
Kecanggungan tercipta diantara keduanya. Untuk pertama kalinya Senja tidak berani menatap Baskara karena alasan malu. Begitu juga dengan Baskara yang meruntuki kebodohannya yang bertindak impulsif seperti tadi. Ia hanya mengikuti kata hatinya yang ia sendiri tidak mengerti apa artinya.
Mereka tidak memiliki hubungan apa pun kecuali persahabatan. Dan mana ada sahabat yang mencium sahabatnya. Untung saja Senja tidak langsung menampar dan memakinya didepan umum karena kekurang ajarannya.
Bahkan sahabatnya itu tidak mengatakan apa pun selain mengirimnya pesan bahwa sudah menunggu di loby.
Setelah bibir kurang ajarnya mencium dahi Senja, Baskara memang langsung pamit ke toilet. Pemuda itu takut Senja marah padanya. Ternyata Senja memutuskan hal yang sama dengan meninggalkan pesta dan memilih pulang.
Sepanjang jalan Senja menatap keluar jendela mobil. Gadis itu bahkan masih merasakan panas yang menjalar di daerah wajahnya. "Hati, tolong stop berbunga-bunga! Jantung, stop berdebar berlebihan! dan pipiiii, stop merona! MEMALUKAN!" Senja memaki dirinya sendiri yang tidak dapat mengendalikan perasaannya.
Ia malu pada Baskara jika sampai pemuda itu tahu, rasa untuknya kembali tumbuh. Senja tidak siap kecewa untuk kedua kalianya. Apa lagi oleh orang yang sama.
"Lo marah sama gue, Ja?" akhirnya setelah sekian lama saling diam, Baskara berani untuk bertanya ketika mereka memasuki apartemen Senja.
"Enggak kok." jawab Senja singkat. Bahkan gadis itu masih tidak mau menatap Baskara. Membuat pemuda itu menghela napas kecewa.
"Biasanya kalau cewek bilang nggak pa-pa itu emang ada apa-apa."
Senja mendesis sebal. "Terserah lo deh!' gadis itu berlalu begitu saja kedapur. Membuka lemari pendingin, mengambil air untuk mendinginkan wajahnya. Siapa tahu dengan minum minuman dingin bisa mengurangi rona yang ia sembunyikan dari Baskara. Meski entah teori dari mana itu. Tapi apa salahnya mencoba.
"Sial! kenapa muka gue masih panas aja sih!" padahal kejadian sudah berlalu satu jam. Namun Senja masih saja merasa panas diwajahnya.
Mungkinkah karena ini ciuman pertama dari pria selain ayah dan kedua kakaknya. Hingga menimbulkan efek yang begitu besar seperti saat ini?
"Kalau lo nggak marah, lihat kearah gue dong Jaaaa." rengek Baskara tidak tahan diacuhkan. "Kenapa lo ngehindarin gue?"
Senja mendesis sebal. Tak tahukah Baskara jika ia malu?
Menarik napas dalam dan mengehembuskannya perlahan. Setelah merasa cukup aman dengan kondisi jantungnya, Senja memberanikan diri menatap Baskara.
"Gue nggak marah sama lo, Bas!" tandas Senja sekali lagi. "Gue cuma bingung aja kenapa tiba-tiba lo cium dahi gue begitu."
Baskara menunduk dengan mengaitkan jari-jarinya. "Gue juga nggak tahu, Ja." lirihnya. "Gue kebawa suasana romantis kayaknya."
Senja semakin menghela napasnya. Merasa kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Baskara. Mungkin jika pemuda itu bilang karena menyayangi dirinya, ia bisa menerima. Tapi apa barusan yang dibilang Baskara? terbawa suasanya romantis?
__ADS_1
Senja benar-benar kesal mendengarnya. Sudut terkecil hatinya merasa kecewa meski langsung ia singkirkan begitu saja.
"Ya udahlah. Lupain aja kejadian tadi. Anggap aja itu nggak pernah terjadi." putus Senja pada akhirnya. Dari pada ia semakin kesal dan berimbas pada kerenggangan hubungan mereka lagi.
"Tapi mana mungkin gue bisa lupain itu." gumam Baskara lirih dengan posisi yang masih sama. Senja mendengarnya, tapi ia pura-pura tak dengar dan memilih untuk masuk kedalam kamar dan membersihkan dirinya.
