Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#11


__ADS_3

Hai readers... mohon maaf ya tuk para readers yang sering minta banyak episode sekali update. Karena saat ini author belum bisa crazy up ya. Karena jam kerja author di dunia nyata sangat padat dan sudah berjalan normal kembali.


Happy reading aja ya...


***************************************


Garda terbangun dari mimpinya. Beranjak duduk lalu menghela napas kasar. Tangan kanannya diangkat untuk menyeka keringat yang membasahi dahinya.


"Mimpi itu lagi," gumamnya frustrasi. Pasalnya dia sering bermimpi bertemu dengan sosok gadis yang sama. Dan selalu memanggil namanya.


"Sebenarnya siapa gadis itu? Mengapa dia selalu datang dalam mimpiku? Mungkinkah aku pernah berhutang padanya di masa lalu, hingga dia selalu datang untuk menagih?" tanyanya pada diri sendiri. Namun hutang apa? Dia sendiri saja tidak tahu siapa gadis itu. Bagaimana mungkin bisa berhutang? Sungguh aneh!


Sejak Garda sadar dari koma kemudian lima tahun lalu. Kemudian mulai mampu mengingat kepingan-kepingan masa lalunya. Tetapi dia tetap tidak bisa menemukan sedikit pun jejak dalam memori ingatannya tentang gadis  misterius itu. Alhasil dia meminta seorang pelukis handal kenalannya untuk merealisasikan wajah gadis itu dalam bentuk karya seni dua dimensi. Sayang, kini lukisan itu telah hancur di tangan Andika.


Entah mengapa pria yang sangat berjasa seumur hidupnya itu, tiba-tiba kalap saat melihat lukisan itu berada di dalam kamar Garda. Padahal tidak ada yang salah dengan lukisan itu. Tentu saja Garda sangat bingung dan meninggalkan tanda tanya besar di dalam pikirannya. Pria yang masih terlihat prima di usianya yang tidak lagi muda itu, hanya berdalih untuk menjaga perasaan Bianca, seorang gadis cantik yang sengaja disetting Andika untuk melancarkan rencana busuknya.


Garda yang polos hanya bisa mempercayai ucapan Papa-nya. Dan mengikuti apa yang dinasihatinya. Namun pada kenyataannya dia tidak terlihat seperti apa yang tampak di permukaan. Diam-diam dia menyimpan cadangan lukisan itu dengan ukuran yang lebih kecil agar mudah disimpan di mana pun, dan menghindari kecurigaan Andika.


Selain itu, Garda juga diam-diam menyewa jasa detektif swasta untuk menghilangkan rasa penasarannya yang sudah akut. Detektif itu bertugas untuk menyelidiki masa lalunya sendiri. Ironi memang kedengarannya. Tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi. Dan setiap hasil penyelidikan yang didapat membuat Garda berulang kali harus menelan pil pahit. Lantaran kegagalan yang terus menerus dialami oleh sang detektif.


Andika yang selalu berusaha terlihat baik dan perhatian pada Garda selama menetap di Amerika. Mengikis jarak yang dulu pernah jauh. Kini dia sengaja menciptakan image di mata Garda, bahwa hanya dia-lah seorang Papa terbaik bagi anaknya. Namun siapa yang menyangka bahwa dialah dalang dibalik hancurnya rumah tangga Garda dengan Qameella. Pria itu pula yang memusnahkan semua barang yang berkaitan dengan Qameella hingga Garda tidak dapat menemukan sedikit pun jejaknya.


Bahkan memori ingatan Garda tentang Qameella sengaja di-delete oleh Andika menggunakan metode hipnotis pasca koma. Makanya saat mengetahui putranya yang selalu gagal menemukan identitas gadis di masa lalunya membuat Andika sangat senang. Jangan bilang aneh bila Andika bisa mengetahui semua yang dirahasiakan Garda, kecuali masalah lukisan ya. Karena selama ini Andika telah menyadap dan mengawasi Garda dimana pun berada. Kemudian mengerahkan anak buahnya untuk memata-matai. Termasuk mengawasi detektif sewaan Garda di Indonesia.


Arah jarum jam menunjukkan pukul empat dini hari.


