk malam ini hingga malam-malam berikutnya. Mungkin hingga saat liburan sekolah berakhir dia akan sendirian. Pasalnya hampir sebagian besar anggota geng pergi berlibur dengan pulang ke kampung halaman masing-masing. Tidak apalah sendirian yang penting bisa menikmati rasa tenang.


Qameella alias Bini? Gadis yang sudah resmi dinikahinya. Sosok yang membuatnya menjadi seseorang lebih


berarti dan lebih baik. Untuk sementara lupakan dulu karena gadis itu masih belum memaafkannya. Mungkin besok dia akan berusaha lebih keras membujuknya agar bisa berdamai lagi.


Tidak terasa sepeda motor Garda tiba di halaman depan basecamp ABABIL. Binar bahagia berpendar di wajahnya. Ketika sepasang netra coklatnya melihat jejeran sepeda motor yang sangat familiar telah terparkir rapi di sana. Senyumnya pun melebar bahagia. Karena saat ini dirinya tidak sendiri lagi.


Bucek, Akew, Tikeng, Rombeng dan Keling alias Ryan buru-buru keluar menyambut kedatangan sang ketua geng. Hanya dengan mendengar suara deru sepeda motornya mereka sudah tahu kedatangan Garda.


"Hei, Bro! Kapan elo-elo pada balik? Kok gak kasih kabar gue dulu?" protes Garda seraya memeluk mereka satu per satu setelah melalukan tos ala mereka.


"Sengaja, kita gak kasih kabar elo supaya buat kejutan," sahut Buchek.


"Rese elo-elo pada sama gue. Udah pulang kampung gak ngajak-ngajak gue. Eh, sekarang balik gak bilang-bilang. Udah kaya jalangkung elo-elo pada," sungut Garda kesal dengan kelakuan mereka.


"Maaf, Bos Bro..." sela Ryan menenangkan. "kita-kita emang sengaja gak ngajak Bos Bro pulkam, supaya Bos Bro bisa barengan terus sama Nyonya Bos, iya gak guys?" lanjut cowok yang terlihat tambah berisi itu seraya menaik turunkan kedua alisnya di depan Buchek, Tikeng dan Akew.


"Yoi..." sahut Buchek, Tikeng dan Akew serempak.


"Alah, alesan aja lo pada. Pake bilang gue bisa bareng terus sama Nyonya Bos segala...," Garda tersenyum miris.


"Udah, mending kita masuk aja ke dalam," ajak Tikeng yang langsung disetujui oleh Garda dan yang lainnya.


Formasi anggota geng ABABIL memang belum komplit semua. Mereka masih betah di kampung halaman masing-masing. Tapi tidak apa, yang penting Garda tidak sendiri malam ini. Bisa bercerita dan bercanda dengan Buchek, Tikeng dan Akew rasanya sudah sangat bersyukur. Masih ada orang yang peduli dengannya dalam kesedihan yang tidak bisa diungkapkan pada siapa pun.


*

__ADS_1


Di dalam kamar Qameella tenggelam menghayati syair lagu milik boy band asal Inggris, 'New Hope Club feat Danna Paola' berjudul "You Know Me Too Well". Terasa menyentuh menggambarkan kondisi hubungannya dengan Garda.


I spend my weekends


Tryna get you off


My mind again


But I can't make it stop


I'm tryna pretend I'm good


But you can tell


(Good but you can tell)


You're right


I shoulda text you good night


I shoulda given more time


I wish I had've know this before


Now I replaying our goodbye


But it wasn't a goodbye


And still hear your slamming the door


But you've had enough


You're screaming down the phone


"You don't know what you lost"


I say, "I'm fine"


I didn't care that much


But realize when you hang up


I messed this up


.....


 


Kenapa harus terjadi kaya gini sih? Seandainya gue gak cemburu buta sama si Garda. Mungkin kejadiannya gak begini kali ya? Uh... kesel deh guge jadinya. Sesalnya dalam hati.


"Tapi, dia aja yang udah keterlaluan, " ucapnya tiba-tiba dengan nada suara sedikit meninggi. "coba aja kalo dia gak bikin gue sakit mata sampai sakit hati. Beda kali ceritanya..."

__ADS_1


Qameella mengulang mengingat kembali peristiwa di taman sore tadi. Ekspresi wajahnya berubah-ubah sesuai suasana. Kadang sedih jika mengingat saat Garda kesakitan karena pukulan yang diterima dari seorang pria yang lebih mirip seperti algojo. Lantaran postur tubuhnya yang tinggi besar.


