Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#76


__ADS_3

Happy reading


"Cewek yang tiba-tiba kasih surat cerai. Kali gue sih wajar aja kalo cewek itu minta cerai. Mungkin tuh cewek insecure sama selingkuhan kakinya. Soalnya selingkuhannya cantik banget, kaya artis sinetron gitu," kejar Desi sengaja menggiring opini publik. Sukses membuat orang-orang yang sedang menonton mereka kasak kusuk. Sekilas suara mereka terdengar seperti lalat yang mengerubungi kotoran.


Sedangkan Rega membelalakkan matanya. Terkejut mendengar penuturan gadis itu. Walau tidak tahu jelas, tapi dia yakin pernah satu SMA dengannya dan tidak satu jurusan.


"Surat cerai? Jadi, Mitha benar-benar melakukan apa yang udah jadi niatnya selama ini," gumam Rega kecewa. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya untuk menyalurkan kemarahannya yang tertahan.


Rega sangat menyayangkan sikap Mitha yang gegabah. Tanpa pikir panjang dan berbicara dengannya lebih dulu, begitu mudahnya memutuskan segalanya. Seakan tidak menganggap dirinya sebagai seorang suami.


"Gue rasa sih gak cuma insecure doang. Yah... siapa tahu cowoknya gak bisa muasin dia di ranjang, hehehe..." Anggi terkekeh puas kian memperkeruh suasana.


"Hmh, bisa aja," sahut Ririn mengaminkan.


Mitha memutar tubuhnya kasar. Menatap nyalang pada trio bebek itu.


"Atau jangan-jangan karena punya lakinya kecil kaya jamur Enoki. Jadi gak puas dia," tambah Desi terkikik geli sendiri.


Sialan!


Mitha benar-benar tersulut emosi mendengar ocehan yang tidak guna dari trio bebek itu. Makin didiamkan makin menjadi-jadi. Tangannya rasanya sudah gatal ingin menggaruk mulut comel mereka.


"Bacot lo!" semprot Mitha sarkas.


Desi, Anggi dan Ririn tertawa senang, berhasil membakar emosi Mitha yang sedari tadi susah payah diredam. Akhirnya meledak juga.


"Emang kenapa kalo gue cerai, elo mau marah, hah? Mau gue insecure kek, punya laki gue kecil kaya jamur Enoki kek, itu bukan urusan lo, sialan!" Mitha nyolot sambil menunjuk ke arah Desi dan kedua temannya.


"Oh, jadi benar ya, kalo punya laki lo cuma segede jamur Enoki ya?" Desi masih berusaha menabur garam di luka hati Mitha.


Rega mengeratkan rahangnya mendengar ucapan yang begitu menghina juga menjatuhkan harga dirinya sebagai lelaki perkasa. Dari mana mereka tahu jika miliknya hanya sebesar jamur Enoki? Emangnya mereka pernah lihat atau merasakannya? Ih, najis!


Woy! Pengumuman-pengumuman, seantero jagad raya! Rega masih perjaka tulen ya. Gak pernah sekalipun melakukan hal-hal kotor seperti zina. Dia masih menjaganya sampai detik ini. Dan dia hanya akan menyerahkan keperjakaannya pada perempuan yang halal untuk digaulinya. Bukan cewek haram apalagi yang jadi-jadian. Dasar cewek-cewek bermulut ember!


"Kalo iya emang kenapa? Masalah buat loh?!" Mitha tidak sadar jika ucapannya itu akan membawa petaka pada dirinya sendiri.


Si trio bebek itu tertawa ngakak.

__ADS_1


Yasmin, Sarah dan Amel sudah geregetan ingin menjambak rambut mereka sampai botak. Sekalian menampar wajah mereka sampai pipi mulus mereka pada bengep. Serta bibir seksi mereka jadi jontor, biar tahu rasa mereka.


"Oh ya?" Rega sudah berdiri di belakang Mitha.


Sontak membuat Mitha membalikkan badannya menghadap Rega dengan kaget. Dia menelan salivanya susah payah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.


