Langit Senja

Langit Senja
Senior Vs Junior


__ADS_3

Senja kembali menghampiri Jingga dengan senyum devilnya. Senyum penuh dendam yang menuntut untuk dibalaskan pada sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


"Kenapa, nih?" firasat Jingga sudah tidak baik ketika Senja mendekatinya dengan senyuman aneh.


"Mas ajakin Sisi kemana dulu gih." pinta Senja. "Aku nggak mau dianggap jahat sama keponakanku sendiri cuma karena udah menganiaya emaknya."


Baskara terkekeh. Sebelum meninggalkan area ruang makan dengan membawa Sisi dan segelas minuman dingin yang istrinya buatkan, ia berucap. "Gue mau ngucapin makasih banyak banyak sama lo, Ngga. Terbaik emang kalian." Baskara mengacungkan ibu jarinya pada mantan kekasih yang sudah menjadi kakak iparnya itu.


"Tapi maaf, gue nggak bisa nyelamatin lo dari amukan istri gue. Gue doain aja, semoga lo masih bisa keluar dari dapur dengan selamat." ekspresinya dibuat semenyesal mungkin. "Minimal kaki sama tangan lo masih utuh lah."


Jingga yang belum paham hanya melongo mendengar perkataan Baskara dan mengamati kepergian pemuda itu.


"Maksudnya apa sih, Ja?" tanya Jingga beralih menatap istri dari pemuda yang baru saja pergi, masih belum bisa meraba inti dari perkataan Baskara dan tingkah laku Senja yang terlihat kesal padanya. "Emang lo mau ngamuk?"


"Ya Tuhan, Jingga! lo masih nggak tau?"


Jingga menggeleng polos. Ia memang benar-benar tidak tahu. Atau ia belum meningat apa yang sudah ia lakukan.


"Lo ngirim baju haram buat gue yang nggak ada pilihan buat nggak dipakai dan sekarang lo tanya kenapa?!" erang Senja dengan frustasi. Bagaimana otak ibu dari keponakannya ini masih saja jarang dipergunakan dengan baik.


"Oooohh..." seru Jingga heboh. "Jadi lo pake?" tanyanya kemudian tergelak penuh kemenangan.


Senja yang semakin kesal melihatnya pun langsung menerjang tubuh ibu satu anak itu dan langsung menyerang area pinggang Jingga. Membuat mama muda itu tertawa keras dan tak berdaya.


Kelemahan Jingga memang ketika ia digelitik seperti itu. Kedua tangan dan kakinya serasa berubah menjadi agar-agar dan tak bisa membantu memberi perlawanan.


"Rasakan ini!" seru Senja tak menghentikan aksinya meski keduanya sudah bergulingan dilantai ruang makan.


"Ampun, Ja! A-ampun hahahaha!"


"Gue salah.. Gue salah.. HAHAHA!!"


Setelah Senja juga ikut merasa lelah, ia berbaring disebelah Jingga yang tengah mengatur deru napasnya untuk kembali normal. Juga perutnya yang terasa kamu akibat terlalu banyak tertawa.


"Jahat tau nggak lo!" cebik Senja menatap langit-langit.


"Ini artinya Babas berhasil cetak gol dong semalam?"


Senja hanya membalasnya dengan cebikan bibir yang terdengar cukup nyaring.


Pipinya memanas mengingat bagaimana semalam ia begitu terlena dan terpesona akan suaminya.


Menyerahkan dengan sepenuh hati, jiwa dan raganya.

__ADS_1


"Nyebelin! gue jadi kayak j*lang yang ngegoda om-om tau nggak lo!"


Jingga tergelak. "Cieee yang udah nggak gadis lagi..." godanya menjawil dagu Senja.


"Ck! rese lo!" tepisnya sedikit kasar.


"Lagian, yang lo goda suami lo sendiri, Ja." ucap Jingga mendudukan dirinya kembali di kursi meja makan, merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan, kemudian meminum minuman bagiannya hingga tandas. "Nggak akan ada yang nganggep lo j*lang. Justru lo lagi cari pahala kalau sampai suami lo tergoda."


Wajah Senja masih saja ditekuk. "Tapi kan nggak gitu juga caranya! gue malu tau pake bajunya."


"Kenapa harus malu, kalo yang lo pakai bisa bikin suami lo senang?"


"Tapi tetap aja!" Senja tak mau kalah. Pokoknya semua salah Jingga, titik.


