Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#98


__ADS_3

Happy reading


Maryam menutup mulutnya dengan sebelah tangannya yang bebas. Sementara tangan yang lain masih memegang ponsel, bertelepon dengan Tari. Wanita paruh baya itu tampak syok setelah mendengar berita Meella dalam keadaan baik-baik saja bersama Tari. Seketika senyum lebar dan air mata jatuh bersamaan. Dia sangat bersyukur putrinya selamat tidak seperti apa yang diinformasikan Garda.


Sambungan telepon sudah terputus. Maryam langsung memberikan kabar baik ini pada sang suami, Gusti. Dan ditanggapi positif oleh pria itu. Sepasang suami istri itu pun tersenyum cerah.


Eh, tunggu!


Jika orang yang diculik bukan Meella, lalu siapa yang...


Seketika Gusti dan Maryam saling bertanya-tanya. Jika Meella dalam keadaan baik-baik saja, lalu foto dan video yang menampilkan wajah Meella itu siapa? Ya Tuhan... sepasang orang tua paruh baya itu kembali panik. Karena mereka langsung menebak, siapa putri mereka yang kini dalam bahaya di tangan para penculik.


"Thatha," keduanya sontak menyebut nama putri kembarnya yang lain.


Di tempat berbeda. Meella terkejut setelah mendengar kabar tentang penculikan dirinya sendiri dari Tari, hasil dari informasi Maryam beberapa menit yang lalu.


''Gawat, Tar!" Meella mendadak panik.


"Gawat, gawat kenapa?" tanya Tari tidak mengerti. Melempar pandangan pada Furqon yang sepertinya memiliki pemikiran yang sama dengannya.


"Iya, ada apa, Meel?" tambah Furqon yang tidak kalah bingung.


"Karena... karena mereka salah sasaran," sahut Meella memberi keterangan.


"Maksudnya?" Tari masih tidak mengerti.


Meella menjelaskan bahwa selama ini dia sedang intai seseorang entah siapa. Kemungkinan besar orang yang diincar untuk diculik adalah Meella sendiri. Tetapi Meella dapat luput dari pantauan mereka.


"Jadi, orang yang ada bersama penculik..." Tari langsung mengambil kesimpulan namun tidak mampu melanjutkan ucapannya.


Meella hanya mengangguk tanda setuju dengan apa yang dipikirkan Tari.


Sedangkan Furqon yang tidak mengerti apa-apa hanya menunjukkan tampang cengonya.


*


Garda turun dari mobilnya dengan tetap kewaspadaan tinggi. Tidak lupa koper berisi uang sesuai permintaan si penculik. Matanya awas menyapu setiap sudut yang dapat dilihatnya.

__ADS_1


Sementara di dalam ruang penyekapan, Mitha terpaksa menggunakan tenaga yang tersisa untuk melawan mereka. Walau jumlah dan tenaga tidak berimbang.


Rega bergeming di tempatnya berada. Tidak ada niatan untuk meninggalkan zona nyamannya. Namun dalam hatinya tidak setenang yang terlihat.


Sungguh dia tidak suka suasana seperti ini. Sama halnya saat dia terpaksa menemui seseorang beberapa waktu lalu. Pertemuan yang sebenarnya tidak terlalu diharapkan juga diinginkan secara bersamaan. Mengingat memori masa lalu yang tidak terlalu mengenakan.


Ketika itu Rega sengaja datang menemui Andika di kediamannya. Tepat setelah kepergian Garda. Hingga pria paruh baya itu sempat terkejut melihat kedatangannya. Karena dia pikir Garda kembali lagi. Tidak jadi pergi.


Tatapan Andika nanar memandang wajah pria muda yang sangat mirip dengan Garda itu. Baik dari garis wajah, postur tubuh, warna kulit, bahkan suaranya pun hampir sama. Pokoknya, kemiripannya benar-benar hampir mencapai seratus persen.


Seketika Andika berdiri dari duduknya, saat tersadar jika pria muda yang berdiri di depannya adalah orang lain. Bukan. Tetapi putranya yang lain. Ya, dia adalah saudara kembarnya Garda, Rega. Putra yang diam-diam dirindukannya selama ini.


''Selamat pagi Papa..., lama tidak jumpa,'' karena waktu belum menunjukkan pukul dua belas siang, Rega menggunakan sapaan itu dengan senyum misteriusnya.


R-Rega. Anakku...


Andika tertegun. Tenggorokannya terasa lengket hingga sulit memproduksi suara. Hingga dia sangat kesulitan membalas sapaan putranya. Hanya lengkungan di bibirnya menampilkan senyum kaku yang menyenangkan bila dilihat oleh orang lain.


''Ekhm,'' Rega sengaja berdehem untuk membersihkan tenggorokannya. '' bisakah saya duduk? Karena sedari tadi anda tidak juga menyuruhku untuk duduk,'' teguran halus nan formal namun cukup menohok Andika atas keterbengongannya bagai patung hidup.


''Ah, ya, ya, silakan... silakan duduk!" tangan kanan Andika mengacung ke arah sofa yang ada di dalam ruangan itu, diiringi senyum kaku serta antusias. untuk pertama kalinya tampak gugup melihat putranya sendiri. Tidak ada pelukan hangat layaknya bapak dan anak pada umumnya, saat mereka bertemu kembali setelah sekian lama berpisah.


