
Happy reading...
****************************************
Hingar-bingar suara musik yang dipandu oleh seorang disk jockey menghentak kuat di dalam klub malam. Melenakan setiap orang yang mendengarnya, dan mampu menghipnotis para pendengarnya untuk bergoyang mengikuti irama lagu.
Namun tidak untuk seseorang yang duduk di sudut, salah bangku sendiri di bawah lampu temaram. Dia tampak tidak terpengaruh sedikit pun dengan suasana di tempat itu. Hanya minum dan minum. Entah sudah berapa gelas yang sudah dihabiskan. Lalu menuang kembali cairan dari botol mengandung alkohol tingkat tinggi.
Pria itu adalah Mirza. Penampilannya yang selalu tampak rapi dan necis. Kini begitu berantakan juga rambutnya kusut. Dia sangat frustrasi karena patah hati.
Patah hati karena cinta dan pernikahan yang sangat didambakan terpaksa kandas di tengah jalan. Akibat ulah nakal adik kesayangannya, Raisya.
Di saat kesadarannya sudah tinggal setengah akibat pengaruh alkohol. Mirza kembali teringat percakapannya dengan Meella beberapa waktu lalu.
"Mengapa hubungan kita bisa semudah ini berakhir dengan cepat? Gak bisakah kamu berbohong pada aku, agar kita bisa hidup bersama?" suara Mirza parau terdengar di telinga Meella.
"Aku gak ingin kita berpisah. Tolong jangan pergi meninggalkan aku!"
"Maaf bila kejujuran saya menyakiti hati kamu. Itu karena saya gak mau hidup dalam kebohongan," jawab Meella jujur.
"Saya gak pantes buat kamu, Za..." hatinya sangat pilu mengungkapkan kenyataan ini. "saya benar-benar gak pantes buat dampingi hidup kamu, karena... saya udah kotor, Za... udah gak perawan lagi."
Akhirnya air mata yang sejak tadi mengering, tumpah ruah dari sudut mata Meella. Lagi, kepedihan itu melukai hatinya.
"Kamu bisa cari gadis lain yang masih suci, yang lebih dari saya."
Mirza melepaskan pelukannya. Lalu memutar tubuh Meella agar menghadap ke arahnya. Kedua tangannya memegang erat kedua bahu Meella.
"Gak semudah itu, Meel... hati dan cintaku bukan barang yang bisa ditukar sesuka hati," ucapannya sungguh-sungguh.
"Tapi Za... apa pun alasannya, aku udah gak bisa menjadi pendamping hidup kamu..."
"Kenapa, kenapa gak bisa?" tanya Mirza tidak sabaran.
"Karena... saya hamil!" sahut Meella tegas.
Mirza speechless. Tatapan matanya tidak terbaca.
"Apa?!"
Perlahan kedua tangan Mirza jatuh merosot dari bahu Meella.
"Ya, saya sedang hamil anak dari pria itu," lanjut Meella mempertegas ucapannya.
Mirza mengusap wajahnya kasar. Walau Meella tidak menunjukkan bukti kehamilannya. Dan hatinya tidak yakin sepenuhnya dengan ucapan gadis itu, dia tetap tidak bisa apa-apa. Karena Meella benar-benar menolak Mirza menjadi pendamping hidupnya.
"Mengapa? Mengapa harus jadi seperti ini, Meel... aku sangat mencintaimu. Apa pun yang terjadi pada kamu, aku akan terima apa pun itu, asalkan kita bisa hidup bersama..." racaunya di tengah mabuknya.
Tiba-tiba Mirza tertawa bahagia. Tapi sesaat kemudian dia menangis seperti anak kecil. Dia kembali menenggak segelas minumannya hingga kandas.
"Tapi kenapa kamu malah tidak mau, Meella... dengan alasan... kamu sudah hamil anak lelaki brengsek itu!" lanjutnya menekan ujung kalimatnya seraya menghentak gelas di tangannya ke atas meja.
*
Garda akhirnya mengetahui Meella tidak bersalah, setelah mendapat laporan dari salah satu anak buahnya yang ditugaskan untuk memata-matai gadis itu.
