Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#1


__ADS_3

Hai readers see you again in Kesengsem Cinta Kembar Season 2. Semoga cerita baru ini para readers semua tambah suka dan cinta sama ceritanya ya...


Jangan lupa siapkan tisu yak arena cerita kali ini mengandung bawang ya.


And then, tinggalkan jejak-jejak manisnya berupa vote, like, hadiah dan komentar ya...


Happy reading ya...


*******************************************


"Bi, maaf ya, saya belum bisa ngebahagia'in kamu. Saya udah banyak bikin kamu nyaman. Tapi saya janji, suatu saat nanti jika saya udah sukses dan kaya. Saya akan belikan kamu gaun pengantin yang indah. Saya juga bakalan buat pesta pernikahan kita yang megah. Supaya kamu merasa seperti seorang ratu walau cuma


satu hari, hehehe..."


"Gak usah gitu juga kali. Dengan adanya kamu di dekat saya, dan selalu setia sama saya itu udah cukup kok. Saya gak mau kamu jadi banyak mikir yang bikin mumet kepala."


"Emangnya kamu gak mau kaya orang-orang apa? Dilamar dengan suasana romantis dan cincin berlian. Pas nikahannya..."


"Nggak perlu! Asalkan kita bisa menua bersama itu udah cukup kok buat saya."


Mentari pagi terasa hangat menyinari bumi. Mengusir embun-embun yang menetes di ujung-ujung dedaunan, telah menguap terbawa hawa panas dan hembusan angin.


Sepasang sejoli yang sedang dimabuk cinta melaju bersama dengan sepeda motor yang dikendarai Garda. Mereka berdua tampak senang hendak menyongsong bahagia yang sudah ada di depan mata. Dari tidak saling cinta, hingga sama-sama jatuh cinta. Masa sulit yang dilalui masa pendekatan dengan meruntuhkan dinding es yang dibangun Qameella. Salah paham karena salah mengenali istri sendiri. Berjuang untuk membuktikan hubungan yang sudah terjalin secara tidak sengaja. Hingga harus berjibaku melewati masa-masa sulit, terhalang restu orang tua.


Kini semua itu sudah berakhir. Apalagi setelah orang kepercayaan Andika membebaskan mereka. Anggap saja sebagai barikade terakhir yang harus mereka tembus untuk meraih jalan bahagia Garda dan Qameella. Tetapi ada satu hal yang mereka tidak belum pahami. Yaitu takdir Tuhan. Takdir yang menentukan setiap jalan hidup makhluk yang telah diciptakan di muka bumi.


Ingat ya, kelahiran, jodoh, rezeki, dan kematian ada di tangan Tuhan. Dan tidak ada campur tangan pihak lain yang bisa mengganggu gugatnya. Karena semuanya hanya hak Tuhan semata. Walau demikian, terkadang manusia sering lupa. Jika apa yang sedang diharapkan, belum tentu seiring sejalan dengan kenyataan yang ada


(takdir Tuhan).


Parahnya, hal ini yang terjadi pada Garda dan Qameella. Di saat keduanya tengah semangat menyambut bahagia di depan mata. Sayang, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.


Tiba-tiba dengan kecepatan tinggi datang sebuah mobil mini bus dari arah berlawanan. Langsung menyasar sepeda motor yang ditunggangi Garda dan Qameella.


“Garda, awas….!” Pekik qameella panik saat melihat kendaraan dari arah depan hendak menubruk.


Garda pun langsung awas dan menyempatkan memijat klakson panjang dan lama. Tetapi kecelakaan itu tetap tidak bisa dihindari.


Qameella dan Garda langsung terpental jauh dari sepeda motor yang mereka tunggangi. Keduanya bersimbah darah hingga mewarnai jalan tempat mereka tergolek tidak berdaya.


Di tengah kesadaran yang hampir hilang, Garda mau pun Qameella saling memanggil satu sama lain. Dalam ketidak berdayaan pun mereka berusaha ingin menggapai hendak saling memeluk. Namun semuanya sia-sia saat kesadaran mereka mulai menurun dan tidak sadarkan diri.


Charles dan anak buahnya segera berhambur pergi ke tempat kejadian dimana tempat anak Bos besarnya kecelakaan. Setelah mendengar suara benturan keras dalam radius empat meter dari tempat mereka berdiri.


“Cepat hubungi ambulance!” titah Charles tanpa ingin dibantah.


