Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Jangan Cemburu


__ADS_3

Garda duduk bersandar di atas tempat tidur pasien. Hanya bertemankan sunyi dia terdiam membisu menatap lurus pada dinding putih rumah sakit. Pikirannya jauh menerawang ke dunia sana. Sedih pun mampir di sudut hatinya terdalam. Bukan karena luka yang tak seberapa. Bukan pula akibat banyaknya musuh yang dimiliki. Tetapi dia rindu dengan masa-masa indah bersama keluarganya yang utuh.


Andai saja waktu dapat diputar kembali, ke masa kecilnya dulu. Dia akan mendekap papa dan mamanya erat juga lama. Bila perlu tidak usah dilepas sekalian, agar mereka tidak tercerai-berai seperti saat ini. Tidak terasa sebulir air bening meluncur dari ujung matanya.


Mama, Garda rindu. Apakah Mama punya perasaan yang sama dengan Garda?


Di tempat berbeda. Di dalam sebuah ruangan sebuah kantor seorang wanita yang terlihat lebih muda dari usianya. Tengah duduk di balik meja kerjanya. Mengamati beberapa gambar sketsa design pakaian yang akan segera digarap oleh tim penjahit.


Wajahnya tampak serius. Matanya terlihat jeli dibalik kacamata bacanya. Tangannya yang aktif memilih potongan sampel kain yang cocok untuk design yang tercetak cantik di atas kertas.


Setelah dirasa cocok dan selesai dia memanggil asistennya melalui sambungan interkom. Seorang gadis muda usianya jauh dibawah wanita itu masuk setelah mengetuk pintu dan meminta izin. Wanita itu menyerahkan semua sketsa dan sampel kain yg sudah dipilihnya pada gadis itu.


Sepeninggal gadis yang merupakan asistennya, wanita itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya sambil melepaskan kacamata. Sebelah tangannya yang lain memijat pangkal hidungnya. Penat menyerang tubuhnya. Namun semangat bekerja keras melarangnya. Dia mendengus lelah.


Sepasang netra coklatnya melirik sebuah figura berukuran 5R di sudut kiri meja kerjanya. Terlihat sepasang anak kembar identik laki-laki. Keduanya memakai baju yang sama persis, namun dengan warna yang berbeda. Wajah serupa, polos dan tidak berdosa kedua bocah dalam foto itu, saling berpelukan erat dengan senyum lebar khas anak kecil.


"Garda, bagaimana kabarmu, nak? Mama rindu," ujarnya lirih mengelus sayang kaca figura.


*


Maryam merasa ada yang janggal dengan sikap si kembar Qameella dan Qarmitha. Hatinya tidak bisa menerima 100% penjelasan yang diberikan Qameella. Dia meragu. Apalagi setelah melihat luka bekas cakar yang terdapat di punggung tangan Qameella. Nanti gadis itu mengaku bekas luka cakaran kucing tetangga sebelah. Padahal yang wanita itu tahu, putrinya tidak terlalu peduli dengan binatang berbulu itu. Tapi mungkinkah?


"Kenapa sih Ma, masih pagi sudah melamun saja?" tegur Gusti membuyarkan lamunannya. Sedari tadi dia sudah memperhatikan Maryam melamun di meja kasir. Raut wajah wanita itu terlihat muram dan menyiratkan pendar kecemasan.


"Eh... hmm, maaf Yah. Mama sedang teringat anak-anak saja," sahut Maryam seadanya.


"Mikirin anak-anak, kenapa? Ada masalah serius?"


"Tidak juga sih, Yah. Mama hanya berpikir anak-anak sekarang sudah tumbuh remaja. Setelahnya mereka akan bermetamorfosa menjadi dewasa. Kita berdua akan menua. Dan..."


"Itu sudah hukum alam. Untuk apa Mama pikirkan? Biarkan semua berjalan dengan semestinya. Tidak perlu dirisaukan," sela Gusti memotong ucapan istrinya.


Maryam hanya tersenyum getir yang dipaksakan. Sebenarnya bukan itu yang menjadi kekhawatirannya. Tetapi sesuatu yang entah dia bisa jabarkan. Hanya dirinya yang merasa. Cuma dia yang mengerti. Mungkin ini adalah naluri seorang ibu terhadap anaknya.


Gusti beranjak menuju meja-meja pengunjung. Memeriksa sambil mengawasi dua orang pegawai yang tengah membersihkan meja dan kursi dengan alat kebersihan.


*


Hari ini semua murid di sekolah Qameella bersorak girang, karena mereka pulang lebih awal dari biasanya. Pihak sekolah terpaksa mempercepat jam pulang sekolah dengan alasan rapat dewan guru untuk persiapan ujian akhir tahun bagi kelas X dan XI. Juga rapat menghadapi ujian nasional bagi kelas XII.