Garda malas melanjutkan tidurnya yang kadung terganggu. Kemudian beranjak turun dari tempat tidurnya. Mengenakan kaos putih tanpa lengan dan leher. Setelahnya bergerak ke ruang olahraga yang ada di dalam rumahnya. Biasanya dia akan menghabiskan waktu berjam-jam bila sudah bersentuhan dengan alat-alat olahraga untuk menguras keringat dan membentuk otot tubuhnya.


Ketika matahari terbit Garda menyudahi kegiatannya. Kembali ke kamarnya di lantai dua untuk mandi dan memakai pakaian kantornya. Pagi ini dia sudah memiliki agenda yang padat di kantor. Sekembalinya ke tanah air Andika sengaja menempatkan Garda sebagai CEO di salah satu perusahaannya, menggantikan posisinya di sana.


Setelahnya dia beranjak turun ke lantai bawah menuju ruang makan. Memakan sepotong roti dengan sedikit selai, dan menyeruput kopi hitam yang sudah disajikan oleh asisten rumah tangga di rumahnya.


"Tuan Muda," sapa seorang pria paruh baya memakai seragam berwarna biru navy, seraya membukakan pintu untuk Garda.


Orang yang disapa hanya bergumam sebagai jawabannya. Tanpa basa basi langsung memposisikan dirinya di dalam mobil, di jok belakang.

__ADS_1


Pria yang bertugas menjadi sopir pribadi keluarga Andika langsung menjalankan mobil dengan kecepatan sedang, setelah sebelumnya memastikan tuannya sudah dalam posisi yang baik di dalam mobil.


*


Qarmitha melakukan aktifitas paginya dengan sarapan bersama Gusti dan Maryam. Mereka hanya bertiga, minus Qameella. Karena gadis itu sudah tinggal terpisah dari mereka.


"Bagaimana kabarnya Nak Dicky, Tha? Jadi, orang tuanya datang ke sini mau pertemuan keluarga dengan Mama sama Ayah?" tegur Maryam.


"Kayanya sih jadi, Ma," jawab Qarmitha ragu.


"Kapan katanya?" desak Maryam tampak antusias.


"Nanti deh, Thatha tanya lagi sama Dicky kapannya, biar lebih pasti," sahut Qarmitha hati-hati.


Gusti menyimak obrolan ibu dan anak itu dengan baik. Senang rasanya Qarmitha dapat menemukan jodohnya pada waktu yang sudah tepat. Sebelumnya dia sempat khawatir, lantaran karakter Qarmitha yang jauh dari feminim, bisa dikatakan tomboy gitu deh. Sempat berpikir tidak bisa menjalin hubungan dengan lawan jenis. Tapi kini dia bisa bernapas lega. Serta berdoa untuk kebahagiaan Qarmitha bersama pasangannya kelak.


Di sisi lain Gusti merasa ada yang mengganjal di hatinya. Apalagi bila bukan tentang Qameella, putrinya yang lain. Entah apa lagi yang harus Gusti perbuat agar putrinya itu mau lepas masa lajangnya. Dia hanya kasihan pada Qameella yang selalu hidup dalam kesendirian dan kesepian selama bertahun-tahun. Tidak mau lepas dari bayang-bayang Garda. Tentu hal itu membuatnya sangat khawatir berkepanjangan, takut tidak bisa lepas dari bayang semu orang yang sepatutnya dilupakan seumur hidupnya.


"Ma, tolong hubungi Lala lagi nanti. Bila perlu bujuk dia supaya mau pulang," titah Gusti pada istrinya.


"Tapi, Yah..." Maryam tampak ragu mengungkapkan keengganannya. Tetapi dia tidak mungkin membantah dan membiarkan hubungan di antara Ayah dan anak menjadi renggang atau bahkan menjadi orang asing. Maka mau tidak mau wanita itu menyetujui pada akhirnya.


"Ya, baiklah. Tapi Mama tidak bisa jamin, apakah Lala mau pulang atau tidak," putusnya yang hanya diangguki oleh Gusti.


Gusti tahu Qameella selalu menolak bila diminta pulang ke rumah. Mengingat sifat Qameella yang tidak mau berdebat dengan Gisti, mungkin hal itu sengaja dilakukannya untuk menghindari pertengkaran.


Bila dipikir-pikir Gusti memang memiliki sifat yang terlalu keras kepala juga egois. Dia pun mengakuinya sendiri akan sifatnya itu. Dia sering memaksakan kehendaknya terutama pada Qameella. Lantaran dia tidak bisa memaksa Qarmitha menjadi apa yang diinginkan. Sifat Qarmitha memang sangat pembangkang dan berani membantah setiap perintahnya.