__ADS_1
Ada sedikit penyesalan di hatinya atas perbuatan yang pernah dilakukannya pada gadis malang itu. Tapi tidak ada niatan yang terbersit dalam benaknya untuk meminta maaf.
'Huh, biarkan saja. Toh, bukan aku yang minta. Salah sendiri gak bisa jaga diri sendiri,' pikirnya begitu picik. Tersenyum licik.
*
Sudah berulang kali Mitha menghubungi nomor telepon Meella. Namun masih tidak bisa dihubungi. Entah apa yang sedang terjadi pada saudari kembarnya, dia tidak bisa memprediksinya seperti cenayang.
Mitha sangat gelisah. Berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD rumah sakit. Kebetulan di sekitar depan ruang UGD saat ini sedang sepi. Benda pipih di tangannya masih belum turun dari telinganya. Pasalnya setiap kali gagal menghubungi, dia akan kembali mendeal nomor yang sama. Dengan harapan bisa terhubung dan diterima oleh orang yang diteleponnya.
Di dalam ruang UGD Gusti sedang ditangani oleh dokter.
"Sudah lah, Tha... mungkin Lala lagi menenangkan diri. Jadi, jangan ganggu dulu," suara Maryam berusaha menghentikan aktivitas Mitha, seraya menyentuh lengannya.
"Gak bisa gitu juga, Ma...," kilah Mitha bersikukuh.
"Gimana pun dia harus tahu kondisi Ayah sekarang. Kalo perlu datang ke sini."
Maryam menghela nafas pelan. Lalu menarik lengan Mitha, serta membimbingnya duduk di kursi tunggu. Tanpa perlawanan yang diajak duduk pun menuruti begitu saja.
"Tha... Mama mohon... banget sama kamu, jangan terus-terusan menyudutkan Lala seperti Ayah kamu," pinta Maryam dengan sangat.
"Tapi Ma... emang kenyataan Lala udah nyelakain Ayah. Buktinya..."
"Stop!" Maryam langsung menginterupsi. Rungunya sudah tidak sanggup mendengar Meella dijelekkan oleh putrinya yang lain. "Mama mohon hentikan!"
"Kenapa, Ma? Ini fakta, Ma..."
"Cukup!"
"Udah lah, sayang... kamu gak usah ngotot gitu sama Mama."
Mitha mengalihkan pandangannya pada Dicky yang baru saja duduk di sisinya.
"Tapi, Beib..."
"Ternyata... kamu sama saja dengan Ayah," Mitha langsung menoleh, menatap wajah ibunya dengan tatapan penuh tanya.
"Kalian... kalian berdua memang egois. Hanya berpikir dari sudut pandang kalian sendiri," punggung Maryam bergetar turun naik. Suaranya parau dan lirih.
"Kalian hanya memikirkan kesenangan sendiri. Tanpa pernah mempedulikan bagaimana perasaannya," Maryam langsung menyeka air matanya yang hampir jatuh di pipinya.
Mitha speechless.
"Pernah kah kamu bertanya bagaimana perasaannya saat ini? Apakah dia bahagia atau bahagia, setelah harapannya hancur karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab?" todong Maryam membuat Mitha kikuk.
"Pernah kah kamu berpikir, apa yang terjadi bila Lala tidak mengakui perempuan yang ada dalam foto itu?" suara Maryam terdengar muncul dan tenggelam namun masih dapat ditangkap oleh rungu Mitha dan Dicky.
"Apakah kalian berdua masih bisa bersama seperti ini, hah?" tangis Maryam pecah juga pada akhirnya.
"Kasihan sekali kamu, La... kamu sendiri saat ini. Kamu hancur sendiri. Maaf kan Mama, Nak... Mamamu ini terlalu lemah dan lembek. Mama tidak bisa membela kamu... menemanimu di saat kamu terpuruk seperti ini..." wanita itu meratap pilu.
"Ma... Thatha..." Mitha ingin memeluk Maryam. Namun segera ditepisnya. Beranjak berdiri mengemas air mata yang sudah sejak lama ingin ditumpahkan.
Mitha terpukul dengan penolakan Maryam. Belum pernah wanita itu berlaku kasar padanya. Tapi sikapnya seperti ini sudah mampu melukai hatinya.
