
Happy reading...
Rega memacu kereta besinya membelah jalan raya kota yang padat merayap. Dia tidak bisa hanya duduk diam berpangku tangan. Dia harus berusaha mengeluarkan segenap tenaga juga pikirannya. Untuk langkah awal yang ditempuhnya menemui seseorang dengan segera. Orang yang dapat menolong serta membebaskan istrinya dari tangan para penjahat tengik itu.
*
Meella sengaja ikut dan bantu-bantu di kedai milik Tari untuk mengisi kegabutannya. Maklum baru hari ini dia menyandang status sebagai pengangguran. Setelah memutuskan untuk resign dari kantor. Masa bodoh surat resign nya diterima atau tidak, yang penting dia tidak lagi berada dalam circle Garda.
Di kedai itu, Tari sempat memperkenalkan Meella dengan seorang pria, yang katanya calon suami Tari.
Meella akui Tari merupakan sosok wanita tangguh dan tidak pantang menyerah. Pasalnya sudah berulang kali mengalami kegagalan, baik soal cinta maupun dalam merintis usaha seperti kedai ini. Walau tidak besar kedai yang dimilikinya. Tetapi jerih payah serta pengorbanan yang Tari curahkan sangat lah besar. Hingga menggugah Meella menjadikan sang sahabatnya itu menjadi panutan. Heh, lebay!
Cranggg!!!
Tiba-tiba saja gelas berisi jus alpukat di tangan Meella terlepas begitu saja. Seharusnya jus yang baru siap itu akan dibawa oleh seorang pegawai kedai menuju meja tamu. Namun takdir berkata lain.
''Meel, elo gak papa?'' sebuah sentuhan pelan di punggung Meella, langsung menyadarkannya dari lamunan yang entah kenapa membuatnya gelisah.
''Meel...''
''Ah, gak papa,'' sahutnya gelagapan. ''yah, gak papa.''
Tari mengerti dengan kondisi Meella. Dia langsung mengajak Meella menjauh dari dapur. Setelah sebelumnya meminta salah satu karyawannya untuk membersihkan lantai yang kotor, juga serpihan beling yang sempat jatuh berhamburan bersama cairan kental berasal dari jus alpukat tadi. Serta meminta dibuatkan yang baru, untuk pelanggan yang memesannya.
''Gue gak papa, Tari... gue cuma gak tahu aja kenapa tangan gue teledor kaya tadi,'' Meella berkata jujur. Walau dia tidak tahu alasannya kenapa. Hanya bisa merasakan hatinya mendadak gelisah.
''Ya udah, mendingan elo istirahat aja, Meel. Mungkin elo kecapekan. Ingat, elo lagi hamil. Gak boleh capek-capek,'' Tari dengan sangat perhatian membawa Meella ke sebuah kursi kosong yang ada di dapur.
Meella hanya tersenyum canggung. Juga tidak enak telah mengacaukan dapur kedai Tari. Belum satu hari saja dia sudah membuat sang sahabat merugi.
''Sori ya, Tar. Gue gak bermaksud...''
''Gak papa. Cuma segelas jus alpukat. Gak bakal bikin gue jatuh miskin kok,'' hibur Tari agar Meella tidak terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.
Setelah melihat Meella agak tenang, Tari meninggalkannya. Dia memang terjun langsung melayani para pembeli yang datang ke kedainya. Bahkan tidak segan ikut nimbrung di dapur menjadi koki. Atau sekedar membantu koki yang memang ditugaskan bertanggungjawab membuat setiap makanan yang dipesan pelanggan.
Sementara Meella yang duduk bergeming di tempatnya. Tampak termangu dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
Ada apa ini? Kenapa dada saya terasa sesak dan gelisah? Semoga aja gak terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Batin Meella berbisik lirih.
*
Di tempat berbeda. Mitha berhasil melepaskan diri dari ikatan yang membelit tubuhnya. Namun belum sempat kakinya bergerak meninggalkan ruangan sialan itu, dua orang dewasa bertubuh tinggi besar mirip algojo mendadak datang memergokinya. Ketika itu kedua orang tersebut berniat mengantarkan makanan untuk Mitha.
"Hei, apa yang kau lakukan?!" teriak salah satu dari dua algojo itu panik.
Ya, mereka panik. Sangat panik malah. Mereka mendadak takut bila Mitha berhasil kabur dari sini. Maka mereka harus siap kena marah dan pukul dari orang yang sudah membayarnya. Selain itu tenaga mereka bisa-bisa tidak akan dibayar. Padahal mereka sudah bekerja keras untuk menculik, dan menjaga perempuan bar-bar itu selama si bos belum turun tangan langsung.
Sialan!
Mitha hanya bisa mengumpati dirinya yang kurang cekatan.
Alhasil, terjadilah baku hantam yang tidak tidak sebanding. Bayangkan saja jika Mitha hanya seorang wanita yang memiliki tenaga tidak sebesar dua lelaki tinggi besar menjadi lawannya. Walau ilmu bela dirinya cukup mumpuni. Dengan kondisi seperti ini rasanya mustahil bisa menyumbangkan dua algojo itu.
Mitha tidak patah arang. Sebisa mungkin dia menggunakan benda yang ada di sekitarnya untuk melakukan perlawanan. Pukulan, tendangan dan apa pun jurus yang bisa dilakukan, Mitha lakukan dengan sungguh-sungguh.
BUUUGHHH
BUUUGHHH
BUUUGHHH
Baku hantam terus terjadi, berakhir dengan hancurnya kursi kayu yang digunakan Mitha menyerang salah satu lelaki itu. Darah segar pun berhamburan dari mulut lelaki tersebut. Sontak tubuh kekar itu ambruk jatuh tersungkur di atas lantai berdebu.
