Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#24


__ADS_3

Hai readers... author coming with new episode... tapi maaf ya kelamaan nungguinnya hehehe...


Ya udah, sekarang happy reading aja ya...


********************************


Qameella segera beranjak turun dari mobil Mirza, setelah berhenti tepat di depan pintu lobi perusahaan tempatnya mengais rezeki. Gadis berkacamata minus itu ingin langsung masuk ke dalam saja sebelum orang-orang di kantor melihat pemandangan langka ini. Bila boleh meminta, scurity kantor pun kalo bisa juga tidak melihatnya.


Namun saat kaki Qameella baru dua langkah maju ke depan, tiba-tiba Mirza sudah meraih pergelangan tangannya dan menahan kepergiannya. Rupanya pria itu sengaja turun saat keresek yang seharusnya dibawa Qameella masih berada dalam mobil.


"Tunggu!" sontak Qameella pun berhenti, menolehkan wajahnya pada Mirza.


"Hmm, apa?" refleks Qameella terkejut.


"Hmm, apa?" refleks Qameella terkejut.


Mirza tersenyum, mengangkat keresek yang dibawanya ke udara.


“Kamu lupa bawa ini.”


Pandangan mata Qameella mengikuti gerak tangan Mirza.


“Oh, iya. Aku gak sengaja melupakannya,” ucapnya canggung. Lalu mengambil alih keresek itu dari tangan Mirza.


“Makanlah selagi masih hangat. Karena bila udah dingin rasanya gak nikmat lagi,” pesan Mirza bijak.


“Hm, makasih,” Qameella mengangguk mengerti seraya tersenyum kecil.


Entah sudah sejak kapan Dita mengamati Qameella bersama pria yang masih asing baginya di depan pintu lobi. Mendadak membuat wanita berperut buncit itu tergelitik untuk menggoda.


“Uhuk! Ekhm!”sungguh suara deheman yang disengaja, karena terdengar tidak natural sekali di rungu Qameella. Kontan dia dan Mirza menoleh ke sumber suara.


“Hah, Dita? Pagi…,” sapa Qameella berusaha membuang kecanggungan yang ada.


Tentu saja Qameella sangat canggung. Pasalnya baru kali ini dia tertangkap basah bersama seorang pria asing di sekitar kantornya. Padahal selama ini dia sudah berkali-kali mengatakan akan selalu setia pada mantan suaminya,


walau sudah almarhum. Dan pernah mengatakan tidak akan mencari penggantinya. Tetapi kini?


“Duh, lain… yang pagi-pagi dianterin juga dikasih sarapan romantis nih yee… cie…,” goda Dita terdengar begitu luwes membuat Qameella speechless dan grogi.


Mirza tersenyum canggung. Diam-diam dia melirik Qameella yang terlihat bergerak gelisah.


“Gue kok jadi iri tiba-tiba ya ngelihat kalian. Sayang suami gue buru-buru berangkat ke kantornya. Coba kalo gak, gue bisa pamer lebih dari kalian berdua,” Dita tersenyum puas melihat Qameella jadi speechless seperti itu.


“Ekhm! Ekhm! Meel, siapa nich?... elo gak mau ngenalin ke gue, apa?” Dita menyenggol bahu Qameella dengan bahunya. Nyaris gadis yang sedari tadi tidak banyak omong, kian membisu tidak mengerti harus berkata apa.


Mirza dan Qameella saling beradu pandang hanya sesaat. Tetapi ekspresi datar cenderung kikuk dari wajah Qameella sulit untuk Mirza mengartikannya. Pria itu hanya bisa diam. Lalu tersenyum ramah pada Dita. Tanpa meminta persetujuan dari Qameella terlebih dahulu, dia memperkenalkan dirinya sendiri.


"Hai, aku Mirza," ungkapnya seraya mengulurkan tangan mengajak Dita bersalaman.

__ADS_1


Dengan wajah takjubnya Dita menyambut uluran tangan lelaki itu.


"Dita, teman satu divisi Meella."


Melihat pemandangan itu yang seharusnya membuat bahagia, justru malah membuat Qameella ketar-ketir dan mati kutu.


