Kesengsem Cinta Kembar

Kesengsem Cinta Kembar
KCK_S2#79


__ADS_3

Happy reading…


“Makanya kalo jalan pake mata dong,” Hardik Bianca dengan tatapan mengintimidasi.


Bianca memang sengaja menyalahkan Meella. Karena masih kesal dan benci pada gadis itu. Juga takut


suatu saat Garda akan direbut darinya seringnya mereka Bersama. Dan hal yang paling ditakutinya bagai mimpi buruk yang selalu menghantui di setiap tidurnya adalah saat ingatan Garda kembali pulih. Tanpa bisa dicegah Meella dan Garda pasti akan Bersatu. Jika benar hal itu terjadi. Maka tidak ada lagi yang dapat dilakukannya. Kecuali dia menyingkirkan Meella dengan segera. Dia yakin mimpi buruk itu tidak akan pernah terjadi.


“Ah, eeeh… maaf. Saya tidak sengaja nona,” ujar Meella. Terpaksa dia lakukan meskipun tidak merasa salah sama sekali. Pada dasarnya Bianca sendiri yang menabrakkan tubuhnya pada Meella.


Haih… nasib bawahan memang selalu salah. Dalam hati Meella merasa heran dengan sikap arogan


calon istri CEO-nya. Kian hari kian menunjukkan perselisihan dengannya begitu kentara. Padahal dia tidak pernah menyinggung atau melakukan hal-hal yang menyakiti Wanita cantik itu. Tetapi Bianca seakan mengibarkan bendera perang padanya.


“Bi, kamu gak papa?” Garda bangkit dari duduknya. Bergerak mengitari setengah meja kerjanya. Lalu mendekati kedua wanitanya. Heh, anggaplah begitu.


Deg


Dada Meella mendadak berdesir kuat mendengar kata ‘Bi’ yang diucapkan Garda. Dia tahu panggilan itu ditujukan pada Bianca. Bukan untuknya. Namun suara dan intonasi saat memanggil tadi langsung membangkitkan ingatannya pada mendiang Garda.


Garda…


“Sayang…,” dengan cepat Bianca merubah ekspresi wahahnya, berbalik memeluk lengan Garda posesif. Sengaja


suaranya juga dibuat manja nan menggemaskan.


Garda tidak menggubris kemanjaan calon istrinya. Tatapan matanya justru terarah pada Meella.


‘Kamu gak papa kan, Bi? Maaf, untuk saat ini saya gak bisa lindungin kamu. Saya gak bisa peluk kamu. Walau pun saya ingin. Tetap gak bisa lakuin itu. Sabarlah Biniku sayang. Saya janji, setelah semua ini berakhir. Kita akan hidup Bersama, Bahagia untuk selamanya,’ batin Garda bergumam lirih.


"Meel."


Merasa namanya dipanggil Meella terpaksa mengurungkan niatnya saat hendak keluar meninggalkan ruang CEO. Membalikkan badannya kaku menghadap wajah atasannya, si CEO muda, tampan rupawan yang juga sedang menatapnya.


“Iya, Pak,” sahut Meella. Lalu menundukkan pandangannya tidak mau bertemu tatap dengan Bianca yang sedang melihatnya dengan tatapan permusuhan.


“Tolong kasih tahu orang proyek, kita akan datang meninjau ke lokasi besok,” titah Garda tiba-tiba.


Kita?


Meella mengerutkan dahinya. Mencoba mengingat jadwal kerja bosnya untuk hari ini. Tidak ada jadwal kunjungan tempat proyek pembangunan. Ya, saat ini Negara’s Group sedang dalam tahap pengembangan sayap kerajaan bisnisnya. Membuat pabrik produksi makanan frozen di kota Bandung. Setelah sebelumnya meresmikan pusat perbelanjaan terbesar di kota Surabaya.


Ada apa dengan Pak Bos? Kenapa tiba-tiba mau mengadakan kunjungan ke lokasi proyek? Bukankah jadwal ke sana dua hari lagi, ya?


"Sekalian segera kasih tahu Dandi agar menyiapkan segala sesuatunya, kita berangkat sore ini supaya besok pagi langsung meninjau lapangan," lanjut Garda menyadarkan Meella dari lamunannya.


