
Happy reading
****************
Di klinik, dalam ruang praktek Rega.
Rega dan Mitha duduk bertatap muka. Hanya dipisahkan oleh meja kerja Rega, keduanya tampak serius dengan pikiran masing-masing. Cukup lama sepasang pengantin baru itu terperangkap dalam kebisuan. Hingga lelah Mitha menunggu.
"Sebaiknya, kamu cepetan ngomongnya deh. Dari pada sedari tadi aku capek cuma nungguin kamu ngomong. Padahal kamu tadi udah serius banget mau ngajakin ngomong. Eh, pas aku di sini cuma dianggurin doang," keluh Mitha sudah tidak sabaran untuk memulai pembicaraan.
Rega bergeming seakan tidak mau memberi respon. Hanya membiarkan istrinya ngoceh sendiri mirip radio rusak.
"Ya udah, kalo gak ada yang penting, aku pamit kembali ke sekolah. Karena sebentar lagi aku ada jam mengajar di kelas IX 2," tukasnya hendak beranjak dari tempat duduknya.
"Kenapa?" Mitha mengernyit heran menatap wajah tampan namun datar penuh tanya.
"Kenapa terburu-buru? Kamu baru lima menit menduduki kursi itu. Apakah segitu gak sabarnya kamu mau menemui guru BP itu?" tanya Rega sinis. Tanpa mencari informasi yang sesungguhnya langsung menuduh.
Mitha mendengus kesal, kembali mendaratkan bokongnya di atas kursi pasien, yang biasa berkonsultasi dengan Rega si dokter tampan.
"Kamu pikir aku punya hubungan spesial sama Pak Nas, gitu?" Mitha langsung berasumsi. Lalu tersenyum miring.
"Kalo gak, kenapa kamu mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan?" selidik Rega penasaran.
"Hmhh...," Mitha menghembuskan nafas panjang. Memutar bola matanya malas.
"Aku hanya ingin kamu bebas tanpa ikatan pernikahan yang gak jelas sama aku. Karena aku yakin pernikahan kita gak akan bahagia. Tanpa cinta di antara kita," sahutnya sangat terang-terangan.
Rega menyeringai miring, tampak meremehkan, tidak sefaham dengan pemikiran dangkal gadis di depannya.
"Bagaimana kamu tahu pernikahan kita gak akan bahagia, jika kita sekarang aja belum pernah hidup satu atap?" ucapan yang begitu cerdas dari seorang Rega berhasil menukik hati Mitha.
"Bukankah itu artinya kamu terlalu dini untuk menyimpulkan sesuatu, yang bahkan belum pernah mencoba menjalaninya sama sekali?" tandasnya kian membuat Mitha mati kutu.
Mitha hanya diam, tidak mau menyanggah. Dari sini dia dapat menyimpulkan bila si dokter tampan itu tidak mau bercerai.
*
Garda segera membaringkan tubuh Bianca di atas sofa panjang dalam ruang kantornya. Dia tidak tahu mengapa tiba-tiba tunangannya pingsan melihat wajah Meella. Padahal sebelumnya kedua gadis itu sudah pernah bertemu. Walau pun Bianca tidak menunjukkan keramahannya pada Meella saat itu.
"Bi, Bi... bangun Bi...," seru Garda seraya menepuk pelan pipi tunangannya. Namun masih belum juga sadar.
__ADS_1
Garda menoleh ke arah pintu. Belum ada tanda-tanda sekretaris barunya datang, membawakan minyak angin sesuai yang telah diperintahkan sebelumnya.
Setelah beberapa menit menunggu Meella masih belum menunjukkan batang hidungnya. Akhirnya Garda memutuskan untuk menyusul sekretaris cupunya di luar.
