Langit Senja

Langit Senja
Bab 19


__ADS_3

Meeting sekaligus makan siang telah berakhir, Tuan Baskoro dan sekertarisnya langsung pamit undur diri. sementara Langit dan Dylan masih masih betah didalam restoran itu. mereka malah kembali memesan kopi. sepertinya ada yang akan mereka bicarakan.


"Sudah sampai mana Jhony?" tanya Langit. Ya, setelah kepergian Tuan Baskoro, Langit meminta Dylan untuk menghubungi Jhony agar datang ke restoran A untuk membahas sesuatu.


"Astaga Langit, gue baru dapat balasan nih dari si Jhon, katanya baru jalan." Dylan menunjukkan isi Chat nya dengan Jhony pada Langit.


"Terus tadi gimana?" Sambil menunggu Jhony, lebih baik Langit menanyakan hal lain saja pada asisten nya ini. apalagi tadi Dylan baru saja mengerjakan sesuatu bukan?


Dylan menghembuskan nafas pelan. "Nihil."


Langit mengernyitkan keningnya. sepertinya otaknya sedang lemot. "maksudnya?"


"gue nggak berhasil susulin bini lo. dia udah duluan masuk ke mobil temannya. tapi...."


"tapi apa?" dengan tidak sabarnya, ucapan Dylan.


pria itu merasa kesal melihat Langit yang tidak sabaran. "Sabar dong Ngit, gue belum selesai ngomong." dengus Dylan. Langit kembali menegakkan tubuhnya yang tadinya condong mendekat ke arah Dylan.


"Lanjut."


"gue emang nggak berhasil susul Senja karena keburu masuk mobil duluan, tapi gue berhasil susulin temannya..." Dylan menghentikan ucapannya. "tapi tetap aja hasilnya nihil." lirih Dylan.


Langit menaikkan kedua alisnya. "kenapa? apa dia nggak mau kasih tahu? ancam aja dia."


"bukan nggak mau kasih tau, tadi dia hampir cerita ke gue. tapi keburu Senja manggil tuh cewek, jadi dia belum sempat ngomong apa apa." jelas Dylan.


"itu artinya dia dia tau segalanya tentang Senja." terka Langit yang memang benar.


Dylan mengangguk setuju. pria itu menjentikkan jarinya. "gue mikirnya juga gitu."


"lo harus cari tuh cewek. kalau udah dapat bawa dia buat temuin gue."


Dylan mengibaskan tangannya di depan wajahnya. "gampang cari tuh bocah ingusan mah. lo nggak perlu bawa bawa si Jhony, gue sendiri lima menit pun dapat." Dylan benar benar menyepelekan tugasnya. belum tau saja bocah ingusan yang dia maksud itu.


"apa nih nama gue di bawa bawa?" seseorang yang baru saja datang langsung duduk di kursi kosong di antara Dylan dan Langit yang berhadapan itu. siapa lagi kalau bukan Jhony? karena hanya namanya yang Dylan dan Langit sebut dalam obrolan mereka.


"akhirnya datang juga lo." celetuk Dylan.

__ADS_1


"kenapa?" tanya Jhony, mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius.


"gimana, tim lo udah nemuin Bram sama Diana?" tanya Langit.


"Hm" dehem Jhony, sambil menganggukkan kepalanya. dua pria yang berada di antara Jhony itu pun langsung menatap serius kearahnya. sepertinya mereka ingin mengetahui lebih detail apa yang Jhony temukan. Jhony melirik satu persatu dua pria itu.


"ngapain kalian?" Jhony merasa terintimidasi dengan tatapan mereka.


"CK, cepat jelasin bodoh." decak Dylan. Jhony malah tertawa ngakak melihat ekspresi kesal di wajah Dylan.


"Cepat jelasin Jhon, ini udah sore, gue harus segera pulang." suara bariton itu langsung menghentikan tawa Jhony.


"oke oke. jadi, setelah tim gue telusuri, ternyata mereka kabur ke luar negeri. mereka menjual sisa aset yang mereka miliki dan pindah ke Amerika." jelas Jhony.


"tapi kenapa kita bisa nggak tau saat mereka menjual asetnya? rekan kita kan banyak, kenapa tidak ada yang memberi tahu informasi ini?" Langit mengangguk menyetujui apa yang Dylan katakan.