__ADS_1
Tidak lama berselang seorang dokter keluar dari pintu ruang UGD. Maryam segera berjalan menghampiri dokter berwajah tampan itu.
Sang dokter memberikan penjelasan singkat tentang kondisi Gusti saat ini. Dan diperlukan perawatan secara intensif untuk beberapa hari di rumah sakit.
Saat mendengar penjelasan, wanita paruh baya itu sempat terdiam terpaku melihat wajah yang sangat mirip dengan Garda.
'Garda... seandainya kamu masih hidup, mungkin kamu sudah sudah seusia pemuda ini. Dan, Lala... tidak akan semenderita seperti saat ini.' pikir Maryam.
*
Hampir Subuh Mirza pulang ke rumahnya dalam keadaan mabuk. Jalan terhuyung dan tubuh bau alkohol yang sangat menyengat. Dalam sejarah hidupnya, ini adalah kali pertama dia sampai mabuk parah. Bibirnya terus meracau tidak karuan.
Wanita yang telah melahirkannya, Anna, hanya menangis melihat keterpurukan Mirza.
Darmawan naik pitam hendak menampar wajah tampan Mirza. Namun tidak jadi karena dihalangi oleh Anna.
Raisya menangis setelah tahu kondisi kakak yang sangat disayanginya. Akibat ulahnya Mirza hancur sehancur-hancurnya. Kesalahan ini benar-benar tidak bisa dimanfaatkan oleh Mirza. Sejak malam itu hubungan Mirza dan Raisya tidak lagi sehangat dulu.
Mirza yang penyayang selalu memanjakan Raisya. Kini bersikap dingin. Berbicara hanya seperlunya saja. Tidak ada basa-basi. Atau pun senda gurau yang mengundang gelak tawa. Hanya tawar dan hambar bila keduanya bertemu di meja makan.
Kata maaf berulang kali telah Raisya ucapkan pada Mirza. Namun tidak dapat merubah yang hancur menjadi utuh kembali.
*
Hampir setiap hari Mirza merindukan Meella. Dia pun pergi mencari keberadaannya. Namun gadis itu lagi-lagi sulit ditemukan. Rumah kontrakannya telah kosong sejak beberapa hari lalu. Tepatnya setelah malam mereka terakhir bicara, Meella sudah tidak lagi menempati rumah kontrakannya.
Tidak ada jejak yang ditinggali agar bisa melacaknya. Semuanya gelap dan buntu. Tidak seorang pun yang tahu keberadaannya.
Mirza sangat frustrasi ditinggalkan oleh calon istrinya. Akibatnya, pekerjaan kantornya nyaris hancur berantakan karena sering ditinggalkan. Untunglah Darmawan selalu cekatan membackup pekerjaan sang putra.
Kendati kesal dan marah dengan sikap tidak bertanggung jawab Mirza. Darmawan tidak bisa membuat putranya kembali seperti dulu.
Malam itu, Mirza menepikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu keluar dan menutup rapat pintu mobilnya. Berjalan ke depan dengan lampu mobil yang masih menyala terang. Dia berdiri di depan pagar pembatas jalan.
Angin malam yang dingin sudah tidak dirasakannya. Hanya kepiluan dan kehampaan yang dirasakannya.
Netranya menatap ke depan. Memperhatikan lampu-lampu yang menghiasi kota. Dari kejauhan tampak seperti bintang yang berkelap-kelip.
"Mella... kamu dimana?..." pekiknya menimbulkan gema yang memantul di sekitarnya.
"Aku... rindu... kamu..."
"Meella... Meella... kembalilah... aku mencintaimu..."
Mirza menangis. Sungguh, pada saat seperti ini dia menjadi pria yang cengeng.
"Meella... kembalilah padaku. Aku janji akan menerima kamu apa adanya. Sekali pun kamu telah hamil, anak pria lain. Aku terima. Asalkan kita bisa tetap bersama selamanya..." ucapnya pada diri sendiri dengan suara parau.
*
Hai hai readers... sampai di sini dulu ya episode kali ini. Insyaallah author akan update lagi lain waktu.
Jangan lupa tinggalkan jejak-jejak cantik berupa hadiah, vote, like dan komen ya...
Selamat bermalam minggu...
__ADS_1
See you next episode 😁🙏