
Senja membiarkan suaminya tidur lagi selepas subuh. Ia tahu pasti suaminya masih lelah. Dan sebagai permintaan maaf dan terimakasihnya, hari ini ia akan memanjakan suaminya dengan berbagai makanan favorit.
Sampai di dapur, ia melihat paperbag dan teringat ucapan Baskara semalam yang mengatakan membelikan hadiah untuknya.
Kedua matanya berbinar melihat isi didalamnya yang ternyata jam tangan couple dengan merk terkenal.
Model yang simpel tapi terlihat elegant sesuai dengan seleranya. Warna putih untuk jam yang berukuran lebih kecil yang sepertinya untuk ia dan warna hitam untuk Baskara.
Tak hanya jam tangan. Didalamnya juga ada sweeter warna abu-abu yang terlihat hangat untuk dikenakan dimusim dingin seperti ini.
Rasa kesalnya semalam seakan menguap tak bersisa. Bukan karena nilai dari barang yang suaminya berikan. Namun karena perhatian dan inisiatif Baskara untuk memiliki barang pasangan. Itu yang membuatnya tersentuh.
Bahkan ia yang seorang perempuan tak memikirkan hingga barang pasangan seperti itu. Tapi ketika barang itu ada didepan matanya kini, tak ia pungkiri jika hatinya berbunga-bunga. Bahkan jantungnya berdebar dua kali lebih cepat.
Biar saja orang mengatakan jika mereka berlebihan. Alay atau apa pun. Senja tak peduli asal hatinya dan Baskara sama-sama bahagia.
"Suami gue.." ucapnya bangga dengan bibir yang menyunggingkan senyum menawan. Melenyapkan sisa-sisa wajah masam yang semalam ia pasang.
Menyimpan barang pemberian suaminya ke dalam kamar.
Dilihatnya Baskara masih terlelap dengan posisi tengkurap. Tak ingin mengganggu, ia hanya memberi senyum termanisnya meski Baskara tak dapat melihatnya.
Hari memang cukup dingin. Bahkan suhu turun beberapa derajat dibanding kemarin. Siapa pun pasti ingin lebih berlama-lama bergelung dibalik selimut termasuk dirinya. Tapi sayang perutnya sudah minta untuk diisi. Setelah semalam ia melewatkan makan malam karena kesal dengan suaminya.
Kembali ketujuan awalnya datang kedapur. Senja mulai menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sarapan pagi.
Karena untuk sarapan. Jadi ia hanya membuat sandwich kalkun dan nasi goreng. Biar saja nanti Baskara memilih sendiri untuk memakan yang mana.
Makan siang nanti ia berjanji akan memasak makanan Indonesia dengan resep yang sudah ia dapatkan dari asisten rumah tangan orang tuanya di Jakarta sana.
Memanjakan lidah mereka yang merindukan cita rasa nusantara.
Ia bahkan meminta dikirimkan bumbu-bumbu dan bahan yang tidak ada kepada ibunya.
Tangannya menari diatas penggorengan. Mengaduk nasi yang sudah bercampur dengan bumbu dan juga sosis dan telur sebagai pelengkap.
Tiba-tiba perutnya dililit tangan hangat. Tak perlu bertanya siapa pelakunya.
Selain tidak ada orang lain selain mereka berdua. Juga karena Senja sangat hafal aroma maskulin sang suami.
"Wangi masakannya kecium sampai kamar." gumam Baskara yang menyandarkan kepala dibahunya dengan wajah yang ditanamkan diceruk leher Senja.
"Bohongnya makin lancar." sindir Senja. Pasalnya jarak kamar mereka dan dapur tidaklah dekat. Selain itu, ia sudah memastikan pintu kamar tertutup rapat karena ia tidak suka bau masakan memasuki area pribadinya.
__ADS_1
"Kalau masih ngantuk, tidur lagi aja sana mas. Nanti aku bangunin kalau sarapannya sudah siap." imbuh Senja ketika menoleh dan melihat suaminya memejamkan mata.
Mengambil kecap sebagai step terakhir nasi gorengnya pagi ini.
Baskara menjawab dengan gelengan yang membuat Senja merasa geli dan bulu kuduknya meremang karena gesekan kulit lehernya juga hidung sang suami.
"Geli iiih mas." mencoba melepaskan belitan namun nihil karena Baskara semakin mengeratkan pelukannya.
"Biarin gini dulu, ayy. Emang kamu nggak kangen apa, seminggu nggak ketemu?"
Tangan Senja tak lagi berontak. Ia membiarkan saja yang suaminya inginkan. Sebagai gantinya, ia mengambil piring untuk meletakan seporis nasi goreng dan sandwich kalkun yang sudah ia buat sebelumnya.