Dengan cepat salah satu anak buahnya menghubungi ambulance. Sementara yang lainnya membantu mengurus kekacauan. Termasuk membekuk pengemudi mini bus yang sudah menabrak Garda dan Qameella, yang berusaha kabur setelah membuat orang lain celaka.


*

__ADS_1


Hawa dingin tiba-tiba menyeruak masuk dalam ruang tamu rumah Tari. Menciptakan atmosfer yang membuat bulu kuduk merinding. Bukan karena terkontaminasi dengan energi dari alam gaib. Melainkan kehadiran Gusti dan Maryam yang telah menciptakan suasana horror ini.


Tari tertunduk takut hingga tidak berani mengangkat wajahnya menatap wajah suram Gusti. Ya, pria itu dalam mode marah. Walau pun tidak menunjukkan emosinya yang meledak-ledak, tetap saja Gusti terlihat menakutkan.


Sebenarnya sumber ketakutan Tari tidak hanya berfokus pada Gusti saja. Juga membuatnya seperti seorang terdakwa dalam ruang persidangan. Tetapi pada Bapaknya yang sudah lebih dulu dan lebih banyak mengomelinya. Belum lagi ibunya yang tidak kalah sengit memarahinya. Kedua orang tuanya itu tersulut emosi gara-gara tidak enak hati pada orang tua Qameella.


Pagi-pagi sekali Gusti yang didampingi Maryam sudah datang menggedor pintu rumah keluaga Tari. Bukan tanpa sebab, tentu saja dengan alasan menanyakan keberadaan Qameella yang tiba-tiba saja tidak pulang sampai detik ini. Sedangkan Tari sudah pulang sejak semalam.


Tidak ada yang bisa Tari lakukan selain berbicara jujur perihal kepergian Qameella bersama Garda. Gadis itu pun tidak menutupi kenyataan jika dirinya memberi dukungan atas perbuatan yang dianggap konyol oleh para orang tua di depannya.


Gusti menghela napas berat. Wajahnya tampak lesu dengan raut kecewa. Lagi, Qameella membuatnya kesal dan membuat tensi darahnya naik.


Maryam mengusap punggung Gusti yang duduk di sisinya. Wanita itu seolah sedang menyalurkan energi positif untuk menguatkan sang suami, agar lebih tegar menghadapi kenyataan pahit ini.


Qarmitha yang datang belakangan memilih berdiri di ambang pintu, dengan besedekap sambil menyandarkan bahu kanannya pada kusen pintu. Tidak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibirnya. Gadis itu hanya menyimak setiap kalimat yang keluar dari para tetua di depannya secara bergantian. Mereka sudah sibuk mengorek informasi dari Tari tentang saudari kembarnya. Jadi, dia tidak perlu ambil bagian agar suasana tidak bertambah ribet lagi. Pikirnya dalam hati.


Tidak ada angin, tidak ada hujan. Entah mengapa dada Qarmitha mengalami sesak yang luar biasa secara tiba-tiba. Bagai ada benda gaib yang telah menghantam dan menghancurkannya. Seketika tubuhnya terasa lemas, merosot ke lantai seraya meremas dadanya. Hanya mengandalkan kedua lututnya untuk mempertahankan diri


agar tidak tumbang.


“Mitha, lo kenapa?” tegur Tari saat kebetulan mengangkat wajahnya, langsung terfokus pada pemandangan lurus di depannya. Sontak hal itu membuat semua orang yang ada dalam ruangan itu melihat ke arahnya. Dengan panik Gusti dan Maryam menghambur meninggalkan tempat duduknya.


“Thatha… ada dengan kamu, Nak?” tanya Maryam khawatir.


Qarmitha menatap Maryam sendu. Sedetik kemudian rasa itu perlahan menghilang.


“Ma… Lala,” ujarnya terbata.


“Lala,” ucapnya lagi. Ada hal lain yang ingin diucapkannya. Namun dia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya.


Gusti dan Maryam hanya saling beradu pandang. Lalu kembali menatap putrinya dengan


tatapan heran.


Sedetik kemudian ponsel Gusti berdering. Sederet nomor asing tertera pada layar. Dahinya berkerut serta sebersit rasa ragu muncul di hatinya. Khawatir nomor orang iseng yang biasa minta pulsa, atau minta transfer uang karena telah memenangkan undian dari propider.


“Dari siapa, Yah?” pertanyaan Maryam menghenyakkan Gusti dari lamunan.


“Ah, tidak tahu Ma,” sahutnya mengalihkan pandangannya pada istrinya. “nomor asing.”