Kadang gadis itu tersenyum saat Garda mengungkapkan perasaannya.


"Gue juga sebenarnya kangen sama dia. Tapi dia udah ngajak Thatha hang out sama si Marong di depan mata gue. Siapa yang gak sakit hati, coba deh pikir sendiri," monolognya penuh emosi. Lalu dia memukul bantarnya sendiri gemas.


Brakk!


Qameella terkesiap mendengar suara pintu kamarnya dibuka paksa oleh seseorang. Sontak dia menoleh ke sumber suara. Ternyata saudari kembarnya yang masuk gak ada akhlak itu.


"La, pokoknya elo harus jelasin ke gue secara detail masalah elo yang tiba-tiba udah nikah sama si cecunguk Garda," desak Qarmitha tanpa basa basi. Lalu duduk berhadapan dengan Qameella.


Qameella hanya mendengus panjang. Sepertinya dia enggan untuk berkata sesuatu. Hatinya masih sakit karena sudah menikungnya. Tapi dia tidak bisa mengungkapkan kekesalannya pada Qarmitha. Alhasil dia hanya bisa melampiaskan kekesalannya pada bantal yang malang. Meremas kedua sisi bantal di tangan kanan dan kirinya cukup kuat. Benda mati yang tidak bisa mengaduh atau pun melawan.


"La, elo dengar gue gak sih?" geram Mitha menghenyakkan Meella dari lamunannya.


"Iya, dengar," sahutnya dingin. Merubah posisi duduknya menjadi berbaring. Menarik selimut hingga dada. Kemudian merubah posisi tidurnya memunggungi Qarmitha.


"Kalo elo dengar, ya udah ayo cerita," rengek Mitha tidak sabaran. "bukan malah baring kaya gini."


"Gue ngantuk. Gue mau tidur. Kalo mau ngomong masih ada hari esok," jawaban dingin yang tidak diharapkan Qarmitha. Dan hanya membuat hatinya dongkol.


"Apa? Lo mau tidur dalam kondisi kaya gini?"


Qameella hanya diam membisu.


"Elo tahu gak? Gara-gara elo sama si cecunguk itu udah nikah, Ayah jadi sakit."


"Iya, gue tahu!" jawab Qameella datar.


"Terus elo..." Qarmitha menggantung ucapannya.


"Apa?" untuk pertama kalinya Qameella meninggikan suaranya pada Qarmitha. Dia hanya menolehkan wajahnya menatap tajam saudari kembarnya.


Qarmitha terkejut, mengangkat sebelah alisnya. Juga speechless.


"Gue mau tidur. Bisa gak elo keluar aja sekarang?" katanya mengulangi, sengaja mengusir secara halus saudari kembarnya.


"Ih, ngeselin banget sih lo?" Qarmitha beranjak berdiri di samping tempat tidur Qameella. Dia tidak mau berdebat saat ini. Karena dia tahu perasaan Qameella saat ini tidak mudah.


Elo malah yang lebih ngeselin gue. Gerutu batin Qameella.


Qarmitha menghentakkan sebelah kakinya di atas lantai melampiaskan kekesalannya. Membalikkan tubuhnya paksa menghadap pintu kamar hendak beranjak keluar.


"Jangan lupa tutup lagi pintunya," titah Qameella tanpa beranjak dari tempat tidurnya.


Qarmitha mendengus kesal sambil menoleh sekilas saudari kembarnya di atas tempat tidurnya. Dengan berat hati dia menuruti titahnya, menutup pintu kasar hingga terdengar bunyi kedebum.


Qameella memejamkan matanya saat bunyi itu terasa menusuk indera pendengarannya. Lalu mendengus kasar mengusir rasa tidak nyamannya di dalam hati.


Ingin rasanya menangis. Namun matanya terlalu lelah untuk mengeluarkan cairan bening itu. Lagi pula stok air matanya sepertinya tersisa tinggal sedikit. Karena saat ini air matanya terasa kering.

__ADS_1


Ya Tuhan... sampai kapan hamba harus menanggung beban di hati hamba? Mengapa selalu berulang rasa sakit yang hati hamba derita? Mengapa, mengapa Tuhan? Tidak bisakah hamba mengecap manisnya cinta sejati dengan tenang? Menikmati indahnya rasa dicintai dan mencintai juga saling memiliki? ratap batin Qameella lirih.


Qameella merubah posisinya menjadi terlentang. Wajahnya menengadah menatap plafon kamarnya.


__ADS_2