
Happy reading...
*********************************
Pagi-pagi sekali Garda sudah berangkat ke kantor. Setelah hampir semalaman penuh bergadang mengurus Meella yang tiba-tiba demam. Kini kepalanya sedikit pening karena kurang tidur. Dia memijat pelipis kirinya dengan tangan
kiri yang bertumpu pada sandaran tangan kursi kebesarannya. Sementara kepala dan punggungnya yang sedikit miring ke sebelah kiri dibiarkan rileks menempel pada sandaran belakang kursi.
Beberapa kali Garda tampak mendengus lelah, seolah sedang menyingkirkan keresahan yang tiba-tiba saja terasa mengganjal di hatinya. Entah apa sebenarnya dia tidak pasti. Dia hanya tahu saat netranya melihat wajah gadis itu mendadak menyelinap perasaan aneh melingkupi hatinya. Apalagi setelah mendengar Namanya dipanggil berulang kali dalam ketidaksadaran gadis itu, perasaannya jadi campur aduk.
Dan ada satu hal yang Garda tidak sadari saat kemarin malam. Yaitu rasa peduli yang teramat dalam pada Meella. Semuanya diluar dugaannya sendiri. Mengapa dia sampai begitu peduli pada gadis yang seharusnya dihakiminya karena telah lancang naik ke atas ranjangnya tanpa permisi di malam pesta pertunangannya sendiri.
Mulai dari mengangkat tubuh Meella yang tidak berdaya dari atas lantai, lalu memindahkannya ke atas Kasur serta
menyelimutinya dengan selimut tebal. Kemudian mengecek suhu tubuh Meella menggunakan termometer hingga mengompresnya dengan handuk kecil.
Herannya semua itu dilakukan dengan tangan Garda sendiri tanpa bantuan orang lain. Bahkan dia tegas menolak ketikan Dandi dan orang-orang suruhannya menawarkan diri untuk menggantikannya. Sungguh aneh tapi nyata. Garda seakan menjelma menjadi bukan dirinya yang cuek, kaku dan dingin. Bahkan terhadap Bianca pun dia sangat jarang menunjukkan sisi lembutnya seperti yang ditunjukkannya pada Meella. Sontak membuat orang-orang yang melihatnya nyaris tidak percaya.
Ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba aku merasa begitu akrab, cemas dan khawatir secara bersamaan saat menghadapinya? Mungkinkah aku dan gadis itu pernah...
Ah, nggak nggak mungkin! Bagaimana mungkin bisa? Sedangkan kami berdua belum lama saling bertemu tanpa mengenal akrab. Tapi...
Garda menyentuh dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang saat mengingat wajah Meella.
Bulshit!
Garda berusaha mengeyahkan pikirannya yang terlalu over thinking.
*
Hari pernikahan antara Mitha dan Dicky serta Meella dan Mirza semakin lama semakin dekat saja. Semua persiapan telah hampir selesai. Surat undangan pun sudah siap untuk disebarkan. Tetapi keberadaan Meella masih belum jelas dimana rimbanya. Gadis itu tiba-tiba raib bagai ditelan bumi. Benar-benar membuat Mirza khawatir. Pasalnya tidak ada seorang pun yang tahu. Bahkan pihak keluarganya pun tidak ada yang tahu.
Malam itu, di dalam kegalauannya sepulang bekerja dari kantor. Di tengah jalan pulang mendadak dia melihat seorang gadis. Kala itu si gadis sedang mengendarai sepeda motor berlawanan arus dengan. Kontan netranya menangkap dan mengikuti gerak laju motor sosok itu. Mulai dari kaca depan hingga kaca jendela sampingnya.
Hatinya bergetar hebat refleks kedua tangannya yang sedang sibuk memegang gagang kemudinya, bergerak memutar arah untuk mengejar sosok yang sudah di pindainya. Mempercepat laju kendaraannya hingga mampu melampaui kendaraan roda dua yang dikendarai si gadis. Setelah berhasil, Mirza sengaja menghadang jalannya.
Si gadis yang tengah fokus pada jalan pun sontak terperanjat kaget. Refleks menarik kedua rem setang sepeda motornya hingga laju kendaraannya dapat berhenti mendadak. Degup jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Lalu mendorong helm tanpa kaca depan ke kebelakang, yang sempat turun ke depan matanya.