"Baik, Pak. Saya akan hubungi Pak Dandi segera," jawab Meella cepat.

__ADS_1


"Bagus. Kamu boleh kembali ke ruangan kamu."


Tanpa menggubris kata 'kita' yang sedikit janggal di rungunya. Meella hanya mengangguk mengiyakan. Berharap dalam kata 'kita' itu dia tidak termasuk di dalamnya. Tidak mau berlama-lama dalam satu ruangan bersama pasangan bucin yang hanya akan membuatnya seperti obat nyamuk. Dia pun permisi beranjak pergi meninggalkan ruangan CEO.


"Lho, sayang. Kok malam ini kamu malah mau pergi ke luar kota sih?" protes Bianca.


Garda menepis tangan Bianca dari lengannya. Gerah saja rasanya digelayuti seperti itu. Seakan lengannya tadi sedang ditempeli gurita besar. Membawa Bianca duduk di sofa biasa dia menerima tamu dalam ruangannya.


"Iya, Bi. Aku harus meninjau lokasi proyek yang ada di Bandung. Karena aku gak mau proses pembangunannya molor. Karena bisa berdampak dengan dana yang udah perusahaan anggarkan. Dan kamu tahu sendiri, kami pengusaha gak mau merugi," Garda sengaja panjang lebar menjelaskan pada tunangannya. Sepertinya ingin menuntutnya sesuatu.


"Iya sih. Tapi kenapa harus malam ini juga perginya, sayang...," Bianca mulai merajuk. Bibirnya mencebik kecewa.


"Kenapa gak besok-besok aja sih? Entar malam kan ada gala premiere film terbaru aku, sayang... kamu lupa?"


Sudah Garda duga. Dan pria itu lagi memang sengaja mempercepat perjalanan bisnisnya. Selain untuk menghindari acara itu. Dia ingin lebih dekat dengan Meella, istri sesungguhnya. Dasar licik!


"Tadi kan aku udah jelasin, Bi..."


"Iya, aku tahu. Kan aku udah kasih tahu kamu dari kemarin," Bianca merajuk menarik sebelah tangan Garda. Saat ini mereka duduk bersisian dan tanpa jarak sedikit pun. Bahkan kepalanya sudah menyandar manja di bahu Garda.


Garda mendengus pelan. Kepalanya mulai cenat-cenut menghadapi kemanjaan Bianca. Bila sudah seperti ini dia


sudah dipastikan tidak bisa berkutik. Namun dia tidak mau kalah begitu saja dengan bujuk rayu Bianca yang seakan ingin menyetir dan menenggelamkannya dalam kendali rubah licik itu.


“Walau pun di film itu bukan aku yang jadi pemeran utamanya. Tapi aku tetep kepingin kamu ada buat dampingin aku, sayang…,” mata Bianca berkaca-kaca berharap Garda bisa luluh di bawah kendalinya.


pendatang baru, yang selama ini mereka remehkan kemampuannya punya calon suami super tajir. Anak tunggal sekaligus ahli waris pemilik Negara’s Group. Maaf ya, Bianca tidak tahu jika Garda sebenarnya bukan anak tunggal. Maklum Namanya juga tunangan hasil catutan dari Andika, kwkwkwkkk.


Seluruh warga negara ini sudah tahu jika Negara’s Group memiliki banyak anak perusahaan. Dan jabatannya saat


ini tidak main-main. CEO Negara’s Group yang usianya terbilang masih muda dan tampan.


Dengan demikian mudah bagi Bianca menaikkan pamor keartisannya di mata produser. Juga para awak media yang datang meliput dalam acara gala tersebut. Berhubung Garda tetap keukeuh tidak bisa memenuhi undangan serta keinginannya. Semua harapannya tinggal angan-angan semata. Jengkelnya lagi Bianca kali ini dia tidak bisa memaksakan kehendaknya seperti biasa. Lantaran pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Serta dia baru saja baikan pasca insiden surat cerai di restoran tempo hari. Untuk kali ini dia memilih mengalah saja dari pada hubungannya dengan Garda pelik kembali akibat keegoisannya. Tentunya tidak mau diceramahi Andika habis-habisan lagi.