“Angkat saja, Yah. Siapa tahu penting,” Maryam memberi saran.


“Tapi Ma, tidak ada namanya. Ayah khawatir hanya telepon dari orang iseng,” Gusti hendak menggeser tombol merah.


“Ayah, Lala,” Qarmitha berusaha menormalkan napasnya yang sudah tidak terasa sesak lagi.


Gusti masih belum mengerti maksud Qarmitha. Tetapi entah mengapa nalurinya Qarmitha memintanya agar mengangkat telepon itu. Akhirnya menerima panggilan itu.


“Halo,” ujarnya dengan suara normal. “Apa?” mendadak suaranya terdengar memekik penuh keterkejutan. Wajahnya pun terlihat memucat.

__ADS_1


Bapak dan ibu Tari saling beradu pandang dengan tatapan tidak terbaca.


“Ada apa, Mas?” tanya Bapaknya Tari simpatik seraya meraih bahu Gusti yang tampak agak oleng nyaris kehilangan keseimbangan.


Gusti merawup kasar wajahnya dengan sebelah tangannya yang senggang. Menatap wajah pria yang baru saja menanyainya dengan tatapan melankolik.


Tari meraih lengan kanan Qarmitha. Sedangkan Maryam di lengan kirinya. Keduanya berusaha membantu gadis itu beranjak berdiri dengan tubuh yang masih terasa lemas.


“Lala,” dengan suara pelan Gusti tergugu.


“Ada apa dengan Lala,Yah?” Maryam mulai panik.


Gusti mengalihkan pandangannya pada istrinya.


“Lala, Ma. Lala kecelakaan.”


“Astagfirullah!” Maryam tersentak kaget. Hatinya pilu. Matanya memanas langsung mengeluarkan bulir-bulir bening dari pelupuk matanya. “anakku.”


Qarmitha speechless.


“Apa? Lala kecelakaan?” Tari tidak kalah terkejut.


“Masya Allah…”lirih ibu Tari berujar.


Bapak Tari berusaha menguatkan Gusti.


*


Suara sirine ambulance yang membawa sepasang tubuh dua sejoli yang tengah kritis menggema membelah jalan raya. Para petugas medis bergegas mendorong dua brankar mendekati ambulance. Setelahnya meletakkan tubuh Garda dan Qameella di atasnya, menuju ruang IGD untuk mendapatkan tindakkan pertama.


Charles langsung mendampingi brankar Garda hingga di depan pintu ruang IGD. Lataran tidak diperbolehkan masuk oleh petugas. Kemudian pria bertubuh tegap itu duduk di kursi tunggu depan ruangan dengan perasaan campur aduk. Wajahnya tertunduk lesu dengan kedua kepalan tangannya sebagai sandaran keningnya.


“Bos,” suara salah seorang anak buahnya menghampirinya.


Charles mengangkat wajahnya perlahan, menatap wajah pucat anak buahnya dengan tatapan tidak terbaca.


“Bos Besar datang,” ujarnya langsung menyingkir ke samping, lalu memberi hormat dengan membungkukkan badan pada pria dengan sebutan Bos Besar, dia beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.


Charles tahu betul siapa pria yang dipanggil Bos Besar itu. Setelah anak buahnya pergi dia mendengar suara sepatu pantofel membentur lantai rumah sakit, sedang menuju ke arahnya. Kemudian dia melihat dengan jelas bagaiman ekspresi dingin Andika. Dia dapat mengartikan sebagai luapan rasa kalut, sedih dan marah atas apa yang sudah menimpa putra satu-satunya. Ya, Charles hanya tahu Garda adalah putra tunggal yang dimiliki Andika.


Setelah diberitahu via telepon oleh Charles sesaat peristiwa itu terjadi, Andika lansung memerintahkannya agar putranya di bawa ke rumah sakit swasta miliknya. Kemudian dia segera meluncur untuk mengetahui kondisi terkini Garda.


Charles segera beranjak berdiri menghadap Andika. Lalu membungkukkan setengah badannya seperti hormat ala orang Jepang.


“Maafkanm keteledoran saya, Tuan,” ungkapnya penuh sesal.


“Bagaimana kabar putraku?” tanya Andika mengabaikan permintaan maaf asisten pribadinya.


“Masih dalam penanganan dokter, Tuan,” jawab Charles jujur.

__ADS_1


Tanpa berkata lagi Andika langsung masuk dalam ruangan IGD. Meningggalkan keterpakuan Charles yang masih belum merubah posisinya hingga Andika memberi instruksi.


__ADS_2