"Aduh, mampus gue!!! Ck, orangnya pake ada di sini lagi. Denger gak ya dia? Moga-moga aja tadi dia gak denger," dalam hati Mitha kelabakan. Takut Rega akan marah.


Rega menyeringai yang justru terlihat menakutkan di mata Mitha. Karena ekspresi wajah Rega yang tampak tidak bersahabat.


"Sorry nih, Mith. Gue mau salaman dulu sama pengantin," pamit Sarah yang diikuti oleh Yasmin dan Amel.


Kemudian masing-masing dari Amel, Yasmin dan Sarah langsung menarik paksa Desi, Anggi dan Ririn. Membawa mereka semua ke tempat yang jauh dari jangkauan orang lain. Jangan ditanya apa yang akan Yasmin cs lakukan pada mereka. Tentu bukan untuk disayang juga dibelai. Terutama Sarah yang sedari tadi sudah gemas. Karena mereka semua sudah menerima uang untuk menghapus video kemarin. Tapi malah tetap mereka sebarkan di akun media sosial mereka sendiri.


Dasar teman laknat! Gue lagi kesusahan begini bukannya ditolongin, malah ditinggal kabur. Awas aja ya kalian semua!


Mitha ingin ikut kabur bersama mereka. Namun Rega menghalanginya dengan memblokade langkahnya. Diam-diam tangan kanannya terulur menarik tangan salah satu dari mereka. Hendak menahan kepergian mereka. Tapi tidak berhasil.


"Kamu yakin hanya sebesar jamur Enoki?" entah mengapa pertanyaan itu membuat Mitha merinding. Dan cepat-cepat ingin kabur dari sini. Buru-buru menggeleng saat tangan Rega mampir di bahu Mitha.


"Baik. Ayo aku tunjukkan. Dan kita buktikan, apa benar hanya sebesar jamur Enoki," Rega menyeringai misterius.


Tidak peduli tatapan menyelidik dan bertanya dari setiap orang yang melihat perbuatannya. Rungunya pun mendadak tuli ketika Mitha berkali-kali merengek minta diturunkan karena malu dilihat banyak orang, seraya memukul punggung Rega yang keras.


*


Rega melempar tubuh Mitha di atas kasur hotel. Wajah tampan yang begitu serius terkesan menyeramkan di mata Mitha. Baru kali ini gadis itu merasakan takut. Padahal sebelumnya pernah menghadapi lima preman sekaligus tanpa gentar. Tapi mengapa menghadapi satu Rega mentalnya langsung menciut.


Ya ampun... mimpi apa gue semalam. Sial banget sih gue hari ini?


Anggap saja begitu. Pasalnya sebelum bertemu dengan trio bebek tadi. Mitha sempat bertemu dengan sang mantan, Dicky, bersama si pelakor Raisya di acara resepsi. Hampir terjadi keributan diantara mereka jika Yasmin dan yang lainnya tidak turun tangan. Itulah sebabnya dia dan teman-temannya melipir ke meja prasmanan. Eh, bukannya aman jadi bertambah parah.


" Eh, kamu mau ngapain?" tanya Mitha panik, beranjak duduk, melihat Rega membuka kancing kemejanya satu demi satu dari atas ke bawah.


Orang yang ditanya menyeringai sinis tanpa menghentikan kegiatannya sedikit pun.


"Kenapa, panik?" paling tidak enak jika pertanyaan dibalas pertanyaan balik. "bukannya kita mau melakukan pembuktian ya?"

__ADS_1


"Hah?! Sompret nih orang! Dikira dia apa mau pembuktian segala," ucapan Mitha ini hanya sampai di hatinya. Tidak berani diucapkan oleh lisannya.


"Sekalian kita lakukan malam pertama kita yang udah basi. Karena udah terlalu lama kamu mengulur waktu, dan menggantung hubungan kita. Sayangnya, aku gak bisa berbuat apa-apa buat maksa kamu kemarin-kemarin," Rega melempar kemejanya ke sembarangan.


What?! Gue harap kuping gue budek aja sekarang!


"Wait, wait! Kamu mau apa?" Mitha panik sambil menahan bobot tubuh Rega yang sudah siap menindihnya di atas kasur.