Hal ini berlaku pada Andika. Walau pria dewasa itu bukan baru dikenal rega. Tetapi mereka baru saling bertemu setelah sekian lama. Hingga mindset yang tertanam di otak Rega sama dengan orang asing baginya.


''Bagaimana kabar Mama mu?'' Andika berusaha membuka obrolan, untuk memecahkan keheningan juga kekakuan di antara mereka.


''Baik. Sangat baik malah,'' sahut Rega cepat. ''juga sangat happy, setelah melalui masa-masa sulit tentu tidak mudah dihadapi,'' sindiran halus yang tidak langsung mencubit hati andika.


''Begitu pun kehidupan kami para anak kalian. Tapi, karena bukan kesalahan yang tidak kaki ketahui terpaksa menanggung penderitaan,'' Andika mengangkat alisnya mendengar pernyataan ambigu Rega.


''Apa maksudmu?'' pria tua itu meminta penjelasan.


Rega menipiskan bibirnya. Menatap dengan tatapan tidak terbaca, sulit Andika terjemahkan.


''Aku tahu Papa pernah punya masalah dengan Ayah Gusti di masa lalu. Dan... hal itu berbuah dendam sampai masa kini,'' fakta yang mencengangkan untuk Andika. Dia cukup terkejut bagaimana bisa putranya yang satu ini bisa tahu?


''Walau pun aku tidak tahu apa yang selalu menjadi bumerang di hati Papa. Sampai Papa merelakan rumah tangga Papa sendiri hancur. Papa bercerai dengan Mama, yang katanya wanita paling Papa cintai di dunia ini. Berpisah dengan salah satu anak kembar Papa.''

__ADS_1


Deg


''Tapi, sepertinya semua itu tidak cukup buat Papa puas. Sampai Papa menghalalkan segala cara untuk memisahkan hubungan Garda dan Meella. Karena Papa tahu, Meella adalah putrinya Ayah Gusti. Papa pun tega memanipulasi kematian Garda. Menggunakan amnesia Garda agar tidak lagi bisa berhubungan dengan Meella. Meskipun Meella ada di sekitar Garda. Bahkan Papa juga mengarang cerita tentang hubungan Garda dan Bianca di masa lalu.''


Andika tercengang dengan semua fakta yang disembunyikan rapat-rapat selama ini. Dalam hati dia bertanya dari mana semua fakta itu didapat.


''Papa tidak usah memikirkan dari mana aku tahu hal ini,'' ujar Rega seakan bisa membaca isi pikiran Andika.


''Tapi, yang Papa harus tahu adalah pewaris keluarga Negara. Yang seharusnya Papa sambut dengan suka cita.''


''Bicaralah yang jelas, jangan buat Papa bingung dengan teka-teki mu itu,'' pinta Andika tidak mau menunggu terlalu lama.


''Baik. Aku to the points saja.''


Pendar mata Andika tidak pernah lepas dari wajah yang selalu mengingatkan pada Karina. Sang mantan istri namun tidak pernah lekang dalam memori otaknya.


''Saat ini perempuan yang mirip sekali dengan Meella sedang dalam bahaya. Kemarin dia diculik oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Walau pun aku tahu, Papa bukan orang yang menyuruh mereka. Tapi aku yakin, ini ada hubungannya dengan Papa. Mungkin Papa sudah menyelidiki bahwa saat ini Meella sedang hamil anak Garda. Dan itu artinya anak dalam kandungannya adalah keturunan Negara. Suatu hari nanti dia akan menjadi penerus klan Negara...''


Andika terkesiap mendengar pernyataan Rega.


''Aku harap Papa tidak bertindak ceroboh sampai melenyapkan para calon pewaris, hanya karena ambisi Papa. Dan aku mohon hentikan pertikaian Papa dengan Ayah Gusti. Agar kami para anak tidak terkena imbasnya. Bila Papa ingin bahagia. Kami pun sama.'' Rega langsung tersadar dari lamunannya saat melihat saudara kembarnya, Garda dari kejauhan terlibat perkelahian dengan tiga orang pria bertubuh kekar di depan rumah itu.


Dia langsung melompat turun dari mobilnya untuk membantu saudara kembarnya. Lalu ambil bagian menghajar salah satu di antara mereka tanpa perlu diminta.


Ketiga orang itu terkejut melihat dua orang pria dengan wajah yang sama. Namun tidak mengurangi tenaga mereka untuk melumpuhkan sepasang saudara kembar itu.


Tetapi tenaga Garda dan Rega tidak kalah besar dengan mereka yang bertubuh tinggi besar juga kekar.


Satu persatu di antara mereka jatuh dan tumbang di atas tanah berumput. Setelah mereka semua keok di tangan Rega dan Garda. Kedua saudara kembar itu masuk ke dalam rumah yang tampak sunyi dari luar.


*


Hai readers... sampai di sini dulu episode kali ini ya ...


Di akhir bulan Ramadhan ini author mau mengucapkan mohon maaf lahir batin bila ada salah dalam penulisan. Dan dongkol karena terlalu lama menunggu update-an dari author.


Selamat hari raya idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin 🙏😘🥰

__ADS_1


See you next episode...


__ADS_2