Sementara Meella yang masih bergeming di luar pintu ruangan atasannya, berdiri mematung seraya menyentuh bibirnya dengan jari tangan kanannya. Dia hanya heran mengapa tiba-tiba bosnya menciumnya. Tentu saja dia tidak berani berpikir bosnya jatuh cinta padanya. Karena itu sesuatu yang mustahil. Tapi kenapa begitu mudahnya Garda mencium Meella tanpa permisi serta tanpa perasaan.
Seharusnya tadi mempertanyakannya langsung pada si bos. Namun belum sempat bertanya, tunangan bosnya datang memergoki mereka. Malah sekarang Bianca pingsan tanpa alasan jelas.
Tiba-tiba Meella terjengit kaget saat bahunya ada yang menepuk dari belakang. Memaksanya menolehkan wajah melalui celah bahunya.
"Eh, Pak," ucapnya canggung telah tertangkap basah sedang melamun di depan pintu ruangan bosnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Mana yang saya minta?" tanya Garda tidak sabar dengan mengetatkan rahangnya.
"Oh, sebentar Pak, saya carikan dulu," ucapnya bergegas menuju meja kerjanya.
Seingatnya dia selalu membawa minyak angin aromatherapy atau minyak kayu putih di dalam tasnya. Entah kenapa beberapa hari belakangan ini Meella diserang mual dan pusing dadakan. Tapi gadis itu tidak pernah ingin memeriksa kondisi kesehatannya di rumah sakit atau klinik terdekat.
"Ck, lamban!" hardik Garda.
"Ini, Pak," Meella segera menyorong botol minyak angin aromatherapy yang tidak seberapa besar, yang langsung diraih Garda dengan cepat.
"Sayang, aku takut," ucapnya manja.
"Takut? Kamu takut kenapa?" tanya Garda tidak mengerti.
"Eh... pokoknya takut," sahut Bianca ragu dan tidak mau berterus terang.
Garda menaikkan sebelah alisnya. Berusaha memahami namun tidak diterima oleh logikanya. Apalagi ketika Bianca secara tidak terduga meminta sesuatu diluar dugaannya.
"Bisa kah kamu pecat saja sekretaris baru kamu, Say...?"
Apa?!
Garda hampir berteriak yang akhirnya hanya tertahan di hati. Tidak mengerti apa isi di dalam otaknya setelah siuman. Lagi pula dia bukanlah anak ingusan yang mudah didikte oleh orang lain.
Sejenak Meella hanya bisa diam membisu di tempatnya berdiri. Menatap datar sepasang kekasih di dalam. Terutama wajah Bianca yang sok manis di depan Garda. Sebisa mungkin tidak terpengaruh oleh sikap dan permintaan konyol di calon istri bosnya. Walau tidak munafik, dalam hati dia gemas juga melihat tingkah manja Bianca. Rasanya manusiawi sekali bila dia kesal. Iya kan?
Namun dia tidak bisa mengelak bila Garda benar-benar ingin memecatnya. Anggap saja itu demi cinta Garda pada sang tunangan. Bukankah hal wajar jika si lelaki melakukan apa saja yang diminta si wanita, sebagai pembuktian cinta? Walaupun hal konyol sekali pun
Sementara Garda dengan keterkejutan yang berusaha dia tutupi. Dan jauh di lubuk hatinya dia tidak rela melepaskan gadis yang sudah memakai kacamata minusnya kembali jauh dari sisinya. Kendati masih bingung dengan perasaannya sendiri pada gadis itu. Dia tetap ingin mempertahankan Meella ada di perusahaan yang dipimpinnya.
__ADS_1
"Aku...." Garda ragu menjawab permintaan Bianca. Tanpa sengaja tatapan matanya bertemu dengan tatapan dingin dan datar Meella. Seakan tidak ada emosi pada sorot matanya.
Bertepatan dengan itu, pandangan mata Bianca mengikuti ke mana arah pandang Garda. Lalu menatap Meella dan Garda bergantian. Walau pun tatapan mata Meella yang begitu datar dan nyaris tidak ada emosi di dalamnya. Tetapi mampu membangkitkan emosi dalam hatinya. Emosi membara akibat terbakar cemburu buta.