"Kayak yang lo nggak seneng aja sama apa yang Babas lakuin." cibir Jingga. Dilihat dari pipi Senja yang memerah, ia yakin gadis itu juga menikmati malam pertama mereka itu.


"Seneng lah, masa enggak." jawab Senja jujur. Karena nyatanya memang seperti itu.


Namun ia mengatakan dengan wajah sedatar mungkin. Agar tidak ditertawakan oleh Jingga.


Sayangnya, Jingga tetap tergelak mendengar jawaban Senja. "Kalo lo suka, harusnya lo ucapin terimakasih ke gue. Kayak Babas tadi! bukannya malah marah-marah!"


"Ya abis cara lo salah. Gue kan mau nunggu gue benar-benar siap!"


Senja langsung melempar buah anggur yang baru saja akan ia masukan kedalam mulut kearah wajah Jingga.


"Kan yang bikin gue takut gara-gara cerita lo juga, kuya!" sungut Senja. "Elo kan yang bilang kalau itu sakit dan nggak bisa lo lupain rasa sakitnya."


Jingga kembali tergelak. Senja memang cerdas. Namun kenapa untuk masalah seperti ini gadis itu polos sekali.


"Ya emang sakit kan?" tanya Jingga yang mendapat anggukan sebagai jawaban. "Tapi terlena juga kan?" lagi-lagi Senja mengangguk. "Sakit bukan berarti kita nggak ngerasain rasa yang bikin kita terbang itu, sayang! dan sakit bukan berarti gue nggak mau ngerasain lagi."


Senja baru sadar jika dia sudah dibodohi dan hanya ditakut takuti oleh Jingga.


"Kalau sakitnya bikin trauma, gue nggak mungkin lah bisa hamil Sisi dari usaha keras gue sama abang tiap hari nggak kenal waktu!"


"Ti-tiap ha-hari?" tanya Senja syok.


Jingga kembali mengulum senyumnya. Membuatnya ingin kembali mengerjai adik iparnya itu.


"Iyalah tiap hari." jawab Jingga setenang mungkin. "Lelaki itu kalau udah pernah nyicip sekali, bakal minta terus. Kecuali lo ada tumu bulanan."


"Se-serius?" Senja masih terbayang bagaimana rasa sakitnya semalam ketika mereka melakukannya.

__ADS_1


Bahkan pagi tadi ketika ia bangun, rasanya masih sangat sakit. Terlebih jika ia buang air kecil.


Jingga mengangguk. "Bukan cuma malam. Lo harus siap kapan pun, dimana pun suami lo pengen. Termasuk didapur."


Senja menelan ludahnya kelat. Tak sanggup membayangkan ia dan Baskara melakukannya didapur.


"Nggak cuma malam doang juga. Tapi pagi, siang bahkan mungkin sore hari."


"Ke-kenapa begitu?" mungkinkah Baskara juga akan seperti apa yang Jingga katakan?


Ia harus menanyakan dan mendiskusikan masalah ini dengan Baskara.


Senja mengangguk dengan pikirannya sendiri.


"Percuma!" ucap Jingga seakan tahu apa yang Senja pikirkan. "Kalau suami lo pengen, lo nggak akan bisa nolak, Ja."


"Lagian juga dosa!"


Jingga tergelak melihat wajah pucat Senja yang terlihat memikirkan apa yang ia katakan.


"Jalani aja adik ipar." nasihat Jingga. "Percaya sama seniormu ini." imbuhnya jumawa dengan gaya bercanda.


Senja menatapnya dengan tatapan memelas. "Tapi...." cicitnya semakin terlihat kasihan.


"Siapin aja fisik yang kuat. Kalau perlu doping sama vitamin biar lo nggak tepar dihajar habis setelah ini."


"Inget, Ja. Pelakor diluar sana siap buka kaki lebar-lebar demi dapatin suami kita! jadi kita harus bisa jadi istri cerdas yang bisa bikin suami nggak akan berpaling pada wanita lain."


"Caranya?"


"Ya dengan cara kasih service terbaik." kali ini ia serius. "Bukan cuma diranjang. Tapi juga makanan sama kasih sayang dan perhatian juga."


Senja mengangguk mendengarkan apa yang seniornya ini katakan dengan serius.


"Percuma lo layani diatas ranjang sama dapur dengan baik, kalau nggak diimbangi sama kasih sayang dan perhatian."


"Kalau lo bisa kasih yang terbaik. Dia juga pasti akan balas dengan hal yang sama kok. Karena lo bukan budaknya yang cuma ngelayani masalah hasrat sama perut doang."


Senja kembali mengangguk paham.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2