Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Bukan Cerita Horor


__ADS_3

Hai… para readersku yang baik hati dan budiman…


Gimana kesan kalian tentang karya author ini? semoga bisa menghibur saat mengisi waktu senggang kalian ya…


Terima kasih banyak author ucapkan karena jempol cantik para readers, yang udah like dan memfavoritkan karya author satu ini.


Masih author tunggu dan nantikan saat para readers memberikan vote, like+rate untuk menaikkan level supaya bisa lulus kontrak. Jangan lupa votenya juga ya… plus komen yang udah kaya suplemen obat kuat author supaya tetap semangat ’45 update.


Happy reading ya…


*****************************


“Elo yakin mau ambil motor lo di sekolah jam segini?” tanya Tari untuk memastikan. Walau pun helm sudah nangkring di atas kepalanya, mesin sepeda motornya sudah dihidupkan dengan tubuh kurusnya nangkring di atasnya, dalam hatinya ada rasa keraguan yang membuatnya tidak yakin akan situasi ini.


“Iya,” jawab Qameella cepat. Memposisikan dirinya sendiri di jok belakang Tari sambil mengaitkan tali helm yang dipakainya.


“Kenapa gak besok aja sih, sekalian elo bawa pas pulang sekolah?”


Qameella memiringkan kepalanya melongok dari belakang bahu Tari. Memastikan sesuatu dari ekspresi wajah sang sahabat yang terlihat aneh.


“Kenapa, elo takut?” bukannya menjawab Qameella balik bertanya. Dia sengaja ingin mengetes seberapa berani Tari menerima tantangannya. Seulas senyum terkulum di ujung bibir gadis berkacamata minus itu. Dia tahu kalau teman baiknya adalah jenis orang yang penakut, dan mudah sekali ditakut-takuti.


Kisah horor tentang bangunan sekolah bukan lagi hal yang baru atau pun tabu di kalangan masyarakat luas. Tidak sedikit orang yang percaya dengan kehadiran makhluk astral penghuni gedung sekolah. Mungkin hal itulah yang sedang mengusik pikiran Tari. Apalagi belakangan ini sering beredar cerita horor di lingkungan sekolahnya sendiri. Tentu saja membuat bulu kuduk berdiri.


“Gue, takut? Heh! Hahaha...” Tari berusaha menutupi ketakutannya dengan tawa sumbang. Dia takut diledekin oleh Qameella. Walau pun dari luar sahabatnya itu orang yang tidak banyak omong, tapi kalau sudah ngomong kuping akan terasa pedas melebihi pedasnya cabe setan.


“Kapan gue pernah bilang kalo gue penakut? Ngarang aja lo!” kilah Tari sombong, padahal yang sebenarnya nyalinya menciut. Lalu tertawa sumbang lagi.


Ya Tuhan... moga-moga aja gak ada apa-apa, juga gak terjadi apa-apa di sana. Pinta dan doanya dalam hati.


Diam-diam Qameella menahan tawa. Dia tahu Tari sedang berbohong.


“Kalo berani, ya udah jalanin motornya, ngapain masih diam bae di sini?” titahnya yang membuat Tari tidak bisa berkutik. Pelan tapi pasti Tari mengemudikan sepeda motornya.


Pada saat yang hampir bersamaan Garda memasuki kompleks perumahan tempat Qameella tinggal. Cowok itu ingin bertemu dengan gadisnya. Namun belum sampai tiba di rumah Qameella, di tengah jalan dia berpapasan dengannya menuju arah luar gerbang kompleks.


“Mau kemana mereka malam-malam begini?” tanyanya dalam hati. “bukannya dia gak dibolehin keluar malam sama bokapnya, ya?”


Karena penasaran Garda langsung memutar sepeda motornya, langsung membuntuti Qameella dan Tari.



Qameella meminta izin kepada Pak Supri, penjaga sekolah yang kebetulan sedang duduk santai di pos satpam dekat gerbang sekolah. Dengan ditemani segelas kopi hitam dan musik dangdut yang mengalun dari ponselnya, menemaninya beraktifitas pada malam dingin ini.

__ADS_1


Setelah mendapat izin, Qameella yang ditemani Tari masuk ke dalam areal parkir yang menjorok ke dalam, dekat ruang UKS.


"Katanya berani? Kok pegang tangan gue kenceng banget, kayanya sampai lecet atau memar saking kencengnya elo pegangin," sindir Qameella pedas. Refleks Tari melepaskan pegangannya.


"Apa sih lo, lebay! Cuma pegang gitu doang, gak mungkin tangan lo sampai luka," sungutnya kesal.


Qameella mendengus pelan.


Di depan gerbang, Garda baru saja tiba. Turun dari sepeda motornya dan melepaskan helmnya. Matanya menyisir ke seluruh penjuru gedung sekolah yang terlihat horor itu, tanpa penghuni di malam hari. Kemudian dia melihat sepeda motor metik milik Tari telah terparkir tidak jauh dari dari pos satpam.


