Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
Jangan Pisahkan Kami (Part 1)


__ADS_3

Happy reading...


**********************************


Ada peribahasa yang mengatakan, 'Sepandai-pandai Tupai melompat, dia akan terjatuh juga.' 'Sepintar-pintarnya manusia menyimpan rahasia pasti akan terbongkar juga.'


Begitulah gambaran yang dialami Garda dan Qameella. Seapik apa pun mereka menyembunyikan pertemuan diam-diam yang selama ini mereka lakukan. Akhirnya terendus juga oleh orang lain. Yaitu Andika.


Andika bukan bocah baru kemarin sore yang dengan mudah dikelabui. Apalagi model Garda dan Qameella, bocah ingusan tentu saja tidak sebanding dengan Andika. Seorang pebisnis ulung yang sudah malang melintang, dan kenyang makan asam garam dunia bisnis yang pastinya tidak ramah kelihatannya. Dia pun sudah biasa menghadapi lawan bisnis yang licik.


Jadi tidak aneh jika Andika bersikap waspada dengan naluri yang tajam. Hingga diam-diam menyewa jasa seorang detektif swasta, untuk memata-matai gerak-gerik Garda. Dia curiga dengan sikap lunak bocah itu beberapa hari ini.


Ternyata dugaannya tidak meleset. Bocah tengik itu berhasil mengelabui para algojo sewaannya. Dari kamera pengintai yang sebenarnya sengaja dipasang untuk menghindari dari tindak kejahatan, seperti pencurian atau perampokan.


Siapa sangka dapat berguna juga untuk mengetahui perbuatan putranya selama di kurung dalam rumah. Dengan bantuan dari remaja tanggung seusia Garda. Dan, ternyata mereka adalah para anak buah Garda.


Dari laporan detektif swasta suruhan Andika. Para anak muda yang selama ini meresahkan para orang tua. Bagaimana tidak, mereka selalu terlibat dalam kasus balapan liar. Juga tawuran yang terindikasi penggunaan obat-obatan terlarang.


Cukup syok Andika saat mengetahui fakta itu. Rupanya putra yang diharapkan dapat meneruskan kerajaan bisnisnya adalah seorang ketua geng. Juga ambil bagian dari keresahan itu. Entah keberuntungan atau kebetulan Garda dan teman-temannya selalu selamat dari kejaran polisi. Yang jelas Andika tidak merasa bangga dengan kelakuan putranya itu.


Namun saat ini Andika sudah dibuat tujuh keliling dengan tingkah polah bocah itu. Gerakan licin seperti belut, selalu berhasil melancarkan aksinya, kabur dari rumah dan menemui gadis yang diakui sebagai istrinya. Tidak pernah mengindahkan larangannya untuk meninggalkan Qameella.


Alhasil, demi memisahkan hubungan Garda dan Qameella, Andika menyusun rencana begitu rapi dan cantik. Dengan kedok mengadakan pesta ulang tahun Garda yang ke- 18 secara besar-besaran. Diam-diam merencanakan pesta pertunangan Garda dengan Fiola. Yang ternyata anak dari kolega bisnis Andika.


Ingat ya, pertunangan antara Garda dan Fiola bukan karena cinta. Melainkan hanya hubungan simbiosis mutualisme kedua orang tua mereka. Garda tentu saja menolak mati-matian. Tetapi tidak berarti bagi Andika. Semua keinginannya mutlak harus dilakukan sang putra.


Meskipun pertunangan Garda dan Fiola berdasarkan bisnis. Namun bagi Fiola bak ketiban durian runtuh saat baru mengetahui kabar ini. Dia merasa Dewi Fortuna sedang memberikan keberkahan yang berlimpah.


Sekian lama dia mengejar Garda tanpa hasil. Akhirnya dengan tangan dingin Papanya, dia bisa meraih dan memiliki Garda. Tidak apa cinta Garda belum dapat dia genggam. Yang terpenting dia bisa mendapatkan tubuh Garda.


*


Kabar pesta ulang tahun dan pertunangan Garda tersebar hingga ke telinga Gusti juga Qameella.


Gusti sangat senang akhirnya bocah tengik itu bisa pergi dari hidup putrinya, Qameella. Kendati dia tidak yakin 100% jika bocah Bangor itu benar-benar meninggalkan Meella.


Lain Padang, lain belalang. Lain lubuk lain pula ikannya. Begitulah perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan hati Gusti dan Qameella.


