
Hai readers... minal 'aidin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin ya...
Mohon maaf bila author sering bikin readers marah gara-gara author kelamaan ng-update wkwkw ckk...
Happy reading....
******************************************
Andika berjalan berkeliling mengitari setiap sudut ballroom hotel bintang lima, salah satu hotel yang berada di bawah naungan Negara's Group, miliknya. Mata elangnya tampak tajam mengawasi setiap pekerja yang bergerak mendekorasi ruangan itu dengan bunga-bunga segar nan cantik. Ruangan yang akan digunakan untuk perhelatan akbar putra kesayangannya, Garda. Ya, apalagi bila bukan acara pertunangan Garda dengan Bianca nanti malam.
Pria tampan dan gagah itu memang usianya tidak lagi semuda dulu. Namun gerak tubuhnya tetap gesit bagai anak muda. Dia sengaja turun tangan mengurus acara pertunangan Garda. Walau pun tidak 100% karena menyewa jasa even organizer, setidaknya sedikit banyak bisa sesuai dengan ekspektasinya.
Di tempat berbeda dengan waktu yang hampir bersamaan. Dalam ruangan tertutup, telah duduk seorang lelaki berusia lima puluh tahunan di sofa tunggal. Kemudian seorang wanita berusia hampir lima puluhan duduk berdampingan dengan gadis muda berusia dua puluh lima tahun di sofa panjang.
"Ternyata usaha kita tidak sia-sia selama ini, karena putri kesayangan kita berhasil masuk tahap ini," ujar wanita hampir berusia paruh baya itu seraya membelai puncak kepala putrinya.
Gadis itu tersenyum lebar sambil menyandarkan kepalanya pada bahu sang ibu.
"Jangan senang dulu," kilah pria itu menginterupsi. Sontak wajah ceria wanita itu langsung berubah masam lalu berdecak tak senang.
"Kita belum sepenuhnya berhasil. Bianca masih belum menjadi Nyonya di keluarga Negara. Dia masih harus bekerja keras lagi untuk menaklukan Garda."
Gadis muda itu adalah Bianca, calon tunangan Garda. Langsung menegakkan kepalanya.
"Papa tenang aja, Bianca akan berusaha terus agar Garda benar-benar tunduk di bawah kaki kita. Apalagi Om Andika udah mempermudah jalan kita. Bianca yakin, kita bisa menguasai kekayaan Negara's Group," sahutnya penuh keyakinan tinggi.
"Anak Mama memang sangat manis juga cerdas," puji wanita itu sambil menangkupkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Bianca.
Bianca tersenyum ceria.
Dengan menopang sebelah kepalanya pada tangan sofa. pria itu tersenyum misterius.
*
Tiga puluh menit sebelum acara pertunangan dimulai. Para tamu mulai dari kalangan pengusaha, konglomerat sampai pejabat, tampak sudah berdatangan mengisi ballroom hotel yang disulap menjadi taman penuh bunga. Tidak ketinggalan orang-orang yang memiliki kedudukan penting di perusahaan cabang Negara’s group juga ikut datang menghadiri pesta tersebut. Serta beberapa karyawan terpilih, karena tidak mungkin semua karyawan Negara's Group dari semua kantor cabang yang tersebar hampir di seluruh Indonesia dan luar negeri datang memenuhi ballroom hotel. Bisa dibayangkan bagaimana padat dan membludaknya. Alih-alih ingin meriahkan pesta malah merusak suasana.
__ADS_1
Entah suatu keberuntungan atau sebaliknya bagi Qameella menjadi salah satu tamu undangan pada pesta itu. Bersama Fadhlan, Arien dan Dita, juga dua orang dari divisi lain. Gadis itu terpaksa ikut lantaran Dita yang memaksanya. Dengan dalih keinginan sang jabang bayi yang ada dalam perutnya, membuat Qameella sulit menolaknya.
Dita benar-benar jago membuat Qameella tidak bisa menolak semua permintaannya. Sebelum berangkat ke pesta, Dita pun berhasil me-make over gadis berkacamata minus itu terlihat sangat cantik dengan balutan gaun putih tanpa lengan yang indah nan menawan. Tentu saja gaun itu salah satu koleksi terbaik Dita serta aksesorisnya. Namun terlihat pas di tubuh ramping Qameella. Selain itu, wanita yang tengah hamil itu berhasil melepaskan kacamata minus yang selalu nangkring di pangkal hidungnya. Memakaikan softlens sebagai pengganti kacamatanya.
"Perfecto and cantik to," decak Dita memuji kecantikan Qameella. Sedangkan gadis yang dipuji hanya diam mematung menatap pantulan wajahnya di cermin.
Garda masih di dalam kamar suit hotel yang sama dengan ballroom tempat acara pertunangannya di selenggarakan. Pemuda dua puluh empat tahun lebih dua bulan itu sudah tampak tampan dengan balutan tuxedo hitamnya. Sementara Andika masih berbenah dibantu oleh seorang wanita cantik yang sudah cukup lama mendampinginya. Namun status keduanya masih belum jelas keabsahannya.
Di tengah ballroom hotel yang sudah ramai oleh para tamu. Dari keramaian itu tiba-tiba Qameella muncul dengan pesona keanggunan yang memancar. Hingga membuat Fadhlan dan Arien yang sudah datang lebih dulu, tertegun melihatnya dengan gerak slow motion. Keduanya baru pertama kali melihat penampilan luar biasa gadis yang selalu menyembunyikan kecantikan haqiqinya di balik penampilan sederhana dan kacamata minusnya.