"Mas ini... apanya Meella, ya?" selidik Dita masih menjabat tangan Mirza. "sepupu? Atau...," wanita hamil itu tidak berani menebak lebih dari hubungan keluarga pada sosok lelaki di depannya. Pasalnya dia sudah tahu prinsip Qameella yang katanya tidak akan mencari pengganti almarhum suaminya.


"Aku...," Mirza melirik Qameella yang kini menunjukkan air muka tegangnya. Dia melepaskan jabatan tangannya. Dengan wajah tenang dan senyum kesejukan Mirza memberanikan diri untuk berterus terang. "aku tunangannya Meella."


"Hahft!" Dita menutup mulutnya sendiri yang refleks membuka dan melebar.


Kali ini wajah Mirza yang berubah menegang karena telah mengungkap status mereka. Dan dia pasrah bila calon istrinya itu marah atas perbuatannya juga tanpa izin terlebih dahulu. Untuk mencairkan suasana dia menyunggingkan senyum terpaksa yang terlihat seperti orang meringis menahan kesakitan.


Qameella tidak bisa berbuat apa-apa setelah apa yang seharusnya tidak boleh diungkapkan terlalu dini. Gadis itu pun tidak bisa marah atas perbuatan calon suaminya yang terlalu terburu-buru mengungkap status mereka pada orang lain. Sekali pun orang itu adalah temannya sendiri.


"Oh my God! Oh my God! Akh...," tiba-tiba Dita meracau tidak jelas lalu berteiak sambil memeluk Qameella. Parahnya wanita itu melompat-lompat tidak jelas, seakan lupa perutnya yang sudah membuncit.


Mendapat serangan mendadak dari Dita, Qameella hanya bisa pasrah.


Mirza terbengong melihat kelakuan ajaib wanita hamil yang sedang memeluk calon istrinya. Pria itu hanya mengerutkan kening tidak jelas.


"Akhirnya, akhirnya, elo insyaf juga," celetuk Dita setengah berbisik, namun masih bisa didengar oleh Qameella juga Mirza.


Kontan Qameella dan Mirza terkesiap mendengar satu kata yang telah diucapkan Dita. 'Insyaf'. Hah, insyaf? Keduanya sempat beradu pandang dengan tatapan tak terbaca.


What?!


Siapa yang udah berbuat dosa?


"Akh... gue seneng banget..." Dita benar-benar bahagia, tanpa sadar suaranya terdengar nyaring menusuk telinga semua orang yang mendengarnya. Kebetulan saat itu sudah banyak karyawan yang berdatangan. Satu satu memasuki gedung berlantai lima itu.


*


Saat jam makan siang, Mirza sengaja mengajak Qameella makan di luar. Walau pada awalnya ajakannya ditolak oleh gadis yang akrab disapa Meella itu, lantaran malu gara-gara ulah Dita tadi pagi. Hingga orang-orang satu kantornya tahu tentang pertunangannya dengan Mirza. Tetapi Mirza cukup pintar menaklukan hati Meella yang sekeras batu. Alhasil mereka berdua berhasil menyambangi restoran favorit Mirza di sekitaran Kalimalang.


"Teman kamu ternyata lucu juga, ya?" entah pujian atau gurauan yang tiba-tiba meluncur dari bibir Mirza disela makannya. Dia tersenyum disertai dengusan.


"Hah, teman? Siapa?" Meella tampak tidak mengerti dan sedikit terkejut dengan ucapan Mirza.


"Itu... wanita hamil tadi pagi. Dia tiba-tiba meluk kamu, dan teriak gak jelas gitu," terang Mirza menjelaskan.


"Oh, Dita?"


"Dita?"


"Iya, namanya Dita. Dia satu divisi sama aku."


Mirza mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Gak kenapa-napa sih... cuma heran aja, kok ada ya ibu hamil yang berani seaktif itu? Lompat-lompat..., aku sih takut aja bayinya kenapa-napa," jawab Mirza jujur.


Qameella mengangguk membenarkan ucapan Mirza.


"Tadi sih gak papa, katanya cuma keram doang gitu," sahutnya mengingat kejadian saat di dalam divisinya. Dita sempat mengelus-elus perutnya yang mendadak terasa kencang.