*


Setelah menyelesaikan tugasnya dan mengajukan cuti selama satu minggu di rumah sakit. Rega bergegas kembali ke hotel tempatnya menikmati malam panasnya Bersama Mitha. Dia pun sudah menyuruh pengacara untuk mengurus pembatalan perceraiannya, agar pernikahannya dengan Mitha dapat berjalan dengan baik. Harapannya sih sampai menua bersama. Kaya lirik lagu romantis gitu maksudnya hehehe.


Rega melangkah cepat menyusuri Lorong hotel. Karena ingin segera menemui sang istri, Mitha. Kalo bisa sih dia


ingin mengulang percintaan panasnya lagi bersama istrinya. Sepertinya dia sudah kecanduan dengan tubuh molek istrinya, di balik sikap keras kepala dan bar-barnya. Pikirnya mendadak mesum.


Haih, senyum Rega mengembang begitu lebar. Matanya sesekali melirik sebuket mawar mewah di tangan kanannya. Jarang-jarang dia berlaku seromantis ini pada perempuan. Maklumlah, dia tipikal pria kalem, dingin dan cuek. Apalagi romantis itu bukan Rega banget. Banyak cewek yang tertarik padanya tentu karena ketampanannya yang tidak diragukan lagi. Sayang, tidak sedikit cewek yang patah hati dan tidak kuat bertahan. Lantaran dirinya


yang terlalu masa bodoh dengan kehadiran mereka. Di tangan sebelah kirinya menjinjing sebuah paper bag kecil, berisi kalung emas putih berliontinkan Mutiara untuk Mitha. Baru dibelinya saat dalam perjalanan menuju hotel tadi.


Sayang seribu kali sayang. Senyum lebarnya mendadak luntur dan memudar dari bibirnya. Mana kala mendapati kamar hotelnya telah kosong. Bahkan saat dicari dalam kamar mandi pun tidak ada. Mitha telah pergi meninggalkan kamar hotel begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun.

__ADS_1


"Dasar istri gak sopan. Minta dihukum kamu, ya? Tunggu aja hukuman dari suamimu ini. Aku jamin kamu bakalan gak bisa turun dari kasur," ancamnya dengan senyum devil.


*


Di lapangan SMPN XX


Mitha duduk di salah satu bangku kayu pinggir lapangan. Matanya mengamati dengan jeli setiap pergerakan para anak didiknya yang sedang lari mengitari lapangan. Ya, siang ini Mitha memaksakan diri tetap masuk mengajar. Walau area intimnya masih terasa nyeri dan perih gara-gara perbuatan suaminya.


''Sialan si Rega! Gara-gara dia gue gak bisa ngapa-ngapain. Aduh, mana sakit begini lagi. Gue nyesel gak bisa berontak dari dia. Begoooo banget sih gue. Awas aja lo kalo ketemu. Gue hajar burung lo biar gak bisa terbang," gerutunya tentu saja hanya di dalam hati.


Mana mungkin dia berani mengucapkannya dengan lisan. Wah, bisa berabe kalo sampai di dengar orang lain. Apalagi oleh murid-muridnya yang gak ada akhlak itu. Sedari tadi dia memang jadi sasaran bullian murid-muridnya yang berlidah lemes. Masa guru digibahin di depan orangnya langsung sambil diledekin lagi. Memang sih Mitha akui ini gara-gara dia sendiri juga. Ngapain juga penampilannya tidak seperti biasanya. Pakai kaos olah raga dan celana trening. Topi pet dengan menjepit rambutnya di belakang topi yang dipakainya. Sepatu kets, keseringan dia memakai sepatu futsal. Serta peluit yang selalu menggantung di lehernya.


Tapi siang ini apa? Celana trening, jaket yang diseleting rapat sampai atas, padahal cuaca sedang terik sekali. Pluit menggantung di leher, dan topi pet. Untuk kali ini rambutnya tidak dijepit ke belakang topi. Melainkan diurai. Bagi orang yang tidak tahu penampilannya siang ini terkesan aneh. Berbeda bagi orang yang tahu. Dengan mudahnya mereka menebak apa yang sedang disembunyikan Mitha saat ini, yaitu tanda kiss mark terutama di area leher.