"bagaimana kita bisa tahu, mereka melelangnya di pasar gelap, sedangkan kita bisnis kita semua bersih, dan kita nggak pernah sekalipun masuk ke pasar gelap."


"terus, lo tau dari mana kalau mereka melelangnya ke pasar gelap." tanya Langit.


"lebay lo Jhon. udah ah gue mau balik." Langit langsung bangkit dari duduknya melangkah keluar dari restoran.


Jhony memandang punggung lebar Langit. "kenapa tuh orang, nggak biasanya buru buru balik?"


Dylan mengedikkan pundaknya. "kayaknya dia mulai bucin deh."


ucapan Dylan membuat Jhony menatap penuh kearah nya. "serius lo, dia bucin sama Senja?" Dylan mengangguk santai sambil menyesap kopinya yang hampir dingin itu.


"kayaknya dia kemakan omongannya sendiri." gumam Jhony yang masih bisa didengar oleh Dylan.


"lo bener Jhon. tapi dia harus berjuang buat bertemu dengan bininya itu."


"kenapa? kayaknya gue ketinggalan informasi."


Dylan pun menceritakan apa yang Langit alami. mulai dari Langit yang memaksa Senja melakukan hubungan suami istri akibat obat perangsang yang diberikan Diana dan Ayahnya, sampai Senja yang sejak awal sudah takut pada Langit kini semakin takut sampai menghindarinya.


mendengar cerita dari Dylan, Jhony menggelengkan kepalanya. "ini kayaknya karma deh buat Langit." Dylan kembali mengangguk.

__ADS_1


"Eh, lupa gue ada janji sama cewek gue. gue duluan ya." Pamit Jhony tiba tiba.


"gila lo Jhon, tega ninggalin gue di sini." Gerutu Dylan.


"hahaha bye jomblo." bukan menanggapi keluhan sahabatnya, Jhony malah meledeknya. pria itu melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Dylan dengan tawa mengejeknya.


"hufh, nasib jomblo." gumam Dylan lirih. ia pun pergi meninggalkan restoran.


masalah pembayaran pesanan, tenang saja sudah dibayar Langit sebelum pergi tadi.


Huek huek huek


baru saja Langit akan masuk ke dalam kamarnya, dia tak sengaja mendengar seseorang yang sepertinya sedang muntah di kamar Senja. iapun mendekati pintu kamar itu dan ingin membukanya. tapi ternyata di kunci. artinya istrinya itu tidak ingin bertemu dengannya. itu hanya persepsinya saja, tidak tau yang sebenarnya. tapi sedikit ada benarnya sih hehe.


"Senja kenapa muntah muntah? apa dia sakit?" Langit begitu khawatir mendengar istrinya yang belum berhenti muntah itu. pria itu langsung berlari turun kebawah. dia sampai menuruni tangga dari lantai tiga kebawah, saking paniknya dia melupakan kalau ada lift yang lebih cepat.


"Bik Sumi, Siska,!"teriak Langit. dari sekian banyak maid yang ada di mansion, Bik Sumi dan Siska lah yang dia panggil. karena hanya mereka yang sangat dekat dengan Senja, dan juga yang mengurus semua kebutuhan istrinya itu.


"iya Tuan Muda," hanya Siska yang keluar, tidak ada Bik Sumi.


"kemana Bik Sumi?"


"Bik Sumi sedang demam Tuan," beritahu Siska.


"sudah di panggilkan dokter?"


"Sudah Tuan, beliau sedang istirahat. apa ada yang bisa saya lakukan Tuan?" tanya Siska yang tanpa sengaja kembali mengingatkan tujuan pria itu berteriak manggil namanya juga Bik Sumi. Siska merasa ini pasti ada hubungannya dengan Senja.


"apa Senja tadi sudah makan?" Nah kan benar.


Siska mencoba mengingatnya lalu "Sepertinya belum Tuan." jawab Siska yang membuat Langit menghembuskan nafas kasar.


"sekarang bawa makanan untuknya kekamarnya. sepertinya asam lambungnya naik karena belum makan. sejak tadi dia muntah muntah." setelah mengatakannya, Langit langsung pergi meninggalkan Siska.


***Bersammbung....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ***...

__ADS_1


__ADS_2