
Happy reading...
****
Hampir satu jam berlalu setelah kepergian Garda. Rombeng, Sonic, dan Buchek tiba di bengkel ABABIL. Mereka semua baru saja selesai makan siang di warteg tidak jauh dari bengkel. Kemudian masuk ke dalam, tempat di mana Garda dibiarkan untuk beristirahat setelah jatuh pingsan. Mereka sengaja tidak menunggui Garda karena pekerjaan di bengkel sedang banyak.
Selain ketiga pemuda yang rata-rata gemar memelihara kumis dan jenggot tipis. Juga ada Ryan alias Keling. Pemuda berpenampilan necis itu berjalan di belakang, mengekori Sonik. Dengan susah payah dan sudah pasti menggunakan alasan kedatangan Garda yang tiba-tiba ke bengkel. Barulah Ryan mau meluangkan waktunya. Konon katanya sangat sibuk mengurus bisnis keluarga.
Pekerjaan di bengkel sebagian besar sudah rampung. Ada dua orang yang membantu menyelesaikan pekerjaan mereka, selain mengurus steam motor dan mobil. Jadi, untuk saat ini Rombeng, Sonik, dan Buchek bisa santai sejenak. Juga ingin lihat kondisi Garda terkini.
"Eh, mana tuh orang?" tanya Buchek terkejut saat tidak menemukan siapa pun di dalam.
"Lah, kok bisa ngilang?" timpal Sonik heran. Jari telunjuk tangan kanannya mengacung ke arah sofa yang tadi ditiduri Garda.
"Bukan ilang, dodol... Lo pikir sulap?" cerca Rombeng gemas melihat ekspresi bodoh Sonik.
Ryan mendengus pelan. Wajahnya tampak kecewa. Padahal dia sudah bela-belain datang, meninggalkan segudang pekerjaannya di kantor. Dan meluangkan waktunya yang begitu berharga. Mungkin memang belum takdir mereka bisa berkumpul lagi seperti dulu.
Kemudian Ryan bergerak ke arah sofa. Mendudukkan bokongnya di sofa tunggal, tempat favorit Garda dulu. Sebelah tangannya dibuat menopang menggunakan siku, sambil memainkan bulu-bulu halus di bawah dagunya. Tanpa banyak bicara dia tampak sedang merenung. Tetapi tidak ada satu orang pun yang bisa menebak isi pikirannya.
"Eh, kuya! Elo pada gak lagi bohongin gue kan?" semburnya kesal. "elo tahu gak, gara-gara telepon elo, gue bela-belain datang ke sini ninggalin pekerjaan gue di kantor," keluhnya seraya memijit pelipisnya yang mulai berdenyut pusing.
"Ya ilah... Ling.., siapa yang bohongin elo sih? Si Garda tadi emang beneran datang ke sini," kilah Rombeng membeli diri. Karena dia yang memberi tahu tentang kedatangan juga keberadaan Garda di sini.
"Terus, gak tahu kenapa, tahu-tahu dia jatuh pingsan. Abis itu, gue sama anak-anak bopong Garda ke sini, naro dia di situ," terang Rombeng menunjuk sofa yang tadi sempat ditiduri Garda.
Ryan mengikuti arah telunjuk tangan Rombeng saat menjelaskan. Dia masih menyimak semua penjelasan sahabatnya itu.
"Gue gak bohong, Ling... kalau lo gak percaya, tanya aja sama anak-anak. Lagian ngapain gue bohongin elo. Kita sahabatan udah lama, masa yg gak percaya?"
"Bener yang diomongin si Rombeng, kita emang gak bohong," bela Sonik.
"Eh...," Buchek mendekati dinding tempat dimana foto-foto kenangan dipajang. Netranya menyisir dan menyelidik satu persatu. Benar, salah satu foto mereka tidak ada. Mungkinkah hilang?
"Bro, bro, ada yang lihat gak foto di sini?" selidik Buchek dengan jari telunjuk mengarah ke tembok kosong, tempat foto yang hilang biasa di letakkan.