"Meella? Elo beneran Meella?" Arien tampak kurang percaya. Matanya memindai setiap inci tubuh gadis yang terlihat mulai kikuk dan risih.
"Hebat kan gue, Mbak? Gue berhasil menyulap cewek cupu kaya si Meella jadi cantik bak putri," Dita tersenyum bangga menunjukkan maha karyanya.
Arien hanya mencebikan bibirnya, tidak mau mengakui kepandaian Dita.
"Cantik!" Fadhlan tiba-tiba bersuara pelan. Sepasang mata elangnya tidak berkedip, seakan tersihir oleh kecantikan Qameella.
Fadhlan menghela napas lega. Terselamatkan oleh MC itu.
"Ladies and gentleman... mari kita sambut kehadiran sang calon mempelai wanita, Bianca Prayoga Hutomo... putri dari seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang pertambangan, bapak Prayoga Hutomo."
Para tamu undangan bertepuk tangan seraya bergerak mendekati panggung, menyambut kedatangan gadis cantik itu saat baru menaiki hingga berdiri di atas panggung. Sebagian besar mereka memuji kecantikan Bianca yang tampak sangat anggun dengan balutan gaun panjang menjuntai hingga menyentuh lantai, hasil rancangan designer ternama Indonesia.
Qameella hanya mengamati dengan ekspresi datarnya di tengah keramaian tamu yang hadir malam ini. Dan ikut bertepuk tangan walau hanya setengah hati.
Satu menit kemudian. MC kembali membuka suara. Kali ini memanggil calon mempelai pria.
"Ladies and gentleman, setelah calon mempelai wanita hadir. Langsung saja kita hadirkan sang calon mempelai pria, Pandega Garda Negara, putra dari bapak Andika Pratama Negara. Yang sama-sama kita sudah tahu beliau merupakan seorang pengusaha sukses bukan hanya di tanah air, bahkan sampai ke mancanegara."
Deg!
Dada Qameella mendadak terasa sesak seakan tertimpa sesuatu yang tak kasat mata, setelah mendengar dua nama itu disebut oleh MC di atas panggung. Hampir terjatuh lantaran sepasang kaki jenjangnya mendadak lunglai tanpa bertenaga.
__ADS_1
"Elo kenapa, Meel?" tegur Arien seraya menopang tubuh Qameella yang hampir terjatuh.
"Gak... aku gak papa, Mbak," sahut Qameella berusaha kuat berdiri. Walau pada akhirnya Arien memapahnya ke tempat yang lebih nyaman.
Fadhlan dan Dita masih berdiri di dekat panggung bersama tamu yang lain. Jadi, mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Qameella.
"Elo sakit?" selidik Arien sambil mengecek suhu tubuh Qameella, dengan meletakkan punggung tangannya di kening gadis yang wajahnya tampak memucat.
"Gak, aku gak papa, Mbak," Qameella berusaha menenangkan Arien yang sedang panik.
"Mbak tenang aja. Beneran aku gak papa. Aku cuma gak biasa pake high heels kaya gini," lanjutnya berusaha menjelaskan seraya menunjukkan sepatu berhak tinggi di kakinya.
Arien mendengus lega. Kepanikannya pun sirna dalam sekejap.
"Huh! Untunglah, kalo cuma begitu doang sih. Gue khawatir elo sampai kenapa-napa."
Qameella tersenyum walau dalam hati masih terasa kacau balau. Bagaimana tidak, bila nama dan wajah familiar itu tiba-tiba muncul di depan mata. Orang-orang yang seharusnya tidak boleh ditemuinya, dan orang yang seharusnya memang sudah tidak ada lagi ada di dunia ini.
"Mbak, Mbak kembali aja ke sana, gabung sama yang lain. Aku gak papa. Mbak gak usah khawatir."
"Tapi, Meel..."
"Udah... aku gak papa. Lagian aku mau ke toilet. Emangnya Mbak Arien mau anterin aku ke sana?" goda Qameella bermaksud mengusir Arien secara halus.
Tentu saja Arien tidak mau sangat sesuai dengan prediksi Qameella. Kemudian wanita muda itu undur diri hendak bergabung dengan Dita dan Fadhlan.
Kini tinggal Qameella sendiri, menjauhi keramaian yang ada. Dia tidak pergi ke toilet karena memang tidak ingin. Tadi dia sengaja berbohong pada Arien, mengatakan ingin ke toilet hanya untuk mengusirnya saja.
Qameella ingin sendiri dan berdiam diri di sudut yang tidak bisa terlihat oleh siapa pun. Air mata yang sedari tadi ia tahan sekuat tenaga hingga kepalanya sedikit pening. Akhirnya tumpah ruah membasahi pipinya. Saat menangis dia lupa sedang memakai softlens. Juga tidak sadar bila benda kecil transparan itu keluar bersama air mata yang mengalir.
Dari kejauhan diam-diam ada seseorang yang sedang memperhatikan Qameella. Entah siapa dia, yang jelas orang itu sudah memperhatikan gadis itu sejak tiba di pesta.
*
Sampai di sini dulu ya episode kali ini. Next time kita sambung lagi.
__ADS_1
See you next episode... 😘🥰