
"Aahh sial!" maki Senja dengan memakai sepatunya dengan sedikit berlari menuju lift apartemennya.
Hari ini ia harus mengumpulkan tugas hasil rancangan kepada salah satu dosen paling menyebalkan selama ia menempuh pendidikan di FIT. Dosen paling pelit nilai dan paling gila waktu.
Mrs.Julie paling tidak suka jika ada mahasiswa yang terlambat mengumpulkan tugas. Meski itu hanya beberapa menit sekalipun. Percayalah, Mrs.Julie tidak segan-segan mengurangi nilaimu meski tugasmu sempurna sekalipun.
Selama ini Senja paling menghindari masalah dengan dosen satu ini. Tapi semalam ia bahkan baru tertidur menjelang subuh setelah ikut cemas menunggu Jingga yang di Jakarta sana tengah berjuang melahirkan.
Bangun tidur di pagi hari waktu Jakarta, Jingga merasakan kontraksi dan langsung di larikan ke rumah sakit.
Perbedaan waktu yang mencapai sebelas jam membuat Senja ikut merasa khawatir dan tidak bisa tidur. Karena Jingga baru melahirkan di pukul dua siang Jakarta yang artinya saat itu di NY baru pukul tiga dini hari.
Senja ikut merasa cemas selama berjam-jam dari sejak ibunya memberi kabar saat ia baru pulang kuliah. Berakhir hanya tidur beberapa jam dan saat ini ia sudah harus berpacu dengan mobil keluaran terbaru miliknya untuk segera sampai di kampus sebelum nilainya terancam.
Hanya menggunakan celana jeans dan blus yang di padu dengan sneakers.
Jangan salah. Senja memang tidak banyak berubah tentang model berpakaian. Pasalnya gadis itu sejak awal memang sudah tampil stylish.
Hanya yang membedakan kini adalah, Senja yang juga sudah sering menggunakan dress dan sepatu berhak tinggi. Entah itu stilleto, wedges atau bahkan boots dengan hak tinggi yang menjadi style-nya sehari-hari.
Kecuali hari-hari tertentu seperti hari ini yang ia membutuhkan sneakers kesayangannya untuk berlari menuju ruangan dosen yang padahal hari ini tidak ada jadwal kelas. Tapi dengan menyebalkannya meminta tugas untuk dikumpulkan hari itu.
"Maureen..." seru Senja ketika melihat sahabat satu-satunya yang ia miliki berjalan di koridor. Karena yang lain tidak bisa disebut sahabat. Mereka terlalu asik dengan dunia mereka sendiri. Hanya Maureen yang selalu meluangkan waktu untuk menemaninya yang sebatang kara di negeri orang.
"Ya Tuhan! apa kau tidak tidur semalam, Senja?" tanya Maureen kaget melihat lingkaran hitam di sekeliling mata Senja.
Maureen tahu, Senja adalah gadis yang biasa tidur tepat waktu dengan waktu tidur yang selalu cukup. Jadi jika gadis itu sedikit saja bermasalah dengan tidurnya, langsung terlihat jelas lingkaran hitam di kedua matanya.
"Yeeahh.. Aku bahkan hampir tidak bisa tidur." keluhnya pada Maureen. "Tunggu disini sebentar. Aku akan mengumpulkan tugasku terlebih dulu. Dan setelah ini kau harus menemaniku mencari makan. Aku belum makan sejak semalam."
Belum Maureen menjawab, Senja sudah lebih dulu memasuki ruangan dosen mereka. Membuat sahabatnya itu menggeleng geli.
__ADS_1
Maureen satu tahun lebih tua dari Senja. Sehingga gadis itu sudah menganggap Senja sebagai adiknya sendiri. Pun dengan keluarganya yang selalu menerima kehadiran Senja dengan tak kalah hangat bagai keluarga.
***
Duduk di Coffe Shop terbesar dunia asal Amerika, Senja memesan sandwich dan Caramel Macchiato. Senja tidak suka kopi hitam yang benar-benar terasa kopi.
Sedangkan Maureen hanya memesan Coffe Americano. Karena sebelumnya sudah sarapan di rumah.
"Jadi, kenapa kau bisa tidak tidur?"
"Kakakku melahirkan. Aku ikut cemas menunggunya." jawab Senja dengan mengedikan bahunya. "Dan aku rindu pulang." imbuhnya sendu.