"Apa sih, Chek? Pertanyaan lo unfaedah banget sih?" keluh Sonik baru saja menempelkan bokongnya pada sofa panjang.
"Ish! Bacot lo!" bentak Buchek kesal.
Sonik tersenyum miring meremehkan.
Buchek ingat betul foto yang ada di dinding itu, satu-satunya foto yang mengabadikan mereka dalam formasi lengkap.
__ADS_1
"Duduk, Chek!" seru Ryan gerah melihat bocah satu itu. Kelakuannya absurd sekali. Memandang tembok segitunya? Apa iya sebegitu menyimpannya gara-gara kelamaan menjomblo?
"Ngapain lo berdiri aja di situ?" tegur Ryan tergelitik ingin tahu.
"Rom, elo mindahin foto yang di sini, gak?" bukannya menjawab Buchek malah balik melempar pertanyaan. Tatapan matanya lurus menelisik wajah Rombeng.
"Kurang kerjaan amat gue, kalo gue sampai otak-atik foto-foto di situ," jawaban ambigu yang diberikan Rombeng. Dengan raut wajah tidak berdosa dan sangat cuek.
Buchek masih belum beranjak. Cowok jomblo akut itu sangat penasaran. Siapa sebenarnya orang iseng yang sudah mengambil foto itu. Jika diukur dari nominal uang, tentu tidak berarti apa-apa. Namun jika dilihat dari segi historis. Sudah pasti sangat-sangat berharga bagi hidupnya dan teman-teman yang lain.
Garda terpaksa pergi tanpa pamit pada orang-orang yang telah menolongnya di bengkel itu. Juga sengaja membawa foto itu tanpa izin. Memang sih bukan perbuatan terpuji yang dilakukannya. Apalagi tanpa ada ucapan terima kasih atas bantuan mereka. Serta maaf pun tiada.
Tapi apa boleh buat, Garda harus segera pergi. Dan membutuhkan foto itu guna menyelidiki semua orang yang ada dalam foto. Sekalian menyelidiki masa lalunya yang terasa masih gelap.
Walau bagaimanapun Garda ingin mengetahui masa lalunya. Kendati tidak hilang seratus persen; Masih bisa mengingat masa kecilnya hingga masa sekolah menengah pertama. Namun saat duduk di bangku SMA dia tidak terlalu ingat. Dan banyak yang samar berseliweran di memori ingatannya.
"Bos," suara Dandi terdengar panik saat menjumpai Garda berjalan tergesa menuju ruangannya.
"Iya, aku tahu," sahutnya seakan tahu isi hati asistennya itu. Lalu membuka pintu ruangan kantornya dengan cepat.
Garda memang tidak tahu alasan dibalik kedatangan Andika yang mendadak di kantornya. Namun dia tahu bahwa kehadiran si tua Bangka itu bukan hanya sekedar main-main biasa, atau hanya sekedar untuk menjenguk anak lelakinya. Yang notabene sebagai pewaris tunggal kerajaan bisnisnya.
"Pa," Garda berdiri di depan meja kerjanya sendiri. Tidak berani menggantikan apalagi mengusir pria yang sangat dihormatinya menyingkir dari singgasananya.
Andika yang awalnya duduk bersandar santai sambil menopang sebelah kakinya, di atas kakinya yang lain di bawah meja. Sedangkan kedua tangannya dibiarkan bertengger manja di atas lengan kursi. Kini merubah posisi. Mencondongkan badannya ke depan dengan kesepuluh jari tangannya saling bertaut. Bertumpu dengan siku di atas meja agar dagunya bisa nangkring di atasnya.
"Kenapa hanya berdiri?" tegur si tua Bangka itu dengan senyum ramah, namun sorot mata tajam seakan menusuk hingga tembus ke jantung Garda.
"Duduklah!" Garda mengangguk gugup.