Qarmitha sangat memanfaatkan momentum pulang cepat ini dengan hangout bareng bersama ketiga sahabatnya, Amelia, Sarah juga Yasmin. Sebelum pergi dia menyerahkan kunci sepeda motornya pada Qameella.


"Meel," suara itu memaksa Qameella mencari sumber suara. Netranya membola melihat sosok Tari berdiri di persimpangan antara gedung jurusan IPA dan IPS.


Wajah Tari sudah terlihat lebih segar dari hari terakhir mereka bertemu, saat Qameella datang menjenguk di rumahnya.

__ADS_1


"Tar," Qameella segera berhambur mendekati Tari. "elo udah masuk?" sahabatnya mengangguk sambil bergumam sebagai jawaban.


"Emangnya elo udah sehat?" tanya Qameella khawatir.


Mereka kini berdiri saling berhadapan, meraih jemari tangan Tari hingga saling berpegangan, mengaitkan jemari satu sama lain.


"Iya, gue udah baikan," senyum Tari terukir jelas di bibir yang terlihat tidak terlalu segar.


"Elo kok gak bilang, kalo masuk sekolah ke gue?" protes Qameella mencebikkan bibirnya sambil menggoyangkan tangan mereka, tampak berayun-ayun.


"Kalo gitu kita kan bisa berangkat bareng," lanjutnya.


Tari tertawa tanpa suara. Lalu melepaskan satu tangan yang saling berkaitan, menyisakan satu kaitan. Mengajak Qameella mengobrol sambil berjalan. Gadis itu menjelaskan kondisinya yang sudah stabil setelah mengetahui dirinya tidak hamil. Qameella tersenyum lega dan ikut bahagia. Kemudian mereka berpisah di halaman depan sekolah. Karena Tari sudah dijemput oleh Raffi. Sedangkan Qameella pergi ke areal parkir mengambil sepeda motornya di sana.


Sebelum berpisah Tari memberi tahu tentang Garda yang sedang dirawat di rumah sakit. Sontak Qameella terkejut dan khawatir. Dia merasa bersalah karena dirinya lah penyebab kesakitan cowok itu. Jika saja semalam tidak datang meminta bantuannya, maka hal buruk ini tidak akan terjadi.


Dengan perasaan campur aduk, antara malu, ragu dan ingin menjenguk Garda. Degup jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Akhirnya Qameella datang ke rumah sakit, lalu menuju kamar tempat cowok itu dirawat yang telah diberi tahu oleh Tari tadi. Tidak lupa dia membawa buah tangan untuk Garda yang sedang sakit. Senyum samar terpendar di bibirnya.


Di dalam otaknya tidak berhenti berpikir, kalimat apa yang tepat yang akan dibicarakannya nanti. Pasalnya ini adalah kali pertamanya berinisiatif menemuinya sendiri. Biasanya kan selalu ada Tari yang membimbingnya. Oh iya, semalam dia datang sendiri ke basecamp gengnya Garda, dan inisiatif sendiri tentunya. Tapi... konteksnya beda.


Ya udah biarin aja seperti air mengalir!


Tibalah Qameella di kamar rawat Garda. Sebelum mengetuk pintu dia berusaha menormalkan degup jantungnya yang terasa terus berlari hendak melompat keluar dari tempatnya. Namun kenyataannya malah bertambah menggila. Tubuhnya mendadak terasa panas dingin. Telapak tangannya pun jadi keringat dingin.


Qameella mengerahkan seluruh keberaniannya, mengangkat tangan siap mengetuk pintu. Dilihat pintunya sedikit terbuka. Dia ingin langsung mendorongnya segera. Tapi... urung dilakukan tatkala netranya berhasil menembus kaca bening yang terdapat di pinggir pintu. Pemandangan yang memang seharusnya tidak perlu dilihat. Ujung-ujungnya hanya membuat patah hati. Keinginan untuk menjenguk pun menguap begitu saja, tersedot udara di rumah sakit.


Ya amplop... sakitnya tuh di sini ternyata. Entah di hati atau di ampela.


Lagi-lagi Qameella menyaksikan kemesraan Garda dan Fiola di dalam sana. Hatinya tidak kuat melihat semua itu. Dia tidak siap melihat kegiatan mereka berdua yang sangat dekat nyaris tanpa jarak. Sontak seluruh tubuhnya melemah. Keberaniannya yang baru terkumpul setengah pun raib entah kemana. Tidak terasa buah tangan yang masih dalam genggamannya jatuh luruh ke lantai. Berceceran dan mungkin menimbulkan suara yang bisa didengar sampai ke telinga Garda.


Terbukti saat buah-buahan yang dibawa Qameella jatuh, Garda langsung menoleh mencari sumber suara. Buru-buru Qameella menunduk agar kebersihannya tidak terlihat. Setelahnya memunguti buah-buahannya dengan cepat tapi gerakan tangannya terasa melambat dan sedikit gemetar.