Di saat Gusti dengan mudahnya mengucapkan kata-kata cemoohan dengan nada sarkas, untuk cinta Garda yang dipandangnya bagai roman picisan. Justru Qameella percaya dengan ketulusan cinta Garda hanya untuknya. Bukan untuk gadis lain. Karena dia tahu Garda bukan tipe cowok penebar pesona di depan cewek-cewek lain seperti cowok playboy pada umumnya.

__ADS_1


Tetapi Qameella tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bahwa dia tidak akan kecewa maupun sedih. Tetap saja rasa itu ada bagai hantu yang datang untuk menakuti. Bukan karena Garda yang tidak setia. Melainkan atas garis takdir cintanya dengan Garda yang kurang berjalan baik. Namun dia tetap berusaha menjaga kesucian hati dan cintanya hanya untuk Garda. Pasalnya dia sangat yakin cinta Garda masih hanya untuk dirinya seorang.


Di jam istirahat kali ini Qameella sengaja tidak datang ke perpustakaan sekolah, tempat favoritnya selama ini. Untuk saat ini dia butuh tempat yang tenang dan jauh dari keramaian. Oleh sebab itu, dia memilih taman belakang sekolah. Tempat yang nyaris tidak pernah dijamah oleh murid-murid di sekolahnya.


Qameella duduk menyendiri di sudut taman sekolah yang sepi. Menumpahkan kesedihan hatinya agar tidak seorang pun tahu. Walau tanpa harus meraung serta meratapi kisah cinta dalam hidupnya. Cukup hanya dengan meneteskan bulir air bening meluncurkan bebas dari pelupuk matanya, itu sudah lebih dari cukup.


Gadis bermata minus itu menanggalkan kacamatanya, lalu meletakkannya di atas bangku sisi kirinya. Setelahnya menangkup wajahnya rapat, seolah dapat menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam kedua telapak tangannya yang tidak seberapa besar. Juga untuk meredam suara isakan yang ingin menerobos dari celah bibir ranumnya.


"Ngapain elo sendirian di sini?" suara teguran itu menghenyakkannya. Menurunkan telapak tangannya perlahan menampakkan sepasang mata merah dan basah.


Seseorang berdiri tinggi menjulang tengah menatap Qameella, dengan tatapan tidak terbaca disertai dahi yang mengerut. Orang yang pernah membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, dia adalah Rega, saudara kembar Garda.


Qameella terkesiap dan tidak siap kesedihannya terlihat oleh orang lain. Gadis itu membeku sesaat.


"Elo nangis?" pertanyaan itu membuat Qameella segera menghapus air matanya kasar.


"Ng... gak..." kilahnya menggelengkan kepala cepat, masih membersihkan sisa air matanya dengan telapak juga punggung tangan secara bergantian.


"Hmh! Elo pikir gue bukan anak TK yang bisa elo bodohin?" ujar Rega telak sukses membungkam mulut Qameella. Lalu menundukkan kepalanya dalam. Menyembunyikan mata sembabnya, namun tidak dapat menyembunyikan ujung hidungnya yang memerah.


Rega terpana menatap gadis yang tengah duduk di depannya. Ini adalah pertama kalinya melihat gadis itu tanpa kacamata minus yang selalu bertengger pada batang hidungnya. Dia baru sadar jika wajah Qameella terlihat lebih cantik. Dan benar-benar sangat mirip dengan Qarmitha. Diliriknya bangku yang sedang diduduki Qameella, masih menyisakan tempat kosong.


Qameella tampak gelagapan saat Rega tiba-tiba duduk di sebelahnya. Refleks menggeser duduknya menambah jarak di antara mereka.


Entah perasaannya pada Rega masih tertinggal di sudut hatinya. Atau karena bentuk fisiknya yang teramat mirip dengan Garda. Tanpa sadar dia dapat merasakan desiran halus di dalam dua rongga dadanya.


Lama mereka terdiam, terperangkap dalam kebisuan. Maklum Rega dan Qameella memiliki sifat yang hampir sama yaitu pendiam juga pemalu. Selain itu, keduanya memang tidak akrab. Jadi tidak tahu harus memulai dari mana.


"Eh..." gumam Rega dan Qameella hampir bersamaan. Lalu keduanya tersenyum merutuki kegugupan mereka yang membuat terlihat bodoh.


Mereka kembali terdiam. Mengalihkan pandangan masing-masing ke arah yang berlawanan.