"Oh... bagus deh kalo gak papa. Aku cuma khawatir aja kalo dia sampai kenapa-napa, kita yang kena masalah," Mirza tersenyum lega. Namun Qameella menunjukkan ekspresi sebaliknya.


"Ah, maksud aku... tadi kan setelah aku bilang tunangan kamu, dia langsung lompat-lompat gitu," buru-buru Mirza memberi penjelasan setelah melihat ekspresi wajah tunangannya yang penuh tanya.


Qameella hanya diam, tidak menanggapi ucapan Mirza. Lalu menurunkan pandangannya pada piring di hadapannya yang masih berisi banyak.


Agak lama Mirza dan Qameella terdiam tanpa terlibat pembicaraan apa pun. Setelah sebelumnya selalu Mirza yang memulai pembicaraan, kini Qameella mencoba memberanikan diri untuk memulai lebih dulu.


"Di kantor... sebentar lagi ada pemindahan karyawan dari kantor cabang ke kantor pusat," ujarnya yang membuat Mirza cukup berpikir keras untuk memahami ucapannya. Tatapan matanya masih tertuju pada piring yang saat ini tersisa tinggal setengahnya.


"Kamu termasuk di dalamnya?" Qameella tidak menjawab.


Mirza tahu bila kantor pusat itu berada cukup jauh dari kantor cabang tempat Meella bekerja sekarang. Jika Qameella terpilih menjadi karyawan yang dimutasi tersebut, maka intensitas pertemuan mereka akan semakin jarang bahkan sulit. Karena jarak yang membentang memisahkan keberadaan keduanya.


"Ah, maksud aku... kamu juga termasuk salah satu karyawan yang akan dipindahkan itu?"


"Entahlah. Belum ada kabar," sahut Qameella pelan.


"Meel..., bisakah kamu memfokuskan diri setelah kita menikah?" tanya Mirza mendadak serius. Wajah tampannya yang bersih tanpa kumis dan jenggot tampak menegang. Seperti ada kekhawatiran di dalam hatinya.


"Kamu gak usah takut untuk ke depannya. Aku mampu menafkahi kamu dan anak-anak kita kelak," lanjutnya cepat. Kemudian tangan kanannya meraih dan menggegam tangan kiri Qameella.


Sontak Qameella tersentak kaget seraya mengangkat pandangannya. Tertegun untuk beberapa saat.


"Aku sekolah sampai perguruan tinggi. Aku ingin menggunakan ilmu dan kemampuanku untuk bekerja. Bukan hanya sekedar mendapatkan uang. Tapi juga untuk mencari pahala akhirat."


Mirza hanya terdiam.


"Untuk saat ini duniaku hanya bekerja. Aku akan berusaha menjaga kualitas kinerja aku agar tetap stabil. Dan aku juga berharap setelah menikah akan tetap berkarier tanpa hambatan. Juga berusaha konsisten dengan tugas serta kewajibanku bila udah nikah nanti."


Mirza mendengus lemas seakan pasrah dengan semua keputusan Qameella.


"Kalo seandainya kamu ingin tetap bekerja setelah kita menikah, gak papa... ada banyak tempat yang layak untuk kamu di kantor aku. Karena aku gak mau kita akan tinggal berjauhan setelah menikah," tuturnya menunjukkan sisi kemanjaannya sebagai seorang lelaki.


Qameella tersenyum kecil. Lalu membalas genggaman tangan Mirza. Sesekali ia menepuk-nepuk pelan punggung tangan Mirza.


"Kamu tenang aja untuk urusan itu. Kita bisa bicarakan lagi nanti. Yang terpenting saat ini aku mau fokus menyelesaikan semua tugas kantor aku. Karena aku punya planning, sebelum hari pernikahan kita semua pekerjaan aku udah rampung semua," hibur Qameella terdengar sangat menyenangkan hati Mirza. Senyum lebar mengulas bibir pria itu.


Keduanya sama-sama tahu jika hari pernikahan mereka akan diselenggarakan bersamaan dengan hari pernikahan Qarmitha dan Dicky. Dan waktu mereka tidak banyak menuju hari itu.


*

__ADS_1


Sampai di sini dulu ya episode kali ini...


Berhubung masih lebaran, author mau mengucapkan 'Mohon maaf lahir batin' ... 🙏😘🥰


__ADS_2