Hanya Qameella satu-satunya yang bisa dibentuk sesuai kehendak hatinya. Untungnya gadis itu selalu mau menuruti sesuai apa yang diharapkannya. Tetapi setelah bocah tengil itu masuk dalam hidup Qameella, sikap anak kebanggaannya perlahan mulai berubah. Alhasil berani mengecewakannya dengan kabur bersama bocah tengik itu.


Gusti langsung bangkit berdiri setelah menyelesaikan suapan terakhirnya. Lalu pergi meninggalkan meja makan. Menyisakan sepasang wanita berbeda generasi di sana. Pria itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Niatnya untuk mengecek pembukuan rumah makannya yang sepertinya tidak memiliki kemajuan yang berarti. Dan belum bisa menambah gerai baru di tempat lain. Mungkin dirinya masih kurang gereget mempromosikan rumah makannya. Di tengah persaingan bisnis kuliner yang menyajikan berbagai macam jenis makanan, baik ala nusantara hingga mancanegara. Usaha Gusti hanya berkutat pada makanan tradisional saja.


Berkali-kali Gusti menghela napas lelah melihat deret rupiah dalam pembukuannya. Kali ini dia menemukan hasil pembukuan untuk bulan ini devisit. Lalu tangannya mengangkat untuk memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sakit. Menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada sandaran kursi di belakangnya. Wajahnya menengadah menatap langit-langit ruang kerjanya.


*

__ADS_1


Qameella duduk di meja kerjanya langsung menyalakan komputer di depannya. Tangan kanannya hendak meraih tetikus di samping layar monitor komputer, saat ponselnya tiba-tiba berdering. Sebelum menjawab dia melihat nama yang tertera pada layar 'MAMA'.


Sempat merasa ragu untuk menjawab telepon. Bagai seorang cenayang yang bisa menerawang, Qameella sudah tahu apa yang akan disampaikan Maryam padanya.


"Halo."


"Assalamu'alaikum, La," suara dari ujung sana mengucap salam.


"Wa 'alaikum salam, Ma," sahut Qameella canggung.


Sejenak keduanya terdiam. Baik Maryam maupun Qameella tidak ada yang mau memulai percakapan. Mendadak terasa canggung dan aneh. Hubungan antara ibu dan anak itu terasa kaku.


"Ehem," Maryam berdehem untuk membuang kecanggungan.


Qameella mengernyitkan dahi. Lalu satu jarinya mendorong kacamata minusnya yang sedikit merosot.


"La, Ayah minta kamu pulang ke rumah. Tapi Mama tidak tahu persis mau ngomong apa sama kamu. Yang jelas Ayah ingin kamu pulang," ujar wanita itu mengkonfirmasi tujuannya.


Sesuai dugaannya, dia diminta pulang. Enggan rasanya menuruti permintaan itu. Lelah rasanya menghadapi keegoan Gusti. Juga tidak ingin menjadi anak durhaka.


"Pulanglah, La," pinta Maryam mengiba, membuat Qameella mengurungkan niatnya untuk menolak.


"Thatha mau menikah," ucap wanita itu dengan suara bergetar. "pulanglah, Nak."


Qameella terdiam tidak tahu harus merespon apa. Dia sangat ingin menghindari sesuatu yang dapat mengganggu ketenangannya. Tapi dia tidak bisa terus-terusan menghindar seperti ini.


"Baiklah," pada akhirnya kata itu meluncur juga dari bibir ranum Qameella.


"Akhir pekan," ucapannya terjeda sejenak. "akhir pekan Lala akan pulang. Maaf Ma, Lala sedang sibuk," pungkasnya lalu memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Tanpa menunggu Maryam melanjutkan ucapannya.


Gadis itu terdiam menatap layar ponselnya yang sudah kembali normal. Lalu di letakkannya di atas meja kerjanya. Mendengus pelan dan kembali berkutat pada layar komputer yang sudah menunggu untuk digunakan.


*


Episode kali ini sampai di sini dulu ya. See you next episode. Author usahakan secepatnya ya. Doakan author agar tetap sehat ya supaya bisa update.

__ADS_1


__ADS_2