Wajah Mitha memanas disertai rona merah, sengaja dipalingkan agar matanya tidak ternoda melihat dada naked Rega. Walau tubuh Rega atletis lengkap perut kotak-kotak seperti roti sobek. Tapi dia malu ditambah dengan statusnya sudah bukan suami istri lagi. Kesannya bukan wajar namun kurang ajar.


Rega mengernyitkan dahi seraya mengangkat sebelah alisnya. Menatap lekat wajah Mitha yang merah seperti kepiting rebus, di bawah kungkungannya. Tampak mempesona di matanya. Sikap malu-malunya membuat dia gemas. Tidak sabar ingin segera menerkamnya.


"Ingat ya, aku udah gugat cerai kamu. Dan aku udah kasih surat cerainya buat kamu tanda tangani kemarin," sergah Mitha cepat sebelum bibir tipis Rega benar-benar menempel di bibir ranumnya. Lalu menengadahkan sebelah tangannya. Sementara tangan lainnya digunakan untuk menopang tubuh Rega.


"Sekarang aku minta, mana surat cerai itu? Karena setelah kamu tanda tangani kita resmi menjadi duda dan janda."


Rega yang masih mempertahankan posisi dengan menopang tubuhnya pada dua tangannya dan kedua lututnya. Menyeringai melihat wajah panik sang istri. Mungkin panik antara mencemaskan status pernikahannya atau belum siap menjalankan tugas sebagai istri yang sesungguhnya.


"Surat cerai? Surat cerai yang mana? Kapan aku pernah menalak kamu?" lagi, Mitha sebal pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan yang berentetan sudah seperti gerbong kereta api.


"Ish... kamu jangan bohong deh! Orang kemarin aku langsung kasih ke kamu."


Rega tertegun, berpikir, lalu merubah posisinya menjadi duduk di depan Mitha. Berusaha mengingat momen apa yang sudah mempertemukannya dengan gadis ini.


Mitha ikut duduk kendati kedua kakinya masih berada di bawah kungkungan Rega.


"Aku sibuk bolak-balik ke rumah sakit dan klinik. Gak punya waktu buat ketemuan sama kamu," terang Rega jujur. "apalagi aku harus menghadiri seminar, dan menjadi pembicaraan di sana selama dua hari di tempat berbeda."


"Cih, belagu! Iya aku tahu kamu sibuk. Sampai gak punya waktu buat ketemu aku, orang gak penting buat kamu," Mitha berdecih miris pada dirinya sendiri. Hatinya tercubit sekaligus sadar jika dia tidak berarti apa-apa untuk Rega. Dia menundukkan wajahnya menatap jari-jemarinya yang saling bertaut.


"Hmh... ngapain juga kamu nemuin aku. Aku bukan orang penting. Lagian kamu kan udah punya pengganti aku. Eh, gak deh. Kita sama-sama gak menolak pernikahan terpaksa ini. Jadi wajar kamu udah punya calon pasangan yang tepat. Apalagi mukanya cantik banget. Pokoknya aku gak ada apa-apanya deh dibanding dia."


Aduh... lama-lama nyesek juga dada Mitha. Mengatakan hal dengan jujur memang pahit. Hingga terasa mencekik lehernya. Nyaris air matanya lolos jika tidak buru-buru mengalihkan pandangannya. Dia tidak mau bila Rega melihatnya menangis.


"Calon pasangan?" Rega mengulangi.


"Udah deh, lebih baik kamu minggir sekarang. Aku mau keluar dari sini, supaya bisa cepat pulang. Aku gak mau mengusik hubungan kalian. Apalagi kita udah cerai. Jadi, nikmati masa-masa manis kalian," pungkas Mitha dengan suara agak bergetar, seraya mendorong dada naked Rega. Dengan mudahnya tubuh pria itu terdorong, dan melepaskan begitu saja.

__ADS_1


Rega terdiam meski otaknya terus berputar dan mencerna ucapan Mitha yang tidak ada benarnya. Dia tidak pernah mau menceraikan Mitha. Apalagi mencari wanita lain untuk dijadikan sebagai pengganti. Bulshit!


__ADS_2