Mirza langsung keluar setelah membuka pintu mobilnya. Kemudian berjalan menghampiri si gadis dengan tatapan penuh rindu.
“Meella, akhirnya aku menemukanmu,” bisik Mirza lirih.
“Mirza?” si gadis tampak sangat terkejut melihat kedatangan pria itu. Buru-buru menarik standar sepeda motornya
dengan sebelah kaki setelah sebelumnya mematikan mesin.
Dengan tatapan bingung gadis itu hendak bertanya,
“Mir, kamu kenapa…” belum sempat si gadis menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba Mirza meraih tubuhnya dan
__ADS_1
memeluk erat hingga kehilangan kata-kata.
“Meella, kamu dari mana aja? Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa kabar? Aku khawatir, aku…,” Mirza menenggelamkan wajahnya pada bahu si gadis haru.
“Hah?!” si gadis yang tidak lain adalah Mitha, saudari kembar Meella sangat terkejut dengan perilaku calon
saudara iparnya.
Mendadak speechless tidak bisa berkata-kata. Dia hanya bisa menepuk-nepuk pelan bahu Mirza guna menenangkannya. Semoga cepat tenang. Setelahnya dia akan meluruskan kesalahpahaman ini.
"Mir-za," panggil Mitha hati-hati setelah merasa kondisi pria itu cukup stabil. Pelan-pelan dia mendorong tubuh kokoh yang kini tampak meleot di bahunya.
"Hm?!" gumamnya masih merasa nyaman.
"Sori, elo berat," terpaksa Mitha jujur karena sudah tidak sanggup menahan beban tubuh Mirza yang dua kali lebih berat darinya. Juga rasa canggung yang tidak bisa ditoleransi lagi.
"Oh, maaf!" Mirza segera beranjak tidak enak juga menjadi beban orang lain walau pun calon istri sendiri.
"Maaf, aku udah bikin kamu kesusahan," lanjutnya menyesal.
Mitha tersenyum kecil. Mirza terpana melihat senyumnya.
"Buat sekali ini gak papa gue maafin. Tapi jangan harap ada lain kali ya," celoteh Mitha.
Mirza menunjukkan ekspresi keterkejutannya. Karena dia belum menyadari gadis yang ada di hadapannya bukan calon istrinya, Meella, melainkan Mitha calon adik iparnya.
"Maksudnya?" Mirza makin bingung dengan ucapan Mitha.
"Gue tahu elo lagi gak stabil karena sampai detik ini, elo, gue juga keluarga kita semua belum ketemu sama Meella."
"Hah?"
"Iya, gue paham banget kalo elo lagi kangen sama Meella. Tapi, mulai hari ini elo harus belajar bisa bedain mana Meella mana gue."
"Maksudnya?"
"Supaya lain kali elo gak salah mengenali orang."
Hati Mirza mencelos menyadari kekeliruannya.
"Gak papa kok lagian elo bukan orang pertama yang keliru mengenali kita," Mitha tersenyum miris.
Oh, my God!
Mirza benar-benar malu dengan kekhilafannya ini. Mungkin benar apa yang dikatakan Mitha. Dia harus lebih peka dan bisa mengidentifikasi dua gadis kembar identik yang salah satunya akan diperistrinya. Agar kedepannya tidak salah peluk lagi. Dan hal-hal yang tidak diinginkan karena salah mengenali pasangan sendiri.
Akhirnya dengan rasa bersalah dan berdosa Mirza meminta maaf pada Mitha.
*
__ADS_1
Walau pun Meella berada dalam ruangan tertutup dan tidak bisa keluar masuk seenaknya. Karena tempat itu dijaga ketat oleh pria-pria berseragam dan bertubuh kekar. Dia hanya boleh beraktifitas di dalam kamar yang sudah difasilitasi lengkap. Baik satu set kasur lengkap dengan selimutnya, tv dengan layar besar, sofa, lemari es, dan kamar mandi. Sementara untuk makan dan minum ada koki yang ditugaskan untuk memasak. Setelah matang akan diantar oleh salah satu penjaga ke dalam kamarnya. Tidak ketinggalan obat-obatan untuk mengobatinya saat sakit hingga sembuh.