Hati Bianca mencelos penuh rasa iri, saat Garda menatap mendamba pada gadis itu. Yang sejujurnya tidak pernah didapatkan hingga detik ini. Dia hanya merasakan tatapan penuh ragu yang ditunjukkan Garda untuknya.
'Ada apa ini? Mengapa Pandega menatapnya seperti itu?' bisik batin Bianca cemas. Dia tidak boleh tinggal diam. Gadis cupu itu harus segera menjauh dari Pandega. Bisa-bisa berakibat fatal bila tidak segera dipisahkan.
'Ah... Om Andika! Yah, aku harus segera minta bantuan Om Andika untuk menyingkirkan gadis jelek itu,' tekadnya dalam hati.
Gadis itu berjalan mendekati mereka dengan secangkir teh hangat di tangannya. Saat langkahnya sampai di depan meja sofa yang diduduki Garda dan Bianca, Meella meletakkan cangkir teh itu di atas meja kaca hingga terdengar ketukan khas antara gelas keramik dan permukaan kaca.
"Gak papa, Pak. Saya bersedia bila Bapak mau pecat saya saat ini juga. Demi hubungan antara Bapak dan tunangan Bapak, Nona Bianca. Saya segera kemasi barang-barang saya sekarang, bila Bapak menyuruh," suara Meella terdengar lembut namun memiliki ketegasan tanpa keraguan di sana. Seakan sengaja menyerobot ucapan bosnya yang begitu ragu mengambil keputusan.
Merasa di atas angin, tanpa membantah Meella begitu saja menyetujui ide gilanya.
Diam-diam Bianca tersenyum samar nyaris tak terlihat. Garda pun sepertinya tidak menyadari hal itu. Sayang, semuanya terpaksa pupus, lantaran apa yang ada dalam otaknya tidak sesuai dengan kenyataan.
"Tidak!" Garda bangkit berdiri dari duduknya. Bagai suara singa mengaum. Terdengar menakutkan. "di sini siapa bos kamu?"
Meella tertegun melihat amarah yang terpancar dari sorot mata Garda. Seakan dia melihat Garda lima tahun yang lalu. Juga dalam kondisi marah, saat itu Meella untuk pertama kalinya datang sendiri ke basecamp ABABIL. Dengan percaya dirinya mengatakan hamil di hadapan Ryan Keling.
'Andainya kamu masih hidup, pasti kamu udah seusianya sekarang, Gar,' gumamnya dalam hati.
Berbeda dengan Meella yang jadi teringat masa lalu. Bianca malah syok melihat kemarahan Garda. Dari awal bertemu dengan Garda, tidak pernah sekalipun Bianca melihat ekspresi marah seserius ini. Mungkin ini memang salahnya sendiri yang sok ikut campur dengan harapan Garda mau menuruti segala keinginannya. Seperti permintaannya yang lain. Hingga berpikir Garda akan selalu mendukung semua permintaannya tanpa terkecuali sebagai bukti ketulusan cinta Garda padanya.
Belum sempat menginterogasi Garda yang dipergoki sedang berciuman dengan sekretarisnya diawal kedatangan Bianca. Tapi sudah berakhir seperti ini, yang tentu saja tidak pernah Bianca kira akan sebelumnya.
"Maaf, Pak..."
"Tidak ada satu orang pun yang dipecat dari perusahaan saat ini," putus Garda tidak ada yang membantah.
Wajah Bianca pias mendengar keputusan Garda.
'Sialan, aku tidak boleh tinggal diam! Aku harus segera minta bantuan Om Andika untuk menyingkirkan gadis cupu itu, supaya posisiku tetap aman menjadi menantu keluarga pemilik Negara's Group,' bisik batin Bianca.
*
Hai readers... mana nih like vote dan komentarnya? Kok sepi ya...
See you next episode ya...
__ADS_1