"Emang dasar sialan tuh si Rega!" lagi Mitha mengumpat di dalam hati. Setelah dapat cengan dari salah satu murid lelakinya yang usil.


"Kenapa pake jaket rapet banget. Banyak cupangan ya di lehernya?"


Sontak murid-murid yang lain bersahut-sahutan. Menambah gaduh suasana dan kian ramai saja.


Wajahnya merah padam karena malu. Namun sebagai guru Mitha tidak boleh menggunakan kekerasan dalam mendidik murid-muridnya. Jika pun harus menghukum dia harus menggunakan hukuman yang bijak dan mendidik bukan menyakiti. Karena pendidikan zaman sekarang tidak bisa disamakan dengan metode pendidikan zaman dahulu. Kendati cara didik zaman dulu keras tetapi dapat mencetak generasi yang lebih baik akhlaknya, ketimbang zaman sekarang yang banyak dielus tapi muridnya songong dan ngelunjak. Aduh, yang salah murid apa gurunya sih?


"Ardan! Rudi! Zaki!" ketiga bocah yang dipanggil terkesiap langsung mengalihkan pandangannya ke depan melihat guru cantik namun tampak sangar.


"Iya, Bu. Ada apa?" sahut mereka hampir bersamaan.


"Kalian bertiga, posisi squat jump!" titah Mitha tidak mau dibantah.


"Lho, emang kita salah apa, Bu? Kok, kita disuruh squatt jump?" protes Ardan tidak terima.


"Iya, Bu. Masa gitu doang kita dihukum," timpal Zaki mencari aman.


"He-eh. Nih Bu. Ibu lagi PMS kali ya. Masa cuma bercanda doang kita disuruh squat jump," Rudi seakan sedang menyiram bensin di atas kobaran api.


Bagaimana tidak akan marah bila ucapan mereka benar-benar keterlaluan. Mitha merasa ditelanjangi oleh muridnya sendiri. Aih... dimana sopan santun mereka terhadap guru? Masa aib gurunya dibongkar dan dijadikan bercandaan di depan umum, dengan kata lain di depan muridnya yang lain yang jumlahnya tiga puluh orang lebih itu. Dasar murid kurang aja!


"Cepat lakukan!" pekik Mitha emosi. "kalo kalian bertiga gak mau melakukannya, jangan salahkan ibu jika kalian semua ikut kena hukuman sama seperti, Ardan, Zaki dan Rudi. Atau bahkan kalian semua dapat hukuman lebih berat dari mereka bertiga," lanjutnya sengaja menggertak murid-muridnya.


Suasana perlahan hening. Walau masih ada satu dua murid yang berbicara dengan suara yang lebih mirip bisikan. Tampak jelas sekali raut ketakutan, melihat wajah Mitha dalam mode garang. Hingga tidak ada lagi yang berani bersuara lagi saat ini.


"Oke. Ibu mulai hitung..." Mitha tidak buru-buru melanjutkan ucapannya.


"Satu...."


Mendadak suasana berubah berisik dengan cepat. Akibat mereka semua mulai panik takut dihukum. Tak pelak saling menyalahkan pun terjadi.  Tentu orang yang paling disalahkan adalah si tiga bocah tengik itu. Siapa lagi bila bukan Ardan, Zaki dan Rudi.


Atas desakan semua temannya, Ardan, Zaki dan Rudi akhirnya mau melakukan apa yang diminta guru olah raga cantiknya. Tapi sayang, sangar binti garang. Kadang-kadang si ibu guru cantik itu sadis juga. Bila muridnya susah diatur. Ingat! Dicatat ya alasan Mitha menghukum muridnya. Bukan karena emosi semata. Tetapi atas dasar mendidiknya ke arah lebih baik. Tidak lupa meminta mereka untuk berjanji agar lebih bisa menjaga lidah, dan tingkah laku mereka supaya lebih sopan lagi. Terutama kepada orang yang lebih tua.

__ADS_1


__ADS_2