***
Senja sering merasa uring-uringan sejak kejadian malam itu. Bahkan tidak hanya sekali dua kali panggilan Baskara pada ponselnya ia acuhkan. Begitu juga pesan pemuda itu yang baru akan ia balas malam harinya. Itu pun hanya meminta maaf karena tak sempat membalas. Beralasan bahwa kuliahnya tengah sibuk.
"Apa yang membuat wajah ceriamu menjadi kesal seperti itu belakangan ini?" Senja tidak menjawab. Ia hanya diam mengaduk latte miliknya.
Senja memang terlihat lebih bahagia setelah kehadiran Baskara. Maureen menyadari itu. Ia juga yakin alasan sahabatnya itu terlihat kesal ada hubungannya dengan pemuda itu.
"Apa bodyguard kesayanganmu membuat ulah?" tanyanya tak gentar karena Senja masih membisu.
"Dia bukan bodyguard kesayanganku! dia hanya pemuda membosankan yang hanya bisa membuat kesal!" ketus Senja yang seketika membuat Maureen terkekeh.
"Semakin kau menyangkal dengan nada kesal seperti itu, semakin jelas pula jika kau menyukainya."
Maureen semakin tergelak. "Aku sudah sering bertemu orang yang tengah jatuh cinta tapi berusaha menolak perasaannya." ucapnya ditengah tawa. "Persis seperti apa yang kau lakukan saat ini!"
Senja mencabik kesal mendengarnya. Ia sudah mati-matian mematikan rasanya untuk Baskara. Dan kenapa pula Maureen malah semakin menegaskan perasaanya pada Baskara nyata adanya.
"Aku hanya tak ingin kecewa lagi." lirih Senja pada akhirnya.
"Lagi?" dahi Maureen mengernyit bingung.
"Ya. Dulu aku memang menyukainya. Cinta masa remaja, kau tahu?" Maureen mengangguk. "Tapi dia lebih menyukai sahabatku yang lain dan mereka menjalin hubungan dibelakangku."
Ini adalah kali pertama untuk Senja memberitahu kisah cintanya pada orang lain. Bagi Senja itu bukan hal yang penting. Toh itu semua hanya masa lalu.
Tapi kali ini ia sepertinya membutuhkan saran dari Maureen tentang perasaannya.
Maureen menggeleng tak percaya. "Tragis sekali kisah cintamu, Nak."
__ADS_1
Senja mencebik. "Aku serius!"
"Lalu, apa kalian dekat lagi karena dia berubah pikiran dan menyukaimu?"
Senja menggeleng. "Dia hanya kembali sebagai sahabat. Tidak lebih."
"Tapi kau terjebak dengan perasaanmu sendiri dengan kembali menyukainya?" tebak Maureen yang langsung di angguki oleh Senja.
Maureen mengusap punggung tangan Senja yang berada di atas meja. Merasa ikut prihatin.
"Aku rasa dia hanya belum berani mengungkapkannya."
Senja menatap sahabatnya tidak mengerti.
"Yaaa.. Kurasa dia juga menyukaimu. Mungkin dengan alasan yang sama untuk mempertahankan persahabatan hingga ia masih diam saja."
Senja berdecih. "Mana mungkin. Seleranya adalah gadis manis dan feminin."
"Heii sayang. Kau kurang manis apa? bahkan pria dijurusan seni rupa banyak yang membicarakanmu. Mereka terpesona dan ingin mendekatimu tapi tidak berani."
"Tidak berani kenapa?" selama ini memang tidak ada pria yang mendekatinya di kampus selain Robert. Padahal ia tak pernah galak pada pria-pria yang mendekat.
"Karena Robert mengklaim bahwa kau adalah gadisnya. Dan kau tahu sendiri tidak ada yang berani melawan Robert."
Senja semakin menghela napasnya berat. Kenapa masalah percintaannya tidak semulus orang-orang.
Bahkan di usianya yang beberapa hari lagi sudah menginjak 19 tahun. Ia tidak sekalipun pernah merasakan namanya pacaran.
Jika dulu malam minggunya di habiskan dengan teman-temannya di club malam. Sekarang malam minggunya ia habiskan dengan memasak bersama Baskara.
Padahal ia juga ingin seperti muda-mudi yang lain. Merasakan malam minggu dengan orang terkasih walau sekedar nonton atau makan malam di luar.
*
*
__ADS_1
*