Dalam hati Garda yakin ada sesuatu yang sedang mengusik Andika. Tapi apa? Soal kinerjanya? Sepertinya tidak mungkin. Karena semua pekerjaannya baik-baik saja. Hubungannya dengan klien juga tidak ada masalah. Dan baru-baru ini dia sudah berhasil mengantongi kontrak kerjasama bernilai milyaran rupiah dengan pengusaha asal Australia.
Hubungan Garda dan Bianca pun baik-baik saja. Bisa dikatakan harmonis, memang tidak pernah ada pertengkaran yang berarti. Mungkinkah masalah calon mertuanya yang selalu merengek dengan alasan minta bantuan agar dapat memenangkan tender. Lalu, apa?Entah mengapa perasaan Garda mendadak khawatir.
Tapi ada sesuatu yang disembunyikan Garda. Dan dibiarkan menjadi rahasia dari Andika dan orang lain. Kecuali Dandi yang memang sengaja dilibatkan untuk membantunya menyelidiki kasus itu. Yaitu rahasia antara dirinya dan Meella.
Andika mengangkat sebelah alisnya melihat ekspresi wajah sang putra tampak sedang termenung. Seakan sedang menyimpan sesuatu. Dia pun dapat menangkap kejanggalan itu dengan baik. Meskipun begitu, pria Casanova itu tidak mau mengorek sesuatu yang mungkin bisa merusak suasana.
Padahal kedatangannya kali ini khusus memberi selamat atas kesuksesan Garda mendapatkan kontrak kerjasama dari perusahaan besar bernilai milyaran rupiah. Otomatis akan menambah kekayaan perusahaan yang dirintis sejak usia muda. Biarlah hal itu diabaikan dulu. Nanti setelah ini baru dia selidik dengan teliti.
Pria yang kini berusia hampir kepala lima itu menyeringai dengan tatapan tidak terbaca. Kembali merubah posisi. Kali ini dia beranjak berdiri dari duduknya. Suara langkah kakinya mengalun di atas lantai. Bergerak mendekati Garda.
"Apa kamu tahu, Garda?" Andika memulai pembicaraan dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Papa sengaja datang jauh-jauh dari Prancis, ke sini khusus untuk menemui kamu," Garda tersentak saat Andika tiba-tiba menyentuh punggungnya. Lalu menepuknya dua kali.
"Papa bangga sama kamu. Karena kamu akhirnya bisa menunjukkan kemampuan kamu dalam berbisnis. Sangat brilian!" Andika membentangkan kedua tangannya ke udara dengan senyum puas.
Garda yang mengerti maksud Papanya langsung beranjak dari tempat duduknya. Menyambut pelukan Andika. Keduanya tertawa bahagia bersama.
*
Sarah dan Yasmin berjalan beriringan sambil memeluk bahu Mitha. Dengan air mata yang seolah tak mengering mereka berjalan di belakang perawat yang sedang mendorong brankar menuju ruang IGD. Mereka tidak henti-hentinya memberikan semangat serta penguatan pada sang sahabat yang bersedih justru di hari pernikahannya. Ayahnya jatuh pingsan dan sakitnya bertambah parah. Juga gagalnya pernikahannya dengan Dicky pada waktu yang bersamaan.
Kendati demikian, ada hal yang entah bisa dibilang keberuntungan atau apa. Karena sesuatu yang menggelikan terjadi pada saat itu juga. Tanpa dinyana Mitha malah menikah dengan Rega. Teman SMA yang sama sekali tidak akrab dengannya dulu. Bahkan cenderung tidak saling kenal. Cowok yang dulu bertampang kaku dan dingin seperti salju abadi di mount Everest. Kini telah bertransformasi menjadi dokter ganteng berkharismatik.
Entah apa nama sebutan atas tindakan heroik Rega terhadap Mitha. Yang pasti Mitha dan keluarga sangat berterima kasih padanya. Atas kebesaran hatinya untuk menolong martabat keluarga Gusti agar tidak lebih malu di depan tamu undangan. Setelah dicoreng habis-habisan oleh calon suami Mitha, tidak lain adalah Dicky.