"Ayoo sarapan." ajakan Senja membuat Baskara melepaskan belitannya. Sejujurnya ia memang lapar. Semalam makan malamnya tidak habis. Ditambah cuaca dingin yang sering kali membuat perutnya lapar.
"Cuci muka dulu dong, mas." cegah Senja begitu suaminya akan langsung duduk.
"Nggak mau, dingin, ayy."
Senja memutar bola matanya malas. Jika cuci muka saja dingin, jangan-jangan suaminya jarang mandi jika di musim dingin seperti ini.
Mengalah dan melangkah menuju kamar mandi yang ada disamping dapur, Senja mengisi baskom dengan air hangat dan washlap. Mendekati suaminya untuk membantu mencuci muka alakadarnya.
"Belajar ngasuh anak." ucap Senja yang membuat Baskara mengerucutkan bibirnya. Namun tak lama senyum jahil muncul diwajahnya.
Istrinya melotot tajam. "Nggak usah aneh-aneh!"
"Kok, aneh-aneh sih? kan tadi istriku yang cantik ini bilang belajar ngasuh anak. Kalau kita nanti punya anak kan kamu nenenin juga, ayy."
"Iya nanti kalau anaknya udah beneran. Bukan bayi gede modelan mas."
Tangan Senja dengan telaten membasuh wajah Baskara hingga ke leher. Memastikan setiap sisinya bersih.
"Yakin nih bapaknya nggak dibolehin juga? nanti kangen digituin?" goda Baskara.
Wajah Senja memerah seketika. Kenapa suaminya enteng sekali berkata hal intim seperti itu.
Untung saja hanya ada mereka berdua. Kalau ada orang lain yang mendengar, ia pasti akan lebih malu lagi.
Berbicara masalah anak, meski awalnya Senja menolak untuk memilikinya selama masih kuliah. Namun setelah berjalan pernikahan ternyata rasa ingin itu muncul sendiri.
Kini ia bahkan merindukan hadirnya buah hati untuk melengkapi kebahagiaan rumahtangga mereka.
"Mas."
__ADS_1
"Hmm?" sahut Baskara yang sudah mulai menyendok nasi gorengnya. Ia tidak akan kenyang dengan memakan sandwich setelah semalam tidak makan.
"Kok kamu nggak pernah bahas soal anak? Mas nggak pengen punya anak dari aku?" tanya Senja hati-hati.
Karena dari yang dia baca di novel-novel. Pasti suami akan mengusap perut istrinya setelah mereka melakukan hubungan badan dan berkata "Semoga kamu cepat hadir."
Tapi Baskara bahkan tidak pernah membahasnya. Pemuda itu hanya akan menciumnya dan berterimakasih. Meskipun kadang ia risih dengan kata terimakasih setelah mereka melakukannya. Serasa ia adalah wanita bayaran.
Mungkin nanti ia perlu membicarakannya juga dengan sang suami.
"Ya mau lah, ayy. Mana ada suami yang nggak mau istri yang dicintainya jadi ibu dari anak-anaknya." Baskara menatap sang istri serius.
"Terus?"
Ia berikan seulas senyum lembut kepada sang istri. "Kan kamu sendiri yang bilang belum mau punya anak." ucapnya lembut. Tak ingin istringa tersinggung.
"Maaf." cicit Senja menundukan kepalanya. "Tapi sekarang aku pengin."
Telapak tangan besar dan hangat hinggap diatas kepalanya. Mengusap lembut surai indahnya.
"Kita kan sudah berusaha. Biar Tuhan yang menentukan kapan dia hadir disisi kita." ucapnya menenangkan. "Kita nikmati aja dulu, masa pacaran pasca menikah."
"Nikmati momen-momen berharga kita berdua sebelum ada yang ngerecokin." imbuhnya berusaha berkelakar.
Dan benar saja, istrinya terkekeh dan memukul dadanya pelan.
Baskara balas tersenyum dan membawa tubuh istrinya untuk masuk kedalam dekapan hangatnya.
"Nggak usah terlalu dipikirkan. Pasti akan ada waktu yang tepat untuk dia hadir."
"Lagi pula kamu masih terbilang kecil untuk punya anak sayang. Nanti aku bingung mana yang anak mana yang ibu kalau sama-sama manja begini."
"Iiih nyebelin!"
Baskara tergelak. Ia paling suka jika sudah menggoda istrinya seperti ini.
"Mengurangi resiko juga kan kalau usia kamu sudah lebih matang?"
Senja mengangguk. Membenarkan semua yang suaminya katakan. Dan perasaannya kini sedikit lebih lega.
*
*
__ADS_1
*