BUUUGHHH
Satu serangan mendadak mendarat tepat di pipi Mitha. Tanpa persiapan saat menerimanya membuat tubuh perempuan itu terhuyung ke samping dan nyaris tumbang. Namun darah segar mengalir di sudut bibirnya yang robek tidak bisa dihindari.
*
Garda mengendarai mobilnya menuju lokasi yang diminta oleh si penculik. Tentu tidak dengan tangan kosong. Dia membawa satu koper uang tunai berwarna merah. Uang tersebut akan digunakan untuk menebus Meella. Karena si penculik mengatakan orang yang mereka culik adalah Meella bukan Mitha.
Sedangkan Rega dengan mobilnya juga berada jauh di belakang mobil Garda. Keduanya telah sepakat untuk bekerja sama menyelamatkan seseorang yang mereka sendiri belum yakin seratus persen, apakah benar yang mereka culik adalah Meella. Atau justru Mitha. Pasalnya keduanya sama-sama belum tahu dimana keberadaan Meella maupun Mitha yang sebenarnya.
Entah bagaimana keadaan Meella atau Mitha di sana. Yang jelas isi benak saudara kembar itu sangat kacau dan khawatir. Mereka hanya bisa berharap dalam doa yang mereka panjatkan di hati masing-masing. Agar orang yang mereka sayangi selalu dalam keberuntungan.
__ADS_1
*
Andika baru saja mendapat informasi tentang penculikan Meella dari orang suruhannya. Dia memang tidak terlibat sama sekali dengan penculikan itu. Tetapi dia bisa menyelidiki dengan cepat kasus ini. Mengingat begitu banyaknya anak buah yang dipekerjakan untuk memata-matai sesuai permintaannya.
Selain itu dia juga sudah mengetahui tentang kecelakaan yang menimpa Meella di Bandung. Dia pun sudah mengantongi siapa saja orang yang terlibat di dalamnya. Termasuk dalang dibalik kecelakaan itu. Jika dia mau, dia bisa mengeksekusinya saat ini juga, atau kapan pun dia ingin. Namun Andika menahan dirinya karena orang tersebut masih berguna untuk dijadikan pionnya.
''Hemm. Aku tidak mengerti mengapa semuanya jadi seperti ini. Tidak sesuai dengan ekspektasi semula,'' gumam Andika sedikit frustasi.
''Bianca... Bianca. Bisamu hanya mengacau rencanaku saja. Awas saja bila semuanya hancur berantakan karena kamu. Jangan harap kamu bisa melihat matahari terbit besok,'' geramnya dengan suara sangat rendah.
*
Gusti dan Maryam hanya bisa berdoa dalam hati untuk keselamatan putrinya. Setelah sebelumnya keduanya syok mendengar kabar penculikan Mitha dari Rega.
Tapi Garda tiba-tiba datang yang tentu saja membuat kedua orang tua itu semakin syok, dan nyaris jatuh pingsan melihat kedatangan pria yang mereka anggap sudah mati.
Dibantu penjelasan dari Rega akhirnya Gusti dan Maryam dapat mengerti. Juga geram dengan sikap Andika yang begitu tega memanipulasi kematian anaknya sendiri, hanya ingin memisahkan hubungan Garda dan Meella. Dan yang paling mengejutkan dari semua berita itu, adalah berita kehamilan Meella. Sudah pasti membuat mereka berkali lipat khawatir akan kondisi Meella saat ini.
Maryam menangis pilu atas penderitaan yang sudah dialami Meella.
Begitu pun Gusti, yang tidak pernah habis rasa bersalahnya pada Meella.
"Maafkan Ayah, Nak. Ayah sudah banyak membuat kamu terluka dan menderita. Ayah janji setelah ini, Ayah akan berusaha menebusnya walau sangat terlambat," lirih Gusti pilu.
"Doakan saya, Yah, agar berhasil menyelamatkan Meella. Dan berikanlah kami restu, Yah...," pinta Garda pilu bersimpuh di bawah kaki Gusti.
"Tentu, tentu Ayah merestui kalian. Ayah titipkan putri kesayangan Ayah itu padamu. Jagalah dia seperti kamu menjaga diri kamu sendiri," sahut Gusti dengan suara bergetar. Air matanya berurai deras saat meminta Garda menjaga Meella seperti menjaga diri Garda sendiri.
''Baik, Ayah. Saya janji. Saya janji,'' Garda sangat bersungguh-sungguh. Air matanya pun lolos begitu saja tanpa permisi.
Sedikit mengesampingkan rasa khawatir atas kondisi Meella di sana. Garda sangat bahagia saat ini telah mendapat restu dari orang yang pernah menentang hubungannya dengan Meella. Meski tidak seekstrim Papa nya sendiri, Andika. Tetap saja hal ini sangat membahagiakannya.
Rega yang menyaksikan drama haru ini turut senang. Bibirnya menarik sebaris senyum tulus. Betapa tidak nyamannya pernikahannya bersama Mitha. Ternyata lebih tidak mengenakan hubungan antara Garda dan Meella. Keduanya susah payah mencari restu. Terutama restu dari Andika.
Pada akhirnya mereka berpisah selama bertahun-tahun. Saat dipertemukan kembali kondisi keduanya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Lantaran kematian palsu Garda. juga Garda yang mengalami amnesia. Mungkin bila kisah mereka diangkat menjadi serial televisi. Maka akan lebih menyedihkan dari drama Korea.
*
__ADS_1
Hai readers... maaf baru update. Mohon maaf bila ceritanya kurang memuaskan karena kondisi author yang lagi gak stabil moodnya. Semoga cerita selanjutnya lebih cepat author buat dan lebih menyenangkan untuk dibaca
See you next episode... 😘🥰🙏