Amel sengaja memilih berjalan di samping Maryam sambil memeluk bahunya. Wanita itu terus saja menangis, berjalan di samping brankar. Sedangkan Tikeng yang ditugaskan menjaga kedua anaknya oleh sang istri. Memilih melipir dari rumah sakit. Beralih ke taman bermain di luar lingkungan rumah sakit. Karena rumah sakit tidak baik untuk anak-anak yang sehat. Walau pun hanya bersifat persepsi pribadi semata.
Pintu ruang IGD terbuka. Mitha segera beranjak berdiri setelah cukup lama menunggu di kursi tunggu di depan ruang tersebut. Tergesa menghampiri Rega yang baru keluar dari ruang itu.
"Dok, gimana kondisi Ayah sekarang?" tanya Mitha tidak sabaran.
Rega tertegun melihat ekspresi serius dan sedih bercampur khawatir yang ditampilkan oleh gadis di hadapannya. Gadis yang belum satu jam dinikahinya.
Untunglah Mitha memanggilnya dengan sebutan Dok hingga tidak menimbulkan kecanggungan.
"Kondisi pasien saat ini terbilang stabil. Dan akan dipindahkan ke ruang rawat inap," sahutnya sangat formal.
"Syukurlah," Mitha bernafas lega seraya menyeka kasar bawah matanya. Menghapus jejak air mata yang masih basah.
"Terima kasih eh... dokter," ucap Maryam yang baru saja bergabung. Namun dia sempat ragu mau memanggil anak menantunya itu dengan sebutan apa. Berhubung Mitha memanggilnya dengan sebutan Dok, maka mau tak mau dia ikutan memanggil dokter padanya.
Akhirnya Meella bisa lepas dari pelukan Mirza yang terasa menyesakkan dada. Pria itu tidak henti-hentinya memintanya kembali. Dan tetap keukeuh ingin menjadikan Meella sebagai istri. Tidak peduli dengan kehamilan hasil rekayasa Meella. Ya, rekayasa. Karena sampai detik ini Meella belum menemukan tanda-tanda berhubung dengan itu. Lagi pula dia melakukannya hanya sekali. Impossible rasanya bila dia bisa langsung hamil.
Tetapi setelah cukup lama berdebat dengan pria keras kepala itu, Meella bisa lolos juga. Kemudian pergi menyusul datang ke rumah sakit. Penasaran dengan kondisi Ayahnya. Walau nantinya dia belum tentu bisa menemui secara langsung. Tetap saja dia ingin tahu ruangan apa dan nomor berapa Gusti di rawat. Bagaimana perkembangan kesehatan Gusti saat ini. Tidak peduli tahu secara langsung atau dari mulut orang lain.
Meella menemukan kamar tempat Gusti di rawat dari petugas resepsionis rumah sakit. Berdiri sedikit lama di depan pintu. Mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Lalu melihat tubuh tidak berdaya sang Ayah di atas brankar. Jarum infus menancap kuat di atas punggung tangan kirinya. Selang oksigen mengisi lubang hidungnya.
Air mata Meella jatuh di pipinya. Netranya tetap mengamati ruangan yang begitu sunyi dari suara manusia. Di sisi brankar Maryam duduk menghadap Gusti. Dengan tatapan sendu nan pilu wanita itu membisu dalam kesendiriannya. Mungkin Mitha dan teman-temannya sudah pulang. Atau entah pergi kemana.
"Ayah, maafin Lala yang tidak bisa menjadi anak berbakti. Lala selalu menyakiti hati Ayah. Dan membuat Ayah jatuh sakit seperti ini. Maaf ya Ayah..." tutur batin Meella menyesal sambil menutup mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar keluar oleh orang lain.
Hati Meella berdenyut sakit melihat kondisi Gusti. Namun tidak ada yang bisa dilakukan untuk sekedar meringankan rasa sakit itu. Terlebih mengobati luka hati yang mungkin saja dirasakan Gusti saat ini.
*
__ADS_1
Hai readers... maaf author lagi gambut dan banyak kerjaan yang harus dikerjakan segera. Jadi maaf bila selalu telat update ya.