Sulit rasanya bagi Rega untuk memulai pembicaraan tanpa kecanggungan. Walau pun pernah satu kelas. Tetapi mereka sangat jarang sekali berbicara layaknya teman. Apalagi Meella yang terkenal begitu pendiam. Sudah dapat dipastikan gadis itu tidak akan mau bicara lebih dulu.


"Apa... elo udah dengar kabar Garda, tentang... pertunangannya?" tanya Rega ragu, memecah keheningan.


Qameella hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Oh, jadi, apa itu sebabnya elo nangis barusan?" tebak Rega asal-asalan. Namun dalam hati dia yakin itulah alasannya.

__ADS_1


Qameella pun hanya mengangguk walau sedikit ragu karena malu tertangkap basah.


"Gue sebenernya gak tahu kalo elo berdua ada hubungan. Sampai kejadian di mall waktu itu, gue baru tahu," imbuh Rega mengingat peristiwa menjengkelkan itu.


Qameella tertegun menatap Rega. Tapi saat matanya bertemu pandang dengan Rega, buru-buru berpaling.


"Dari situ, gue juga tahu kalo hubungan kalian berdua gak sesederhana yang gue pikirin. Apalagi Garda bilang, kalian udah nikah. Sebenarnya gue gak mau percaya sama omongan dia. Tapi gue juga gak ada alasan buat gak percaya. Konyolnya, dengan pd-nya dia ngomong ke nyokap, kalo kalian udah nikah," Rega tertawa sumbang.


"Eh, iya," suara Qameella terdengar sangat pelan hampir tidak terdengar.


Tidak banyak yang mereka bicarakan. Hanya membahas Garda yang sedang dalam kesulitan. Lantaran menolak pertunangannya dengan Fiola. Garda Andika sangat membatasi gerak langkahnya. Semua akses yang memungkinkan Garda bisa kabur sudah ditutup oleh Andika. Bahkan sudah tidak diizinkan keluar rumah walau pun untuk berangkat ke sekolah. Tentu saja untuk mencegah pertemuan diam-diam yang sering dilakukan Garda untuk Qameella.


Rasa sesak yang disertai denyut nyeri tiba-tiba datang dan menyerang dada Qameella. Air mata pun tidak kuasa tertahan, langsung menerobos keluar tanpa menunggu persetujuan terlebih dahulu. Namun buru-buru dibersihkan agar Rega tidak risih melihatnya seperti ini.


Sebelum beranjak pergi, Rega memberikan sepucuk undangan untuk Qameella.


"Datanglah ke acara ulang tahunku. Mungkin pestanya gak sebesar pesta ulang tahun Garda."


"Hm. Gue usahain datang," jawab Qameella pelan menatap kertas undangan di tangannya sendu.


*


Ruang pesta ulang tahun sekaligus pertunangan Garda dan Fiola, telah didekorasi dengan indah juga mewah. Tidak tanggung-tanggung Andika merayakannya sangat besar-besaran dengan menyewa ballroom hotel bintang lima. Eits!! Bukan menyewa tapi hanya menggunakan ballroom hotel itu. Pasalnya hotel tersebut adalah hotel miliknya.


Tamu undangan dari berbagai kalangan datang. Agar pesta berlangsung dengan baik dan nyaman untuk para undangan, maka ada dua meja prasmanan berbeda yang dikhususkan untuk teman bisnis Andika, juga teman sekolah Garda.


Fiola mematut dirinya di depan cermin setelah selesai make over oleh petugas MUA. Gaun tila dilapisi bahan satin berwarna baby pink, serta Tiara yang menyerupai bando membuatnya seperti putri dalam cerita dalam dongeng.


Gadis itu terlihat sangat bahagia, sebentar lagi akan bertunangan dengan Garda. Hingga tidak bisa menyembunyikan pancaran kebahagiaan dari wajahnya.


Di tempat berbeda, Garda sedang dalam perjalanan menuju hotel tempat berlangsungnya acara. Dengan tidak ketinggalan empat algojo berotak udang. Hehe, itulah hinaan yang pernah Andika ucapkan saat Garda bisa lolos dari pengawasan mereka.


Kini pun Garda sedang mencoba kembali berusaha keras memutar otak mencari celah untuk kabur. Yups! Dia berhasil mendapatkan ide.


*****


Hai readers.... segini dulu ya ceritanya. Lain waktu author sambung lagi...


Happy weekend

__ADS_1


__ADS_2