"Mereka ke sekolah? Mau ngapain malam-malam begini?" gumamnya heran.


"Eh, Mas Rega, ngapain malam-malam di sini?" suara teguran mengejutkan Garda, sontak mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Tatapannya bersirobok dengan lelaki berkumis tipis berseragam safari, khas penjaga sekolah. Sepertinya lelaki berusia tiga puluh tahun itu tidak mengetahui, orang yang ada di hadapannya bukanlah Rega, melainkan saudara kembarnya, Garda.


Garda menganggukkan kepala sambil menyunggingkan senyum canggung di bibirnya.


"Mas Rega ada perlu juga, atau mau nemenin..." pak Supri menggantung kalimatnya seraya melemparkan senyum tertahan.


Apa maksud ucapannya lelaki ini?


Garda berpura-pura menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan senyum ambigu.


Qameella dan Tari sudah menemukan yang mereka cari, di bawah cahaya yang temaram karena hanya mendapatkan pantulan dari lampu koridor.


Kondisi sunyi sepi seperti ini membuat Tari bergidik takut. Untung saja ada Qameella didekatnya hingga dia tidak perlu lari terbirit-birit dari tempat ini.


"Iya, gue tahu." Qameella sibuk mencari keberadaan kunci sepeda motornya, menjelajah seluruh saku jaket dan celana jeans yang dipakainya. Namun dia tidak bisa mencari di saku kaos yang ada di balik jaketnya. Karena memang tidak memiliki saku.


"Elo lama banget sih, Meel?" tanya Tari tidak sabaran.


"Iya, tunggu dulu, ini gue lagi nyari."


"Ada, nggak?" Tari tampak gelisah.


"Sabar dulu napah," Qameella mulai frustasi karena yang dicarinya belum juga dapat ditemukan.


Kedua kaki Tari mulai bergerak tidak tenang. Hatinya pun gelisah. Debaran-debaran liar mulai mengusik ketenangannya yang cukup lama terperangkap di sini. Cerita hantu yang pernah didengarnya, mendadak berseliweran menghantui pikirannya. Membuat tempatnya menimba ilmu terasa kian horor saja.


"Masih lama banget, apa gimana sih, Meel? Perasaan gue jadi gak enak kalo lama-lama di sini."


"Gak enak gimana?" tanya Qameella tidak mengerti. "orang kita udah izin ini sama Pak Supri tadi."


"Bukan itu maksud gue..."

__ADS_1


"Terus apa?"


"Emangnya elo gak tahu apa, tentang gedung sekolah kita?" sahut Tari setengah berbisik sambil mencondongkan mulut dengan satu tangan di samping bibirnya ke arah Qameella.


Refleks Qameella menajamkan rungunya.


"Gue denger-denger dari kakak senior, sekolah kita ini dulunya bekas..." ucapan Tari terpaksa terpotong lantaran terdengar suara aneh yang bersumber dari ruang UKS.


Sontak Qameella dan Tari terlonjak kaget hingga langsung berpelukan.


"Su, suara apa itu, Meel?" tanya Tari panik dan tubuhnya gemetar ketakutan.


"Gue juga gak tahu, Tar."


"Ja, ja, jangan-jangan benar..."


"Jangan-jangan benar apa?" selidik Qameella jadi panik.


"Kalo di... di... sekolah kita berhantu, aaahhh..." Tari berusaha menjawab walau pada akhirnya memekik histeris, lalu lari tunggang langgang meninggalkan Qameella.


Qameella pun tidak tinggal diam, ikut lari setelah melihat Tari lari terbirit-birit.


"Tar... Tari... tungguin gue!" pekiknya di belakang Tari.


Pak Supri dan Garda yang masih berbincang-bincang di depan pos satpam, kontan terkejut mendengar suara teriakan dua gadis itu.


"Kaya ada suara orang teriak," imbuh Garda.


"Iya, tapi siapa ya?" Pak Supri tampak bingung.


"Jangan-jangan...." Pak Supri menggantung kalimatnya. Kemudian dia bergerak cepat masuk ke areal parkir, karena baru ingat bahwa kedua gadis tadi belum juga kembali. Khawatir terjadi sesuatu pada mereka berdua.


Garda mengerutkan keningnya. Tanpa diminta dia langsung mengekor di belakang Pak Supri. Hatinya tergelitik untuk mencari tahu apa yang telah terjadi di sana.


*


Tari dan Qameella menghentikan langkah mereka dengan napas yang tersengal.


"Aduh, capek banget!" seru Qameella, napasnya masih memburu. Kedua tangannya bertumpu pada lututnya seperti orang yang sedang ruku'dalam sholat.


"Iya, gue juga." Tari memegangi dadanya yang terasa agak sesak setelah berlari, sambil menyandarkan punggungnya di dinding.


Mendadak keduanya terdiam, saat baru menyadari kini mereka bukan memilih jalan keluar menuju gerbang sekolah. Melainkan masuk semakin dalam gedung sekolah. Posisi mereka kini berada di depan ruang laboratorium.

__ADS_1


__ADS_2