Tidak berselang lama datang beberapa orang juga ingin menjenguk Garda.


"Weihh, nyonya bos. Ngapain di sini sambil jongkok kaya gitu?" terdengar suara Ryan berbunyi nyaring. Memaksa Qameella segera mendongakkan wajahnya. Kemudian berdiri kaku sambil tersenyum ragu.


"Ah, Ling. Gak peka banget sih. Kalo Meella ke sini ya tentu aja mau jenguk ayang mbebnya lah. Masa mau ngeliat makhluk gosong kaya lu," seloroh Rombeng mengundang gelak tawa.


Qameella tidak bisa tertawa atau berkata apa-apa. Dia tampak gugup dan seperti orang bingung. Tanpa basa-basi dia menyerahkan buah yang tadi dipunguti dari lantai pada Ryan. Kontan bocah itu bingung.


"Apa nih maksudnya, nyonya bos? Kan yang sakit ada di dalam..."


"Gak papa ambil aja. Tadi gak sengaja lewat eh, maksudnya... tadi buahnya jatuh... eh, ya udah gue pulang dulu ya," Qameella tidak tahu harus berbicara apa. Kalimatnya terdengar kacau hingga sulit dicerna oleh Ryan dan kawan-kawan. Ada pendar kesedihan dan kekecewaan yang terpancar dari tatapan mata gadis itu. Langsung saja dia berpamitan pada mereka semua, lalu ambil langkah seribu agar segera hilang dari tempat itu.


"Kenapa tuh cewek kayanya gugup amat?" tanya Tikeng pada temannya yang juga sama tidak tahunya.

__ADS_1


"Mane ku tehe?" sahut Ryan asal sambil mengendikkan bahu.


Mereka langsung masuk ke dalam kamar rawat Garda. Alhasil mereka tahu apa penyebab sikap aneh Qameella.


"Huh... boleh jadi dia kabur, orang yang dilihat lagi pada begini," ujar Ryan ambigu.


Garda menggeser tubuhnya menjauh dari Fiola. Menatap heran wajah Ryan.


Rombongan tamu tak diundang itu langsung duduk mencari posisi masing-masing sendiri. Tanpa izin atau menunggu persetujuan si empunya kamar.


"Elo ngomong apaan sih? Gak danta banget kalo ngomong."


Ryan mendengus berat.


"Elo tuh yang gak danta. Minta dibantu tapi menyia-nyiakan kesempatan. Huh! Percuma dah kerja keras gue," alis Garda semakin bertaut mencerna ucapan Ryan.


"Lah, emangnya elo gak tahu, barusan Meella kan dari sini?" Rombeng ambil suara.


Raut keterkejutan terpancar jelas di wajah Garda. Hatinya merutuki kebodohannya yang tidak menyadari kedatangan istrinya.


Pendar kemenangan terukir jelas di senyum samar Fiola.


"Yang bener lo?" Garda meminta penjelasan.


"Ngapain kita bohong sih, orang banyak saksinya," jawab Tikeng.


Garda melompat dari tempat tidurnya. Tidak sabar ingin mengejar Qameella.


"Garda, elo mau kemana?" selidik Fiola berusaha menahan kepergian cowok itu.


"Bukan urusan lo!" bentaknya berang.


"Elo mau ngejar dia?" telisik Ryan dengan raut santainya. "ngapain? Dia udah pergi jauh. Malah udah nyampe rumahnya kali..."


"Gue bisa datang ke rumahnya," bocah itu meraih jaketnya yang tersampir di ujung ranjang.


"Tapi Gar, elo kan lagi sakit," Fiola memperingati.


Garda berusaha melepas perban-perban yang melilit tubuhnya. Yang membuatnya lebih mirip mumi Firaun dari pada seorang pasien rumah sakit.


*


Qameella langsung pulang ke rumahnya. Memarkir sepeda motornya di dalam garasi. Masuk ke dalam rumah, melewati ruang tamu, ruang tengah lalu masuk ke dalam kamarnya. Menjatuhkan diri di atas kasur dengan tubuh menelungkup memeluk bantal.


Tanpa malu karena memang dia sedang sendirian di rumah. Qarmitha masih belum pulang. Begitu pula dengan kedua orang tuanya yang masih sibuk di kedai mereka. Dia menumpahkan semua air matanya di atas bantal. Entah mengapa dia tiba-tiba menangis. Mungkinkah hanya karena melihat mereka dia jadi sedih? Tapi kenapa harus sedih? Biarkan saja mereka bahagia dengan cara mereka sendiri. Apa hubungannya dengan dirinya? Bukankah dia sudah mengakhiri hubungan mereka? Namun kenapa hatinya terasa sangat kecewa dan terluka? Apakah dia cemburu?

__ADS_1


__ADS_2