Satu bulan pertama Senja lewati dengan air mata. Rasa tidak betah, kangen keluarga, setiap malam ia rasakan.
Ia pikir hal mudah tinggal jauh dari keluarga. Ia pikir ia pasti bisa. Tapi nyatanya itu sangat berat. Percayalah.
Ketika siang hari dan memiliki kegiatan ia bisa mengalihkan rasa rindunya. Tapi begitu sampai di apartemen yang begitu sunyi, kesendirian menyambutnya dan semakin membuatnya terbelenggu dengan kesedihan.
Hingga ia bertemu Maureen dan mau tinggal di Apartemennya untuk beberapa waktu hingga ia bisa menyesuaikan diri.
Tapi begitu Tiara dan Alvaro ajak Senja untuk pulang saja ke Jakarta, Senja menolak keras dan berdalih hanya belum terbiasa. Hingga meminta orang tuanya mengurangi waktu berkunjung dengan sebulan sekali, yang berlanjut dua bulan sekali. Hingga kini malah enam bulan sekali mereka baru bersua.
"Libur semester sebentar lagi. Kau bisa pulang berkumpul dengan mereka."
"Yeah.. Aku sudah tidak sabar waktu cepat berlalu."
"Waahhh kau sudah sangat ingin meninggalkanku?" ucap Maureen dengan ekspresi terluka yang dibuat-buat dengan memegang dadanya.
Senja terkekeh dan berpindah duduk disebelah Maureen untuk bisa memeluk sahabatnya itu. "Kau tahu bukan itu maksudku, sayang."
Maureen memang segalanya untuk Senja. Gadis itu bisa berperan sebagai sahabat, kakak bahkan ibu sekalipun.
__ADS_1
Pergaulan yang begitu bebas disana membuat Maureen menjaga ketat sang sahabat. Meski bahkan Maureen pernah mengajak menginap dan tidur bersama dengan kekasihnya di apartemen Senja. Kalian tahu kan yang dimaksud "tidur" disini? ya begitulah Maureen, hubungan s*ksual bukan hal tabu disana. Tapi Maureen selalu menyeleksi pria yang ingin mendekati Senja. Tidak ia biarkan sahabatnya terjerumus hal yang sama dengan mereka.
Sekali pun Senja sering ikut ke club malam. Gadis itu harus puas dengan segelas orange juice meski kadang ia merengek pada Maureen untuk mencicipi apa yang sering teman-temannya minum di sana.
Tapi Maureen adalah bentuk ibu untuk Senja dalam situasi seperti itu. Gadis itu akan terus menceramahinya tentang kesehatan dan lain sebagainya.
Meski mendecak kesal, Senja tetap menurut saja pada Maureen. Karena Senja sadar itu demi kebaikannya sendiri.
Baskara. Meski masih dalam benua yang sama. Dan bahkan hanya membutuhkan waktu tempuh tak lebih dari empat jam menggunakan mobil, mereka sama sekali tidak pernah bertemu.
Sejak hancurnya hubungan mereka beberapa tahun silam, mereka memang tidak pernah lagi saling berhubungan. Bahkan untuk bertukar kabar sekali pun.
Senja hanya tahu kabar Baskara dari cerita ibunya ketika Baskara pulang libur semester pertama kemarin.
Tidak seperti Senja yang sering di kunjungi. Baskara harus rela benar-benar mandiri dari keluarga.
Kedua orang tua Baskara yang sibuk. Sangat sulit untuk mengatur waktu berkunjung ke Massachusetts, tempat baskara menimba ilmu di MIT.
"Bagaimana dengan Robert?" pertanyaan Maureen menyadarkan Senja dari lamunannya tentang Baskara. Meski rasanya ia sudah tidak ada rasa lagi pada pria satu itu. Tapi karena mereka berteman sejak bayi, jadi terasa sulit untuk melupakan.
"Tidak ada yang spesial. Dia juga tak pernah mengatakan apa pun." Robert adalah salah satu pria yang dekat dengannya. Tapi bagi Senja mereka hanya teman. Begitu pun Robert yang tidak pernah menyatakan sesuatu yang aneh, seperti suka atau bahkan cinta.
*
*
*
Hollaaaa daddy Farri menyapa...
__ADS_1
Wewww ada ayah baru... Adakah yang kengen hot daddy satu ini 😍