Kini sudah memasuki malam ketiga Meella disekap, kendati kondisinya sangat bebas mondar-mandir di sekitar kamar yang didiaminya. Entah sampai kapan dia berada di sini, tidak ada orang yang bersedia memberitahu padanya. Dia pun tidak bisa berbuat apa-apa memang karena kondisi tubuhnya yang masih terasa lemas setelah demam kemarin. Selama itu pula Meella belum bertemu dengan orang, dalang dibalik penculikannya ini.
Ya Tuhan... sampai kapankah semua ini berakhir?
Kreekk...
Tiba-tiba terdengar suara berkretek bersumber dari arah pintu. Satu-satunya akses yang dapat digunakan untuk keluar masuk.
Meella yang tengah duduk di sofa langsung mengalihkan pandangannya pada pintu yang dibuka perlahan-lahan. Lama kelamaan menjadi lebar hingga menghadirkan sosok yang tidak asing baginya. Sontak dia terbeliak kaget. Entah sedang dejavu atau delusi dia melihat sosok Garda yang sangat dirindukannya, pada Garda yang sesungguhnya orang yang dimaksud, namun menganggapnya orang lain lantaran keadaan.
'Garda? Itu Garda!' batin Meella berbisik saat tatapannya bersirobok dengan tatapan tajam milik Garda.
Meella beranjak berdiri dari duduknya. Pelupuk matanya sudah menampung air bening yang siap meluncur menjadi air mata.
Garda tidak mengerti apa maksud tatapan Meella tampak sedikit salah tingkah dan canggung. Hampir dibuat tidak berdaya jika dia tidak ingat dengan peristiwa itu. Dia menutup pintu tanpa mengalihkan pandangannya pada gadis itu, berdiri mematung dengan mata yang berair. Mungkin matanya baru saja kelilipan debu atau kecolok sendiri. Cowok cuek itu tidak mau ambil pusing.
"Ehm! Hm!" dia sengaja berdehem untuk mencairkan suasana. Atau mungkin tanpa sengaja menyadarkan Meella dari lamunannya.
Sangat manjur sekali! Setelah mendengar suara deheman Garda yang cukup keras, Meella langsung terhenyak dari lamunannya. Segera bersikap waras dan wajar.
Bukan! Dia bukan Garda. Tapi Pak Pandega.
Ya, dia Pak Pandega bukan Garda, suami saya.
Hah, Pak Pandega? Kenapa... apa mungkin... dia yang?.......
Ekspresi keterkejutan sangat jelas tergambar jelas di wajahnya yang pucat tanpa riasan make up sedikit pun. Berderet pertanyaan pun bermunculan dalam benaknya. Berbanding terbalik dengan Garda yang terlihat sangat santai saat melangkah masuk serta smirk di bibirnya.
Meella merasa terancam dengan kedatangan Garda. Walau belum bisa memprediksi apa yang akan diperbuat pemuda tampan itu padanya. Tetap saja rasa takut itu menyerang sangat ganas.
Oleh sebab itu setiap Garda bergerak maju ke depan, maka Meella melakukan gerak mundur ke belakang seraya menunjukkan sikap siaga. Khawatir Garda akan melakukan serangan tiba-tiba. Tidak ayal dia meraih bantal sofa sebagai tamengnya.
"Kenapa, kamu takut?" terdengar pertanyaan mengejek untuk Meella. Namun gadis itu hanya membisu. "Cih!"
Tiba-tiba Garda melempar sebuah paper bag ke atas meja di depan sofa yang sempat Meella duduki tadi. Meella pun terkejut mendengar suara benda jatuh itu. Spontan mengalihkan perhatiannya pada onggokkan itu. Entah apa isinya, nanti saja deh baru dilihat.
Garda menyeringai sinis. Meella malah menunjukkan wajah datarnya. Garda merasa gemas melihatnya. Juga heran dengan sikap cuek Meella. Rasanya tidak umum sekali. Padahal cewek pada umumnya akan bertanya tentang barang yang dibawanya, untuk menunjukkan rasa ingin tahu. Lalu akan mengobrak-abrik isi dari paper bag yang dibawa guna meredakan rasa kekepoan.
Gila! Ini cewek kayanya anti mainstream banget!
*
Sampai di sini dulu ya ceritanya. Untuk episode selanjutnya diusahakan cepat ya.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberi like, vote, hadiah dan komen penyemangat buat dopping author supaya giat up date ya...
See you selamat berakhir pekan.
__ADS_1